Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE WANDERING CAERULEA - THE SIXTH



THE SIXTH


HAMPARAN AIR JERNIH dengan dinding tebing lembap di hadapan Mikalea berubah menjadi padang pasir gersang. Beberapa orang berjalan menyebar di depannya, sedang memetik berbagai jenis tumbuhan dengan bermacam kegunaan. Orang-orang itu adalah paman, bibi, kakak sepupu, kakek, nenek, kakak, dan ibunya yang sedang mengumpulkan bahan untuk diolah menjadi ramuan penyembuh—sebuah keahlian yang dikuasai Keluarga Midagad.


Tiba-tiba ada tangan yang lebih besar menggandeng Mikalea, telapaknya sedikit kasar tetapi terasa hangat di genggaman. Langkah Mikalea terasa lebih pendek dari yang seharusnya. Ia menatap kakinya lalu terkejut begitu melihat ukuran sepatu dan panjang kakinya mengecil. Seseorang yang menggandengnya pun tampak lebih tinggi darinya, tetapi wajah pria itu familier.


"Ayah?" ucap Mikalea dengan suara kanak-kanaknya.


Pria bertubuh kekar dibalut pakaian kulit itu menoleh ke arah Mikalea yang setinggi pinggangnya. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun dan terus menuntun Mikalea ke arah rawa, menjauhi rombongannya yang sibuk dengan tumbuhan. Mikalea mengikuti langkah ayahnya dengan tergesa sembari menoleh ke arah ibunya yang sedang mengumpulkan serbuk sari bunga kaktus.


"Kale, Ayah akan mengajarimu mengambil sari bunga nymphaea," ucap pria berambut perak yang merunduk sejajar dengan putranya.


Mikalea mengangguk. Mata abunya berbinar saat menatap wajah pria bernama Ziel Midagad dari dekat. Kulit wajah yang bersinar tanpa kerutan, rahang tegas, dan alis tebal adalah pesona yang membuat Shopia Gadriesophe jatuh cinta padanya.


Pohon rambat berdaun kuning yang membentuk lengkung pintu dari pemukiman menuju rawa di Ubudtaal Sand. Langkah keduanya terhenti. Ziel Midagad makin kuat menggenggam tangan kecil putranya seolah takut akan terlepas dan hilang. Kabut tebal dari debu pasir cokelat muda menutupi rawa. Namun, ketakutan Ziel Midagad dimulai sejak melihat nymphaea berbunga yang masih kuncup tergeletak layu dengan daun terkoyak di depan lengkung pohon rambat.


"Ayah?" gumam Mikalea ketakutan. Ia sadar kejadian di depan matanya hanya semacam reka ulang adegan, tetapi ketakutannya terasa nyata.


"Panggil ibumu dan semuanya!" ucap Ziel Midagad sembari mendorong putranya untuk pergi.


Mikalea berlari kecil, persis seperti yang ia lakukan kala itu. Ia menoleh ke belakang begitu mendengar pedang yang dicabut dari sarungnya. Ayahnya tampak siap untuk berperang, entah melawan siapa yang berada dalam tengah kabut pasir itu.


"Kale, diam di sini dan jangan sampai ada yang melihatmu!" ucap kakak laki-lakinya yang lebih tua empat tahun darinya.


Gerombolan orang-orang yang melawan Keluarga Midagad itu tampak memiliki kemampuan sihir yang lumayan. Mereka mengendalikan paman dan bibi Mikalea untuk menenggelamkan diri di rawa dengan sukarela. Keadaan makin kacau karena korban terbanyak adalah keluarganya. Beruntung ibu Mikalea terlahir dari Keluarga Gadriesophe, keluarga yang mendominasi dan lebih banyak mempelajari taktik perang dan militer. Namun, ada salah satu dari mereka yang lolos dari pengawasan keluarganya. Sosok pria yang mengeluarkan tabung kaca kecil panjang dengan cairan berwarna cokelat.


Mikalea yang bersembunyi di balik semak khawatir jika tabung itu akan menghancurkan tempat ini dan menyakiti lebih banyak keluarganya. Mata kelabunya memerah begitu tak bisa menahan amarah. Ia mengeluarkan sayap peraknya dan bergegas untuk merebut botol tabung itu sembari mengubah setiap helaian bulu sayapnya menjadi pedang. Namun, siapa sangka, suara tebasan pedang berdenging di telinganya sebelum ia berhasil menangkap tabung kaca kecil itu. Ia jatuh pingsan dengan tiga sayap pedang patah, terpisah dengan Mikalea dewasa. Celakanya, tabung kaca yang hampir ia dapatkan tadi terbuka dan mengguyur sayap pedangnya, mengepulkan asap korosif.


