
Golden Hibiscus
FENRIR MENYEMBURKAN ASAP dingin bersama duri es ke arah pohon-pohon kecil di sampingnya. Tubuh Lily sedikit bergerak mundur merasakan sakit dari pohon itu, tetapi ia terus memberanikan diri memandang Fenrir. Karena tidak tega melihat muridnya, Mr. Samael menepuk pundak Lily, meyakinkan.
"Karena ini wilayahku, aku menginginkan sebuah bunga yang dimiliki oleh Dewi Asgar. Kalian harus menebak apa nama bunga itu dan membawanya ke hadapanku!"
Lily berdecak lalu menyeringai. "Ck. Hanya itu? Terlalu mudah."
"Bukan hanya itu. Kalian harus kembali ke tempat ini di saat cahaya bulan sudah sempurna!"
Tunggu, apakah Lily salah berbicara? Ia saling pandang dengan Mr. Samael. Entah itu hanyalah permainan biasa yang melambat-lambatkan tujuan mereka atau sebagainya. Cukup sulit bagi Mr. Samael memikirkan permainan dari Fenrir karena yang ia berikan bukanlah semacam teka-teki.
"Bagaimana? Apakah kalian benar-benar setuju?"
Lily melihat ke arah Vendard dan Claryn. "Apakah kita harus menyetujuinya?"
Claryn menarik napas, mencoba menahan rasa lemah. "Tujuan kita mencari benda pusaka. Apa pun rintangannya, kita harus hadapi itu. Jika memang sangat berisiko, kita harus menerimanya dalam keadaan apa pun."
"Fenrir adalah jalan kita menuju benda pusaka. Ini tentang sebuah permainan dengan aturan dan bukan petualang dengan berbagai rintangan,” sambung Vendard.
Mr. Samael bergerak ke segala arah meskipun Fenrir memperhatikannya. Mereka tidak peduli dan terus berembuk karena tidak ingin salah mengambil langkah dalam permainan tersebut.
Mr. Samael berhenti dan menatap ketiga muridnya. "Ya, Fenrir adalah satu-satunya jalan menuju benda pusaka. Ia memaksa kita untuk menjalankan pikiran dan pengetahuan tanpa harus menguras tenaga dengan berbagai rintangan."
"Kita harus yakin agar bisa mengalahkan Fenrir dengan bekerja sama!" tambah Lily.
Mr. Samael, Claryn, dan Vendard mengangguk setuju.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Suara Fenrir menyadarkan mereka. Persetan jika ia terus bertanya dan bosan menatap Tim Empat.
Mr. Samael melihat ketiga muridnya yang mengangguk dengan yakin. "Ya, kami setuju."
Di samping itu, Claryn berusaha menggerakkan tangan, tetapi tidak bisa. Apa yang terjadi dengan tanganku?
Vendard menatap Claryn khawatir. Apa yang terjadi dengan Claryn? Ia tidak mengerti. Tangan Claryn begitu dingin saat disentuh. "Clar, bertahanlah! Aku pastikan kau akan baik-baik saja!"
"Baiklah. Tebak dengan benar dan berikan dengan tepat. Aku akan menunggu kalian di saat cahaya bulan sudah sempurna. Berjanjilah bahwa kalian akan menemuiku!"
Lily mengentakkan kaki, geram pada Fenrir. "Bukankah kami sudah setuju? Dan, itu artinya—"
"Ya, kami akan berjanji!” Mr. Samael memotong ucapan Lily.
Vendard berdecak. Rasanya ingin sekali ia berubah wujud menjadi serigala yang lebih besar dari Fenrir dan bertarung dengannya. Tak peduli meskipun ada hubungan darah antara keduanya. "Jelas saja, keberadaan benda pusaka itu hanya diketahui olehmu!"
"Sudahlah, Vendard. Gunakan pengetahuan, bukan emosi," lirih Claryn.
Fenrir memutar tubuh dengan menyemburkan asap napas dingin ke atas awang-awang lalu berlari sangat cepat. Tim Empat merasa lega karena Fenrir tidak lagi menyemburkan asap dingin ataupun menyerang dengan durinya.
"Sir, kita harus cepat membawa Claryn," usul Vendard.
Lily berlutut lemas di samping Claryn dan memegang erat tangannya. "Aku yakin kau bisa bertahan, Clar."
