Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The Half-Blood Angel



The Half-Blood Angel


MEVEL MENANTAP WOLFE dengan alis terangkat. “Aku serius.”


“Mevelion, maksudku … Mevel,” Nastradamus meralat, “sudah menunjukkan surat pengantar dari sekolah.” Ia menatap anak laki-laki itu. Memang sulit dipercaya, tetapi itu benar.


“Kau? Kau guru kami?” Wolfe berjongkok di depan Mevel.


“Lebih tepatnya, aku pembimbing. Kalian bisa memanggilku Mevel.”


“Wajahmu tidak asing. Apa kau anak Kepala Sekolah?”


“Apa?” Mevel mengernyit.


“Mungkin adiknya,” sahut Nastradamus.


“Dia pakai jubah bertudung kucing yang mirip dengan Kepala Sekolah.” Wolfe membalik tubuh Mevel hingga ia mengahadap Thann dan Nastradamus. “Lihat!”


Nastradamus bergumam, “Memang benar.”


“Hei, Dik! Tolong katakan pada Kepala Sekolah bahwa kami ingin pembimbing sungguhan.”


Mevel menyentak tubuhnya dari genggaman Wolfe. “Aku tidak ada waktu untuk menuruti keluhanmu,” sahutnya dan berjalan mendekati portal Invisible Gate yang berbentuk seperti pintu-pintu dari batu.


“Wah, aku suka anak ini.” Ashlen tersenyum lebar.


“Hei! Kalau terlalu dekat dengan portal, nanti kau tersedot dan ditarik ke ruang angkasa!” Wolfe berlari mendekat.


“Kalian bisa memercayainya.” Nastradamus berkata. Ia berkali-kali menjilat bibir, seolah sedang menelan ucapan sendiri. “Aku awalnya juga tidak percaya dan kedengarannya aneh kalau sekelompok remaja diawasi seorang anak kecil.”


“Tapi, Mevel sendiri diminta oleh Kepala Sekolah langsung, kan? Sama seperti guru pembimbing yang lain. Jadi kurasa dia layak.”


“Kupikir juga begitu,” gumam Thann setuju.


Ashlen membuang napas. “Yah, seolah kita punya pilihan lain.”


“Hei! Anggota tim menyedihkan di sebelah sana! Adik ini bilang kita harus masuk ke portal, SEKARANG!” Wolfe berteriak dengan kedua tangan di sisi mulut. Ashlen tertawa ketika Mevel mendorong kaki Wolfe sampai masuk ke portal.


“Panggil aku Mevel!”


Invisible Gate memiliki lima gerbang dan hanya empat yang diaktifkan. Gerbang paling kiri berwarna hitam, seperti gumpalan awan gelap yang tak tertembus dengan pendar ungu bergulung-gulung seperti diaduk. Ashlen yakin itu gerbang menuju Malice Island. Tim Adniel beserta satu tim lainnya masuk ke sana tadi. Di sebelahnya ada gerbang berwarna biru langit yang berkilau perak. Angin dingin berembus, menerbangkan kepingan es tipis yang langsung meleleh. Gerbang menuju Frozen Ocean. Di sampingnya, ada gerbang berwarna cokelat keemasan seperti surai singa. Aroma matahari menguar dari dalam gerbang itu dan udara yang bertiup keluar bersuhu tinggi. Gerbang menuju Whispering Sand. Gerbang kedua dari kanan berwarna hijau daun, di dalamnya terdengar kepakan sayap seperti merpati, langkah, dan roda yang berputar diikuti lenguhan hewan. Itulah gerbang yang akan mereka masuki.


Ashlen melirik Mevel sebentar yang balas menatapnya tajam. Padahal ia kira Mevel akan minta ditemani masuk. Mendapat penolakan tak langsung itu, ia lantas melangkah ke dalam portal.


Lantai batu tempatnya berdiri di Invisible Gate berganti menjadi tanah berkerikil. Riuh percakapan terdengar di mana-mana, suara kelotak sepatu kuda, bunyi air yang disiram ke halaman, kain yang dikibaskan dari lantai tiga rumah susun, dan kepakan sayap malaikat yang melintas di atas mereka. Beragam ras berseliweran dengan rukun, mulai dari goblin dan kurcaci yang berwajah ramah-seram, para centaur dan istrinya, peri-peri yang saling bekejaran, elf yang rupawan, keturunan malaikat separuh manusia—nefilim—yang bertubuh semampai, hingga manusia biasa. Warmfill kaya akan ras, menjadi keunikan yang membedakan Winterwall dengan kerajaan lain.


