Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
BLUE LIGHT STONE - Klaue



Klaue


"CLARYN!" PANGGIL MR. SAMAEL.


Panggilan tersebut seakan menyadarkan Claryn sehingga ia menjawab dengan cepat. "Yes, Sir!"


"Claryn, kau sangat bersahabat meskipun ragu dengan Lily." Claryn melongo mendengarnya. Dari mana Mr. Samael tahu keraguannya terhadap Lily? "Kekuatanmu memanipulasi cahaya bertambah dengan cepat. Selamat, Nona Raquel."


"Terima kasih, Sir."


Tatapan Mr. Samael berakhir di laki-laki bertubuh tinggi. Tawanya pecah membuat ruangan tersebut bergetar. "Aku tegaskan kepadamu, Vendard, jangan sok kuat dan berani. Buktinya kau muntah sesudah menaiki kereta ulat. Kekuatanmu juga bertambah, selamat!"


Vendard mengangguk dengan rasa malu. "Terima kasih, Sir."


Mr. Samael berdiri dan melangkah keluar dari ruang penginapan. Baru saja sampai di ambang pintu, ketiga muridnya saling tukar pandang dan bersamaan memanggil, "Sir, tunggulah!"


Mr. Samael berbalik menghadap ketiganya. "Ada apa?"


Lily menepuk pelan ruang kosong di samping, meminta Mr. Samael untuk duduk. Mr. Samael menghela napas, mencoba menebak apa yang akan dilakukan ketiga muridnya.


Setelah duduk, Lily membeberkan semuanya mewakili tim. "Sir, kau memang guru yang sangat disegani oleh setiap murid. Di samping itu, kau adalah guru idaman kami. Setiap arahan, bimbingan, dan solusi yang kau berikan membuat kami bersemangat. Ya, meskipun sangat menguras tenaga—"


"Kami melakukannya dengan sangat seru," potong Claryn.


Vendard beranjak menatap jendela dengan pemandangan Gleitser Wood. "Petualangan kami memang bukanlah sebuah pertarungan dengan berbagai senjata dan rintangan, melainkan sebuah petualangan dengan pengetahuan. Mungkin petualangan ini akan berbeda dengan tim yang lain. Tidak seseru mereka, tidak semenantang mereka, dan mungkin petualangan Tim Empat sangatlah biasa. Membosankan."


Mata Mr. Samael berkaca-kaca mendengar pujian dari muridnya. Namun, ia segera mengakhiri itu dan menghampiri dengan menepuk bahu Vendard. "Ya. Memang kenyataannya seperti itu, tetapi tim kita berhasil mendapatkan benda pusaka. Yang paling penting, proses yang kita hadapi begitu menguras tenaga dan emosi. Aku tidak peduli tim kita akan dianggap dengan petualangan yang biasa karena mereka tidak merasakannya!"


Vendard memilih bungkam.


"Besok pagi kita akan kembali ke Winterwall karena hari field trip sudah selesai. Aku akan bertemu Lord Dazzle terlebih dahulu. Selamat beristirahat!"


Setelah Mr. Samael pergi. Lily mendekat ke arah Vendard. "Sudahlah, Vendard, di mana rasa kuat dan beranimu?"


Vendard tertawa pelan mendengar ucapan Lily. "Dia tetap ada dalam diriku sama seperti kamu yang selalu melekat di hatiku." Lily melayangkan tatapan tajam ke arahnya. "Lupakan! Aku akan beristirahat. Selamat beristirahat, Lily."


Apakah ada yang salah dengan Vendard? Belakangan ini aku merasa ada yang aneh dengan dirinya, batin Lily.


Claryn menyenggol lengan Lily pelan. "Sudah kuduga, dia menyukaimu."


"Tidak, Clar! Tidak mungkin!"


"Memang begitu kenyataannya."


"Vendard bukan menyukaiku, tetapi menyukaimu! Sudah, aku mau beristirahat. Selamat malam."


Claryn mengangkat wajah malas. "Baiklah. Selamat malam."


