Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
BLUE LIGHT STONE - Erbstücke



Erbstücke


SAAT AKAR BOLA mata tersebut sudah melilit tubuh Fenrir, Mr. Samael kembali membacakan mantra pengunci. Tanpa diduga, Fenrir membuka rahangnya lebar-lebar dan kepalanya menunduk lemah.


Mr. Samael berdiri sembari memegang erat mantra pengunci. "Muslihat apa lagi yang sedang kau lakukan sekarang, Fenrir?"


Setelah kembali ke wujud asalnya, Vendard langsung mengubah rantai menjadi jaring besi dan membiarkannya mengurung Fenrir. Lily melepaskan akar bola mata. Claryn yang mengawasi dari atas perlahan-lahan turun dan mendekat. Ia menduga tidak mungkin Fenrir akan menyerapnya karena hewan itu terlihat sudah tidak berdaya.


"Hebat, hebat sekali! Werewolf  yang pandai bermain muslihat!" pekik Claryn.


"Jangan bunuh aku! Aku mohon!”


Lily mendecak menatap Fenrir. " Sudah tidak ada ampun lagi bagimu!"


Vendard tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya meneliti tubuh Fenrir. Sepertinya ada sesuatu yang aneh di tubuh hewan itu. Warna bulunya yang semula putih bersih mendadak menghitam dari mulai ekor sampai seluruh tubuh. "Lihatlah, tubuh Fenrir menghitam!"


Mr. Samael, Claryn, dan Lily pun memperhatikan hewan itu dengan hati bertanya-tanya.


Hampir saja mata Claryn meloncat ke luar karena melihatnya. "B–bagaimana bisa tubuh Fenrir menghitam seperti itu?"


"Lihatlah itu!" Lily menunjuk sebuah cahaya yang bergerak di dalam tubuh Fenrir.


Tim Empat refleks memalingkan wajah dan menutup mata karena cahaya biru itu terus bersinar setelah sampai di kerongkongan Fenrir. Sesuatu yang bulat dengan goresan-goresan cahaya kecil mengelilingi permukaannya. Semburan-semburan kecil di samping rahang Fenrir menyebar, membawa Batu Cahaya Biru keluar dan melayang.


Tidak ada yang menyangka, Fenrir benar-benar memberikan benda itu. Batu Cahaya Biru tersebut disembunyikan di dalam tubuh dan Tim Empat tidak mengiranya.


Mata Claryn berubah menjadi biru muda karena melihat Batu Cahaya Biru. Irisnya seakan berbinar. Sebutir kristal bening menyentuh pelipisnya dengan lembut. Senyumnya merekah. Jantungnya berdegup, memompa napas. Tangannya melayang seakan ingin menyentuh benda itu. "Tidak! Mustahil. Cahaya itu berasal dari benda pusaka yang kita cari." Ia menggeleng.


  Mr. Samael tidak peduli jika ketiga murid mengira dirinya begitu lemah. Ia juga berlutut di hadapan Fenrir, kelopak matanya sudah seperti genangan air. Ia menghela napas lelah, tidak sia-sia perjuangan mereka selama ini. "Maafkan aku yang mengira kau sedang menipu kami."


Entah harus bagaimana lagi Lily memperlihatkan ketidakpercayaannya. Gadis berambut merah yang berontak dan ceroboh itu justru mengunci dirinya. Tidak ada lagi tindakan yang mengajaknya untuk kembali merasakan penetralan kekuatan. "Apakah itu benda pusaka?"


Vendard tidak akan terlihat lemah di antara mereka, tubuhnya tetap gagah berdiri dan membusungkan dada yang memiliki banyak lipatan otot. Tampak berani menatap ke arah Fenrir. "Sudah kuduga, kau memang saudaraku."


Ucapan itu membuat Vendard ditatap tajam oleh Mr. Samael, Claryn, dan Lily. Namun, guratan senyum tidak bisa lagi disembunyikan oleh mereka. Rasa puas begitu meluap-luap. Tubuh yang meronta dengan geram tidak bisa ditutupi dengan posisi berdiri. Semuanya terjatuh lemah dan berlutut memandang Fenrir.


