Love is You

Love is You
Isi Hati



POV Brian


"ash gila panas banget sih hari ini, musti buru - buru masuk mobil" kesal brian


"ahh dasar manja lu panas dikit aja ngeluh" jawab ibram


"bram bocah - bocah pada kemana sih lama amat dah" tanya brian


"ketoilet , tunggu aja di dalem mobil sih" ajak ibram


"Whatsapp mereka deh gw tunggu bawa pohon depan gebang sekolah, panas di parkiran sekolah"


"ok ok"


"ahh kan kalo disini adem" lega brian


"lu rewel kalo panas kaya anak bayi"


"bodo amat, udah lu Whatsapp tuh bocah - bocah?"


"udah"


"lama banget sih ngapain toilet doang juga"


ibram hanya diam dan memaikan hp nya kesal dengan ocehan ku , sambil terus mengumpat aku melihat ke arah lampu merah yang sudah berganti beberapa kali.


"ah elah lama banget dah" gumam ku dalam hati


tiba - tiba ada sebuah mobil berhenti di depan ku.


"haha mau ngadem juga dia" bisik ku


"hah lu ngomong apa?" tanya ibram


"ngga"


keluar seorang wanita kulit putih, dengan rambut terurai sampai punggu yang sangat indah. Dia keluar dengan tergesa - gesa menuju lampu merah dan menghampiri seorang nenek, dan berbicara pada nenek itu lalu membantu nya menyebrang, wanita itu tersenyum manis setelah menolong nenek itu menyebrang, senyumannya membuat aku tidak bisa berpaling, begitu manis. Sesuai dengan muka nya yang cantik hidung mancung mata bulat sedikit sipit dan bibir yang cantik bak idol idol korea yang pernah aku liat di Youtube.


"Baru kali ini gue liat cewe kaya gitu?" ujar brian


"siapa bri ?


"itu" sambil menujuk ke arah wanita itu


"oh itu, Si ayu, dia anak sekolah kita satu angkatan ama kita, dia cukup populer disekolah"


"oh ya kok gue gak tau sih, ada yang begitu di sekolah"


"lu kebanyakan gaul sama buku sih, dia kaya nya keturunan korea indonesia deh, marga nya Kim kalo gak salah, gue pernah liat dia di jemput bokap nya kaya nya korea sih"


"oh pantesan"


"kenapa lu naksir, gue bilangin susah pacara ama cewe model dia tiap hari di jemput orang tuanya gak asik"


"ah bacot lu, udah di mana tuh bocah - bocah lama banget pada mati di toilet apa?" brian sangat kesal, dan saat itu pintu mobil terbuka


"sorry, sorry bro lama, si sam pup tuh jadi lama" ujar eggy


"iya bro gue mules - mules"


"elah lama banget lu pada, si brian bacot terus dari tadi ampe pengan telinga gue"


aku pun tak bekata apa - apa dan melajukan mobil ku


itu lah pertama aku bertemu Kim Ayu


---------------------------------------------------------------


Setelah pertemuan itu aku selalu melirik ke arah kelas Ayu setiap melintas di depan kelas nya kebetulan kelas ku tepat di sebelah kelas nya, dan aku selalu melihat dia yang tersenyum dan tertawa dia setiap pagi.


Dan ini juga salah satu alasan aku ingin menjadi ketua osis agar bisa lebih sering melihat dia karena ketua osis bisa masuk ke setiap sekelas setiap senin dan jum'at.


"Selamat pagi teman - teman"


"pagi" jawab mereka serentak


"seperti biasa kami dari Osis sekolah ingin mengumpulkan dan untuk kegiatan amal, kiranya teman - teman bisa menyisihkan sedikit rezekinya" ujar ibram


dan aku berkeliling mengumpulkan uang dengan kotak yang biasa di gunakan untuk hal seperti ini, begitu sampai di bangku Ayu, aku memandang ke arah nya, dia sedang sibuk mengambil dompet di tasnya,


"kaya nya dia suka warna ungu, semua barang nya warna ungu" gumam ku dalam hati


"hei lu mau berdiri disini sampe kapan"ujar teman di sebelah ayu yang aku lihat ita nametag nya bernama Rara


"ah sorry gue ngelamun" saat itu aku melirik erah ayu dan dia tersenyum sangat manis, aku cepat - cepat memalingkan wajah agak dia tidak melihat muka ku yang sudah cukup merah seperti udang rebus.


Saat di ruang Osis


"Bri, lu beneran suka sama tuh cewe"


"emang keliatan banget ya"


"ngga sih tapi gue kenal lu tih dan dari zaman masih TK kali gue gak faham lu"


"gimana ya bram, gue juga gak ngerti kenap gini dah gak bisa kalo gak lirik dia kaya sayang aja kalo gak liat muka dia, adem adem gimana gitu"


"ya lu ngomong lah setan, jangan jadi pengecut sih, tapi gue gak takin tuh cewe mau pacaran, kek nya anak yang nurut ama orang tua banget gitu, terus dia pinter loh ,hasil ujian semester aja lu di bawah dia kan?"


