Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
BLUE LIGHT STONE - A Game



A Game


VENDARD MENGABAIKAN UCAPAN Claryn dan lebih memilih memandang seniornya. "Ya, mungkin hanya sedikit bread."


Lily mengangguk dan langsung memberikannya.


Claryn tidak memedulikan mereka. Ia justru menghadap Mr. Samael. "Sir, apakah petunjuk itu memang bukan pengecoh?" Ia bangkit dan melangkah menghadap City Of Frost yang mulai mengecil di pandangan. "Bisa saja itu hanyalah tempat pertama sebelum sampai di tempat selanjutnya yang merupakan persembunyian dari benda pusaka."


Mr. Samael berdiri, tangannya memegang penghalang bagian samping perahu berukuran sedang dengan mata menatap ke arah dua pengemudi yang ditugaskan untuk mengantar mereka. Ia menghadap ke arah Winterlake lalu menunduk. "Jika petunjuk itu hanyalah pengecoh, tidak mungkin kotak itu bergerak menunjukkan tempat yang akan kita tuju."


"Sepertinya kau tidak memahami muridmu yang satu itu, Sir. Dia selalu meragukan apa pun," sindir Vendard.


Claryn tidak terima dengan ucapan Vendard sehingga mendekat ke arah laki-laki yang lebih tinggi dan besar darinya itu. "Apa karena aku selalu mengejekmu sehingga kau lancang berkata seperti itu?”


"Sudah, hentikan!" pekik Lily.


Perdebatan kecil itu membuat mereka tidak sadar bahwa telah sampai di depan Gleitser Wood yang menyambut dengan udara dingin dan kabut menakutkan. Setengah pintu perahu langsung terbuka dan jatuh membuat tangga.


Tim Empat turun dari floating dan berhenti di depan jalan yang menjurus ke Gleitser Wood. Ribuan pohon berbentuk aneh membuat suasana makin mencekam. Di sisi lain kabut seakan melayang-layang hanya sekadar melintas tanpa mau berhenti. Tebing-tebing es menjulang dengan bentuk yang tidak beraturan.


Vendard menatap sekeliling dengan perasaan takut. "Apakah Gleitser Wood memang tampak seperti ini?"


Lily hendak melangkah ke dalam, tetapi sesuatu yang begitu dingin mengikat dan menahan pergelangan kakinya. Kenapa aku tidak bisa melangkahkan kakiku?  batinnya panik.


Mr. Samael melihat ke arah ketiga muridnya dan mengangguk. "Mari kita masuk!"


Claryn dan Vendard melangkah bersamaan, tetapi tidak dengan Lily yang berusaha menggerakkan kaki. "Tunggu!"


 Mustahil, sesuatu itu terlepas dari pergelangan kaki Lily. Sepertinya tadi kakiku sulit untuk digerakkan, lalu mengapa sekarang sudah seperti terbebas dari sesuatu?


Bola mata Claryn berputar meneliti. "Ada apa denganmu?"


Lily melihat kakinya dan tidak ada yang aneh. Ia menghela napas. "Ah, sepertinya tidak. Itu hanya perasaanku saja."


Mr. Samael mengangguk. "Mari kita lanjutkan perjalanan!"


Claryn mengajak Lily untuk kembali berjalan dan mengikuti Mr. Samael, tetapi tidak dengan Vendard karena merasa ada sesuatu yang aneh di tempatnya berdiri. Matanya melihat ke arah sekitar yang tampak ganjil.


Mr. Samael tahu bahwa Vendard tidak mengikuti mereka. "Vendard, cepatlah!" Vendard berlari. Mereka pun masuk lebih dalam lagi. Setelah mereka pergi, tampak sebuah akar bercabang dengan lingkaran kecil seperti bola mata muncul ke permukaan, menatap Tim Empat yang kemudian masuk kembali.


Claryn meneliti tempat itu dan menyimpulkan, "Tidak ada tanda-tanda apa pun di sekitar sini."


Vendard berjalan perlahan. "Kau benar, Clar, tampak kosong."


Sementara itu, akar yang mengikat kaki Lily kembali berusaha mendekat, tetapi tidak berhasil karena gadis itu terus bergerak. Apa yang tadi mengikat kakiku? Tapi, aku tidak merasakan efek apa pun darinya.


 Mr. Samael melihat ke arah Lily yang tampak memikirkan sesuatu. "Apa yang sedang kau pikirkan, Nona James?"


