Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The Siren’s Song



The Siren’s Song


ASHLEN MENGERNYIT DENGAN kepala dimiringkan. “Excuse me?” Mevel jelas berkata, ‘kau harus bisa’ bukan ‘kau harus coba’ atau ‘cobalah dulu’. Anak ini tidak punya hati!


Awalnya Ashlen sempat ragu kekuatannya bisa dimanfaatkan apabila tidak seorang pun mengerti ucapannya. Di luar dugaan, itu masih bekerja. Percaya diri adalah salah satu hal yang ia kenakan seperti pakaian untuk menghadapi segala situasi. Namun, perintah tadi membuatnya sekejap merasa sangsi dan sebelum sempat mengajukan protes, Mevel melempar tatapan mengintimidasi yang seolah berkata, ‘lakukan atau kuubah kau jadi ogre!’


Jadi di sinilah sekarang Tim Tujuh berada. Mereka sudah memasuki Fallen Forest dan tengah bersembunyi di balik semak-semak setinggi pinggang yang tumbuh di antara pohon-pohon menjulang. Sedari mentari masih merangkak menuju langit, kekacauan di perkemahan telah dibereskan dan perjalanan pun dilanjutkan sembari mengisi perut. Setelah melintasi tempat semalam, mereka sampai juga di sarang rusa syrenian.


Makhluk tersebut tengah duduk sambil menjilati bulunya di bawah sinar mentari yang masuk dari celah-celah dedaunan. Beberapa burung hinggap di tanduknya. Rusa tersebut terlihat seperti sketsa yang telah dirapikan dan langsung diwarnai.


Thann beringsut mendekat dan berbisik, “Kau butuh musik pengiring?”


“Kau bisa melakukannya?”


Thann mengangkat dua buah dahan di tangannya. Ia menunjuk tempurung sisa buah mil. “Aku cukup ahli memainkan banyak alat musik. Ini hanya … sedikit berbeda.”


“Kalau begitu bagus!”


“Memangnya kau tidak bisa bilang, ‘tidur!’ begitu saja?”


Ashlen menggeleng. “Pikiran hewan bekerja dengan cara yang lebih membingungkan. Jadi, usaha yang harus dilakukan pun sedikit berbeda. Beberapa putri dalam animasi juga bernyanyi supaya hewan-hewan mau membantunya.” Ia mengangkat bahu. “Jadi … aku juga akan mencobanya.”


Ashlen memandang ke depan. Di seberang rusa tersebut, Nastradamus dan Wolfe menyembunyikan diri di balik batang-batang pohon. Keduanya bertugas mengantisipasi kemungkinan makhluk itu kabur. Berdeham, ia menyentuh leher sebentar. “Aku tidak menyarankan kalian terlalu mendengarnya.” Ia berkata sambil memberi gestur menyumbat kuping dengan jari.


“Pastikan kau berhasil, Ashlen,” pesan Mevel. Anak itu duduk di atas rumput dengan pandangan fokus ke arah si rusa, siap mendekat untuk menyegel hewan tersebut begitu ada celah.


Thann mulai mengetuk-ngetukkan dahannya seperti stik drum di atas kulit buah mil yang sekeras kelapa. Melodinya memang tidak karuan, tetapi masih enak didengar. Malaikat bangsawan itu manggut-manggut terbawa suasana dan semenit setelah memainkan musik ala kadarnya, ia sudah dikerumuni hewan-hewan liar yang merasa tertarik.


Ashlen memejam, melodi lembut mengalun melewati gendang telinganya. Itu bukan musik terindah yang pernah didengar, tetapi alunan nadanya begitu nyaman untuk disimak. Ketika hujan turun, rintiknya juga tidak jatuh beraturan. Namun, ribuan orang menyukai suaranya. Debur ombak juga seperti itu, desau angin, kicauan burung, bunyi pasir yang saling bergesekan, dengung dalam cangkang kerang. Ketidakteraturan suaranya justru terlalu sayang untuk dilewatkan.


“By evening’s light, by night’s sweet dew, and witch’s rue.” Suara Ashlen sangatlah jernih, begitu lepas, menenangkan, dan menyihir. “By this candle, I do sleep, hidden from the day, in the night so deep.”


