Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE WANDERING CAERULEA - FIFTH



FIFTH


"KALIAN HANYA ADA empat kepala," ucap petugas resepsionis di balik meja kayu megahnya.


"Tris, ayolah!" ucap Mr. Jonathan, kesal. "Kale, kau urus Tristian!" Ia menyuruh Mikalea untuk keluar dengan gerakan kepala, bersandiwara seolah Mikalea akan menjemput Tristian yang masih berada di luar.


Lonceng pintu berbunyi begitu Mikalea membuka pintu keluar. Tak berapa lama, Tristian masuk dengan rambut hitam yang diikat dan gaya berjalan malas-malasan. Rasa percaya diri berlebihan yang mencolok. Elleanor yang melihatnya pun bergidik geli.


"Halo!" ucap Tristian begitu di depan meja resepsionis.


Petugas resepsionis pun memasang raut malas karena harus menyaksikan drama aneh ini. Mikalea yang menyamar menjadi Tristian tiba-tiba berubah menjadi menjadi wujud asli saat di depan meja resepsionis.


"Kemampuanmu bisa menduplikasi wujud orang, Nak? Sayangnya di tempat kau berdiri, itu adalah area yang menetralkan kemampuan—untuk mengantisipasi kalau-kalau pengikut Pangeran 4 Ras menyamar kemari. Suruh temanmu kemari jika sudah datang!" cerocosnya sembari menempelkan kartu identitas masing-masing dan meminta mereka menyebutkan mantra untuk membuka akses pembayaran.


Keempatnya menginap di penginapan dekat perkebunan sumaline di Aakhdartaal Sand tanpa menyadari bahwa salah satu dari mereka ada yang masih terjebak di kegelapan gurun gersang Ubudtaal Sand. Oleh karena mereka tak bisa memaksa Tristian untuk berdiri di area netral agar bisa terlihat lagi. Jadi selama ini mereka mengira laki-laki itu masih marah dan tetap ikut.


"Tapi, berapa jam lagi sisa waktu Tristian menggunakan kemampuan tak terlihatnya?" tanya Nathan penasaran.


"Aku pernah melihat botol yang sama seperti milik Tristian di jual di Waymart," jawab Elleanor.


"Ya, tentu saja dia pasti menghabiskan uang tabungannya di sana. Mana mungkin dia membuat ramuan itu sendiri," ledek Mikalea, berharap Tristian tersinggung dan menampakan diri.


"Jika ramuan itu yang paling mahal, itu berarti bisa menambah durasi kemampuan selama sehari penuh, bahkan Mr. Jonathan juga tidak bisa mengendus keberadaannya. Tapi, aku tidak bisa membedakan mana yang mahal mana yang murah," jelas Elleanor.


Mr. Jonathan menutup tirai kamar yang cukup luas untuk diisi lima kasur yang terpisah dengan meja samping di masing-masing ranjang. Ia mematikan lampu kecil di atas ranjang sembari berkata, "Kita istirahat sekarang. Besok pagi langsung kita lanjutkan. Perairannya dekat sini, bukan?"


Mikalea mengangguk.


Besoknya, mereka memulai perjalanan.


"Sebenarnya aku tidak yakin jika para nymphaea berada di sini," ucap Mikalea begitu tiba di Perairan Aakhdartaal Sand, di sepanjang tebing hijau berlumut yang tinggi. Lebih tepatnya, ini adalah wahana berendam bagi penduduk Sand.


Nathan takjub melihat derasnya air terjun di ujung sana, padahal tempat ini berada di tengah gurun pasir. Ia tak bisa menahan diri dan lekas melompat ke dalam air dengan riang. Elleanor mempersilakan Mikalea dan Mr. Jonathan. Namun, Mr. Jonathan menolak dan memilih berjaga di atas sembari mengelilingi mata air panas, dingin, dan hangat. Ketiganya sama-sama dipenuhi pengunjung. Riuh gelak tawa penduduk yang berlarian dan beterbangan dari atas tebing lalu menukik masuk ke air begitu sayapnya disembunyikan lagi. Elleanor menitipkan kacamatanya pada Mikalea lalu menenggelamkan kepala di dalam mata air dingin—mata air yang paling ramai dikunjungi karena cuaca terasa begitu panas di siang hari.


