
The Start Of The Trip
CLARYN MENGERATKAN TAS di punggungnya. Ia kini sudah berada di Invisible Gate. Napas yang keluar dari hidungnya seakan menumpahkan kerinduan terhadap tempat kelahiran. Ia tidak bisa melepaskan pandangan meskipun riuh di sekeliling mengganggu pendengaran.
Vendard datang dari belakang, menyejajarkan diri dengan Claryn. Ia bertanya, "Kau tetap akan menjaga jarak dari Lily?"
Claryn menjawab, "Aku hanya tidak mengira, Mr. Samael akan menempatkan Lily di tim kita." Ia menatap wajah Vendard. "Hatiku ragu dengannya."
Vendard menyatukan alisnya sehingga Claryn tahu bahwa ia sedang bertanya-tanya.
Claryn memajukan langkah dan menjelaskan, "Lily itu tukang berontak. Dia juga pernah ketahuan melanggar aturan Academy."
"Jadi, hanya karena dia—"
"Tutup mulutmu! Dia mendekat kemari," potong Claryn karena melihat gadis dengan rambut merah mengarah kepadanya. Ya, Lily James.
Vendard menahan napas saat Lily tiba di hadapan mereka.
Lily menegur, "Hey, kalian, burung dan serigala. Cepatlah!”
Claryn menatap sinis ke arah Lily yang kembali berjalan. Semua Tim sudah lengkap. Namun, semua tiba-tiba memundurkan langkah karena takut terkena tubuh Tristian yang telah dilempar oleh mutan. Entah apa yang terjadi dengan Tristian sebelumnya, Claryn tak acuh dan tak mau mencari tahu.
Setelah berkumpul dengan tim masing-masing, Kepala Sekolah meminta semuanya menuju loket 22 yang tampak sepi dan biasa saja, berbeda dengan loket-loket lain. Setelah membeli karcis, ketujuh tim field trip dibawa turun menggunakan rootlift yang mengarah ke stasiun karena akan menaiki kereta ulat.
Tunggu, kereta ulat? batin Claryn.
Vendard kembali menyatukan alis sambil melihat dengan jelas bahwa semua teman-temannya meragukan caterpilartrans.
"Kau yang lebih dulu, Vendard. Bukankah kau kuat dan berani?" sindir Mr. Samael.
Vendard mengangguk. Dengan langkah mantap ia masuk. Lily menarik tangan Claryn untuk menyusulnya. Setelah semua menunggu di stasiun 22, caterpilartrans datang dengan perlahan dan berhenti di hadapan mereka.
"Kau berani ‘kan, Vendard?"
"Kau selalu meragukan semua orang, Claryn. Kau lihat saja aku yang akan duduk paling depan."
Lily menyela, “Mari kita masuk dan buktikan ucapanmu itu, Vendard!"
Vendard menelan ludah, hatinya tidak bisa berkata bohong bahwa ia sangat ragu. Namun, karena takut diejek, ia melangkah masuk dengan membusungkan dada. Semuanya sudah berada di dalam dan menunggu aba-aba untuk melaju. Ia tidak bisa berhenti bergerak walaupun sabuk hitam yang tiba-tiba muncul dari bagian bangku terpasang di tubuh. Sementara itu, Claryn dan Lily berpura-pura tidak melihat karena takut Vendard akan mengubah rantainya untuk mengganggu keduanya.
Apakah hatiku memang benar-benar meragukannya? batin Claryn.
Lily meneliti wajah Claryn dan bertanya, "Clar, kau sedang memikirkan apa?"
Claryn kembali terfokus. Senior di sampingnya sedang menatap dengan alis yang bergerak naik turun. "Tidak ada."
Kereta ulat berbunyi sebanyak tiga kali lalu mulai melaju dengan perlahan. Di dua menit pertama cukup tenang dan begitu pelan.
"Sir, sebaiknya kau duduk di depan bersamaku!" ajak Vendard.
"Orang kuat dan berani yang seharusnya duduk di depan, Vendard," tolak Mr. Samael, berkilah. "Dan—"
Claryn dan Lily saling pandang sebelum memotong, "Dan, bukan Mr. Samael."
Iris sayu Vendard menatap ketiganya dengan pasrah. Sudahlah, ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi.
Suara riuh memenuhi kereta ulat karena lampu mulai temaram lalu mati sempurna. Karena kereta ulat tanpa jendela, tidak ada secercah cahaya yang menerangi ketakutan mereka. Persetan jika sesuatu yang menjijikkan menyentuh tubuh mereka.