Sewaktu Ashlen kecil, ia sadar bahwa dirinya merupakan keturunan siren setelah mendengar dirinya bernyanyi di depan cermin. Ia langsung mengerti bagaimana sebuah kapal mampu dibuat tenggelam ketika seluruh awaknya terhipnotis hanya dengan sebuah nyanyian. Butuh waktu sampai ia bisa mengendalikan anugerahnya dan tidak menjadi pedang bermata ganda.


“As the candle flame dies, please erase today cruel memories; these thoughts from heart, head, and soul. O, Lady Moon, guide my dreams.”


Untunglah Mevel sudah memberi seluruh rekannya mantra anti-kantuk, jadi mereka tidak langsung tertidur di baris pertama lagu. Alih-alih terjaga dengan mata lebar, harus diakui efeknya makin berkurang seiring nyanyian tersebut berlanjut. Ia melihat Thann menggigit bibir bawahnya, sedangkan Nastradamus dan Wolfe terantuk kepala masing-masing berulang kali. Beberapa langkah di depannya, rusa syrenian incaran mereka sudah meletakkan kepala di atas tanah dengan mata terpejam. Mevel mengendap maju.


“Goddess above, Queen of the skies. Please help me, in your healing sleep. Relax my body and let my mind free.” Suara Ashlen adalah bentuk sempurna nyanyian malaikat yang indah-menenangkan dengan siren memikat-menyihir. “As I close my eyes, allow me to wake in the warmth of the sun. Please, guide my spirit flight to the true dreams.”


“Baiklah-baiklah, cukup, Ashlen! Sudah selesai.” Mevel bertepuk tangan keras-keras sampai Ashlen terbelalak.


“Oh, sudah? Kau mendapatkannya?”


Anak itu mengangkat setumpuk kertas penuh tulisan. Isinya menerangkan tentang rusa syrenian disertai ilustrasi anatomi tubuh hewan tersebut di sudut kanan atas. “Bekerja jauh lebih baik dari dugaan. Hewan ini bahkan tak berkutik.”


“Oh, bagus!” Ashlen mengangguk gembira. Ternyata suaranya tidak seburuk yang ia pikir. Keturunan siren itu menatap sekeliling. “Wah, sepertinya aku sudah menciptakan malam kedua untuk hewan-hewan malang ini.” Ia menendang pelan tubuh seekor kelinci gendut bersayap.


“Bangunkan mereka!” titah Mevel. Kertas di tangannya sudah menghilang.


Ashlen memberi hormat dengan raut jail. Ia berjongkok di sebelah seniornya yang mengantuk, mencengkeram bahunya, dan mengguncang keras-keras. “BANGUN! BANGUN! ATAU KALIAN JADI OGRE!” Tidak ada lagi suara angelic pengantar tidur yang mengalun lebih indah dari kotak musik mana pun. Hanya ada bunyi jam weker rusak disertai guncangan gempa bagi Thann.


“Aku tidak tidur.” Suara Thann parau, sambil menjauhkan wajah Ashlen dari telinganya. “Aku tidak …,” ia menguap, “belum, tidur.”


Ashlen tertawa kecil. “Permainan yang bagus,” pujinya.


(thelostbeasts)“Jadi, kita tahu kalau hewan bersayap itu sama sekali tidak terlihat di kawasan Fallen Forest, baik darat maupun udara.” Mevel kembali melakukan evaluasi untuk penangkapan satwa berikutnya. Ia menatap anggota tim dengan bergantian. “Mari asumsikan kalau dugaan Thann di awal hewan itu ada di Toward of Angels adalah benar.”


“Tempat apa itu?” Wolfe mengernyit.


“Wah, Ashlen!” Wolfe merangkul bahu kawannya sok prihatin. “Sayang sekali, kau tidak punya kesempatan kembali ke surga.”


“Benar.” Ashlen mengangguk disertai senyum sedih. Sesaat Wolfe hampir minta maaf. “Aku akan menemuimu di neraka.”


“Heh!”


Nastradamus menyelip di antara mereka sebelum Mevel turun tangan. “Bagaimana dengan si Tinta dan kelompok itu?”


“Mereka akan muncul lagi.” Mevel menurunkan tongkatnya yang sudah terangkat. “Itu pasti.”


“Bagaimana jika tidak?” Nastradamus menaikkan alis. “Mungkin saja mereka sudah melarikan diri dari Winterwall sekarang.”


“Ah, tidak mungkin. Mereka muncul dua kali di depan kita. Kalau sejak awal berniat kabur, biarkan saja seorang teman tertangkap daripada seluruh kelompok dikorbankan.” Ashlen membantah.


