
THE FIRST
TRISTIAN MELAMBAIKAN TANGAN ke arah seluruh temannya yang sudah berada di Invisible Gate. Ia menggoyangkan botol sebesar genggaman tangan—berisi ramuan dari akar tumbuhan kalear langka untuk menambah energy—seolah sedang memamerkan hartanya yang paling berharga. Ia berencana untuk menggunakan kemampuan menghilang dan meminum ramuan itu memperpanjang energinya agar durasi menghilang bertahan lebih lama. Kemudian, ia berlari kembali ke asrama dan bersantai.
"Sampai jumpa satu minggu lagi, teman-teman!" serunya dengan girang.
Mr. Jonathan bisa menebak isi botol itu. Ia segera meminta para penjaga portal untuk mencegah ulah Tristian. Skylar, mutan besar dengan kulit setebal badak itu segera menyeret Tristian sebelum membuka botol lalu melemparnya ke Invisible Gate melewati portal.
Tristian tersungkur di depan rombongan fieldtrip, membuat beberapa siswa melangkah mundur agar tak tertimpa tubuhnya. Tanpa menghiraukan Tristian yang mengerang kesakitan, seluruh rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju pohon paling besar, menunggu pintu rootlift terbuka. Sementara itu, Mr. Jonathan segera menarik kerah belakang baju Tristian agar siswanya lekas bangkit dan tak tertinggal rombongan.
Pintu rootlift pun terbuka. Lift di dalam pohon besar itu bisa menampung seluruh rombongan meski agak sesak. Tim Lima yang beranggotakan Mikalea dari ras Fallen Angel, Nathan dari ras Demigod, Tristian dari ras Penyihir, Elleanor dari ras Manusia, dan Mr. Jonathan guru Zoologi yang ditugaskan sebagai pembimbing, berada di urutan masuk lift paling belakang. Mereka mendapat posisi tepat depan pintu.
Tanpa sadar, seperti ada seseorang yang menarik pijakan kaki Mikalea. Laki-laki dengan rambut perak panjang digerai itu menoleh ke belakang. Mata abu gelapnya menemukan gadis dengan poni yang berjajar rapi menutupi dahi. Merlin sedang merunduk dengan kaki kirinya yang terlihat kesakitan. Mikalea sadar sedari tadi menginjak kaki gadis itu.
"Maaf, kakimu baik-baik saja, kan?" tanya Mikalea yang tak mendapat respons. Hanya terdengar gumaman tak jelas. Ia lekas berbalik begitu menyadari korbannya adalah Merlin, tak ingin terlibat masalah meski keduanya tak saling mengenal.
Sejak di loket 22, Tristian menggerutu karena rombongan Maple Academy mendatangi loket caterpilartrans yang paling sepi dari semua loket. Nathan pun terpengaruh dengan ocehan Tristian. Sepanjang perjalanan keduanya terus memikirkan kendaraan macam apa caterpilartrans itu.
Sejauh ini ruangan caterpilartrans terlihat lebih luas dari yang dibayangkan Nathan. Tempat duduk, lantai, dan dinding pun terasa kenyal. Seketika sabuk pengaman terpasang serentak setelah seluruh siswa duduk di kursinya. Caterpilartrans berkedut begitu terdengar peluit berbunyi tiga kali lalu mulai bergerak perlahan.
"Kenapa kita harus pakai sabuk pengaman kalau jalannya seperti siput begini?" komentar Tristian.
"Kau hanya belum tahu saja," sahut Elleanor yang duduk di depannya.
"Tentang apa?" tanya Nathan yang duduk di sebelah Elleanor, penasaran.
Caterpilartrans menjawab rasa penasaran Tristian. Jeritan mulai bersahutan disertai lampu yang perlahan meredup dan menjadi remang-remang. Terasa seperti jatuh di dalam jurang lalu ada sesuatu yang menarik kepala caterpilartrans ke atas dan berputar-putar.
Tristian merasa isi perutnya terkocok. Ia lepas kendali. Tepat saat ulat itu seolah sedang terjun bebas, isi lambung lolos dari mulutnya. Cairan kuning encer sedikit berlendir itu membasahi seluruh tubuh Nathan dan meruntuhkan pertahanannya. Isi perut laki-laki itu turut lolos begitu aroma menjijikan tercium.
Bangunan dua lantai bergaya medieval menyambut seluruh pasang mata siswa yang menghambur keluar dari caterpilartrans. Lambang Maple Academy terpampang jelas di gerbang dengan nama Maple Hostelry, menandakan bangunan ini milik Maple Academy. Mr. Jonathan menjelaskan jika bangunan ini adalah pemberian Raja Habriel, tetapi keempat siswanya tidak lagi berdaya untuk menyimak.
