Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
EXPEDITION FOR EQUALIZER - Waterboarding



Waterboarding


“SAYA TIDAK MENGERTI, Miss. Untuk apa seorang healer seperti saya perlu belajar untuk membuat barrier? Bukannya menyembuhkan luka sudah cukup sebagai pertahanan?”


“Shalima Sero, mantra penyembuh tidak bisa mengembalikan orang yang sudah meninggal.”


“Dimengerti, Miss.”


 Barrier. Mantra kelas dasar yang menjadi kurikulum wajib Maple Academy. Menurut deskripsi pada buku diktat pelajaran Mantra, efeknya adalah memunculkan tembok pelindung yang dibentuk dari mana sang pengguna.


Sudah rahasia umum bahwa deskripsi pada buku pelajaran selalu disederhanakan untuk mempermudah pembelajaran. Misalkan kalian bertanya pada penyihir tingkat atas, barrier akan lebih sering dianalogikan seperti selembar kertas. Jika dipaksa menutupi permukaan luas, perlindungan yang diberikan akan berkurang. Jika kertas tersebut dilipat dan difokuskan pada permukaan sempit, perlindungan yang diberikan tidak akan bisa ditembus. Singkatnya, penggunaan barrier yang efektif hanya bisa dicapai jika sang pengguna tahu dari mana arah serangan akan datang.


“Shalima, barrier-nya!”


Dua pria bertudung hitam dari semak-semak menghadang mereka, satu dari depan dan satu lagi dari belakang. Sam bisa mendengar tali busur yang dilepaskan dari kejauhan. Satu orang lagi menyerang mereka dari jarak jauh. Tidak dapat menentukan arah pasti serangan, Shalima merapal barrier yang melingkupi mereka dari segala arah.


Sabetan belati dari pria bertudung hitam di depan mereka terpental akibat barrier Shalima yang kemudian retak setelah serangan tersebut. James sedang mengambil pisau lempar dari jasnya yang akan dilontarkan pada penyerang kedua ketika mendapati anak panah meluncur. Oh sial. Terlalu dekat.


Tidak sempat merapal mantra, James menahan panah tersebut dengan lengannya. Anak panah tersebut tertancap pada lengan kanannya. Merlin membalikkan badan menghadap penyerang kedua dan mengucapkan selarik mantra. Kemudian, semburan air keluar dari tongkat dan membasahinya.


“Sam, bekukan!” Merlin berteriak. Tongkatnya disilangkan di depan sebagai pertahanan, berjaga-jaga jika yang dipanggil terlalu lamban untuk merespons.


Sam dengan sigap meraih leher si penyerang kedua dan membekukan air di sekitarnya. Beberapa sihir lebih efektif diaplikasikan dengan sentuhan langsung dan sihir pembeku adalah salah satunya. Penyerang kedua secara perlahan terperangkap dalam lapisan es, matanya terbelalak dalam amarah. Sam mendesis, ayahnya pasti bisa membekukan dengan lebih cepat tanpa perlu batuan sihir air. James mengambil kesempatan di tengah kekacauan untuk melontarkan pisau ke puncak pohon arah datangnya anak panah. Suara gedebuk terdengar dari kejauhan. Menyadari bahwa rekannya telah dilumpuhkan, penyerang pertama melemparkan bom asap dari sakunya lalu menghilang tanpa jejak ketika Tim Enam masih terbatuk-batuk.


James mencabut anak panah yang berlumuran cairan hijau pada ujungnya. Kepalanya pening. Di akademi, sulit untuk mendapatkan izin menggunakan makhluk hidup sebagai eksperimen virus sehingga guru Virologi tersebut sering menggunakan tubuhnya sendiri sebagai kelinci percobaan. Oleh karena itu, racun tingkat rendah tidak begitu berpengaruh kepadanya walaupun masih terdapat efek samping seperti pening dan kantuk.


Shalima terburu ke sisinya untuk merapalkan mantra penyembuh. Cahaya hijau melingkupi lengan James. Seketika menghilangkan bekas luka dan menyisakan lubang pada jas kesayangannya. Efek racun tidak hilang begitu saja. Kekuatan penyembuh Shalima berkaitan erat dengan luka yang pernah dirasakannya dan racun yang terdapat di Malice Island tidak tersedia begitu saja di akademi.