“Mungkin mereka hanya setia kawan,” timpal Wolfe.


Ashlen tertawa meledek. “Apa kau akan kembali ke dalam jebakan untuk menolong temanmu?” Ia mendengkus geli. “Kalian mungkin akan mati dalam usahanya atau mati berdua setelahnya. Setia kawan adalah cara lain untuk mati.”


“Kau bicara begitu karena tidak punya kawan, kan? Kalau kau yang terjebak, tidak akan ada yang menolongmu.” Kawanan serigala terkenal akan loyalitasnya. Jadi karena itulah Wolfe berani mendebat.


Ashlen tersenyum lebar. “Yeah, aku juga tidak minta diselamatkan.”


“Wah, akrab sekali. Kalian ingin dikutuk Mevel lagi?” Sindiran Nastradamus membuat keduanya bungkam.


Mevel menggeleng tidak percaya. “Bisa-bisanya mereka.”


Thann mendecih. “Winterwall sedang dalam pengawasan penuh seluruh penjaga kerajaan. Keluar dari sini akan sama sulitnya dengan mencari jarum dalam jerami.”


Ashlen mengangguk setuju. “Mereka tidak lagi sekadar menginginkan sesuatu. Mereka ingin menyingkirkan kita.” Ia menunjuk dirinya dan Nastradamus bergantian sebagai contoh. “Bahkan memanfaatkan kaburnya Wolfe untuk menyerang secara terpisah. Percayalah, mereka akan muncul lagi.”


“Aku merasa dimanfaatkan.”


“Aku mengerti.”


“Kelompok itu hanya punya dua pilihan.” Mevel akhirnya kembali bersuara. Ia mengangkat jari telunjuk. “Pertama, menyerahkan diri ….” Ia menaikkan satu jari lagi. “Kedua, menghadapi kita.”


 Toward of Angels terletak di wilayah paling ujung Winterwall. Area ini luasnya berhektare-hektare dan berbatasan langsung dengan lautan. Di tempat ini, dibangun sebuah menara yang ketinggiannya tak terkira, seolah bangunan dari marmer putih tersebut terus saja menembus awan. Dikatakan bahwa menara tersebut memiliki puncak tak tersentuh yang bisa membawa para ras Malaikat di Bumi kembali ke surga. Menara ini dijadikan salah satu ajang lomba pada masa pengangkatan Raja Habriel. Ia bertanding dengan kakaknya—putra ratu yang tidak memenuhi kualifikasi bersayap emas—untuk mendapatkan takhta kerajaan. Dinding bangunan kuno ini diselimuti tumbuhan perdu. Tak ada pintu masuk, hanya jendela setinggi lima ratus meter dari tanah. Bagian bawah menara tersebut sudah terkikis, tetapi atasnya masih tampak kokoh.


“Menurutmu, kau bisa terbang dan menemukan satwa itu?” Mevel menurunkan tangannya dari atas alis.


Thann mendongak. “Kurasa,” balasnya tidak yakin, “aku akan berusaha terbang setinggi mungkin. Jika tidak bisa, akan kupanggil saja.”


“Memanggilnya?”


Thann menggulung lengan kemeja kanannya, memperlihatkan tato berbentuk sekelompok kelelawar yang dirajah pada lengan atas. “Ukurannya sudah kukecilkan, tetapi ini peliharaanku, Nuskabadori. Mereka sangat membantu.”


Mevel mengangguk. “Baguslah kalau begitu.”


“Perasaanku tidak enak.” Nastradamus memeluk diri sendiri. Hawa panas dan dingin menghinggapi kulitnya, merayap seperti hewan berkaki banyak. Ia terpejam selama beberapa detik lantas terbelalak oleh gambaran di dalam kepalanya. “Mevel!”


Mevel menoleh, sedikit terkejut dengan teriakan itu. “Apa?” balasnya tak kalah kencang.


“Orang-orang itu.” Tubuh Nastradamus bergetar pelan, bola matanya mengecil, dan mulai berkeringat. “Me-mereka datang.” Suaranya rendah, matanya bergerak liar seperti binatang yang terpojok. Dengan raut jeri, ditatapnya area kosong yang berada lurus di depan mereka.


Keheningan mencekam melingkupi tempat itu. Beberapa detik setelahnya sebuah lingkaran hitam muncul dan sosok berjubah gelap keluar.