Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The Ambush



The Ambush


ANAK-ANAK PANAH menyerbu mereka. Thann mengudara, sayapnya yang terbentang mengepak ke depan, mengempaskan puluhan anak panah yang mendekat. Merasa halangannya telah hilang, Wolfe menerjang maju. Sebuah pohon besar tiba-tiba saja mengayunkan dahan. Dengan sigap ia menggigit batang pohon itu dan meremukkannya.


Salah satu penyerang merapalkan mantra ke tanah. “Vask!” Tanah itu melunak, menenggelamkan kaki Wolfe.


Thann terbang rendah dan menjatuhkan para ahli sihir di dekatnya dengan kibasan sayap dibarengi sentuhan-sentuhan yang melemahkan kaki, tangan, bahkan tubuh mereka secara perlahan. Satu per satu mulai pingsan kehabisan energi.


Wolfe berusaha mencari pijakan, tetapi makin berusaha, tanah yang telah dimantrai itu terus menelannya. Ia kemudian menancapkan cakar di pohon yang menahannya tadi dan menarik tubuh ke luar. Serigala itu melompat, dengan gesit mengayukan cakar ke para penyerang dan menggelamkannya ke tanah. Tiba-tiba saja sesuatu yang keras meninju samping perutnya. Ia terlempar, punggungnya mematahkan sebuah pohon. Ia menggeram, menatap sosok yang sama tinggi dengannya.


Makhluk besar itu terbuat dari tanah liat, tubuhnya membungkuk seperti gorila, dan di dahinya terdapat tulisan yang bersinar biru pucat. Wolfe berlari maju, hendak membalas perbuatan makhluk itu. Namun, sebelum ia sempat mendekat, tubuh besar golem tersebut jatuh berlutut. Wolfe  terlambat untuk mengerem larinya.


Kedua telapak tangan Thann mengeluarkan asap hitam. Ia menjauhkan tangan dari bahu golem yang telah kehilangan energi tersebut dan terbang tinggi sebelum diseruduk juniornya. Tubuh besar Wolfe berakhir mementalkan anggota kelompok penyerang dan menginjak badan golem tadi.


Tiba-tiba saja sesuatu menarik tubuh Thann turun. Ia menunduk, melihat seorang penyerang mengikat kakinya dengan rantai dan terus menariknya. Sebelum bangsawan tersebut sempat bereaksi, sebuah anak panah mengenai tangannya. Thann mendesis lirih. Ia memutuskan tidak melawan tarikan di kakinya dan terbang cepat menghampiri si penyerang. Ketika cukup dekat, ia mengangkat tubuh orang tersebut lalu melemparnya ke pemanah di dahan pohon. Ia berbalik, menghindari pendar-pendar sihir yang memelesat ke arahnya dengan lihai. Sulit baginya mendekat untuk menyerap energi para penyerang jika terus dipojokkan seperti ini.


Wolfe menghancurkan tangan golem lain, tetapi tiap kali dihancurkan, makhluk tanah liat itu terbentuk lagi. Serigala tersebut menggigit lengan seorang penyerang yang mengayukan belati, melemparnya ke si golem yang mengamuk.


“Smerter!”


Sebuah mantra berbahaya memelesat dari balik bahunya, tetapi berhasil dihindari. Mantra itu mengenai tubuh penyerang lain dan orang tersebut langsung kejang-kejang di tanah. Wolfe bergerak mundur saat mantra yang sama diucapkan. Ketika hendak menyerang balik, ia tak bisa bergerak. Kakinya tertanam di kubangan tanah hisap. Golem yang tadi menyerang bergerak mendekat, sementara orang yang menyihirnya barusan sudah mengacungkan tongkat.


“Smerter!”


Sebelum mantra tersebut sempat melukai Wolfe, sebuah suara bernada kesal yang amat familier terdengar.


“Cukup!” Mevel mengentakkan tongkatnya ke tanah, melepaskan energi berwarna hijau pucat yang keluar dalam bentuk lingkaran besar. Energi itu menghancuran para golem, mementalkan para penyerang, bahkan nyaris menerbangkan Wolfe. Berkat itu, mantra berbahaya tadi berhasil dihancurkan.


