Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The End



The End


MEVEL TELAH MERUNTUHKAN pelindung yang ia ciptakan. Begitu piramida transparan itu luruh, rombongan besar penjaga kerajaan berpakaian besi lengkap terbang masuk dan langsung membekuk musuh mereka. Mevel juga telah mengembalikkan kilord ke dalam kertas, menyerahkannya ke pria setengah botak yang ada di Library Wood waktu itu. Keduanya berjabat tangan. Ia pun menerima gulungan kertas dari kanselir raja yang datang menemui.


Mevel berjalan mendekati tim yang tengah beristirahat. “Ini petunjuk untuk menemukan pusaka itu.” Anak itu merentangkan kertas tersebut, mengusap bagian tengah, dan percikan keemasan mulai mengukir baris-baris kalimat. Pada pinggir kertas tersebut, ada gambar sebuah pohon besar yang akarnya membentuk jalinan di sekeliling kertas seperti bingkai.


Thann dan Ashlen beringsut mendekat, sementara Wolfe dan Nastradamus mengapit pembimbing mereka.


 “Apa tulisannya?” Wolfe memajukkan kepala untuk bisa membaca tulisan tersebut. “Foel bapa cuo yta hw dn aerau oyo hw, eris edr uoye esn aci.” Ia terdiam sesaat lantas tersenyum bangga. “Wah! Ternyata aku bisa membaca mantra panjang.”


“Itu tidak terdengar seperti mantra,” komentar Nastradamus. Ia meraih gulungan tersebut dan mengulanginya. “Aku tidak pernah membaca ini di literatur mana pun.”


“Memang bukan mantra.” Perkataan Mevel menarik semua perhatian tim. “Coba perhatikan dan baca keras-keras! Itu mudah sekali.”


“Foel bapa cuo yta hw dn aerau oyo hw, eris edr uoye esn aci.” Nastradamus membacanya sampai tiga kali sambil disimak oleh anggota lain. Tiba-tiba saja ia terlonjak. “Aku bisa membacanya!”


Mevel tersenyum kecil.


“I can see your desire, who you are and ….” Kening Nastrdamus mengerut. Ia berusaha menyimak ulang tulisan tersebut.


“And, what you capable of,” sambung Thann. “Kalimatnya hanya dibuat berantakan dan dibaca terbalik.”


Ashlen bergumam panjang. “Aku tidak pernah mendengarnya.”


“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan pohon?” Wolfe menunjuk gambar pohon besar yang mengelilingi pesan di gulungan tersebut. “Mungkin Library Wood atau Fallen Forest?”


“Fallen Forest?” Ashlen membeo. Ia terdiam sekejap lalu senyum puasnya tiba-tiba timbul. “Ah, itu dia maksudnya! Jantung Fallen Forest.”


“Jantung Fallen Forest?” Thann mengernyit, “maksudmu … Hutan Emas?”


Ahslen mengangguk. “Tulisan ini ditulis dengan tinta emas, ada simbol pohon, dan kalimat itu … kalimat itu! Kalau ada benda atau tempat dengan kemampuan seajaib itu, pasti hanya ada di sana!” Ia menatap Thann yakin.


“Di tempat leluhur kita pertama kali tiba!”


 “Aku tidak menduga kalian akan memecahkan teka-tekinya secepat itu.” Mevel melompati sebuah batu seukuran kelapa.


Nastradamus cemberut. “Kau sudah mengetahuinya lebih dulu, ya?”


“Sekali lihat saja, kan, langsung tahu.” Anak itu berbalik dengan gaya congkak.


“Awas, nanti kau kepeleset!” Wolfe menarik kerah jubah Mevel seperti menggendong kucing dan meletakkan anak itu di lehernya. “Kalau kau diseret arus sungai dan kena flu, nanti kami dihukum Kepala Sekolah.”


Diam-diam Mevel senang karena tidak perlu berjalan.


Kini Tim Tujuh tengah menyusuri jalan setapak di tepi sungai kecil yang membelah Fallen Forest. Pada bagian tengah hutan ini, terdapat sebuah air terjun yang alirannya mengisi sungai-sungai di Winterwall. Air terjun tersebut mengelilingi Hutan Emas.


“Bagaimana kita tahu kalau sudah dekat?” tanya Wolfe dari baris terdepan.


“Setahuku—”


“Kau selalu tahu apa pun, ya.”