"iya ya, ah bodo amat deh gpp gue mengagumi ke indahan Tuhan dari jauh aja"


"ih najis gue jijik denger lu jd bucin gitu, dasar jomblo akut"


"ish cot lu, mentang - mentang punya pacar"


aku pun menjitak kepala ibram dengan keras


"sakit ege"


aku pun tertawa puas ...


-------------------------------------------------------------


beberapa bulan berlalu


"Hai brian"


"jir suara ini gue kaya kenal" ucap ku dalam hati sambil menoleh


"jir ayu nyapa gue, gue harus apa?" gumam ku dalam hati, dan hanya sebuah senyuman ketus yang keluar dari bibir ku.


"Tumben dateng nya pagi banget"


"Gak papa mau aja" jawab ku datar "ish kok nada gue datar begitu sih, saking gugup nya gue" batin nya


"oh gitu, gue duluan ya" sambil melambaikan tangan dan tersenyum, dan aku hanya mematung terpana dengan pemandangan didepan ku


"jir itu senyuman manis banget, gula kalah tuh" bisiknya


"heii bucin, pagi - pagi dah ngelamunin anak orang lu" ujar ibram sambil menepuk pundak ku di ikutin eggy dan sam yang membuat ku kaget.


"setan bikin kaget aja, ah elah merusak suasana aja lu"


"heh bri, gue bilangin sama lu ya kalo suka si idol korea itu, mikir - mikir deh yang antri banyak woy" ujar sam


"huuh kayanya kwalifikasi dia tinggi deh, lu tau si rey kaka kelas yang kemarin lulus itu yang paling ganteng satu sekolah itu, waktu kelas satu nembak si ayu terus di tolak" jelas eggy


"hah serius lu?" tanya ku sedikit kaget


"oh berita itu gue juga pernah denger, lumaya rame sih gosip nya, makannya lu tih jangan kebanyak belajar kenapa, gosip heboh kaya gitu aja gak kedengeran"


"ahh bacot lu semua udah buruan masuk kelas" kesal ku


itu lah awal dimana aku selalu hanya tersenyum setiap Ayu menyapa


Saking gugup nya aku


------------------------------------------------------------------


"Brian"


"ah pak"


"bisa keruangan saya?"


"baik pak" sambil berjalan ke arah ruangan kepsek dan wakepsek


"ada apa ya pak wakepsek manggil gue" batin nya


"duduk"


aku pun duduk dengan gugup


"ada apa ya pak?"


"ah saya mau liat data kedisiplinan siswa kelas 2"


"oh kelas 2 apa pak, biar nanti saya bawakan"


"cukup atas nama Kim Ayu kelas 2 A aja"


begitu nama itu di sebut aku sangat kaget


"hah ayu, dia kenapa setau gw dia gak pernah ada masalah disekolah" batin nya


"Kim Ayu, yang juara satu itu pak?"


"iya"


"setau saya dia gak penah ada masalah pak, dia juga baru saja menyumbang piala debat buat sekolah, ada masalah apa ya pak kalo boleh tau?" tanya ku heran


"ah dia gak bermasalah kok, kemarin Wali penggantinya kesini mereka bilang mau memindah kan ayu ke korea karena dia disini sendiri mereka khawatir, benarnya berat juga melepas anak berprestasi kaya Ayu itu, tapi ya orang tua nya juga sudah meninggal saya juga bisa apa"


saat mendengar ucapan wakepsek aku hanya terdiam tidak bisa berfikir dan berkata apa - apa.


"ah baik pak nanti akan saya siapkan datanya"


"terima kasih ya brian kamu bisa kembali ke kelas mu"


"baik pak teirma kasih"


berita itu seakan meruntuhkan harapan ku untuk terus bisa melihat senyum manis nya.


----------------------------------------------------------------------


sejak hari itu aku terus berfikir apa yang harus aku lakukan.


"bri, beberapa hari ini lu latihan gak penah fokus dah" ujar ibram


"iya nih lu lagi ada masalah?" tanya eggy


"cerita aja sih bri" tambah sam


"si ayu mau pindah ke korea"


"hah serius lu dapet info dari mana?" tanya eggy


"jangan bilang datang kedisiplinan siswa yang waktu itu gue kasih ke wakepsek itu punya si ayu" tanya ibram


"iya itu punya dia bram, gue harus apa?"


"Bri, saran gue sih dari ada lu nyesel nanti nya, mending lu ungkapin aja perasaan lu sama dia" saran sam


"gue setuju apa yang sam bilang, buat hasilnya liat aja nanti, yang penting gak ada lagi ganjelan di hati lu" tambah ibram


"ini setau gue ya karena gue sekelas sama dia, dia itu setiap pulang sekolah pasti nongkrong dulu di kantin sama si sassya and si Rara, coba lu jadiin kesempatan aja buat ngomong" saran eggy


"gitu ya" jawab ku sedikit bingung


-----------------------------------------------------------------------


Hari demi hari berlalu ujian pun sudah berakhir.