"Elle, aku tidak mau kau mati di sini." Mikalea meremas kerah baju belakang Elleanor. Ia siap menarik kapan saja jika dirasa Elleanor kehabisan napas.


Elleanor sendirian beranjak dari dalam air. Tak ada yang ia temukan di bagian sini selain kaki dan orang-orang yang berenang, termasuk Nathan yang menikmati guyuran air terjun di ujung sana. Belum sempat keduanya memanggil Nathan, laki-laki berambut pirang itu seolah lamat-lamat menghilang di balik air terjun. Keduanya saling tatap, bertanya-tanya itu tadi kemampuan atau ada sesuatu yang menarik Nathan? Keduanya menyusul Nathan menyeberangi air terjun yang begitu deras mengguyur tubuh. Ada terowongan kecil di baliknya. Namun, keduanya tak menemukan Nathan.


Mikalea panik. Ia lekas menenggelamkan diri mencari Nathan, tetapi bukankah Nathan bisa mengubah dirinya menjadi air? Sayangnya ia yakin Nathan tak mungkin bersikap konyol seperti anak ras Penyihir itu. Mikalea hanya melihat Elleanor yang sedang kesulitan berbicara dengan ikan, lebih tepatnya ia kesulitan bicara di dalam air.


Tak berapa lama terdengar suara Nathan yang menggema di bagian dalam terowongan. Mikalea tak melihat apa pun selain dinding berbatu tebing yang lembap. Namun, begitu ia menyelam ke dalam air, ada terowongan kecil yang bisa dilewati satu tubuh. Ia pun menuntun Elleanor untuk melewati terowongan itu.


"Elle? Kale?" panggil Nathan sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar yang pertama kali mereka lihat selama perjalanan ini.


Elleanor pun menghampiri Nathan, sementara Mikalea tertegun melihat perairan yang lebih luas dari yang di sebelah sana. Apalagi ia melihat nymphaea tumbuh subur. Mata abunya berkaca-kaca dengan senyum yang bercampur tetesan air mata. Ia mengangkat tubuh membumbung tinggi dengan sayap berbulu abu sembari memekik riang. "Yipppiii!"


"Kenapa dia?" tanya Nathan, heran.


Elleanor mengangkat bahu, tatapannya mengikuti arah terbang Mikalea. Laki-laki berambut putih panjang dengan sayap abu itu terbang ke arah keduanya. Kemudian, menarik sayapnya masuk ke punggung begitu ia masuk ke air. Ia mengecup seluruh wajah Nathan—begitu gemas—yang disambut Nathan dengan jijik.


"Kita menemukannya!" pekik Mikalea sembari menunjuk ke arah gerombolan nymphaea yang menguasai sebagian besar kolam tersembunyi ini.


"Baiklah, sekarang giliranku." Elleanor maju mendekati gerombolan nymphaea yang sebagian besar telah berbunga warna-warni.


"Apa katanya? Apa?" tanya Nathan begitu Elleanor terlihat selesai berkomunikasi.


"Mereka bilang tidak pernah ada jenis caerulea di gerombolan mereka. Tapi, bisa saja mereka berbohong. Mana mungkin mereka menunjukkannya dengan sukarela." Elleanor sangat yakin dengan prasangka baiknya.


Nathan yang tak mau melihat Mikalea bersalah lagi mengajukan diri. "Elle, aku mau mengancam mereka dengan pusaran air. Tolong kau yang bicara." Ia mulai menggerakkan tangan memutar, seolah gerakannya bisa memengaruhi kolam.


Air di kolam pun berputar. Perlahan air di wilayah para nymphaea mengering dan naik menutupi tebing. Elleanor tampak sibuk bernegosiasi meski akhirnya menggeleng.