Staf Maple Hostelry menyambut rombongan. Mikalea pikir tubuhnya melemah setelah naik caterpilartrans sampai melihat staf goblin yang menyambut mereka berbayang menjadi tujuh. Namun, ternyata ketujuhnya memperkenalkan diri dengan nama berbeda dan memiliki wajah yang sama. Ah, ternyata Mikalea baik-baik saja.
Nathan langsung menuju kamar mandi ruangan untuk membersihkan diri begitu makhluk hijau setinggi lutut bernama Sol dengan bintik lima di dahinya mengantar tim ke ruangan. Sementara itu, Mikalea dan Mr. Jonathan terlihat sedang mendiskusikan hal yang serius, sebelum akhirnya semua berpencar melihat-lihat Maple Hostelry.
Begitu ruangan kosong, Mikalea mengepakkan sayap abu lebarnya. Ia bercermin di satu dinding lalu menyembunyikan sayapnya lagi. Diulang berkali-kali sambil menimbang penampilan mana yang lebih baik. Tampil dengan sayap atau tanpa sayap?
"Hormat saya, Lord Raialtan Dabrizield Mal'Ara." Mikaela membungkukkan tubuh. Kemudian, menggeleng dan mencoba lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya ia mendesah frustrasi tanpa menyadari Tristian yang sedari tadi memperhatikan dari belakang.
Tristian perlahan menampakan diri sembari menertawakan laki-laki berambut perak yang sedang bercermin. "Santai saja, kau akan bisa memberi salam dengan alami."
Mikalea menatap Tristian yang berada di belakangnya lewat cermin. "Ini bukan sekadar salam asal kau tahu!"
"Aku tidak tahu," sahut Tristian, mengangkat bahu.
Mikalea tak melanjutkan. Ia berbalik menghampiri Tristian yang merebahkan tubuh dengan santai di dekat jendela. "Kenapa kau tidak ingin ikut fieldtrip ini?"
Tristian mengubah posisi duduknya, bersila. "Aku tidak masalah jika satu tim denganmu, tapi Mr. Jonathan? Kau tau dia sama sekali tidak melakukan pekerjaan dengan benar. Saat pelajaran menaklukan naga, dia membiarkan kita dalam bahaya dan membuat kita menyelesaikan masalah sendiri. Dia sama sekali tak membantu!" keluhnya menggebu.
Belum sempat Mikalea menjawab, Tristian menambahkan, "Lagi pula kenapa kegiatan ini harus mengajak anak dari ras Manusia?" Matanya melirik ke arah pintu, menyadari Nathan baru saja memutar panel pintu dan kembali menutup begitu sepasang mata biru itu bertumbukan dengan mata gelapnya.
Nathan lekas menutup kembali pintu begitu ia menemukan Tristian dan Mikalea sedang mengobrol di ruang Tim Lima, meski dirinya juga bagian dari tim. Terlalu canggung baginya. Ia tidak tahu kalimat pembuka yang harus dikatakan untuk bergabung. Tubuhnya gemetaran untuk kembali membuka pintu. Pikirannya dipenuhi ketakutan jika kedatangannya akan membuat Tristian sinis, atau Mikalea tak menganggap dan mengabaikan, atau malah keduanya bubar dan tak melanjutkan obrolan. Lagi pula Tristian tak menyapa atau mengajak bergabung meski memergokinya tadi.
"Elle?"
Terdengar suara berat dari belakang Nathan. Itu bukan suara Tristian atau Mikalea. Ia pun menoleh. Sosok bertubuh tinggi dan kekar berdiri di belakangnya, Mr. Jonathan. Bukan. Bisa jadi dia Mikalea. Walau Mikalea bukan tipe orang yang suka menggunakan kemampuan menduplikasi wujud seseorang secara sembarangan, tetapi bisa saja ia menjadi jail setelah bergaul dengan Tristian. Elleanor yang menoleh ke arah mereka pun berpamitan pada Adniel.
Nathan masih bergeming sebelum akhirnya guru Zoologi itu merangkul dan mengajaknya ke ruangan Tim Lima. Nathan berusaha melepaskan rangkulan Mr. Jonathan. Ia yakin jika orang ini adalah Mikalea yang sedang menyamar, sementara Elleanor mengekor di belakang mereka. Begitu melihat Mikalea dan Tristian masih berada di dalam ruang Tim Lima, ia berhenti memberontak.
"Nah, ayo, kita berkumpul! Saya mau kita jadi kelompok yang kompak," ucap Mr. Jonathan dengan antusias, turut lesehan membentuk lingkaran.
Kelimanya diam, saling pandang. Situasi yang benar-benar canggung. Mr. Jonathan mengeluarkan peta Whispering Sand. Selembar kertas tersebut mengeluarkan versi mini dari wilayah berpasir itu.