“Merlin, cairkan esnya!” James mengambil jarum bius yang sama dengan yang digunakan pada Sam di kereta.


Merlin melelehkan lapisan es yang melingkupi penyerang kedua dengan api di ujung tongkatnya. Pria bertudung hitam tersebut hendak berlari, tetapi James menancapkan jarum bius pada pahanya dan ia jatuh tak sadarkan diri.


“Bawa dia ke penginapan! Kita punya pengintai untuk diinterogasi.”


 “Sir James ingin beristirahat sebentar, katanya. Pencarian informasi untuk sementara diserahkan kepada kita.” Shalima menuruni tangga penginapan. Mereka menyewa kamar untuk satu malam. Satu di atas untuk James Dakota dan dua di bawah untuk para siswa. Mereka berkumpul di kamar Sam karena bahan interogasi mereka ada di sini.


Duduk di kursi dengan tangan diikat di belakang adalah pria bertudung hitam yang menyerang mereka tadi. Barang yang dibawanya ditata rapi di sebelah meja; sebilah pisau, tiga bola bom asap, secarik surat dengan huruf yang tidak bisa mereka baca, dan sebuah tabung kaca tanpa isi.


“Shalima, kau bisa membaca surat ini? Barangkali isinya rune atau semacamnya.” Sam memberikan kertas tersebut kepada seniornya.


Shalima mengernyitkan dahi. Pola penulisannya tidak seperti rune yang biasa ia kenal. Jejak sihir yang biasa ada pada rune juga tidak dapat dirasakannya. “Bukan rune. Sepertinya semacam sandi. Sepertinya orang ini tidak bekerja sendiri dan sayangnya aku tidak pintar memecahkan sandi.” Ia meletakkan kertas di nakas.


“Jadi, ada yang tahu langkah selanjutnya?” Merlin mengayunkan kakinya di bawah ranjang. Ia mengerti tentang sihir empat elemen dan rune, tetapi tidak sama sekali dengan interogasi dan semacamnya.


“Sebentar.” Shalima merogoh tasnya, mengeluarkan berbagai macam gulungan mantra dan perkakas sihir sambil bergumam. “Aha!” Sebuah ramuan berkilat ungu diacungkan dengan senyum puas.


“Ramuan apa itu?” Merlin mengangkat alis, ia belum pernah mendengar tentang ramuan yang bisa membantu interogasi.


“Serum kebenaran. Siapa pun yang meminumnya, tidak akan bisa berbohong untuk beberapa jam ke depan. Hei, Sam! Bantu aku membuka mulutnya mumpung dia masih tidak sadar.”


Sam menurut. Shalima menuangkan ramuan tersebut ke mulut si penyerang yang sontak sadarkan diri lalu terbatuk-batuk.


“Sialan! Dasar kalian bocah! Akan kucabik-cabik—”


“Siapa yang mengirimmu?” Shalima memotong kalimatnya.


Si pria tersentak. “Bicara apa kau? Yang mengirimku adalah Krov ....” Pria tersebut terbelalak. Kata-kata keluar dari mulutnya di luar kendali. Serum kebenaran bekerja sesuai petunjuk.


Shalima tersenyum, interogasi akan cepat selesai jika terus begini. “Siapa si Krov yang kau maksud ini?” Ia meneruskan ke pertanyaan kedua.


Pria tersebut bergeming. Ia hanya menatap gadis penyembuh di depannya dengan penuh amarah. Satu menit berlalu, dua menit berlalu, tidak ada jawaban. Mereka hanya saling pandang seperti orang bodoh.


Merlin tertawa. “Tidak begitu berguna kalau dia tidak bicara sama sekali, eh?”


“Tidak ada peralatan lain yang bisa membantu?” Sam menyahut sambil melihat-lihat perkakas Shalima. Kebanyakan berupa gulungan sihir yang sudah kuno dan berdebu.


“Coba kemarikan gulungan yang berpita kuning!” Sam melemparkan gulungan yang dimaksud. Shalima menarik lepas pita dan meneliti huruf-hurufnya—sudah lama ia tidak membaca rune seperti ini. “Yang ini isinya mantra untuk masuk ke ingatan orang lain. Masih berguna walaupun dia tidak mau bicara.”


