
Story of a Boy Who Won the Lottery
SEPIRING SUP HAMBAR, sepotong roti, dan satu iris apel dengan daging yang sudah berubah cokelat dan mengerut. Krov, delapan tahun, memandangi makan malam terbaiknya dalam satu tahun terakhir.
Tinggal di sudut terpencil City of Ruse, tidak banyak yang bisa dilakukannya untuk mengisi waktu. Bagi keluarganya yang miskin, jarang ada kesempatan untuk duduk menikmati makan malam bersama. Ekonomi begitu menyulitkan sehingga mereka harus bekerja di beberapa tempat yang berbeda dan tentu saja dengan waktu pulang berbeda pula.
Krov berlari kecil ke atas bukit yang dikenalnya seperti telapak tangan sendiri. Baki berisi makan malam dibawa hati-hati. Dinginnya malam di Malice Island memang menusuk tulang, apalagi pada musim penghujan. Namun, ia sudah terbiasa. Tanpa alas duduk, ia menikmati makan malam di bawah naungan pohon hitam yang tidak pernah bersemi sembari menonton sekumpulan anak berlatih mantra sihir di halaman bangunan beratap kerucut.
Menyendok sup hambar, Krov membayangkan apabila ia bisa menjadi salah satu anak kecil di sana. Berlatih sihir hingga malam, bersenda gurau bersama kawan-kawan, dan menikmati makan malam yang bukan sup hambar dengan sepotong roti. Sayangnya ia lahir di keluarga yang kurang beruntung. Bukannya tidak bersyukur, ayah dan ibunya adalah orang baik. Terlalu baik untuk standar penghuni Malice Island malah. Walaupun begitu, jika boleh memilih, setidaknya ia ingin lahir sebagai seorang fallen angel meskipun tidak memiliki sayap. Ras Manusia terkadang tidak dilayani di toko dekat rumah.
Krov memfokuskan pandangannya kepada anak bersayap hitam yang berdiri di depan anak-anak lain, sepertinya menjadi contoh karena kemampuannya yang lebih. Anak tersebut merapal sebaris mantra dan sulur tanaman muncul mengikat boneka latihan di hadapannya. Krov memicingkan mata, mencoba membaca gerak bibir anak tersebut, dan meniru mantra yang barusan diucapkan. Seutas tali merah muncul dari tanah di hadapannya, melambai dengan lemah, dan menghilang kembali ke dalam bumi. Ia tersenyum hambar. Kemampuan sihirnya pun pas-pasan. Krov meletakkan piring yang kini kosong dan meraih gelas minum di sebelahnya.
Sesuatu membentur bagian bawah piringnya. Krov meraba-raba dalam gelap dan merasakan sensasi logam dingin pada jemari. Ia menggali benda tersebut dan mendapatkan sebuah cawan hijau pucat. Senyum menghiasi wajahnya, barangkali cawan ini bisa dijual besok sehingga ia tidak perlu bekerja untuk sementara waktu.
Krov berdiri, mengemasi perkakas makan dan bersiap untuk kembali ke rumah. Baki yang dibawa tadi menghilang dari pandangan, barangkali jatuh ketika ia sedang melamun, sehingga sendok dan garpu diletakkan di dalam cawan barunya. Cahaya keemasan muncul dari cawan tersebut, menyilaukan mata dan membuatnya hampir menjatuhkan perkakas makan. Matanya terbelalak tidak percaya ketika mendapati keajaiban di depan mata. Sendok kayu yang diletakkannya dalam cawan berubah menjadi emas murni. Seminggu kemudian, keluarga Krov menjadi bahan pembicaraan di City of Ruse.
Kabar angin tentang keluarga pemilik artefak yang dapat mengubah sampah menjadi emas menyebar ke seluruh penjuru pulau. Bukan bermaksud pamer, hanya saja ayah dan ibunya yang terlalu baik seringkali menggunakan artefak tersebut untuk membantu sesama orang tidak mampu. Seorang ahli benda sejarah didatangkan ke rumah dan cawan tersebut diidentifikasi sebagai Cawan Yishar. Di Malice Island, tidak ada peraturan yang mengharuskan penemu artefak menyerahkan temuannya kepada Lord sehingga keluarga Krov bebas menggunakannya sesuka hati.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Krov pindah ke rumah yang lebih besar, lebih mewah, dan penuh dengan segala apa yang dibutuhkannya. Hilang sudah hari-hari di mana mereka harus bekerja di tiga tempat dalam satu waktu dan makan sup tawar dengan irisan roti. Ayahnya membayar seorang guru ahli dari akademi terdekat untuk melatih bakat sihir putra tunggalnya. Krov kecil mengerjapkan mata tak percaya. Rasanya ia seperti memenangkan lotre tanpa membeli tiket undian.
Hari-harinya berlangsung seperti surga di dunia. Buah sumaline—diimpor dari Whispering Sand—menjadi makanan sehari-harinya. Buku tebal dan guru yang sabar menemani sepanjang waktu. Tak hanya keluarga, tetangga di sekitar pun mendapatkan imbas dari artefak temuannya. Lingkungannya dengan cepat berubah menjadi paling makmur di kota. Semuanya terasa sempurna. Urusan ekonomi tidak menjadi masalah, hubungan dengan tetangga terjaga dengan baik, dan orang tuanya tidak termakan oleh kesombongan.
Satu-satunya kesalahan mereka adalah tinggal di Malice Island, tempat di mana manusia paling busuk bernaung, dan motto kota yang mereka tinggali adalah, ‘Kebaikanmu membawa kehancuranmu sendiri’.