"Apa ini?" tanya Tristian heran melihat ada pasir yang melayang di atas peta.
Mr. Jonathan mengangguk lalu melirik Mikalea, isyarat agar Mikalea menjelaskan.
Mikalea menatap keempat temannya. "Langit Whispering Sand hanyalah gurun pasir jika di lihat dari sini, Winterwall. Kita harus menyelami pasir ini lalu akan mendarat di sini," jelasnya sembari menunjuk bagian Anxo-megapolis di peta yang diperbesar.
Tristian menatap takjub detail peta itu. Tangannya mencoba menyentuh peta yang terlihat seperti miniatur seluruh Winterwall lengkap dengan berbagai aktivitas di udara dan darat, tetapi indra perabanya tak merasakan apa pun. Bangunan Maple Hostelry pun terlihat jelas di peta. Laki-laki dengan pakaian serba hitam tanpa mengenakan jubah oranye itu pun membuka jendela kamar. Mata gelapnya mengedar lalu kembali memperhatikan miniatur di peta. Ia merapal mantra sembari mengacungkan tongkat sihir ke langit. Kembang api berwarna-warni pun menghiasi langit di luar dan dalam miniatur peta.
"Keren!" gumam Tristian.
"Jadi, bagaimana, Tristian? Kau masih tak tertarik ikut ke Whispering Sand?" tanya Mr. Jonathan yang sedang melihat mata Tristian berbinar menatap detail peta.
Tristian melirik gurunya, sedikit salah tingkah. "Sebenarnya aku terpesona dengan petanya,” jawabnya sembari kembali duduk bersila.
Empat pasang mata itu masih tetap menodong jawaban Tristian. “Walaupun aku tidak mau, bukankah aku tetap harus ikut?" imbuhnya sembari menatap satu per satu temannya. Tatapan yang mampu membuat Nathan merasa senang. Rasanya ia seperti benar-benar bagian dari tim.
"Baiklah, ayo, kita bersiap! Besok pagi kita berangkat," ucap Mr. Jonathan.
Seluruh siswa berkumpul di aula Hostelry dengan riuh karena sedang diadakan perbincangan serius. Kemudian, goblin hijau dengan bintik dua membagikan buku panduan kepada seluruh peserta.
Mikalea tak kebagian saat pembagian di barisannya. "Mr. Sol?" panggilnya berkali-kali dengan suara yang makin keras, tetapi tak ada respons.
Ashlen yang duduk di depannya pun menoleh. "Kale, lihat di dahinya ada titik dua. Dia Mr. Re," jelasnya lirih.
Seketika Mr. Re yang sedang membagikan buku panduan di barisan paling depan langsung menyahut. Mikalea takjub dengan kemampuan Ashlen mengenali para staf dan kemampuan staf yang bisa mendengar suara lirih saat namanya disebut, padahal sebelumnya ia berlagak tuli saat dipanggil dengan nama Mr. Sol.
Tiba-tiba terdengar suara. "Siapa pun yang menolak menaiki caterpilartrans, silakan vote di buku panduan kalian!"
Perkamen di depan pun segera memunculkan hasil vote, artinya Kepala Sekolah akan mengganti kendaraan caterpilartrans dengan skyship. Keputusan yang disambut dengan sorak gembira.
Saat seluruh siswa tengah menikmati pemandangan Kota Winterwall dari dek skyship, tiba-tiba terdengar suara bernada tinggi Miss Leonita Elafir yang memekakkan seluruh pasang telinga. Ia mempermasalahkan anggaran fieldtrip yang bertambah. Makin menutup telinga, makin menggema suara Miss Leonita Elafir di telinga mereka. Meski begitu, perjalanan tetap bisa dinikmati begitu amarah wakil kepala sekolah itu berhasil diredakan. Perjalanan menuju wilayah masing-masing pun lebih menyenangkan dibanding menggunakan caterpilartrans.
“Langit di Whispering Sand berwarna apa? Ada awan seperti ini juga?” tanya Tristian sembari bersandar di pagar skyship.
“Aku tidak ingin mematahkan ekspektasimu, tetapi jika kita memasuki wilayah Whispering Sand saja harus dengan menyelami pasir, itu artinya?” jawab Mikalea. Ia tak mau memberikan pernyataan.
Tristian memelotot, khawatir jika yang ia pikirkan benar. Ia bergantian menatap Elleanor dan Nathan, meminta jawaban yang bisa mematahkan jawaban konyol di pikirannya. Langitnya pasir? Tidak ada langit biru? Tidak ada awan? Keduanya mengangkat bahu lalu menodong jawaban Mikalea. Namun, Mikalea tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku memiliki firasat buruk,” gumam Tristian sembari menatap jauh, menembus awan.