Claryn meneliti ruangan yang tampak kosong. Napas yang ditariknya begitu dalam seakan menumpahkan kelelahan. Jendela yang terbuka dengan ukuran tidak terlalu tinggi seakan menggoda dan mempersilakannya untuk duduk. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung menumpahkan tenaga yang masih tersisa dengan kepala bersandar ke dinding kristal. Begitu tenang dan damai. "Andai aku lebih lama di sini."


"Kau bisa kembali mengunjungi tempat ini.”


Claryn menajamkan pendengaran dengan mata yang meneliti. Tidak ada seorang pun di belakangnya. Jadi, siapa yang berbicara tadi?


Sebuah kabut melayang di hadapan Claryn, membawa sinar yang redup. Karena penasaran, Claryn menjatuhkan tubuh sehingga kini sudah berada di luar ruangan. Meskipun takut, ia memberanikan diri untuk mencari sumber suara. "Siapa kau?"


Sebuah cahaya memancar. Refleks Claryn langsung menutup wajah dengan tangan.


"Claryn.”


Suara itu? Sepertinya sudah tidak asing lagi, batinnya. Claryn memutar tubuh mencari-cari sosok di balik suara tersebut. "Tunjukkan dirimu!"


Seekor makhluk dengan mata menyala biru yang redup muncul di hadapan Claryn.


"Fenrir. Apa yang—"


"Aku hanya mengunjungimu. Ikutlah denganku!"


Claryn sungguh tidak mengerti. Ia ingin saja mengikuti Fenrir, tetapi ia tahu betul bahwa werewolf itu pandai bermain muslihat. "Tidak!"


Fenrir menundukkan wajah, kedua kaki belakangnya berdiri layaknya manusia, sementara kedua kaki depannya membentuk otot-otot tangan. Claryn tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Gadis itu menggelengkan kepala tidak percaya. "Kau bukanlah serigala biasa. Siapa kau?"


Fenrir membuka kepalan tangannya. Cakar tajamnya keluar dengan cepat.


Fenrir membuat napas Claryn tidak beraturan. Berulang kali gadis itu menutup dan membuka mata, berharap semua hanyalah mimpi. Fenrir terus mendekat sampai membuatnya terjatuh. Mulutnya seakan dikunci, ia tidak bisa berteriak meminta tolong.


Fenrir berlutut di samping kaki Claryn. Tangannya meraba setiap helai rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Embusan napasnya seakan sengaja diarahkan tepat ke wajah Claryn.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Hatiku telah berhasil kau luluhkan.”


Claryn memejamkan matanya, tetapi percuma saja karena Fenrir terus mendekatkan wajah ke arahnya. Cakar tajam tangan Fenrir menyentuh wajah Claryn dengan kasar. Tidak. Claryn tidak akan melihatnya. Merasakan gerakan dari cakarnya saja sudah berkeringat dingin.


"Bukalah matamu! Aku akan memberikan sesuatu."


Sesuatu yang semula mengikat mulut Claryn kini menghilang hanya dalam beberapa detik—yang seakan terasa puluhan jam baginya. "Siapa kau sebenarnya? Apa yang akan kau lakukan terhadapku?"


"Aku akan memberikan sesuatu kepadamu, anggaplah itu sebagai pengganti karena aku telah melukaimu."


"Pengganti, maksudmu?"


Fenrir kembali mengunci mulut Claryn. Ia mengeluarkan cakar dari telunjuk dan membuatnya makin memanjang. Cakar itu terjatuh ke atas pangkuan Claryn. "Kau terima cakar itu."


Tolonglah! Siapa pun tolong aku! batin Claryn.


Percuma, tidak akan ada yang mendengarnya. Claryn menarik tubuhnya perlahan untuk menjauh dari Fenrir. Beruntung hanya mulutnya yang terkunci. Secepat mungkin ia memunculkan sayap untuk kembali ke ruangan, tetapi Fenrir menarik dan membuatnya terjatuh.


Fenrir mengulurkan tangan, membawa cakarnya kepada Claryn. "Ambillah! Suatu saat kau akan membutuhkannya."