Vendard mencoba membuka lebar kelopak mata, berharap ada setitik cahaya yang bisa ditangkap retinanya. Sementara itu, Claryn langsung memegang bahu Lily dan dibalas dengan genggaman yang kuat. Semua penumpang kalang kabut. Siapa sangka, ulat itu mulai mempercepat lajunya seolah-olah mendapat sokongan tenaga roket. Kereta itu berkelok-kelok dan memutar dengan kecepatan tinggi seperti rollercoaster.
"Aku bukan Vendard. Aku tidak tahan," lirih Claryn. Ia menundukkan wajah, menahan rasa mual. "Beruntung kau kuat, Vendard."
Lily memajukan bibir seperti menahan sesuatu. Ia menyambung ucapan Claryn. "Ya, Vendard kuat, Clar."
Mr. Samael menahan napas supaya tidak terjadi sesuatu dengan dirinya, sementara perasaan mual makin kuat. Caterpilartrans memelankan laju dan berhenti di depan Maple Hostelry. Maple Hostelry adalah pondok berlantai dua dengan atap-atap kerucut seperti topi penyihir. Konon, bangunan ini menyesuaikan jumlah ruangan yang berisi kamar dengan banyak pengunjung. Ruangan yang hanya bisa dibuka dengan kartu ID anggota kamar dan kamarnya hanya bisa dibuka dengan kartu ID pribadi.
Setelah peluit dibunyikan sekali dan sabuk menghilang, Vendard keluar dari kereta dengan tangan menangkup mulut. Claryn dan Lily saling pandang lalu menyusulnya dengan kepala yang sedikit pusing. Sesuatu yang menjijikkan keluar dari mulut Vendard karena lambungnya berkoar meminta dikuras. Ia muntah. Claryn dan Lily sontak tertawa.
"Sudah, Sir. Aku sudah tidak tahan," lirih Vendard.
Claryn meneliti semua temannya yang merasakan efek caterpilartrans. Bukan hanya Vendard, ia juga melihat Wolfe yang sedang mengeluarkan isi lambung. Beruntung hanya Vendard yang paling parah di antara mereka. Jika semua anggota Tim Empat muntah, apa yang akan terjadi? Tidak bisa dibayangkan.
"Kau boleh beristirahat, Vendard. Gunakan ID untuk akses ke kamarmu," kata Mr. Samael.
Vendard sempoyongan. Beruntung salah satu dari tujuh kembar goblin mau mengantarkan walaupun hanya sampai di depan pintu. Vendard menempelkan kartu ID-nya di kenop pintu lalu masuk.
Kepala Sekolah memberitahukan bahwa mereka bebas melakukan apa saja di hari kedatangan. Namun, Claryn dan Lily lebih memilih mengikuti Vendard karena khawatir pada laki-laki bertubuh tinggi berisi yang kuat itu.
Setelah dirasa keadaan sudah pulih di hari kedua, Kepala Sekolah meminta semuanya untuk berkumpul di aula Maple Hostelry dan berbaris sesuai tim. Kepala Sekolah memberikan arahan dan kembali mengatakan bahwa mereka akan menaiki caterpilartrans, lagi. Jelas saja semuanya menolak. Sampai akhirnya, Kepala Sekolah melakukan voting. Setiap siswa mendapatkan buku panduan yang diberikan oleh goblin. Mereka hanya perlu menceklis dan otomatis langsung terdata.
Lily berdeham ke arah Vendard. Claryn tahu apa maksudnya sehingga ia berkata, "Kau pasti ketagihan untuk menaiki kereta ulat lagi, kan?" Ia menyenggol lengan Vendard. "Benar ‘kan, Vendard?"
Lagi-lagi Vendard menyatukan alis. Lily dan Claryn kompak menahan tawa. Ia ingin sekali berubah menjadi serigala lalu mengeluarkan cakar tajam untuk melukai tubuh keduanya, tetapi Mr. Samael menyuruh untuk segera memberikan voting. Hasilnya cukup baik. Tidak ada yang mau menaiki caterpilartrans lagi. Kepala Sekolah pun berakhir memilih skyship.
Skyship tiba dan mendarat secara perlahan. Semua siswa masuk dengan bersemangat. Namun, tidak dengan Vendard. Ia tidak henti-hentinya menatap skyship.
"Dia tidak akan membuat lambungmu melilit lagi, Vendard yang kuat," ejek Claryn.
"Tenang saja, lambungmu akan aman!" imbuh Lily.
Tubuh Vendard seperti dikunci, termasuk alisnya. Tidak ada sepatah kata yang keluar.
"Sekarang aku akan duduk di sampingmu. Tenang saja." Mr. Samael mendekat ke arah Vendard.