Mr. Samael tidak peduli dengan kedudukannya sebagai guru yang sangat disegani para siswa. Ia mengangkat tubuh Claryn dan berjalan dengan tergesa-gesa. "Cepatlah! Sebelum asap itu membuat tubuh Claryn semakin melemah, kita masih bisa mengobatinya!"
Lily dan Vendard mengikuti langkah Mr. Samael menuju floating. Kedua penjaga yang ditugaskan masih menunggu dengan setia. Mereka masuk dan kembali ke Chrisella Castle. Setibanya di sana, Mr. Samael meletakkan Claryn di atas kursi kristal. Kakinya melangkah dengan tangan yang menggosokkan sayap. Rupanya ia sedang mengeluarkan cetakan bunga lalu membawanya ke ruangan multifungsi. Aku akan mencari buku yang menjelaskan cetakan tersebut.
Claryn mencoba mengarahkan mata, diikuti gerakkan kepala ke arah Lily dan Vendard yang masih berdiri. "Bagaimana dengan permainan Fenrir?"
Lily membantu Claryn untuk duduk karena melihat gadis itu tidak nyaman dengan posisi telentang. "Kita akan memulihkanmu terlebih dahulu, Clar."
Mr. Samael hanya meletakkan cetakan itu di atas meja dan kembali menghampiri mereka. "Lily, Vendard, apakah kalian bersedia membantuku untuk mencari buku yang berisikan mantra di ruangan multifungsi itu?"
"Aku yang akan menjaga Claryn," celetuk Lily.
"Terima kasih.” Claryn tersenyum manis ke arah Lily.
Vendard mengangguk lalu melangkah. "Mari, Sir. Aku akan membantumu."
Ruangan multifungsi itu berubah menjadi ruangan yang penuh dengan buku berisikan mantra dari huruf-huruf kuno. Mr. Samael dan Vendard terus menelusuri setiap kotak rak buku. Mata Vendard menangkap kotak cetakan bunga di atas meja samping rak buku. Mungkin Mr. Samael akan mencari buku tentang cetakan bunga itu.
Langkah Mr. Samael bergerak dari satu lemari ke lemari yang lain. Matanya membaca setiap judul buku dan berakhir di buku dengan judul Makhluk Mitologi Nordik. "Apa kau menemukan sesuatu, Vendard?"
Vendard terus meraba setiap buku dengan tangannya. Ada sebuah tulisan di sampul buku yang terakhir disentuh. "Heilzauber."
"Kau ambil buku itu dan kembalilah mencari. Kita akan membuat sebuah mantra dari huruf-huruf kuno yang kemudian disatukan," kata Mr. Samael.
Mr. Samael sudah menemukan beberapa buku, begitupun dengan Vendard. Mereka membawanya ke arah Claryn dan Lily. Mr. Samael membuka setiap lembar dari buku tersebut sampai tiba di huruf kuno yang bisa ia rangkai menjadi mantra penyembuh. Setelah berhasil menyatukan huruf-huruf tersebut, Mr. Samael membacakannya ke arah Claryn. Karena Mr. Samael merupakan ras Fallen Angel campuran penyihir, ia menjadi sangat ahli dalam semua mantra yang berada di seluruh dunia.
Tangan Claryn tampak melayang perlahan dengan sedikit asap dingin yang keluar. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan tanganku, Sir?"
Mr. Samael mengambil salah satu buku yang disimpan di atas meja. Lembar demi lembar bergulir saat tangannya mencari-cari nama Fenrir dari sebuah buku yang berjudul Makhluk Mitologi Nordik. "Itu adalah senjata Fenrir untuk melemahkan lawannya."
Lily bergerak karena penasaran. "Senjata?"
Kaki Mr. Samael berdiri dan melangkah membawa buku. Ia kembali menunduk. "Ya, itu hanya melemahkan saja. Tangan Claryn yang lemah tidak akan bisa menggunakan kekuatannya untuk menyerang Fenrir."
Claryn menatap punggung Mr. Samael. "Itu sebabnya mengapa tanganku sangat sulit untuk digerakkan?"
Mr. Samael membalikkan badan. "Ya. Senjata Fenrir memang sering dianggap biasa karena senjatanya hanyalah asap napas dingin, tetapi itu sangat melemahkan."
Claryn membisu dan mengangguk pelan.