“Miss Elafir marah-marah karena kapal terbang mahal itu sampai Nastradamus nyaris tuli dan kita hanya pergi beberapa meter dari penginapan?” keluh Wolfe sambil berjinjit. “Aku masih bisa melihat atapnya.” Ia menunjuk entah ke mana.


Nastradamus menahan tawa mendengar keluhan itu, sementara Thann berkata ‘awas’ pelan sambil menyeret tubuh kekar Wolfe dengan satu tangan, saat seorang malaikat mendarat di dekat mereka. Sepasang sayap putih mengepak sekali ketika kakinya menapak, sebelum kemudian mengatup, dan perlahan menjadi transparan.


Ashlen menatapnya sedikit iri.


“Sayang sekali kau tak punya skill keren seperti itu, ya.” Wolfe tahu-tahu sudah ada di sampingnya. Ashlen langsung menatap ke arah lain. “Sepasang sayap yang seharusnya dimiliki keturunan malaikat.” Ia menggeleng dramatis. “Menyedi—”


“Kau juga tidak punya sesuatu yang seharusnya dimiliki seluruh keluargamu, bukan?” Ashlen menatap Wolfe dengan sorot menantang. “Biar kuberitahu sesuatu. Ras kami terus berevolusi. Tidak adanya sayap adalah hal biasa.” Ia berbisik di depan wajah Wolfe. “Cacatku adalah hal yang lumrah.”


Wolfe menegang. Ia melayangkan tinju yang ditahan Mevel dengan tongkatnya. “Kau sedang mengetes apa aku benar-benar mengetahuinya, kan?”


“Diam, Ashlen!” Mevel membentak. Sedari tadi ia sengaja menunggu siapa yang cukup dewasa untuk menelan ego lebih dulu. Siapa yang akan berhenti dan melepas pancingan, membiarkan umpannya kabur dibawa mangsa. Jelas itu bukan Ashlen. Ia menatap mereka bergantian dengan alis hitam tertekuk. “Kalian akan menerima hukuman setimpal jika ini terulang lagi.”


Keduanya tahu itu adalah ancaman serius.


“Aku dapatkan kendaraan untuk kita.” Thann berucap dari atas. Sayap hitamnya mengatup lalu tak terlihat lagi ketika ia mendarat.


Ashlen baru tahu jika seniornya ini seorang keturunan malaikat. Sayap hitam menandakan malaikat dari Malice Island, tempat asalnya. Ia mendengkus, tidak ingin memedulikan itu sekarang.


Di dalam kereta itu terdapat dua bangku panjang yang saling berhadapan. Mevel dan Thann duduk bersama. Ashlen yang mau bergabung dihalangi tatapan sinis Mevel yang membuatnya terpaksa duduk di sebelah Nastradamus, bersebelahan dengan sepasang jendela bertirai tipis. Nastradamus di tengah-tengah, sementara Wolfe dekat pintu. Bunyi lecutan terdengar dan kereta itu meninggalkan tanah.


Ashlen mengintip ke bawah. Semua berubah menjadi petakan kecil seperti yang dilihatnya dari skyship. Kambing itu terus meninggi, entah sudah seberapa lama mereka di dalam sana. Mevel berbincang dengan Thann, Nastradamus dan Wolfe juga mengobrol. Ashlen hanya menatap ke luar jendela. Melihat indahnya pemandangan dari langit bukanlah sesuatu yang bisa selalu dinikmati malaikat tanpa sayap sepertinya.


Kereta melintasi daerah pemukiman di kaki bukit. Pemukiman itu dilindungi oleh tembok yang menjulang, rumah-rumah di dalamnya luas dan memiliki menara beratap jajar genjang, tiang-tiang besi yang seperti anak panah menghadap ke atas mengibarkan simbol kerajaan. Itu pasti tempat tinggal keluarga bangsawan Winterwall, City of Angels. Kawasan bangsawan menjaga kastil di puncak bukit juga dua pemukiman rakyat di dekatnya.


“Kita akan ke kastil?” Ucapan Ashlen yang tiba-tiba itu membuat seisi kereta terdiam.


“Kau tidak mendengarkanku?” Mevel mendelik.


