Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE WANDERING CAERULEA - THE NINETH



THE NINETH


“ELLE, DI UBUDTAAL ada tanaman yang bisa digunakan untuk membuat ramuan dasar. Kau tau tanamannya, bukan?” Walau dilahirkan dari keluarga yang paham mengenai tanaman penyembuh, Mikalea tak pernahh mendalami kemampuan itu sejak tragedi penyerangan.


“Sebenarnya aku melihat tanaman agas saat di Ubudtaal tadi,” gumam Elleanor.


Mikalea berkacak pinggang di belakang Nathan sembari terus menatap Elleanor. Ia benar-benar membutuhkan gadis itu saat ini. Namun, sepertinya Elleanor tak ada keinginan untuk menurutinya. “Bukankah tadi kau lebih mementingkan Tristian daripada caerulea?”


“Kita sudah menemukan Tristian, bukan?” jawab Mikalea. “Ini mendesak, Elle. Hewan itu sudah ada di depan mata. Bagaimana jika nanti kita kehilangan hewan itu?”


“Ini juga mendesak. Kita tidak tahu racun apa yang menyebar di tubuh Tristian dan berapa lama waktu yang tersisa untuk menyelamatkannya!”


“Sepertinya Tristian mulai demam. Tubuhnya sangat panas!” seru Nathan yang masih memangku kepala Tristian.


Mikalea berbalik. Ia lebih kesal dengan sikap teman timnya dibandingkan Karkadann yang sulit ditaklukan itu. Langkahnya tergesa, wujudnya berubah menjadi pria paruh baya dengan kumis dan jenggot sedikit beruban. Jemari tangan kirinya dipenuhi cincin dengan batu mulia warna-warni, sementara tangan kanannya dibalut sarung tangan merah yang terlihat mewah. “Berhenti!” teriaknya dengan suara dan penampilan persis seperti Lord of Greyness.


Karkadann menghentikan penyerangannya terhadap werewolf hitam jelmaan Mr. Jonathan. Hewan itu mengeluarkan suara mendengung, menarik perhatian Elleanor yang mengerti kata-kata itu.


“Satu lagi muncul makhluk yang perlu dimusnahkan.” Begitu suara Karkadann yang terdengar di telinga Elleanor.


Elleanor menatap Mikalea yang mengubah penampilannya persis seperti Lord of Greyness. Apa maksud hewan itu? Ia ingin melenyapkan Lord of Greyness atau tahu jika Mikalea sedang menyerupai Lord of Greyness?


“Kale, hati-hati!” teriak Elleanor.


Mikalea tidak mengacuhkan peringatan Elleanor. Ia sama sekali tak butuh perhatian gadis yang sudah menolak rencananya. Ia dan Karkadann saling beradu tatap tanpa berdekip. Samar, tanduk berkilauan hewan itu seolah memiliki pola di dalamnya. Mikalea memicingkan mata, memperkuat fokus pandangan. Entah datang dari mana, ia sangat yakin jika caerulea itu ada di tanduk Karkadann. Itulah mengapa tanduknya selalu berkilauan dan menarik perhatian.


“Kami hanya ingin tahu di mana caerulea berada,” ucap Elleanor dengan suara mendengung yang hanya bisa dipahami Karkadann.


Hewan itu tak menjawab. Kakinya melangkah mundur sebelah, seolah sedang mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tatapannya mengarah pada sosok yang paling disegani di Whispering Sand sebelum akhirnya langkahnya lepas menyerang Mikalea.


“Apa yang kau katakan, hah?” Mikalea menoleh kesal pada Elleanor.


Beruntung Mr. Jonathan yang menghadapi karkadann. Ia mengentakkan kaki kanan di pasir lalu cahaya kehijauan berbentuk cincin bergerak melebar, menghentikan langkah Karkadann tepat di hadapannya. Hewan itu melipat sebelah kaki depan dengan kepala merunduk.


Melihat hewan itu tak lagi menatap sebagai musuh, Mikalea pun mendekat, masih dengan penampilan menyerupai Lord of Greyness. Ia melepaskan sarung tangan merah mewahnya dan diangkat ke arah tanduk besar berkilauan itu. Ia yakin jika bekas luka di tangan Lord of Greyness yang pernah Mikalea lihat itu karena alerginya terhadap caerulea. Mengapa bekas lukanya terlihat belum mengering sempurna? Ia yakin karena Lord of Greyness bersentuhan langsung dengan pusaka itu secara berkala. Jadi, sekarang ia juga harus menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh caerulae di dalam tanduk itu.


“Kau pikir pusaka itu akan keluar begitu saja? Dasar bocah amatir!” Ucapan Karkadann sampai di telinga Elleanor


“Bagaimana mengeluarkan pusaka caerulea itu?” Dengungan Elleanor makin keras begitu ia berdiri di belakang Mikalea.


Mikalea berbalik, menatap gadis berkacamata yang plin-plan ini. Mata kelabunya melotot protes, tak mau Elleanor berlagak berkomunikasi padahal memancing emosi Karkadann.


“Jika pusaka ini adalah pedang, maka yang kusimpan ini hanya bilahnya. Pedang tidak akan menjadi pedang jika tanpa gagang, jadi berhentilah mencari!”


Elleanor terdiam. Tangannya mengusap dagu sembari menerawang memikirkan maksud hewan itu.


“Apa? Jangan-jangan dari tadi kau memang tidak tahu dia bicara apa?” Mikalea tak sabar.


Mata Elleanor memicing di balik kacamata. “Lebih baik kau kembali ke bentukmu! Hewan itu juga sudah tahu dari tadi kau bukan Lord of Greyness.”