“Kemari kalian!” Shalima memberi isyarat supaya juniornya mendekat. “Dalam hitungan ketiga, arahkan mata kalian pada lingkaran sihir di tengah. Satu, dua, tiga!”


Pandangan mereka kabur, berputar, dan berubah menjadi hitam putih. Mereka merasa seakan berada di tengah sebuah hutan yang entah di mana. Pohon-pohon di sekeliling terlihat hitam, kering, dan meranggas. Pada tanah di bawah mereka, terdapat lingkaran sihir yang berwarna gelap pekat dengan sebuah tengkorak di tengahnya. Seseorang bersayap gelap melihat ke arah mereka dan mereka kembali ke dunia nyata.


“Di mana kita tadi?” Merlin berkeringat dingin. Walaupun hanya dalam dunia ingatan, syok yang dirasakannya terasa begitu nyata.


“Entahlah, yang jelas masih di Malice Island jika dilihat dari pepohonannya.” Shalima melihat gulungan di tangannya rontok menjadi abu. Memang, gulungan sihir hanya didesain untuk dipakai satu kali.


“Tidak begitu membantu, eh. Berapa lama kita tadi di sana, sepuluh detik?”


Pintu kamar diketuk lalu dibuka tanpa menunggu jawaban. James Dakota masuk dan melihat ketiga muridnya terduduk berkeringat dingin di depan penyerang yang mereka tangkap. “Ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi?”


Sam menjelaskan informasi yang mereka dapat sejauh ini, menunjukkan barang yang digeledahnya, dan menyodorkan kertas berisi sandi yang gagal mereka baca. James mengangguk-angguk.


“Kerja bagus, anak-anak, meskipun kalian masih perlu latihan lagi dalam menggali informasi.” James bertepuk tangan pelan, setengah sarkas dan setengah tulus memuji.


“Bapak punya alat sihir yang bisa membuat dia bicara?” Sam membalas dengan nada menantang, merasa diremehkan oleh pernyataan James.


“Kalian terlalu bergantung kepada sihir. Kamar mandi di sebelah sini, kan?” Sam mengangguk. James mendorong kursi yang diduduki si penyerang ke dalam kamar mandi dan menutup pintu. Suara bak diisi air terdengar lamat-lamat, diikuti sesuatu yang dicelupkan ke dalamnya, diikuti lagi teriakan seorang pria.


“Siapa Krov?” Suara kepala diangkat dari bak mandi terdengar.


“Sialan kau! aku tidak akan bicara ....” Sesuatu terdengar dicelupkan lagi ke dalam bak, diikuti dengan serapah tidak jelas karena teredam oleh air.


“Aku bisa melakukan ini seharian penuh! Siapa Krov?”


Angkat.


“Fallen angel. DIA Fallen angel yang membayar kamI!”


Celup.


“Di mana dia!”


Angkat.


“DI SELATAN CURSED OATH ALTAR. AKU TIDAK BISA BERNAPAS. HEI ....”


Celup.


“Apa arti pesan di kertas tadi?”


Angkat.


Tidak ada suara yang terdengar lagi. Pintu kamar mandi terbuka. James membawa tubuh si pria yang basah kuyup dari kepala sampai pundak. “Uh, dia pingsan. Coba kulihat lagi kertas yang kalian temukan tadi.”


James mengamati kertas tersebut dengan cermat. Benar kata Shalima, ini bukan rune. Penulisannya seperti sandi yang pernah ia lihat. Ia mulai menafsirkan sandi tersebut dengan kertas di buku catatan. Dua jam kemudian, ia bersorak, membangunkan Sam yang terkantuk-kantuk di atas kursinya.


“Apa isinya, Sir?” Shalima mendekat, penasaran.


“Sebagian besar pasukan mereka sudah pergi terlebih dahulu mengejar kelompok pertama ke Witchcraft Laboratory.” James meregangkan bahu setelah duduk sekian lama, melihat barang sitaan, dan mengantongi bom asap ke saku jas.


“Jadi kita akan pergi ke Witchcraft Laboratory?”


“Tidak. Kita akan pergi ke pulau di selatan altar sebelum pasukan mereka kembali. Kemasi barang kalian. Kita berangkat besok.”