Mikalea dewasa terpaku, menatap peperangan keluarganya melawan orang-orang dengan penutup wajah dan pakaian dari kain yang hanya dililit tanpa dijahit. Ia menatap dirinya yang terkapar. Sebagian keluarganya terluka dan tak sadarkan diri, termasuk para nymphaea yang layu dan berserakan di segala penjuru. Tak berapa lama ibu dan ayahnya mengajak keluarga besar Midagad untuk mundur begitu menemukan Mikalea tergeletak dengan sayap yang terluka.


"Selamatkan Mikalea! Jangan biarkan racun itu memusnahkan sayapnya!" ucap ayah Mikalea pada ibunya. Mikalea dewasa melihat ayahnya menggendongkan tubuh kecilnya pada wanita dengan pakaian kulit tebal khas pasukan militer.


"Dominic, bantu Ayah kumpulkan nymphaea yang tersisa. Jangan sampai kau terluka!"


Mikalea dewasa ingin membantu ayah dan kakaknya. Ia melangkah di tengah kabut pasir tebal. Namun, kakinya malah berpijak di air jernih sedalam lutut. Ia terenyak sadar dan menatap hamparan air jernih yang memantulkan cahaya remang dari langit pasir yang menyerap sinar rembulan. Tubuhnya bergidik dingin, sementara tangannya masih gemetaran menggenggam daun nymphaea di tengah air.


Mikalea memperhatikan sekeliling, ini bukan lagi di Ubudtaal Sand. Mata kelabunya menemukan teman-temannya tengah tidur di bawah pohon tepi kolam sembari berebut selimut karena setiap malam udara di Whispering Sand selalu terasa sedingin udara Frozen Ocean. Belum sempat beranjak dari air, terdengar seseorang memanggil namanya.


Terlihat sesuatu bergerak dari kolam di dekat tebing ke arahnya. "Putra Midagad, syukurlah kau tumbuh dengan baik." Suara yang tidak diketahui sumbernya itu menggema. "Aku sudah mendengar rencana kedatanganmu dan tujuannya."


Mata kelabu Mikalea menemukan sesuatu yang bergerak di dalam air. Bukan ikan, melainkan seperti serat-serat kasar. Ia mendekatkan pandangan. Terlihat seperti akar tanpa daun dan bunga nymphaea seperti lainnya.


"Carilah Karkadann! Sesuatu yang kau cari hanya diketahui olehnya."


"Bunga caerulea?" Mikalea mencoba menyamakan objek yang dibicarakan.


"Kau pun pernah menjadi mitos bagi anak cucu kami di sini," balas akar nymphaea.


Terdengar sayap yang terbang melawan arah angin dan makin mendekat. Sayap besar dengan kepala rajawali berbulu leher lebat itu terbang menukik ke arah Mikalea. Kemudian, empat kaki berbulu pendek dengan paw besar pun menapak di pasir tepian kolam. "Astaga! Mikalea," ucap seekor griffin cokelat dengan baju zirah lengkap.


"Brevitio!" seru Mikalea senang. Sejak bersekolah di Maple Academy, ia jarang pulang dan bertemu dengan pemimpin pasukan militer yang dikuasai keluarga ibunya, Keluarga Gadriesophe.


Kaki singa Brevitio melangkah mendekati Mikalea yang sudah di tepian kolam. Ia tersenyum senang. "Untung saja aku berpatroli malam ini. Jika tidak, pasti aku tidak akan bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?"


"Kau memang yang paling rajin, Brev! Teman-temanku sepertinya kelelahan," jawab Mikalea sembari menatap ke arah pohon besar yang akarnya bisa dijadikan tempat sandaran ketiga temannya.


"Apa itu seragam sekolahmu?" Brevitio menunjuk jubah oranye yang dipakai Mikalea senada dengan milik Nathan dan Elleanor. "Apa kalian sedang mencari salah satu teman kalian?"


Mikalea menautkan alis tebalnya, rautnya menggambarkan kebingungan dan pertanyaan.


"Aku melihat seseorang berpakaian sama seperti kalian menuju Ramadtaal Sand," imbuh Brevitio.


Mikalea panik. Ia menatap Mr. Jonathan, Elleanor, dan Nathan. Orang yang Brevitio maksud pasti Tristian. "Rambutnya hitam? Sepanjang bahu?"


