Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The Consequences



The Consequences


“ADA YANG BISA menjelaskan hewan apa itu?” Thann dan Nastradamus mengangkat tangan. “Wolfe, jawab!”


“Aku bahkan tidak angkat tangan!”


“Jawab saja.”


“Pastinya hewan dari buku. Warnanya aneh.”


“Bagus. Kau dapat minus tiga puluh poin.”


“Apa? Kalau kau tidak mau jawaban salah, harusnya jangan bertanya padaku!” Wolfe menunjuk-nunjuk Thann dan Nastradamus. “Mereka saja atau anak yang melamun di sebelahku ini.”


“Aku gurunya, kan?” Mevel berdeham. “Baiklah. Itu adalah rusa syrenian. Mereka hidup sekitar 508 tahun yang lalu di wilayah Fallen Forest dan memiliki angka kelahiran yang rendah. Spesies terakhir sempat dijaga dan dirawat oleh raja sebelumnya di kastil, tetapi mati di sana akibat usia.” Ia menjeda dan mengalihkan pandangan ke arah rusa syrenian yang tengah merumput. “Hewan ini adalah satwa yang mampu berlari secepat anak panah. Mereka sama sekali tidak berbahaya dan cenderung ramah. Namun, jika merasa terancam sedikit saja, akan sulit menangkapnya.”


Seluruh anggota tim terperangah.


“Kedengarannya mustahil ditangkap.” Nastradamus meringis pelan.


“Memang sulit. Terlebih lagi jika ingin memasukannya ke kertas. Kita harus berdiri sedekat mungkin. Seperti kejadian si Tinta.” Thann menatap Mevel yang dibalas sebuah anggukan.


“Tumben sekali kau diam.” Wolfe menendang pelan kaki di sebelahnya. Merasa malas untuk bergabung dengan topik obrolan tiga orang di depannya.


“Aku sedang berpikir,” balas Ashlen, melirik remaja berambut putih yang telah merebahkan diri di atas rerumputan. Ia bersila sambil memainkan rumput panjang, matanya menatap lekat-lekat ketiga rekan yang duduk di bawah satu-satunya pohon di lahan ini.


“Apa kau menikmatinya?”


“Apa?”


“Menyakiti orang lain.”


Ashlen mengernyit. Ia menoleh dan menatap tajam wajah santai Wolfe. “Apa maksudmu?”


Wolfe mengangkat tubuhnya dan menopang diri dengan lengan kanan. “Kau suka melakukannya, kan? Mengorek informasi orang lain dan menggunakannya untuk menyudutkan. Apa kau menikmatinya? Membuat orang lain merasa kecil? Membuat mereka merasa takut denganmu.”


Ashlen tertawa lirih. “Kau takut denganku, Wolfe? Kau merasa kecil saat aku menggenggam rahasiamu seperti itu?”


Wolfe mendengkus dan tersenyum kecil. “Lihat senyum itu! Kau sangat menikmatinya.”


Senyum sinis Ashlen melebar. “Mock me. If you dare,” ia menggeleng, “daripada mengusikku seperti ini, coba buktikan kalau kau cukup berguna bagi tim.” Ia beralih menatap dataran rendah, ke arah rusa syrenian yang tengah berbaring dikelilingi anak-anak rusa.


“Mungkin kau bisa membuat Mevel mencabut pengurangan poin atau ….”


Sebuah bayangan melintas, menghentikan kalimat Ashlen. Tubuh serigala raksasa baru saja memelesat di atas kepalanya dan dengan kecepatan luar biasa berlari menuruni tanah yang landai.


“Oh, sialan! Wolfe! WOLFE!” Ashlen menjerit-jerit dan mengejar Wolfe, tetapi lari tercepatnya pun terlihat memalukan jika dibandingkan serigala tercepat dari Keluarga Dalton Senvarious itu, Dalton S. Wolfe.


Melihat dua juniornya berlarian menuruni padang rumput, perasaan tidak enak menghinggapi Thann. Sayapnya mengembang lalu terbang mengejar. Nastradamus mengikuti sambil memanggil-manggil kedua teman seangkatannya. Ia meluncur di atas padang rumput, mengeluarkan tongkat sihirnya.


“Fag-yott!” Mantra tersebut membekukan kedua kaki Ashlen. Remaja itu langsung jatuh menungging sambil menyumpahi Nastradamus.


