Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The Thief



The Thief


MENJELANG FAJAR, SAAT semburat matahari mulai mewarnai tepian awan di cakrawala dan suhu makin menggigit, rombongan penjaga kerajaan yang diminta Mevel mengawasi Library Wood dalam radius seratus meter dari lokasi pos anggota timnya datang. Mereka berbondong-bondong memeriksa Library Wood dalam kelompok kecil beranggotakan tiga orang, mencari kemungkinan pemberontak yang masih bersembunyi di antara kertas-kertas pohon.


Mevel tengah bercakap-cakap dengan pimpinan para penjaga, sementara anggota tim yang kelelahan dan diserang kantuk duduk di bawah pohon paling rindang. Mereka sarapan buah-buahan mil. Buah mil seperti buah delima dan seukuran kelereng, tetapi ketika ditetesi air dingin akan berangsur-angsur menjadi sebesar bola basket. Di dalam buah mil terdapat beragam jenis makanan hangat. Harga buah ini sangat mahal karena bibitnya tidak tumbuh setiap saat dan sangat sulit merawatnya sampai berbuah. Sekantung penuh buah mil yang dimiliki Mevel merupakan hasil tanam di rumah kaca kastil dan pemberian langsung Raja Habriel.


Ashlen membelah buah miliknya yang memiliki isi sup krim ayam. Uap panas mengepul dan aroma daging ayam rebus membuatnya makin lapar. Ia meletakkan buah yang sudah terbuka itu dan mulai memasukkan suapan pertama ke mulut. Rasa gurih ayam dari sup berpadu dengan sedikit asin kuah krim dan manis jagung, mengalahkan sensasi panas di lidah. Thann yang duduk di sebelahnya dapat omelet dengan jamur enoki bakar dan onion rings, Nastradamus mendapat kentang goreng dan beberapa potong roti mentega yang renyah, sementara Wolfe mengeluhkan sup wortelnya. Pada porsi kedua, ia dapat daging domba bakar.


Karena makan paling banyak, Wolfe diminta Thann mengurus sampah sisa makanan. Seniornya dan Nastradamus kemudian mendekati Pohon-pohon Ilmu di sekitar tempat sarapan mereka dengan buku panduan di tangan. Keduanya terlihat saling diam dan sesekali melempar tatapan dingin.


Ashlen masih belum terpikir ingin menuliskan apa. Buku panduan dari Maple Hostelry itu harus diisi dengan pengetahuan yang mereka dapat selama perjalanan. Isinya akan langsung terdata di sekolah sehingga murid yang lalai bisa mempersiapkan diri untuk langsung terkena hukuman begitu pulang nanti. Tiba-tiba saja ia teringat bahwa Mevel belum sarapan. Matanya langsung bergerak mencari keberadaan anak laki-laki bertudung jingga itu dan menemukannya masih berbicara dengan pimpinan pasukan. Melihat dari ekspresi laki-laki setinggi hampir dua meter di depan Mevel, ia yakin mereka tengah mendebatkan sesuatu. Senyumnya mengembang. Tanpa membuang waktu, ia lantas mendekati Mevel.


“Makanya kukatakan padamu, serahkan saja sisa pencarian ini kepada kami.”


Mevel memijat kening dan mengerang pelan. Anak itu menggeleng frustrasi. “Tidak bisa. Berulang kali sudah kukatakan, perjalanan ini telah diberi izin langsung oleh Yang Mulia Raja Habriel. Kami sudah ditugaskan menangkap para penyerang itu. Mana mungkin kuserahkan tanggung jawab tim di bawah kepemimpinanmu.”


“Memang benar.” Pria tinggi dan agak botak itu mengangguk-angguk. “Hanya saja, masalah ini jadi lebih rumit karena kalian tidak bisa menangkap mereka semalam, bukan?” ia masih bersikeras, “kalau saja kau—yang bertanggung jawab atas anak-anak itu—langsung memanggil kami, pasti mereka sudah tertangkap.”


“Tidak ada gunanya! Bahkan ketika aku tiba, kelompok itu sudah berhasil melarikan diri.” Mevel membantah.


“Karena itulah aku tidak bisa membiarkanmu melanjutkan pencarian ini. Karena kalian sudah gagal! Katakanlah kepada Yang Mulia Raja berita ini, beliau pasti mengerti.”