"Ya! Sebagian dikucir. Aku meminta Dominic untuk mengawasinya tadi. Jika dia memang temanmu, aku akan minta kakakmu untuk melepaskannya. Untungnya aku belum mengumpulkan pasukan untuk menangkapnya."


Mikalea mengangguk kaku. Isi kepalanya terasa seperti benang kusut memikirkan Tristian. Beruntungnya Brevitio belum menangkapnya. Bayangkan jika Brevitio dan pasukannya menangkap Tristian. Anak penyihir itu pasti akan makin menghakiminya.


 "Dominic, kau bisa lepaskan orang itu. Dia teman adikmu," ucap Brevitio begitu mata di antara paruh itu berubah warna menjadi hijau.


"Adikku? Kale? Dia ada di Whispering Sand?" Dominic terdengar kebingungan sembari memperhatikan Tristian yang menggigil dengan langkah berat melewati pasir abu di Ramadtaal Sands. Rambut hitamnya terlihat kusut karena ia sering menggaruk kepala.


Tak berapa lama Tristian ambruk di tengah hamparan padang pasir abu. Matanya sayu menatap langit yang dipenuhi kerlip pasir yang menyerap sinar bulan dari Fallen Angels Kingdom. Persediaan airnya telah habis sejak kemarin. Kini rasanya ia mulai berhalusinasi karena melihat Mikalea datang dan memberinya beberapa teguk minum. Sampai akhirnya ia benar-benar memejamkan mata sembari menggenggam tongkat sihir yang disambungkan dengan robekan kain sutra pemberian Lord of Greyness.


Tristian merapalkan mantra untuk membuat sinar kecil di ujung tongkatnya. Setidaknya ia tidak tidur di tengah gurun pasir abu gersang yang gelap. Cahaya remang biru menjadi satu-satunya sumber penerangan di Ramadtaal Sand, wilayah berpasir emas tak terjamah yang sengaja dihanguskan setelah perang saudara dan menjadi tempat menyebar abu para pahlawan dan bangsawan, termasuk abu Lord Dabriel.


"Kale!" pekik Tristian setelah beberapa jam terlelap di tengah padang pasir. Tubuhnya hampir terkubur oleh pasir abu yang tertiup angin malam. "Mana mungkin dia sampai sini," gumamnya begitu sadar. Namun, tiga botol minum di tasnya yang telah kosong tiba-tiba kembali terisi penuh. Beruntungnya aku.


Mata hitam Tristian menatap daratan berpasir, mencari hewan yang sudah berhari-hari ia ikuti. Pandangannya terhenti begitu melihat cahaya warna-warni di bawah pasir tak jauh dari tempatnya. Ia bergegas menghampiri. "Jangan-jangan itu berlian seperti milik Lord of Greyness," katanya, girang.


Tristian lekas menggali pasir abu dengan tangan kosong hingga kuku jarinya menghitam. Tak terlalu jauh, batu runcing bersinar itu memantul di mata gelapnya. Belum sempat memegang batu itu, tiba-tiba ada mata yang membuka dari batu itu. "Apa itu?" Ia memekik dilanjut dengan makian kasar begitu sesuatu yang lebih besar keluar dan menggetarkan pasir.


Wajah Tristian tampak lelah dan putus asa, tetapi ia tidak boleh mati begitu saja. "Lagi?" bisiknya kesal begitu melihat hewan berkaki kuda dan berbadan badak dengan tanduk bercahaya warna-warni kembali memburunya. Bersembunyi dengan cara apa pun pasti akan tetap terlihat di mata hewan ini. "Heiteruous!" Tak ada apa pun yang terjadi pada hewan itu. "Holeora!"


Lubang-lubang di pasir muncul, tetapi sama sekali tak membuat hewan itu terperosok ke dalamnya. "Seulepius!"


Seekor kelinci muncul di hadapan hewan itu. Namun, hewan itu mengabaikannya dan masih terus memburu Tristian. Padahal kaki Tristian sudah sangat lelah untuk melangkah, apalagi berlari. Kepalanya sudah tidak bisa memikirkan mantra apa lagi yang harus dicoba.


Entah sejak kapan langit berpasir itu berubah menjadi sangat cerah dan terasa panas. Tristian mempertimbangkan untuk menyerah, membiarkan tubuhnya dikoyak tanduk bercaya itu atau merelakan tubuh lemah ini diinjak kaki sekuat kuda itu hingga rusuknya patah. "Selamat tinggal, kehidupan nyaman!" teriaknya.