"Kita harus kembali mencari tahu tentang permainan yang diberikan Fenrir,” kata Vendard.
Tim Empat kembali membuka lembar buku. Sementara itu, Lily tertarik membaca isi dari buku yang berjudul Dewi Asgard. Matanya terus membaca lembar demi lembar lalu tersenyum. "Golden hibiscus." Ingatannya kembali diputar saat Dewi Asgard yang bernama Sibyl memberikan bunga kepadanya. Benar, nama dari bunga itu adalah golden hibiscus.
Vendard menyatukan alisnya menatap Lily tak mengerti.
Mr. Samael menutup buku yang dibacanya. "Kau benar, Nona James. Golden hibiscus adalah bunga yang dimiliki Sibyl."
Claryn mengingat betul kejadian itu, kejadian di mana dirinya meragukan senior dengan rambut merah tersebut. “Bukankah bunga itu sudah disita oleh pihak Academy? Dan, tidak mungkin untuk membawanya ke sini."
"Kau harus memintanya lagi, Lily," kata Vendard.
Lily menggeleng. "Mustahil. Aku tidak akan bisa memintanya lagi." Ia berdiri, mencoba mengingat kembali kejadian yang lampau itu. Setelah mendapatkan seluruh ingatan, ia berjalan dan membuka tas punggung di hadapan mereka. "Tunggu! Sepertinya aku masih menyimpan serbuk sari dari bunga itu. Lihatlah!"
Mr. Samael menggelengkan kepala melihat muridnya yang satu itu. "Aku tidak mengira kau akan menyimpan sesuatu yang begitu berarti dari bunga itu, Nona James."
“Jika bunga tersebut mustahil untuk didapatkan kembali, kita harus membuatnya," usul Claryn, "dan bagaimana?"
Vendard berdiri untuk mengambil cetakan bunga di ruang multifungsi dan kembali bergabung. "Kita bisa menggunakan ini."
Lily mendekat ke arah Mr. Samael. "Sir, bukankah kau sudah menyembunyikannya?"
Mr. Samael mengangguk. "Ya, aku menaruhnya di ruangan multifungsi karena akan mencari buku tentangnya." Mr. Samael menatap tajam ke arah Vendard. "Dan, kau—"
"Maaf, Sir. Tadi aku melihatnya dan mungkin kau lupa untuk membawanya kembali. Kita bisa menggunakan ini,” potong Vendard.
Mr. Samael menghela napas, langkahnya kembali menghadap ke arah meja. Ketiga muridnya mendekat dengan tatapan bertanya-tanya.
"Vendard, tolong berikan cetakan bunga itu karena aku ingin melihatnya,” pinta Lily. Tangannya meraba cetakan bunga dengan netra yang terpejam hanya beberapa detik sebelum kembali terbuka. "Periwinkle."
Claryn sedikit menggerakkan kepalanya ke arah Lily. "Kau harus menyimpan serbuk sari itu di dalam kelopak bunga. Aku akan menyalurkan cahaya untuk membuatnya walaupun nanti warnanya akan pucat."
Lily menatap iris Claryn dengan semangat. "Ya! Dan, aku akan meniupkan kehidupan ke dalamnya supaya tampak asli."
Vendard berdiri membusungkan dada menatap dengan alis bergerak naik turun. "Apa yang kalian butuhkan?"
Ketiga murid itu mulai sibuk mempersiapkan alat untuk pembuatan bunga golden hibiscus walaupun menggunakan cetakan periwinkle.
Mr. Samael meneliti semua barang di atas meja yang terdapat buku-buku dan cetakan bunga. Ingatannya kembali diputar bahwa ada tulisan kuno yang mengelilingi cetakan bunga tersebut. "Tunggu sebentar dan kemarilah!"
Mereka menghentikan semuanya lalu menghadap Mr. Samael. "Yes, Sir!" Mereka menjawab bersamaan.
"Kita harus mengucapkan tulisan yang ada di cetakan bunga tersebut saat golden hibiscus imitasi sudah masuk ke tubuh Fenrir. Semoga saja itu berhasil meluluhkannya dan aku akan memasukkan mantra peluluh ke dalam cetakan bunga!”
"Apakah mungkin tulisan itu juga akan bereaksi?" tanya Claryn.
"Ya, semoga saja." Mr. Samael berharap.