“Maaf, tapi bukankah Anda dan yang lainnya justru tidak mengalami kemajuan apa pun sampai hari ini?” Ashlen menyela. Kedua orang di sebelahnya menoleh kaget.


“Ashlen! Kau ....”


Malaikat berdarah campuran itu mendesis-desis pada Mevel, melarangnya untuk mengomel.


“Maaf jika perkataan saya lancang, Sir.” Dengan gaya yang dibuat-buat formal, Ashlen memperbaiki rompi hitamnya yang bau keringat. “Pencarian ini akan tetap kami lakukan dan kami akan berhasil. Percayalah.”


“Percaya saja tidak akan membuat mereka muncul di hadapanku, Nak,” cibir pria itu.


Ashlen melirik Mevel. Sepertinya ia tidak menceritakan bahwa salah satu anggota kelompok itu sudah tertangkap dan sekarang berada di saku Nastradamus.


“Tenang saja. Aku punya banyak keahlian, membual bukan salah satunya.” Ashlen maju selangkah dan mengusap punggung bersayap pria tinggi itu, berusaha meyakinkannya. “Begini saja, beri kami waktu dan kami akan bawakan orang-orang itu ke hadapan Anda. Jika berhasil, Anda boleh ambil semua hadiah dan apresiasi dari sang Raja. Jika kami gagal, Anda boleh mengambil seluruh informasi yang kami tahu dan aku pun akan melakukan apa saja untukmu. Bagaimana?”


Pimpinan itu menjauh dari Ashlen dan menggeleng. “Semakin lama waktu yang kuberi, akan semakin sulit mencari jejak mereka.”


“Siapa bilang aku minta waktu yang lama?” Ashlen tersenyum kecil, “tidak seperti Anda, kami tidak punya banyak waktu. Beri kami tujuh hari.”


“Itu terlalu lama.”


“Baiklah. Empat hari saja.” Ashlen mengulurkan tangan.


Pimpinan itu menatap tangan Ashlen skeptis, tetapi akhirnya diraih juga dan digenggam erat-erat. Ashlen balas menggenggam seerat yang ia bisa dan mengangguk.


“Tunggu kabar baiknya.”


“Kalau kau gagal—”


“Tidak ada kalau dalam kamusku.” Ashlen melepas jabat tangan mereka. “Sampai jumpa empat hari lagi … atau kurang.”


Pimpinan itu mengangguk, mengepakkan sayapnya, dan pergi.


Ashlen tersenyum. “Aku tidak membuat deal yang mustahil kupenuhi,” ujarnya sambil berjalan beriringan dengan Mevel. “Itu aturan yang kubuat. Lagi pula sejak awal orang-orang itu mengincar kita, bukan? Mereka pasti akan muncul lagi karena dua hal. Kau pasti mengerti.”


“Tentu saja. Mereka akan kembali untuk mengambil satu-satunya orang yang mampu menyembunyikan mereka dan untuk menghentikan kita.”


“Bingo! Karena itulah keputusanmu menetapkan prioritas tim mencari satwa sudah benar. Cepat atau lambat, mereka akan muncul sendiri di depan hidung kita.”


“Bagaimana jika para penjaga menangkap mereka lebih dulu?”


“Tidak akan,” balas Ashlen yakin. “Mereka tidak tahu seperti apa para penyerang itu. Baik rupa maupun sekadar ciri-ciri. Sejak awal orang-orang itu bukan bagian dari buku, mereka bukan tinta yang mudah dibedakan. Mencari di antara seluruh penduduk  Winterwall tidak akan mudah. Kecuali …,” ia menjilat bibir, “mereka sendiri yang menghampiri kita.”


Mevel berdecak pelan. “Tidak buruk, Winter,” pujinya. “Kau hanya harus memperbaiki sikap suka menyela dan mencela orang lain ketika bicara.”


“Akan coba kuingat.”


“Dan, tidak ada hadiah apa pun dari Raja.”


“Itu bualan. Oh, iya. Jangan lupa sarapan, kita bisa menyuruh Wolfe membuang sampahnya lagi.”