Karkadann hendak menyerang Mikalea yang telah kembali ke wujud asli, tetapi sinar kehijauan Mr. Jonathan di dalam pasir seolah menahannya. Hewan itu tak bisa menyerang ataupun kabur dari pembicaraan ini karena Mr. Jonathan telah menguncinya.


Mikalea terdiam sesaat. Para nymphaea tak memberitahunya mengenai itu. Namun, ia kemudian membulatkan mata menatap Elleanor. “Akar nymphaea itu!” Ia sangat yakin akar yang memberitahunya waktu itu adalah gagangnya.


“Sir, Tristian mulai menggigil dan pucat!” Nathan panik menangani Tristian yang menggigil sembari sesekali terbatuk dan mengigau.


Mr. Jonathan tampak gusar. Ia tak bisa meninggalkan Karkadann begitu saja, tetapi Nathan tampak makin panik saat memeriksa energi Tristian. “Bagaimana? Kale, kau cari akar nymphaea itu dulu. Elleanor, carikan sesuatu untuk menolong Tristian.” Ia mengumpulkan energi lalu membuka dua portal. “Nathan, temani Kale ke Aakhdartaal! Elle, cepat temukan sesuatu untuk Tristian! Ingat, aku tidak bisa membuka portal lama. Energiku terkuras di hewan ini. Jadi lekas kembali!”


Ketiganya mengangguk, bersiap memasuki portal dengan penuh tekad.


Elleanor menyusuri pasir cokelat gersang sembari mengedarkan pandangan. Ia kebingungan dengan arah dan posisinya. Sepanjang sapuan matanya, ia tak menemukan tanaman agas, sementara waktu terus berjalan. Gadis itu bertanya pada beberapa tumbuhan yang asing dan hampir seluruhnya mengabaikannya. Satu-satunya jalan, ia harus menemukan rawa itu.


Tumbuhan bertangkai sebesar kelingking dengan daun berjajar rapi di setiap tangkainya tampak sedang saling mengobrol satu sama lain, termasuk tangkai yang tampak hangus kehitaman.


“Halo?” Elleanor dengan pelafalan yang fasih, turut bergabung dalam obrolan.


Kelima tangkai dalam satu akar itu terdiam dan menghadap pada sumber suara asing. Terdengar bisik-bisik sinis mereka begitu menyadari wajah Elleanor tak asing dan dikenal sebagai salah satu anggota dari rombongan yang membuat keributan beberapa hari lalu.


“Aku ingin meminta bantuan kalian. Salah satu temanku terluka,” jelas Elleanor. Kelimanya tak menghiraukan dan kembali mengobrol. “Aku mohon. Kami tak memiliki banyak waktu. Temanku terkena racun Karkadann.”


Suara riuh antar tangkai tadi tiba-tiba terhenti. Salah satu dari mereka berdeham, tanda ingin memulai percakapan sebagai perwakilan.


“Astaga! Kalian bertemu dengan makhluk itu?” Suaranya terdengar khawatir. Elleanor mengangguk sembari membenarkan posisi kacamata. “Siapa temanmu yang terluka?”


“Tristian. Kalian ingat aku dan temanku melewati sini beberapa hari yang lalu, bukan? Dia laki-laki berambut hitam—”


“Tidak!” Salah satu tangkai yang paling mencolok memotong penjelasan Elleanor. Seluruh tangkai saling terjalin seolah sedang memeluk. Elleanor paham jika mereka menolaknya, bahkan ia juga sempat ragu untuk berhadapan dengan mereka demi Tristian. “Maaf, Sayang. Kami tidak bisa membantu seseorang yang telah melukai salah satu dari kami.”


Elleanor menunduk, bergeming. Kepalanya dipenuhi berdebatan. Ia tak mau hal buruk terjadi pada Tristian, tetapi juga paham jika mereka tak mau membantu karena kesalahan Tristian sendiri. Andai Tristian tak menggunakan sihir untuk menyerangnya, andai Mr. Jonathan yang merebut tongkat Tristian, andai timnya memiliki ikatan yang kuat. Mantra tristian tidak akan salah sasaran menyerang tanaman agas jika semua perandaiannya terjadi. Namun, semua itu hanya pengandaian belaka.


Tak berapa lama terdengar gemuruh banyak kaki melangkah di pasir. Elleanor panik, ia bergegas mencari tempat persembunyian. Dalam hitungan detik seluruh tumbuhan di Ubudtaal riuh membicarakan gerombolan yang beberapa tahun lalu sempat menimbulkan kegaduhan di sini. Salah satu pohon paling tua mengenal setiap postur dan aroma mereka.


“Mereka memasuki portal yang dipakai anak perempuan tadi!” Riuh suara mengulang kalimat untuk disebarkan ke seluruh Ubudtaal.


Elleanor yang mendengarnya pun bergagas menuju portal.


“Nak!” seru salah satu tangkai agas.


Elleanor berbalik. Ia lupa belum berpamitan, tetapi siapa sangka tanaman agas menawarkan bantuan setelah menolaknya mentah-mentah.


“Kami bersedia membantu temanmu,” ucap salah satu perwakilan yang memiliki suara paling lembut.


“Itu karena kalian akan menghadapi musuh yang sama dengan musuh kami!” seru tangkai hangus yang masih menyimpan dendam terhadap Tristian. Kemudian, ia menjulurkan diri agar daun yang tersisa di tangkainya bisa dipetik Elleanor.


“Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih, tetapi aku benar-benar berterima kasih pada kalian,” ucap Elleanor dengan mata berkaca-kaca.


“Katakan pada temanmu, dia berutang maaf dan nyawa padaku!”


Elleanor mengangguk. Beberapa kali ia membungkuk sebelum akhirnya menembus semak dan memasuki portal menuju Ramadtaal Sand.