"Bagaimana dengan ini? Apa kalian masih tetap tidak mau memberitahu?" tanya Nathan seolah nymphaea itu mengerti ucapannya. Ia mengubah air yang menutup tebing membentuk tombak air runcing dan siap menghujani para nymphaea.


Elleanor terkejut melihat tombak air runcing yang mengarah ke gerombolan ribuan nymphaea itu. Ia menatap Nathan yang diselimuti air dan memancarkan cahaya aura kebiruan. Ia menggeleng seolah tak setuju dengan Nathan, tetapi bibirnya terasa kelu.


"Nathan!" panggil Mikalea yang waswas jika Nathan melepaskan tombak itu. "Nathan, berhenti! Jangan!"


Nathan yang telah hanyut di alam bawah sadar mengabaikan suara keduanya. Laki-laki itu masih tidak bisa mengendalikan kemampuan, sedangkan kemampuannya menjadikan kenangan buruk di alam bawah sadarnya untuk mengendalikan. Itulah mengapa Nathan menjadi siswa yang rendah diri meski memiliki kemampuan hebat.


Mikalea mengepakkan sayap bulu abunya dan terbang ke arah para nymphaea. Sayap bulunya berubah menjadi tameng kuat dan direntangkan. Setiap helainya berubah menjadi pedang tajam yang kuat memayungi para nymphaea dari hujan tombak air. Namun, tiga sayap pedang yang patah itu membuat para nymphaea terkejut.


Tombak air yang menghujani sayap pedang Mikalea menimbulkan suara aneh yang menggema, menarik perhatian para pengunjung di kolam sebelah. Mr. Jonathan khawatir dengan siswanya, tetapi ia berusaha menenangkan para pengunjung terlebih dahulu. Mr. Jonathan terpaksa mengalihkan perhatian dengan memborong semua dagangan buah sumaline dan membagikannya. Kemudian, bergegas masuk ke air mengikuti arah pergi Mikalea dan Elleanor tadi. Begitu melewati terowongan, ia menemukan Nathan yang mengambang tak sadarkan diri dipegangi Elleanor, juga Mikalea yang mengeluarkan sayap pedangnya di beberapa meter sana bersama para nymphaea.


"Apa ini? Apa kalian berkelahi?" Mr. Jonathan meninggikan suaranya dan menatap tajam Mikalea.


"Tidak, Sir. Ini hanya kecelakaan," jawab Elleanor.


Mr. Jonathan menarik Nathan ke tepi pasir dengan khawatir. "Kalian berutang penjelasan," ucapnya sembari memeriksa keadaan Nathan.


Mikalea menautkan kembali sayap pedangnya dan mendekati Nathan. "Apa dia baik-baik, Sir?" tanyanya menggantikan posisi Elleanor yang telah beranjak.


"Kita tunggu dia sadar," jawab Mr. Jonathan begitu selesai mengecek tubuh Nathan.


"Kale!" panggil Elleanor. Ia kembali mendekati para nymphaea yang berkerumun di hadapan gadis berkacamata dengan rambut dikepang itu. "Mereka mengenalmu!" Gurat wajah senangnya tergambar.


Mikalea menghampiri Elleanor yang masih bicara dengan mereka di air. "Mereka tahu kau Keluarga Midagad. Wah! Keluargamu pesohor di sini?"


"Maksudnya?" Mikalea makin bingung.


"Mereka bilang mereka mengenalmu dan keluargamu. Sayapmu yang terpotong itu menjadi cerita legenda di antara mereka."


"Sayapku?" Mikalea mencoba mengingat kembali, tetapi ingatannya tak utuh. "Aku hanya ingat sayapku terpotong saat ada peperangan di rawa tempat tinggal nymphaea di Ubudtaal Sand saat kecil, tapi aku tak tahu penyebab perang itu."


Elleanor pun menerjemahkannya pada para nymphaea lalu menerjemahkan kembali pada Mikalea. "Mereka ingin kau menyentuh daun Tuan Nymphaea berbunga merah itu!"


"Kenapa?"


Elleanor mengangkat bahu. "Coba saja!"