 Sebelum Mevel membuka portal, ia mengadakan evaluasi untuk menemukan target mereka. Seekor hewan umumnya memilih tempat yang dekat dengan sumber air. Ke mana pun hewan pergi untuk mencari mangsa, secara insting mereka akan kembali ke tempat minuman. Ada lima sumber mata air di Fallen Forest, termasuk air terjun yang berada di tengah-tengah. Dari kelima sumber air tersebut, hanya ada satu yang terletak di area hutan yang tidak terlalu rapat dan merupakan kawasan sabana. Area itu terletak di sebelah barat daya Fallen Forest dan tidak terlalu dalam.


Mevel merapalkan sederet mantra sambil mengetukkan tongkatnya di atas tanah. Barisan mantra kuno yang melingkar terbentuk di permukaan tanah dan berpendar kehijauan. Cahayanya sangat menyilaukan ketika sebentuk portal yang menyerupai mulut gua muncul. Ia mempersilakan semuanya masuk.


Membuka portal tidak bisa dilakukan sembarangan, ada tes dan surat izin khusus. Di Maple Academy, siswa baru boleh membuka portal di tahun keempat. Meskipun demikian, Ashlen tidak heran melihat Mevel bisa melepaskan energi yang bahkan memekarkan bunga-bunga liar kuncup di dekat sepatunya. Ditambah lagi dengan pengakuan Wolfe saat sarapan, soal mantra tingkat tinggi yang dirapalkan anak itu untuk memasukkan si Tinta ke kertas. Mevel—anak setinggi pinggangnya itu—jelas lebih berbakat daripada semua orang di sini. Entah di mana Kepala Sekolah menemukannya atau dugaan Wolfe bahwa Mevel putranya bisa saja benar.


Ashlen melangkah masuk. Tanah di kawasan Library Wood yang tadinya agak lunak berubah menjadi padang berumput. Binatang-binatang kecil bersayap terbang mengikuti angin yang bertiup berlawanan arah dari tempat mereka muncul. Sepuluh langkah darinya, permukaan padang rumput itu melandai dan teman-teman setimnya berdiri di tepian dengan jubah yang sedikit berkibar-kibar.


“Kenapa kau selalu masuk portal paling akhir?” tanya Wolfe heran melihat kemunculan Ashlen di sebelahnya.


“Tidak. Mevel masuk paling akhir.”


“Sebelum ada dia, kau selalu paling terakhir.”


“Antisipasi kalau-kalau portal membawaku ke dalam bahaya. Aku tidak mati pertama.”


Wolfe memberengut karena selalu masuk paling awal. Ia kembali melemparkan pandangan ke depan.


Di dataran  yang lebih rendah, hamparan padang rumput membentang seperti karpet hijau sampai ke pinggir sungai. Sekelompok rusa tengah merumput; ada sepuluh rusa jantan bertanduk cabang tiga, tujuh lainnya betina, dan tiga sisanya adalah anak-anak. Di seberang sungai, pepohonan terlihat lebih rapat dan berimpitan. Tidak ada yang bisa masuk jika jalan beriringan.


“Merasa familier, Wolfe?” Mevel bertanya. Ia mengedarkan pandangan ke padang rumput luas di bawah.


“Kurang lebih. Mereka biasanya ada di atas piring jamuan—”


“Maksudnya, apakah ada hewan  yang kau lihat semalam?” potong Thann cepat.


Mulut Wolfe membulat lalu mengangguk-angguk. Sambil bergumam panjang dengan lagak sedang berpikir keras, ditunjuknya kerumunan rusa itu. “Aku yakin salah satu dari yang di sana.”


“Sepertinya yang itu.” Telunjuk Nastradamus mengacung ke sosok yang keluar dari hutan, menepi, dan mencelupkan lidah ke dalam sungai.


Rusa itu setinggi tiga meter, dengan tanduk seperti gigi monster sampai ke bagian leher. Hewan itu berbulu kelabu dengan binti-bintik putih, ekornya menyapu tanah, dan berbulu seperti sayap angsa dengan warna hitam kecokelatan. Keempat kakinya tegap dan kokoh layaknya kaki kuda.


Makhluk itu terlihat menakjubkan walau dilihat dari jauh dan Ashlen bersumpah ia mendengar Mevel menggumamkan, “As-ta-ga.”