Mevel melempar puluhan kertas ke udara. Ia mengangkat tongkatnya dan kertas-kertas itu berpendar merah. Angin kencang bertiup dari dalam kertas, menghisap semuanya seperti penyedot debu. Para golem tadi berubah bentuk menjadi cairan hitam kental, mengotori tanah, dan tersedot ke dalam kertas. Begitu juga para ahli sihir bertudung merah yang menyerang mereka. Semuanya masuk ke lembaran-lembaran kertas yang cahayanya perlahan redup dan padam. Kertas-kertas itu jatuh ke tanah, menyisakan ketiganya sendirian.


Mevel memungut kertas-kertas tersebut. Perasaannya tidak enak. Ia menatap ke arah perkemahan dan berseru kepada dua rekannya.


“Cepat! Ashlen dan Nastradamus dalam bahaya!”


 “Ashlen, awas!” Nastradamus berteriak panik. Cipratan darah kawannya mengotori wajah.


Ashlen mengatupkan gigi menahan perih. Sebuah belati menusuk lengan kirinya, sangat dalam hingga ia pikir akan tembus. Kepalanya masih pusing karena mendadak terbangun dan tahu-tahu saja sudah menyelamatkan leher Nastradamus.


Ashlen menggeram. “Mundur!” Tubuh penyerang itu beserta belatinya terdorong ke luar tenda, diikuti bunyi berat yang menghantam tanah. Ia mengerang pelan sambil menekan luka. “Ada bau asap,” bisiknya lantas menatap Nastradamus tajam. “Vuakhhh!”


Seperti boneka yang digerakkan benang transparan, tubuh Nastradamus bergegas membongkar tempatnya berbaring tadi, mencari tongkat. Apa yang dikatakannya? Usai mendapatkan benda tersebut, ia berjalan ke luar bersama Ashlen yang mengikuti. Di depan mereka, asap hitam sudah membumbung, aromanya menggatalkan tenggorokan, dan suhu menyengat menyakiti mata juga kulit.


Masih di luar kendali, Nastradamus berseru, “Folyik agua!” Semburan air memuncrat dari ujung tongkatnya seperti keran rusak, memadamkan api yang nyaris membakar tenda Thann.


Ashlen tidak menunggu sampai kobaran api tersebut padam sempurna. Ia telah melompati celah yang diciptakan lidah merah tersebut. Berguling di rumput sebagai pendaratan dan kembali berguling ke kiri, menghindari lesatan mantra yang langsung lesap ke dalam tanah. Remaja berambut panjang itu berlutut dengan satu kaki, mengambil ancang-ancang dan berlari ke depan. Sosok bertudung hijau lumut yang tadi menyihirnya menghadang.


“Diam!” Seketika itu pula si Tudung Hijau mematung. Selangkah sebelum Ashlen menangkapnya, seorang lagi yang mengenakan jubah hitam muncul, mengayunkan belati ke depan wajahnya.


Ashlen tersenyum kecil sambil menghindar ke sebelah kiri. Ayunan belati si Jubah Hitam memantulkan cahaya rembulan dan api, memburunya dengan membabi buta. “Wah, akhirnya perjalanan ini jadi seru.” Ia bergumam, menangkis serangan di samping kanan lehernya dengan tangan kiri.


Si Jubah Hitam berjengit heran dan melompat mundur. Ia langsung menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang bersenjata. Telapak tangan Ashlen berpendar hijau sekejap. Sambil menggenggam belati masing-masing, keduanya berlari maju.


Beberapa langkah sebelum si penyerang mengayunkan senjatanya, Ashlen berbisik, “Berhenti!” dan sosok di depannya tidak bergerak. Ia menyeringai. Belatinya terayun dari samping.


Senjata itu belum sempat melukai saat tubuh Ashlen terjatuh ke dalam lubang hitam yang tiba-tiba muncul di bawah kakinya. Pria berjubah itu kembali bergerak. Ia menghampiri temannya yang bertudung hijau. Si Tudung Hijau mengayunkan tongkatnya, melepas sebuah mantra yang ditangkis Nastradamus.


Penyihir pirang itu telah berhasil memadamkan semua api. Tatapan di mata hijau cemerlangnya membara dan keringat sebesar biji jagung bergerak turun dari dahi ke leher. “Di mana Ashlen?” Ia menggerakkan tongkat, melepaskan mantra kaku. Sialnya berhasil ditangkis. Sebelum sempat kembali menyerang, sebentuk portal mulut gua muncul di sisinya. Wajah Mevel menyembul dengan raut khawatir yang kentara.


“Mana Ashlen?” pekiknya ketika hanya melihat Nastradamus.


Thann memperhatikan sekeliling, melihat sebentuk lingkaran mengecil dan hilang di udara. “Mereka kabur.”