Thann mengabaikannya. “Hutan Emas ditinggali oleh para makhluk langka, termasuk rusa syrenian yang sebelum punah. Untunglah imitasnya tidak kembali ke sana juga,” paparnya dari belakang Nastradamus.


“Kenapa tidak?”


Thann menggedikkan bahu. “Aku bukan hewan.”


“Harusnya kau coba bergosip dengannya waktu itu.”


“Diam, Ashlen!”


“Apa ini termasuk tumbuhan langka?” Nastradamus menunjuk sehelai daun dengan bentuk menjari. Daun itu memiliki mata sekecil tetesan air di kedua sisi batang kurusnya dan berdiri menggunakan ujung-ujung daun sebagai kaki. “This is so cute, but weird.”


Mevel menunjuk seekor kelinci yang terbang dengan kupingnya. “Nah, itu termasuk hewan langka.”


“Itu juga!” Thann menunjuk rubah biru tua sebesar tupai. “Dan, itu!” Jarinya bergeser ke ikan emas berkaki empat di bahu Ashlen.


Ashlen menatapnya geli. Hewan itu berkuak, lantas melompat ke dalam sungai, dan berenang. “Kurasa kita sudah dekat.” Ia meniup kumbang berbulu dandelion yang mendekati wajahnya.


“Kau tidak terlalu suka hewan?” Thann tersenyum kecil melihat seekor kancil bertanduk dahan bunga sakura melompat keluar dari semak-semak.


“Aku suka tikus dan kucing.”


Seluruh tim terus berjalan, sesekali tertawa. Setengah jam kemudian, Mevel minta diturunkan. Ia memimpin jalan menaiki undakan dari batu. Ada jalan setapak dengan pohon-pohon setinggi dua kali orang dewasa di sisinya. Mereka berjalan dalam diam. Berkali-kali hewan-hewan magis berlari menjauh atau duduk memperhatikan dengan ekspresi bingung.


“Banyak tumbuhan langka di sini,” bisik Nastradamus. “Andai bisa kubawa untuk membuat ramuan.”


Wolfe ikut berbisik, “Aku mendengar suara air terjun. Dekat sekali.”


Tim berhenti di depan dua pohon mitseltoe yang membungkuk. Satu per satu mereka melintasi kedua pohon itu. Ashlen meraba kayu lembap dan berjalan terus hingga kegelapan yang tadi mengelilingi menjadi terang benderang. Perasaan hangat membungkusnya lembut. Rasanya seolah menemukan tempat pulang setelah melalui perjalanan panjang.


Di balik kedua pohon tadi, terdapat sebuah hutan lain dengan pohon-pohon kurus yang daunnya kuning, jingga, jingga kemerahan, merah, cokelat kekuningan, dan warna-warna sejenis. Tempat itu bernuansa seperti musim gugur dan panas sekaligus. Ashlen merasa sesak dengan perasaan yang menyenangkan. Rekannya juga tampak bergembira, terpana dengan tempat tersebut, dan membiarkan diri tersihir oleh keindahannya.


Di tengah-tengah hutan, ada sebuah kolam berbatu. Pada tepiannya, terukir kalimat yang ada di gulungan raja. Mevel mendekat, yang lain mengikuti.


Ashlen menatap permukaannya yang sebening kaca. Ia menghela napas dan membenamkan wajah. Di balik kelopak matanya, kilas balik momen-momen paling ia sukai muncul seperti pantulan di atas permukaan air. Saat diadopsi oleh Keluarga Killian, membeli belati miliknya, dan saat-saat ia pulang setiap libur sekolah. Pantulan air itu bergelombang, berubah menjadi seorang gadis berambut pendek yang tersenyum kecil. Terakhir, ia melihat dirinya dalam bentuk tubuh siren berekor biru tua. Ia juga bisa mendengar suaranya, lebih menyihir daripada kapan pun. Kemudian, semuanya menghilang. Ia menarik kepala ke luar. Wajahnya tidak basah sama sekali.


Ashlen mengangkat tangan, di jari telunjuknya melingkar sebuah tato yang sebelumnya tidak ada. “Apa ini?”


Mevel tersenyum. “Pertanda baik.”


Seusai dari Hutan Emas, mereka mengunjungi air terjun lalu pulang ke Maple Hostelry saat bulan telah menggantung di langit. Hari ini Wolfe memutuskan berkeliling Warmfill guna membeli beberapa jajanan ringan. Ia baru akan memasuki penginapan saat seseorang menabrak tubuhnya pelan.


“Maaf.”