"Aku adalah makhluk yang bersahabat. Mendekatlah! Kalian berhasil mendapatkan benda pusaka tersebut dan tugasku sudah selesai."


Mr. Samael menatap ketiga muridnya dan memberikan isyarat untuk membebaskan Fenrir. Hewan itu sekarang bisa leluasa bergerak. Tim Empat tidak perlu takut jika tiba-tiba Fenrir menyerang karena itu tidak akan terjadi. Sekarang hati Fenrir sudah berhasil diluluhkan. Mungkin juga mereka sudah menjalin persahabatan.


"Jangan merasa takut. Ambillah Batu Cahaya Biru ini!" Ada yang aneh dengan tubuh Fenrir, ia tampak mengecil dan kembali ke bentuk serigala pada umumnya. Mungkin saja itu efek dari Batu Cahaya Biru yang keluar dari tubuhnya.


Dengan semangat yang menggebu, Mr. Samael berdiri, mendekat pada Fenrir, dan mengulurkan tangan kanan ke ujung lidah Fenrir. Batu Cahaya Biru mulai bergerak perlahan dan melayang ke telapak tangannya. Setelah berhasil didapatkan, ia berbalik menghadap ketiga murid, dan langsung berteriak, "Batu Cahaya Biru sudah berhasil kita dapatkan!”


Astaga! Ketiga murid itu menepuk jidat dan tertunduk malu karena kelakuan Mr. Samael. Padahal tidak ada yang salah dengan guru itu, bukan? Mr. Samael hanya ingin mengekspresikan kebahagiaannya.


"Terima kasih karena telah membebaskanku.”


Claryn mendekat dan menyentuh wajah Fenrir. "Bagaimana dengan hatimu yang telah kami luluhkan?"


"Tenang saja, itu hanya balasan dari apa yang aku perbuat dahulu. Berbahagialah!"


Kata-kata Fenrir terakhir membuat Lily penasaran. "Balasan dari perbuatannya dahulu?"


Vendard datang dari belakang dan merangkul bahu Lily. Matanya menatap dalam sembari tersenyum. Jantungnya tidak bisa membisukan degupan yang terus bergejolak memompa darah ke urat nadi dengan aliran asmara. Lily hendak menggerakkan tubuh yang tidak nyaman, tetapi Vendard merangkulnya begitu kuat. "Balasan karena telah menghilangkan tangan Tyr."


Claryn memelotot menatap pemandangan yang tidak pantas itu. Ia melangkah mendekati Vendard dan berhasil menginjak salah satu kakinya. "Balasan, ya, balasan, tetapi tidak dibalas dengan perasaan," desisnya.


Mr. Samael menggelengkan kepala, memilih mengikuti langkah Claryn dan membiarkan Lily yang masih dalam rangkulan Vendard. "Berbahagialah kalian berdua karena kita telah berhasil mendapatkan benda pusaka."


Lily memasang wajah kesal dan melirik Vendard yang masih menatapnya tajam. Tangannya menyenggol perut laki-laki itu dengan kasar. "Dasar werewolf  yang pandai bermuslihat!"


Vendard refleks menjatuhkan kembali tangannya yang berada di pundak Lily. Sebelum sempat dicegat, Lily berlari untuk mengejar Mr. Samael dan Claryn. Vendard memandang punggung gadis berambut merah itu yang mulai menjauh. Tangan kirinya menyapu wajah dengan kasar dan tertahan di antara pelipis. Ia menggelengkan kepala pelan dengan tangan kanan yang memegang dada. "Kau putik dan aku benang sari, Nona James!"


Lily berusaha menutup telinga rapat-rapat. Ia tidak akan menoleh lagi ke belakang.