Claryn menggoda, “Tenang saja.”
Cukup lama membujuk Vendard, membuat Tim Empat masuk paling akhir. Di saat skyship itu bertamasya, suara Wakil Kepala Sekolah, Miss Leonia, terdengar jelas sampai membuat semuanya kaget dan refleks menutup telinga. Percuma saja, itu tidak akan berpengaruh apa pun karena suara Miss Leonia terus menerobos indra pendengaran, bahkan Kepala Sekolah saja mendapatkan omelan darinya. Miss Leonia terus mengomel, mempermasalahkan skyship yang katanya menggunakan biaya besar. Skyship tiba di Invisible Gate dan semua tim berangkat menuju rute portal masing-masing.
Sebelum memasuki portal, Mr. Samael memerintah, "Tolong periksa kembali barang bawaan kalian!"
Ketiga muridnya mengangguk sesudah mengecek tas. Claryn saling pandang dengan Lily.
"Semuanya sudah kami bawa, Sir!" Vendard menjawab, mewakili tim.
"Baiklah, semoga kita berhasil mendapatkannya," pungkas Mr. Samael.
Mr. Samael berjalan sedikit ke depan untuk membuka portal. Sebuah cahaya tampak memancar membawa udara dingin. Beruntung seragam jubah yang mereka gunakan kini berubah menjadi mantel bulu oranye tebal dan untuk para gadis dilengkapi dengan stoking meskipun tetap memakai rok. Lily sedikit lega dan terbantu karena ia dari ras Manusia. Berbeda hal dengan Mr. Samael dan Claryn yang merupakan ras Fallen Angels sehingga mereka bisa mengubah sayap menjadi jubah mantel. Terakhir Vendard yang seekor werewolf, bulu serigala yang begitu lebat akan tetap membuat tubuhnya hangat.
"Sebelumnya kita akan mengunjungi Keluarga Ignacio dan Keluarga Zerpentine. Silakan kalian masuk terlebih dahulu," tutur Mr. Samael.
Ketiga muridnya mengangguk dan mulai memasuki portal satu per satu. Portal itu ditutup Mr. Samael setelah ia masuk terakhir. Cahaya portal meredup lalu menghilang saat mereka sampai di depan kastil.
Setelah mendapatkan surat izin, mereka tiba di The Helado Gate—gerbang yang ada di City of Frost. Mr. Samael memberikan surat izin kepada penjaga. Mereka pun diperbolehkan masuk.
Patung Seraphiel, lord pertama Frozen Ocean, menyambut. Tim Empat menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. Sepertinya Lord Dazzle—lord yang memerintah Frozen Ocean setelah Seraphiel—sudah mengetahui kedatangan mereka. Lord Dazzle menyambut dengan hangat dan membawa mereka menuju ruang penginapan. Chrisella Castle, tempat tinggal Lord Dazzle, kastil yang seluruhnya terbuat dari kristal es tampak megah dengan empat kubah berukuran besar dan terdapat sebuah tangga di antara dua kubah sebelum menuju pintu utama. Setelah pintu utama dibuka, tampaklah kastil tersebut dihiasi dengan snowflake yang bersinar.
"Saya hanya bisa memberikan ruang penginapan ini. Mari, saya antarkan kalian masuk," kata Lord Dazzle.
Tim Empat tersenyum ramah padanya. Mereka telah sampai di dalam ruangan. Ada dua kamar di kedua sisi dengan ruang tengah yang cukup luas. Ada juga ruangan kecil multifungsi. Lord Dazzle mengajak Mr. Samael sedikit menjauh dari ketiga muridnya.
Claryn melepas tas punggung karena merasa pegal. Ada yang berhasil mencuri perhatian mereka, yakni sebuah kotak di atas meja ruang tengah. Vendard hampir saja bergerak menuju ranjang yang dipilihnya.
"Berhenti dan jangan kau teruskan langkahmu, Vendard!" larang Claryn.
Vendard menurut meskipun posisi tubuhnya mengarah ke ruangan kecil. Ia justru balik bertanya, "Apa aku tidak boleh beristirahat, Clar?"
"Tunggu! Ada sebuah kotak di meja itu," sela Lily.
Vendard kembali menyejajarkan diri dengan Claryn dan Lily. "Aku tahu."
"Tapi, aku sedikit ragu dengan keberadaan kotak itu," komentar Claryn.
"Clar, apa kau akan meragukan semuanya? Itu hanya sebuah kotak dan kau akan meragukannya? Sama seperti kau yang meragukan Lily?" Vendard mencerocos dengan nada sinis.