Claryn menggeleng cepat. Ia tidak akan menerimanya. Fenrir tidak tahu harus berbuat apa lagi supaya Claryn mau menerima pemberiannya. Fenrir memasukkan cakar itu ke sayap Claryn lalu menatap matanya dengan tajam. Cahaya biru itu mengeluarkan sebuah rasa yang tulus. Claryn terhanyut. Kedua mata mereka sama-sama berwarna biru. Tiba-tiba saja Fenrir meniupkan napasnya ke arah wajah Claryn.


Brugh!


Baru saja membuka pintu, Mr. Samael sudah dikagetkan oleh tubuh Claryn yang terjatuh. "Claryn!"


Claryn membisu. Wajahnya seperti tersambar sesuatu yang begitu kuat. Tubuhnya tersentak merasakan sesuatu yang dipaksa masuk.


Mr. Samael berlutut di sampingnya dan memegang pundaknya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Fenrir! Fenrir berada di luar, Sir!" jawab Claryn.


Mr. Samael melihat jelas keringat dingin yang bercucuran di wajah Claryn. Ia berdiri dan memandang ke luar. "Tidak ada Fenrir, Claryn. Lihatlah! Tidak ada siapa pun."


Tidak mungkin. Claryn berdiri dan menyeka keringat dengan kasar. Apakah tadi aku bermimpi?


Mr. Samael menepuk bahu Claryn. "Mungkin kau lelah. Beristirahatlah!"


Claryn mengangguk dan berjalan dengan cepat menuju kamar, sementara Mr. Samael terus meneliti luar kastil. Tidak ada yang aneh. Ia mengangkat bahu tak peduli lalu memutuskan untuk beristirahat.


Sebuah cahaya tampak memperhatikan mereka. Cahaya yang meredup lalu menghilang.


Setibanya di kamar, Claryn memilih untuk tidak beristirahat. Ia sedang melebarkan sayap dan menatap cermin di hadapannya. “Tidak ada yang aneh dengan sayapku. Syukurlah itu hanya mimpi.”


Setelah mengira bahwa semua itu hanya mimpi, Claryn kembali menyembunyikan sayap. Namun, seperti ada sesuatu yang ganjil. "Aw! Apa yang menusuk tubuhku?"


Claryn kembali melebarkan sayap. Mulutnya terbuka lebar dengan mata yang hampir meloncat ke luar. Sayapnya yang semula begitu halus dan lembut, kini berubah menjadi kasar dan tajam. Gadis itu membuka sedikit pakaian yang berada di lengan kanan. Sebuah goresan kecil yang dikelilingi warna merah pekat menghiasi punggungnya.


“Apakah sayapku benar-benar menjadi cakar?” Untuk memastikannya, Claryn kembali menggoreskan tangan di setiap helai sayap. Ternyata semua itu bukan mimpi. Fenrir benar-benar memberikan cakar itu. "Aku harus—"


"Clar, kau sedang apa?" Lily memotong ucapannya.


Claryn kembali memasukkan sayap tersebut dan menutupinya dengan baju. "Tidak ada," kelitnya.


"Kau sudah bersiap-siap? Aku sudah berkemas. Mari kita menemui Lord Dazzle!"


Claryn hampir saja lupa waktu. Ternyata pagi sudah tiba. Mereka segera bersiap-siap dan berpamitan kepada Lord Dazzle. Sesampainya di Winterwall, Tim Empat berjalan menuju Maple Hostelry.


"Maaf!" Tanpa sengaja Claryn menabrak Wolfe.


Bukannya menjawab tidak apa-apa, Wolfe justru memperkenalkan diri. Otak Claryn pusing dibuatnya. Matanya mendelik ke arah Wolfe. "What? A-aku tidak bertanya tentangmu!"


Entah kerasukan apa, Wolfe membuat Claryn merinding karena bisikkannya. Kakinya berkali-kali dientakkan ke tanah. Matanya menyala dengan tajam. Hampir saja ia ingin mengusir Wolfe, beruntunglah Nastradamus dating, dan membawa laki-laki itu pergi. Sempat-sempatnya laki-laki itu memberi salam terakhir, tetapi Ia tak peduli.