Mevel yang sedari tadi jadi pemerhati tidak bergerak seinci pun, hanya menatap Wolfe yang sudah makin dekat dengan gerombolan rusa. Ia bisa menebak akhir dari kejadian ini, di kepalanya sudah terpatri hukuman apa yang pantas untuk Ashlen dan Wolfe.


Tak sampai sepuluh menit, kedua murid itu sudah bersimpuh di depan Mevel. Kalau saja tatapan bisa membunuh.


Ashlen melirik ngeri anak di depannya dan langsung mengalihkan tatapan, sementara bahu Wolfe terus naik tiap kali Mevel membuang napas gusar.


“Aku tidak akan menanyakan apa yang kalian lakukan, selagi kami menyusun rencana.” Suaranya bahkan dirasa Ashlen lebih dingin dari sisa es batu di pergelangan kakinya. “Apa pun itu, aku tidak peduli.”


Keduanya menelan ludah.


Tidak terjadi apa pun.


Wolfe melirik Ashlen. “Apa yang terjadi?”


Ashlen menggeleng. Ia menatap kedua rekannya yang keheranan lalu Mevel.


“Kalian bicara bahasa ogre sekarang.”


“Apa?” Ashlen memekik, sedangkan yang didengar kawannya selain Wolfe adalah, “Guargh?”


“Blah-blah-blah, gwahhh?” Wolfe menanyakan sampai kapan mereka akan begitu. Ia dan Ashlen lalu saling menyalahkan sampai Mevel kembali bicara.


“Kalian berdua, pergilah menyusuri jejak rusa itu! Barang kali ia tidak lari terlalu jauh, walau aku sangsi. Langsung kembali jika kalian melihatnya! Thann dan Nastradamus, kalian juga. Aku akan menyusul.” Mevel memberi titah. “Sepertinya, kita akan bermalam.”


 Matahari mulai tergelincir dari tempatnya dan nyaris menghilang ke balik pepohonan. Thann memutuskan agar ia pergi bersama Nastradamus, sementara dua orang sisanya yang hanya bisa memahami bahasa satu sama lain pergi bersama. Mereka janji akan bertemu di tepian sungai begitu matahari tidak lagi tampak di  langit.


Kepala Ashlen terasa kacau balau. Untuk kali pertama, ia menyesal sudah memancing orang lain seperti tadi. Mungkin memang benar ia harus belajar menahan lisan. Keduanya tidak berhasil menemukan rusa tersebut. Mereka telah mengikuti jejak yang tercetak di tanah, bekas cakaran tanduk di kulit pohon, dan ranting-ranting yang patah. Hasilnya nihil. Kini Mevel sudah berkata bahwa mereka akan bermalam. Satu hari hampir berlalu.


Ashlen menekan jemarinya dengan jempol sampai berbunyi. Bagaimana jika kelompok itu memanfaatkan pencarian satwa ini untuk menyibukkan kami? Jadi mereka bisa menghilangkan jejak atau menyusun rencana baru. Apa mereka tidak akan muncul lagi? Kehilangan seorang anggota jelas tidak berpengaruh apa pun. Mereka tidak perlu sembunyi jika sedari awal tidak akan muncul lagi. Ia menggeleng. Bahkan jika kiamat datang, aku harus tetap tenang.


Ashlen menyusuri jalan tepat di belakang Wolfe. Dengan indra serigala, remaja itu tidak butuh kompas ataupun peta. Belum sampai lima menit sejak kegelapan menyentuh puncak-puncak pohon, dua orang yang terkena hukuman itu memunculkan diri dari seberang sungai. Tim satu lagi sudah mendaki dataran tinggi yang kini memantulkan cahaya lentera.


“Di mana Mevel?” tanya Ashlen begitu mencapai perkemahan. Tidak ada yang menjawab. Ia lupa bahwa Thann dan Nastradamus tidak mengerti ucapannya.


Seolah menjawab kekhawatirannya, sebentuk portal tembus pandang muncul dan sebelah kaki Mevel tampak. Sekilas Ashlen melihat kawasan hutan dari dalam portal, menandakan bahwa Mevel ikut mencari rusa syrenian dalam cakupan yang lebih luas. Sepasang iris biru milik pembimbing itu memperhatikan mereka satu-satu. Ia mengangkat sebelah tangan, mencegah Thann melaporkan. Tahu bahwa hasilnya pasti negatif.