Lily hampir saja menjawab, tetapi sebuah geraman terdengar jelas. "Mungkin ada sesuatu di sana," pikirnya.


Tanpa menunggu lama, Tim Empat bergegas menuju suara. Sialnya, suara itu tidak terdengar lagi. Hanya ada sebuah pohon besar dengan bentuk aneh dan asap dingin yang mengepul. Pandangan mereka menatap dengan tajam ke arah pohon ganjil yang berdiri di bawah tebing itu.


Lily menatap heran. "Siapa pemilik suara itu?”


Vendard merasakan bulu kuduknya berdiri. Jelas saja Frozen Ocean begitu dingin bukan karena makhluk halus. "Mungkinkah Gleitser Wood memiliki penghuni?”


Claryn menyipitkan mata. "Bukankah kau kuat dan berani? Kenapa kau terlihat takut?"


Mr. Samael meneliti setiap penjuru Gleitser Wood. "Kalian lihat! Pohon itu dengan asap yang mengepul, tampak—"


"Tampak ganjil." Vendard berjalan maju dan memotong ucapan Mr. Samael.


Mungkinkah yang mengikat kakiku adalah rantai itu?  batin Lily. Ia mendekat ke arah pohon karena melihat rantai yang tergeletak di sampingnya.


"Jangan menyentuh apa pun, Nona James!"


Akhirnya Lily kembali menyejajarkan dirinya dengan tim, sementara Claryn menatap Mr. Samael.


"Kita tidak boleh menyentuh apa pun karena bisa jadi itu sangat membahayakan!" peringat Mr. Samael.


Claryn, Lily, dan Vendard mengangguk menyetujui. Mereka tidak tahu bahwa rantai itu berasal dari kaki Fenrir.


"Kita tidak menemukan apa pun di sini." Vendard pasrah.


Ucapan Vendard mendapatkan pengakuan dari ketiganya. Mereka memutusukan akan mencari ke arah lain. Namun, saat membalikkan badan, hewan—dari mitologi Nordik yang memiliki tubuh begitu besar serta mata menyala biru—tampak sangat buas muncul di hadapan mereka dengan ekor melayang-layang mengeluarkan duri es yang siap dilemparkan.


Tim Empat terperanjat dengan hebat, tidak mengira bahwa yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah seekor fenrir.


"Katakanlah sesuatu, Vendard, yang kuat," bisik Claryn.


Vendard menyatukan alisnya, sementara Lily sedang mengatur napasnya yang tidak beraturan.


Mr. Samael melangkah. "Kami sedang melakukan field trip untuk mencari benda pusaka yang dimiliki oleh Lord of Whiteness dan teka-teki yang kami pecahkan mengarah ke tempat ini.”


Fenrir menatap tajam ke arah mereka, sehingga tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya. Jika ia kehilangan itu, tubuhnya akan melemah. Ia tidak peduli dengan tujuan mereka.


Claryn menelan ludah dengan perasaan takut. "Kau akan menunjukkan keberadaannya, kan? Katakanlah! Supaya kami segera mencarinya."


Fenrir tidak menjawab dan malah menyerang mereka. Ia menyemburkan asap napas dingin ke arah Tim Empat. Untunglah sayap Claryn dan Mr. Samael melindungi mereka. Fenrir geram dan melayangkan ekornya yang penuh dengan duri.


Tubuh Vendard tersentak, ia mengeluarkan rantai untuk menghancurkan duri es yang melayang. Pecahan-pecahan duri es berjatuhan, tetapi Fenrir tidak menyerah dan kembali melemparkan serangan. Tim Empat diserang ribuan duri. Claryn mengeluarkan pedang dari cahaya dan menetakkannya, sedangkan Mr. Samael menukikkan sayap ke arah duri es. Lily sedikit bergerak mencuri kesempatan untuk mengendalikan pepohonan. Duri es dari Fenrir terus berjatuhan, tetapi tidak melukai mereka.


Merasa terancam, Fenrir melihat Lily yang tengah sendiri dan memutuskan akan menyerangnya dengan menyemburkan asap dingin. Ia mencoba membuat Mr. Samael, Claryn, dan Vendard lengah karena duri es itu terus melayang mendekati mereka.


"Hati-hati dengan duri yang mengincar tanganmu, Clar!" teriak Vendard.