“Ashlen, kau baik-baik saja?” Nastradamus menyingkir dari bawah tubuh malaikat tersebut, membaringkannya di tanah setengah gosong. Wolfe mendekat.


“Apa kau sudah mati?”


“Be-lum.”


“Sial!”


Nastradamus mengernyit tak paham dengan geraman-geraman ogre tersebut. Ia berlari masuk ke tenda dan kembali dengan gulungan kain kulit hewan. Di dalamnya terdapat beberapa botol langsing yang diselipkan dalam lengkungan tali dari kulit kayu. Ia menarik sebotol ramuan berwarna kuning. “Ashlen, ini untuk luka dalam, mi—”


“Guakhhh!”


“Wolfe, jangan menginjak tangannya!” Mevel yang sedari tadi mencari sumber darah di seluruh baju Ashlen langsung menemukannya.


“Nguh.”


Mevel menaikkan lengan kemeja Ashlen dan mendekatkan tongkatnya ke luka yang terbuka itu. “Tratarvis.” Perlahan, luka tersebut tertutup. “Kau mau mengatakan sesuatu, Nastradamus?” Ia bangkit sambil menepuk-nepuk celana.


Nastradamus terdiam, perlahan mengangguk berat. “Mereka mengambil si Tinta.”


“Sudah kuduga.”


“Tunggu!” Thann berdiri di samping Ashlen yang sedang ditertawai Wolfe karena mau memuntahkan obatnya. “Bagaimana mereka bisa mengambilnya? Bukankah kertas itu ada di sakumu?”


“Yah, memang begitu,” balas Nastradamus sedikit gugup. Ia tidak banyak bercakap dengan Thann, ditambah lagi atmosfer keduanya menegang sejak kejadian di Library Wood. “Mereka mengambilnya ketika aku tidur.”


“Katakan padaku,” Thann berjalan mendekat, “apakah kau tertidur karena terkejut? Apa kau sadar berapa banyak masalah yang disebabkan oleh hal itu?”


Nastradamus mengepalkan tangan. “Jangan bicara seolah kau tidak punya kekurangan apa pun! Aku sudah menghabiskan tiga botol wiseman potion untuk menghentikannya, tetapi itu memang bisa kambuh sewaktu-waktu dan kalau—”


“Hentikan-hentikan!” Mevel memotong. “Ashlen dan Wolfe selalu bertengkar, sekarang kau dan Thann juga tak akur. Kalian akan membuatku gila.” Anak itu mengentakkan kaki.


“Tim ini punya kelemahan. Thann, cobalah untuk menerima itu. Nastradamus memang mempersulit semua ini, tetapi ia sudah berusaha mencegahnya.” Mevel menoleh pada Nastradamus. “Nastradamus, mengonsumsi ramuan sebanyak itu tidak baik. Kau bisa jadi ketergantungan. Efek sampingnya mungkin tidak selalu positif sekalipun wiseman potion adalah ramuan baik.” Ia berbalik, tongkatnya berpendar perak ke arah Ashlen dan Wolfe yang sedang cekcok.


“Kalian berdua, akurlah! Lima menit saja. Sedari awal aku ditugaskan, kalian sudah membuatku pusing. Perbaikilah itu atau kuubah kalian jadi ogre sungguhan!”


Keduanya bungkam.


Mevel membuang napas panjang, tidak biasanya ia banyak bicara. “Terutama kau, Wolfe. Aku ini pembimbing kalian. Jangan pikir kau bisa mengendap-endap dan merencanakan sesuatu seperti itu lagi.”


“Kau juga mengendap pergi, kan? Aku tidak mencium aroma tubuhmu dari dalam tenda ketika aku kabur. Kau juga mencari rusa itu!” balas Wolfe.


“Benar dan aku menemukannya, tak jauh dari tempatmu diserang. Hewan itu kabur lagi begitu mendengar ada kekacauan.”


Wolfe menunduk. “Memang salahku.”


Mevel mengangguk puas. “Baguslah,” katanya dengan mata terpejam. “Ashlen!”


“Iya?”


“Kau bisa menghipnotis binatang?”


Ashlen mengernyit, tahu ke arah mana obrolan ini akan berujung. “Tunggu! Aku tidak pernah menghipnotis hewan sebesar rusa itu.”


“Kalau begitu, kau harus bisa.” Mevel membuka matanya, menatap Ashlen yang dilumuri darah kering. “Jika tidak, waktu yang terulur akan semakin panjang.”