“Malam ini kita istirahat.” Mevel duduk di atas sebongkah batu pipih. “Kalian sudah tidak tidur sejak kemarin dan belum makan siang. Kita lanjutkan besok.” Ia melemparkan kantung buah mil kepada Thann.


“Berdoalah supaya hewan itu lekas ditemukan. Kita juga masih harus menangkap para penyerang itu.” Mevel bangkit berdiri dan melirik Ashlen tajam. “Semoga mereka muncul sendiri.”


Ashlen menatap punggung Mevel yang memasuki tenda. Anak itu membangun tiga buah. Satu untuknya, dua sisanya harus dibagi. Wolfe memilih untuk tidur di luar. Nastradamus secara sepihak memutuskan agar ia setenda dengan Ashlen sehingga Thann tidur seorang diri.


Usai makan malam, Mevel keluar dari tenda dan membagikan buku setebal ibu jari. Ia duduk lagi di atas batu pipih, sedangkan yang lain bersila di depannya. “Aku akan mulai mengajar. Silakan buka halaman pertama!”


Materi malam itu tentang mantra-mantra sederhana dan pengetahuan mengenai ramuan. Mevel mengajari mereka mantra Tűz untuk memantik api, Szél memanggil angin, Folyik Água memunculkan aliran air, dan Vág untuk memotong objek. Sebagai tambahan, ia juga meminta semuanya mempraktikkan mantra-mantra itu untuk menyalakan lentera, memperbesar api unggun, mengisi gelas minuman, dan memotong kayu bakar.


Setelah praktik, pelajaran dilanjutkan dengan pengenalan beberapa jenis ramuan. Ada wiseman potion, ramuan untuk mengurangi kecerobohan. Minuman wajib Nastradamus agar ia tidak tertidur setiap kali terkejut. Sleeping powder, bubuk penidur. krim penyembuh memar, alvera cream, dan matilna essence, esensi tumbuhan matilna yang dapat mengobati luka sederhana.


Mevel menabur segenggam bubuk ke dalam api dan gambar bergerak pembuatan ramuan muncul selagi ia menjelaskan. Beberapa ramuan dibawa oleh Nastradamus, bekal dari toko keluarganya.


Menjelang pukul sebelas malam, api unggun dimatikan dan lentera-lentera diredupkan, pintu-pintu tenda diritsleting. Wolfe meringkuk di bawah pohon dalam wujud serigala. Keheningan malam ditemani taburan bintang dan puluhan hewan-hewan kecil bercahaya melingkupi tempat itu.


 Angin malam berdesir, siulan hewan saling menyahuti, empat kaki berbulu putih melintasi semak-semak dan menginjak-injak dedahanan pohon tanpa ampun. Moncongnya mengendus udara, sesekali diam, sambil membaui tanah lalu kembali berpacu.


Sore itu saat sedang mencari rusa syrenian, Wolfe melihat hewan itu melintas. Ia tidak memberitahu Ashlen karena malaikat itu terlihat tidak fokus dengan pekerjaan mereka, ditambah lagi ia ingin membuktikan sesuatu untuk seluruh timnya dan membungkam Ashlen.


Langkah Wolfe terhenti saat seseorang berdiri tegak di depannya. Sepasang sayap lebar menghalangi jalan. Karena melintas di udara, Wolfe tidak sadar diikuti.


“Apa yang kau lakukan?” Thann tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban. “Wolfe, jangan memperburuk keadaan. Kalau kau tahu sesuatu, kembalilah! Beri tahu itu pada Mevel.”


Wolfe menggeram. Thann sadar tawarannya ditolak.


Tiba-tiba saja Wolfe melompat ke depan, Thann dengan sigap menghindar ke samping. Serigala besar itu menggigit setangkai anak panah dan mematahkannya. Ia menggeram ketika semak-semak bergerak tak wajar dan hewan-hewan seukuran telapak tangan berseliweran kabur.


Sekelompok orang bertudung merah muncul dari balik pepohonan. Ujung-ujung tongkat mereka bercahaya. Beberapa di antaranya sudah menarik busur dan menggenggam sebilah belati. Dugaan Ashlen benar, mereka muncul.


“Persiapkan dirimu, Wolfe!” Thann melirik juniornya yang berkali-kali lipat lebih tinggi.


“Kurasa kita akan bertarung.”