Claryn terus menetakkan pedang cahaya sambil mengelak. "Durinya semakin banyak."


"Tetap fokus dan jangan sampai melukai tubuh kalian!" Mr. Samael juga berteriak.


Lily berhasil mendekati pohon lalu mulai meniupkan kehidupan dengan sedikit mantra untuk membuat pohon itu lebih tinggi dan besar daripada Fenrir. "Cepatlah! Kau harus bisa mengepung Fenrir!"


Vendard bergerak sedikit menghindari duri yang hampir mengenai tubuhnya. Fenrir tidak bisa terus melemparkan duri es ke arah Mr. Samael, Claryn, dan Vendard karena percuma jika terus dibuat hancur. Lily memejamkan mata sampai akhirnya pohon itu membesar dan mengarah ke tempat Fenrir berdiri, tetapi makhluk itu sudah mengetahuinya. Fenrir menggerakkan kepala ke arah Lily dan asap napas dingin langsung menyembur.


Claryn yang melihatnya langsung berteriak, "Lily, awas!"


Percuma saja, Lily tidak akan mendengar. Pohon itu hampir saja mendekat ke arah Fenrir. Claryn langsung mengepakkan sayap dan sampai di samping Lily dengan cepat. Seketika gadis itu terjatuh karena didorong olehnya. Namun, asap dingin itu berhasil menyentuh tangannya.


Lily menatap Claryn. "Clar!"


Pohon yang mengarah pada Fenrir kembali menyusut. Mr. Samael dan Vendard yang melihat itu langsung berlari menyusul mereka. Tubuh Claryn terjatuh lemah karena reaksi asap. Mr. Samael sigap meniupkan mantra ke dalam tangan dan Vendard sedang berubah wujud untuk bertarung dengan Fenrir.


“Aku tidak akan memberi ampun kepada siapa pun yang memasuki wilayahku!”


Mr. Samael mencoba menahan mantra, begitu pun dengan Vendard. Jika keduanya terus bersitegang, keadaan tidak akan membaik. Mr. Samael meneliti Tim Empat, mereka sangat terdesak dan tampaknya akan kalah. Ia berdiri menghadap Fenrir. “Kami tidak akan melukaimu karena tujuan kami bukan itu. Bagaimana kalau kita bermain sebuah permainan dengan aturan?”


Tanpa memikirkan permainan apa, Mr. Samael mengucapkannya dengan spontan. Bagaimanapun risikonya mereka akan terima, asalkan Fenrir tidak kembali menyerang.


Vendard merasa begitu peduli dengan gadis bersayap itu. Meskipun sering mengejeknya, tetapi mereka tetaplah sahabat. Ia mendekat, mencoba membangunkan Claryn. "Apa yang kau rasakan, Clar?"


Claryn menutup mata menahan rasa lemas. "A-aku ...."


Lily tidak bisa melihat Claryn yang melemah, matanya terus menatap Fenrir tanpa ada rasa takut.


"Aku yang akan mengatakan peraturannya."


“Katakan!”


“Jika kami yang menang, kau harus memberitahukan di mana keberadaan benda pusaka tersebut."


Mr. Samael menghela napas di samping Lily yang mengatakan itu. Ia memiliki kesempatan untuk memikirkan permainan apa.


Napas Claryn terengah-engah sehingga Vendard berbisik, "Claryn mulai melemah, Sir. Kita harus segera membawanya."


Fenrir berpikir bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa pun dari permainannya. “Dan, satu hal lagi. Jika kalian benar-benar kalah, kalian tidak boleh kembali mengunjungi tempat ini!”


Lily menatap Mr. Samael dan Vendard yang memilih memandang Claryn. Cukup lama mereka berpikir untuk menyetujui permainan itu. Permainan yang sangat berisiko jika Tim Empat kalah.


Netra Claryn kembali terbuka sehingga Mr. Samael menatapnya. "Apakah kau masih bisa bertahan, Clar?" Gadis itu hanya memberikan anggukkan pelan.


“Kalian tidak mungkin setuju dengan aturan dari permainan itu. Benar, bukan?”


Lily memajukan langkah untuk menatap Fenrir lebih jelas dan berdiri dengan yakin. "Kami setuju. Dan, ingat jika kau kalah, kau harus memberitahukannya!"


Vendard menggelengkan kepala melihat Lily. "Senior yang ceroboh."


"Dia melakukan hal yang benar," pungkas Mr. Samael.