“Uh, tidak.” Ashlen mengernyit tanpa berdosa. “Untuk apa kita ke sana?”


“Surat pengantar sekolah memang bisa digunakan untuk menyambangi kerajaan di Winterland,” Thann menyahut, “tetapi untuk menelusuri wilayah ini secara menyeluruh, perlu izin khusus dari Yang Mulia Raja.”


“Oh.”


“Selain itu, hanya Yang Mulia Raja pula yang bisa memberi petunjuk mengenai keberadaan benda tersebut,” sambung Thann. Ashlen hanya mengangguk-angguk.


Kereta mendarat tak lama setelahnya. Usai Mevel membayar, kendaraan itu pun terbang pergi.


Winterwall memiliki dua kastil yang letaknya terpisah. Kastil pertama dikelilingi tembok tinggi berwarna putih gading, sama dengan dinding istana di dalamnya. Di kedua sisi gerbang terdapat patung malaikat bersayap yang menggenggam tombak, pedang di pinggang, dan busur di bahu; menghadap ke luar gerbang. Konon, kedua patung ini hanya bisa digerakkan menuruti perintah King of Fallen Angels, Raja Winterwall.


Ashlen menyilangkan kaki kiri ke belakang, tangan kiri di balik punggung, dan yang kanan menyentuh letak jantung. Ia membungkuk hormat pada kedua patung itu. Thann melakukan hal yang sama. Keduanya kompak seperti boneka.


Para pengawal berbaju besi dan bersenjatakan pedang mendarat di depan mereka tanpa repot-repot menyembunyikan sayap. Seseorang selangkah maju untuk menerima gulungan dari Mevel. Pimpinan dengan misai tipis itu menatap Mevel keheranan. Setelah membaca surat dari sekolah, wajahnya yang garang pun berseri-seri.


“Yang Mulia Raja sudah menunggu kalian,” katanya, lantas memberikan isyarat pada anak buahnya yang melihat dari atas dinding. Pintu gerbang pun dibuka. “Masuklah!”


Mereka diantar sampai depan pintu masuk kastil yang terbuka lebar. Seorang pria berpakaian rapi menanyakan siapa pembimbing dari Maple Academy. Mevel mengangkat tangan seperti ingin menjawab pertanyaan. Kanselir itu menatapnya bingung. Setelah mengeluarkan kertas ajaibnya—surat pengantar dari sekolah—barulah anak itu dipersilakan menemui Raja Habriel.


Tim hendak mengikuti, tetapi kanselir Raja berkata bahwa hanya Mevel yang dibutuhkan. Dengan sopan, ia meminta pengawal untuk mengantarkan seluruh anggota tim ke perpustakaan selagi menunggu.


 “Bukankah tempat ini luar biasa? Buku-buku langka ini.” Nastradamus menyalin isinya ke dalam buku panduan yang diberikan staf Maple Hostelry.


Wolfe mendengkus. “Apa yang mereka bicarakan?”


“Siapa?”


Ia menunjuk beranda perpustakaan dengan dagu, ke arah punggung Thann dan Ashlen.


“Entah,” balas Nastradamus tak acuh sambil menulis. “Aku juga tidak penasaran dengan hubungan antara kau dan Ashlen yang sangat akrab itu.”


Wolfe mengerang. Ia meremas bantal sofa. “Anak itu tahu sesuatu!”


“Mevel?”


“Ashlen! Dia tahu sesuatu yang harusnya tidak diketahui,”  Wolfe melempar bantal, “padahal kukira bisa membalasnya tadi!”


“Menurutku, Ashlen darah campuran yang kurang beruntung. Omong-omong, ia memang terkenal bisa mengulik informasi apa saja selama dibayar atau mood-nya bagus.”


“Tunggu-tunggu, balik ke soal darah campuran itu. Maksudmu, dia bukan malaikat murni?” Wolfe tersenyum licik.


“Semacam itulah. Ras Malaikat berdarah campuran sudah menjamur.”


Senyum Wolfe menghilang. “Persilangan ras, huh? Dengan ras apa anak ini berasal?”


“Siren.”


Sebelum Wolfe sempat bertanya, pintu perpustakaan terbuka. Mevel berjalan masuk dan memerintahkan para pengawal untuk keluar dengan kibasan tangan. Setelah ruangan sepi, Tim Tujuh mengelilingi meja tempat Nastradamus menulis tadi.


“Yang Mulia Raja memberi kita tantangan.”