Dua bulan kemudian, keluarga Krov berkemas untuk meninggalkan pulau demi menghindari Midnight Phantasmagoria—malam di mana seluruh peraturan di Malice Island diangkat dan aksi kriminal dibebaskan mulai tengah malam hingga matahari terbit. Pukul sepuluh malam, mereka mencapai portal ke luar Malice Island. Sayangnya mereka tidak mengetahui bahwa penjaga portal telah dijanjikan setengah harta rampasan oleh sekelompok penyihir yang dengki dengan keluarga Krov.
“Tidak bisa! Keluarga dengan penghasilan lebih dari lima ratus keping emas tidak diperkenankan meninggalkan pulau tanpa izin Lord of Darkness!” Pria berkumis penjaga gerbang tetap kukuh pada pendiriannya. Rekan di sebelahnya terkikik, jelas-jelas tidak ada peraturan seperti itu.
“Omong kosong! Puluhan tahun sudah kami tinggal di pulau ini dan tidak pernah ada peraturan seperti itu!” Ayah Krov membentak frustrasi.
“Kalau Anda ingin protes, silakan pergi ke kastil Lord of Darkness dan tanyakan kepada beliau! Kalau tidak bisa, silakan menjalani Midnight Phantasmagoria sebagai warga Malice Island yang terhormat.”
Begitu lamanya mereka bercekcok hingga sirene tanda mulainya malam tanpa hukum. Menyadari bahwa tidak ada gunanya berdebat di sini, ia membawa keluarganya kembali ke rumah; menyegel tiap-tiap pintu masuk, jendela, dan seluruh celah yang bisa dilihat dari luar. Tiga kali ketukan pintu terdengar, ibunya memerintahkan Krov untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian dan tidak keluar sampai diberi isyarat.
Selarik mantra dari suara yang tidak asing terdengar di balik pintu, diiringi ledakan yang melontarkan papan kayu ke seberang ruangan. Seorang pria tua berjanggut panjang berdiri di antara puing-puing. Ia tersenyum, mengelus janggut putihnya yang menjulur hingga dada.
“Namaku Enai. Aku datang ke sini untuk mengambil Cawan Yishar. Semoga perjalanan kalian ke alam baka menyenangkan.” Enai, guru mantra privat sewaan ayah Krov, mengacungkan tongkat kepada kliennya.
Suara bilah pedang bertemu tongkat terdengar. Tak lama kemudian, ledakan memenuhi ruangan. Enai melangkah menuju ruang tamu tempat Cawan Yishar diletakkan, mengambil artefak tersebut, dan keluar menginjak puing-puing abu yang kemarin menjadi kliennya.
Krov menahan napas di dalam lemari pakaian, aroma parfum dari jubah yang belum pernah dipakai bercampur dengan bau mesiu.
Pagi pun datang, ditandai ayam berkokok yang memekakkan telinga. Krov akhirnya keluar dari persembunyian dan menemukan bekas abu orang tuanya yang tertiup angin. Tidak ada jenazah untuk dikubur, tidak ada tulang untuk dikumpulkan. Yang tersisa hanyalah nasib untuk disesali.
Malamnya Krov bermimpi. Ia bertemu seorang pria dengan wajah tertutup kabut hitam. Sosok tersebut menawarkan kesempatan untuk balas dendam. Balas dendam kepada penjaga yang mencegah keluarganya meninggalkan Malice Island, balas dendam kepada guru sihir pengkhianat yang mengambil kedua orang tuanya, dan balas dendam kepada pulau terkutuk ini.
Esok harinya, Krov pergi ke sudut utara Malice Island. Sejauh mungkin dari tempat asal di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Sosok dalam mimpi mengajarkan berbagai hal seperti cara membobol rumah seorang penyihir tua, metode untuk memenangkan duel sihir melawan gurunya sendiri, dan keberadaan sebuah artefak yang lebih kuat dari Cawan Yishar.
“Lebih kuat dari Cawan Yishar?”
“Benar. Artefak ini dibuat oleh Lord of Darkness sendiri. Kuasai artefak tersebut dan Malice Island akan jatuh ke tanganmu.”
“Jangan bercanda. Manusia sepertiku tidak mungkin mampu menguasai artefak yang dibuat oleh malaikat keturunan murni seperti Lord of Darkness.”
“Oh, justru sebaliknya,” sosok tersebut tersenyum, “karena kau adalah seorang manusia, hanya kaulah yang bisa menguasai artefak tersebut.”
Krov menelan ludah. Sosok tersebut memandunya ke sebuah pulau di sebelah selatan Cursed Oath Altar. Tepat di tengah pulau kecil yang penuh dengan pepohonan, ia menggali dan terus menggali sampai sekopnya terbentur sebuah tengkorak belasan meter dari permukaan tanah.
“Inilah Equalizer, artefak yang dapat mengacaukan aliran mana di sekitarnya. Awalnya dibuat dengan darah Lord of Darkness sebagai sumber sihir, tetapi darah fallen angel mana pun akan bekerja.” Suara bisikan terngiang di telinganya.
Krov menuangkan darah mantan gurunya pada artefak tersebut. Tengkorak di tangannya mengeluarkan cahaya hitam dan kekuatan sihirnya terasa diisap ke luar. Begitu kuat sehingga sayap merah darah di punggungnya menghilang.
“Sekarang kau harus bertapa setiap hari di dekat artefak ini agar aliran mana-mu dapat beradaptasi. Setelah lima tahun, carilah darah seorang bangsawan sebagai pengganti sumber sihir. Semakin murni semakin baik.”
“Lalu?”
“Lalu pergilah untuk mengambil alih Kota Tearsong, putus jalur produksi makanan, dan kita akan ambil alih Malice Island. Sekarang aku akan pergi. Sampai jumpa lima tahun lagi.”
“Hei! Kau belum pernah memberikan namamu.”
“Panggil saja aku … Pangeran Empat Darah.”