Mr. Samael, Claryn, dan Lily tiba di depan arus Gleitser. Vendard masih tertinggal jauh karena terus mengkhayalkan seniornya. Sudahlah, Vendard. Gadis itu tidak akan menyukaimu. Terlebih lagi saat melihatmu muntah sesudah menaiki caterpilartrans. Itu sangat membuatnya risi. Masih ada ribuan putik yang lain.


Setelah Vendard tiba dan anggota Tim Empat lengkap, Mr. Samael menggerakkan tangannya ke dalam arus Gleitser untuk memanggil para penjaga yang akan mengantar mereka kembali ke Chrisella Castle. Entah ada apa dengan hati Claryn, ia menatap kosong dengan raut yang kesal. Vendard mendekat dan memegang tangannya, tetapi floating tiba dengan cepat. Sesampainya di kastil Lord Dazzle, Mr. Samael membukakan pintu ruang penginapan disusul Claryn, Lily, dan Vendard yang masuk terakhir.


"Sepertinya petualangan kita cukup menguras tenaga. Silakan, kalian boleh beristirahat! Aku akan ke ruang multifungsi dan membuat mantra untuk menyembunyikannya," tutur Mr. Samael.


"Yes, Sir!" jawab ketiga muridnya bersamaan.


Mr. Samael membawa beberapa buku mantra dan meletakkan Batu Cahaya Biru di telapak tangan kiri. Setelah menyusun mantra, ia mulai membacakan mantra. Cahaya yang berasal dari Blue Light Stone memancar terang, hanya beberapa detik dan benda pusaka tersebut menghilang dari telapak tangan. Hanya keheningan yang menyelimuti ketiganya. Sepertinya mereka memang sangat kelelahan.


Setelah selesai, Mr. Samael kembali menghampiri mereka dan duduk bersama. Tim Empat berkumpul di ruang tengah, raut kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka. "Ada yang ingin aku bicarakan."


Ketiga murid memperhatikan dengan saksama.


Mata Mr. Samael bergerak meneliti gadis berambut merah. "Lily, bagaimana perasaanmu ketika kekuatanmu dinetralkan?"


Jantung Lily seakan meloncat mendengarnya. Ia mendengkus kasar. Sir, kau pasti bercanda. Pertanyaan macam apa itu?


Mr. Samael terus memandang Lily yang tidak menjawabn sama sekali. "Syukurlah sekarang kau sudah bisa berubah. Kau sudah tidak ceroboh dan aku harap kau tidak berontak lagi!"


Lily mengangkat wajah perlahan dan tersenyum.


"Kau sangat pintar, Nona James. Kekuatanmu bertambah lebih hebat. James Dakota akan bangga terhadapmu jika mendengarnya."


Lily mengingat sesuatu. Ia masih tidak mengerti dengan akar bola mata. "Sir, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Katakan!"


"Hari pertama kita mengunjungi Gleitser Wood, kakiku diikat oleh sesuatu yang dingin sampai membuatku sulit bergerak. Aku sempat berpikir bahwa yang mengikat kakiku adalah rantai dari Fenrir, tetapi sepertinya bukan itu. Aku sering melihat akar dengan bola mata yang aku gunakan untuk mengepung Fenrir, sebelum itu aku juga berinteraksi dengannya. Apa kau tahu tentang akar bola mata itu?"


Mr. Samael menggerakkan jari ke arah ruang multifungsi. Sebuah buku melayang dan mendarat di telapak tangannya. Ia membuka dan langsung membaca buku tersebut. "Akar bola mata itu adalah penjaga pintu masuk Gleitser Wood. Ia tidak akan membiarkan siapa pun masuk karena tahu bahwa di dalam Gleitser Wood ada seekor Fenrir yang ganas. Akar bola mata tidak berbahaya, Lily."


"Terima kasih, Sir. Aku sudah mengira itu tidak berbahaya karena aku tidak merasakan efek apa pun,” pungkas Lily.


Mr. Samael mengangguk pelan. Setelah buku tersebut ditutup, ia kembali memandang gadis berambut pendek yang ikal.