“Oh, it’s fine.” Wolfe memperhatikan gadis berambut cokelat muda setinggi bahunya itu. Senyumnya mengembang, menampakkan gigi taring yang mengkilap. “Hi, Sweetie. My name is Wolfe, but you can call me tonight.”


Gadis itu mendelik. “What? A-aku tidak bertanya tentangmu!”


Wolfe membungkuk, berbisik di dekat telinganya. “Would you like me to whispering it in your ear?” Tiba-tiba saja seseorang menendang pinggangnya hingga nyaris tersungkur.


“Maaf, ya, Clar. Biar kubawa serigala ini pergi untukmu,” pamit Nastradamus. “Sampai jumpa lagi!” Ia melambaikan tangan seraya berjalan mendahului.


“Kau terlalu banyak gaul dengan Ashlen!” Wolfe mengusap pinggangnya dan berjalan mendekat. “Sial! aku hampir berhasil.”


“Jangankan berhasil, mendapat namanya saja kau gagal.” Nastradamus mencibir. “Kau membuatku sedih.”


“Kau benar-benar harus menjauhi Ashlen.”


Keduanya menaiki tangga menuju ruangan tim. Di dalam, Ashlen tengah bersandar pada kusen jendela.


“Mana Thann?” Wolfe mengeluarkan jajanannya di atas meja bundar berkaki pendek yang ada di tengah ruangan, tempat berkumpul.


“Mungkin bertemu dengan Shalima.”


“Shalima? Nona prefek utama?”


“Siapa yang bertemu Shalima?” Thann muncul dari balik pintu kamarnya.


Wolfe melempari Ashlen yang menahan tawa dengan sandal kamar.


Nastrdamus meraih sebungkus snack. “Aku masih belum melihat Mevel sejak hari itu.”


“Kurasa dia langsung pergi keesokan paginya, sebelum kita bangun.” Thann duduk sembari membuka botol minuman.


Kaleng soda Wolfe mendesis. “Kalian melihat apa di Hutan Emas?”


“Aku hanya melihat diriku sendiri.” Nastradamus mengunyah keripik jagung. “Ada juga toko ramuan keluargaku yang jadi lebih mewah dari sekarang.”


“Aku melihat ayahku,” gumam Wolfe.


“Aku juga,” timpal Thann.


“Haha. Mungkin kita punya sekelumit masalah yang sama.”


Ashlen membalik halaman bukunya. “Aku melihat Violet.”


“Kau melihat bunga?”


“Violet dengan kapital V di depan.”


Wolfe manggut-manggut. “Aku tidak paham.” Ia mengernyit pada seniornya.


“Itu nama seseorang.”


“Wajahmu merona, Ashlen,” goda Nastradamus.


Ashlen berdeham sok gagah dan menaikkan bukunya sampai menutupi wajah. “Tidak.”


“Anak itu tidak memberi penjelasan apa pun soal tato di tanganmu?” Wolfe bersandar pada kusen dekat Ashlen.


Ashlen menggeleng. “Dia hanya bilang ini pertanda baik. Kurasa ini benda yang kita cari.” Ia menatap lengkungan tinta hitam pada kulitnya. “Omong-omong, Wolfe.”


“Hm?”


“I don’t enjoy hurting people.” Ashlen tersenyum kecil, teringat percakapannya dengan Wolfe di sabana Fallen Forest. “Kalau kau hidup di kota penuh bandit yang sangat egois, memanfaatkan segala hal untuk kepentingan pribadi itu penting.”


“Kau hidup di tempat yang buruk. Aku bersimpati.”


“Jangan bersimpati.”


“Bagus. Karena sekarang sudah tidak.”


Thann berjalan mendekat. “Karena kita membicarakan Mevel,” ia melongok ke luar jendela yang menghadap halaman depan, “aku melihat seseorang yang mirip belakangan ini.”


Nastradamus menekan lutut, membungkuk di sisi kanan Thann. “Kepala Sekolah memang mirip dengannya.”


“Sudah kubilang mereka bapak-anak.”


Ashlen mengikuti arah pandangan seluruh temannya. Ia memperhatikan sosok bertubuh tinggi-ramping dengan rambut hitam, tengah disapa oleh murid-murid. Pria itu menggunakan jubah berwarna jingga, tudungnya tidak dinaikkan. Sepertinya karena merasa diperhatikan, Mavelionious Navarro menoleh ke arah tim dan di luar dugaan, ia melambaikan tangan.