"ah ujan selesai juga, akhirnya bisa ngeband lagi deh, rasa nya tangan gue kaku banget pengan mukul drum" ujar sam semangat


"ya udah kita susul si eggy dulu, terus langsunga caw" ajak ibram


"gue agak laper sih tadi gak sarapan, lu pada duluan aja, tar gue nyusul, bram lu bawa mobil kan" tanya ku di ikuti anggukan ibram


"ya udah lu bawa deh bocah - bocah itu ke studio tar gue nyusul"


"oke"


--------------------------------------------------------


"ish nih kantin penuh amat ya kalo jam balik" bisik ku


"ah di pojokan ada yang kosong tuh" sambi bergegas menuju meja


tak lama saat aku sedang melahap soto yang ku pesan, aku melihat sosok wanita yang familiar dan sangat bersinar


"lah itu bukannya ayu ya , aih jodoh amat" batin ku


"ayu, kim ayu" memanggil nya sambil melambaikan tangan dan tersenyum dan dia menoleh ke arah ku dan mengahmpiriku jantung ku berdegup cukup kencang


"heh jantung bodoh berhentilah bedegup kencang seperti ini, ayu bisa dengar suara lu, aishh memalu kan" batin nya


"Lu lagi cari meja ?" tanya ku di ikuti anggukan ayu dan senyuman manisnya


"duduk sini aja"


"emang lu sendiri ? genk lupa pada kemana ?"


"Mereka dah cabut duluan biasa latihan band"


"emang lu gak latihan juga, kan lu vokalis nya"


"gue kelaperan jadi makan dulu, tadi pagi gak sarapan sih"


"oh gitu, oh iya Bri, kata Sassya tadi pagi lu nyariin gue kenapa?"


"oh itu, gue dapet kabar dari wakepsek katanya lu mau pindah ke korea ?" tanya ku dengan rasa sesak


"ah itu, iya"


"kapan ?"


"hemm abis ujian ini sih, kayanya minggu depan udah berangkat sih"


"minggu depan, secepet itu, gak bisa, bener kata anak - anak gue harus ungkapin perasaan gue ke dia, udah gak ada waktu lagi" batin ku


"kenapa?" sambil ku tatap dalam mata ayu yang indah itu


"ikut om tante gue, hemmm apaan sih lu, tumben amat nanya - nanya deh biasa juga kaya gak kenal gue, papasan aja cuma senyum abis itu melengos" jawab ayu kesal


"Gue malu dan bingung kalo ketemu lu" jawab ku dengan sedikit malu sambil mengepalkan tangan ku mencari keberanian


"Malu ? bingung ? emang lu gak pake baju apa ? atau lu bego ampe bingung ketemu gue"


"iya gue bego karena gue suka sama lu tapi gue gak berani ngomong"


Aku melihat ayu yang kaget di hadapanku


"suka sama gue, kenapa ? dari kapan ?" tanya ayu


"iya gue suka sama lu, gak ada alasan kenapa, waktu akhir semester kelas 1 saat lu bantuin nenek - nenek nyebrang padahal lu dah di dalem mobil dan mendadak keluar lagi"


"ah itu dah lama banget"


"iya bego ya gue, pengecut, Yu emang lu harus pindah ke korea, gak bisa lu tinggal di sini aja?"


"gak bisa Bri, semua udah di urus om tante Gue, dan gue mau ngewujudin cita - cita nyokap gue"


"temen - temen lu udah pada tau ?"


"belum"


"lu belum ngomong?"


"rencana hari ini gue mau ngomong, tapi gue takut"


"takut mereka sedih?"


Ayu pun hanya mengangguk


"itu sih dah pasti, mau gue bantu ngomong?"


Ayu menatap ku bingung, seakan bertanya "mana caranya?" saat itu tiba - tiba Hp ayu berdering etah dari siapa


tapi tiba - tiba ayu berdiri dan melambai lalu aku liat Sassya dan Rara


"kenapa mereka dateng sih" batin ku sedikit kecewa


"Lah lu kok bisa ada disini Bri ?" tanya Rara


"iya tadi gue liat Ayu cari meja jadi gue panggil dia"


"oh, nih bakso lu tuan putri" kesal rara sambil menyodorkan semangkuk bakso


"kalian deket banget ya" ujarku


dan kami melanjutkan makan sambil ngobrol ngalor ngidul


"oh iya Bri, tadi pagi lu mau ketemu ayu kenapa?" tanya sassya


"ah itu ...." belum selesai aku menjawab ayu sudah duluan menyambar


"dia nanya gue soal pindah ke korea" aku melihat


Rara dan Sassya sontak kaget dan melihat ke arah Ayu


"wah nih bocah bercandanya gak asik ni" ujar sassya


"heh bego kalo mau bercanda tuh yang kreatif dikit kenapa, gak lucu ege" tambah Rara


saat itu aku melihat raut wajah ayu yang mulai kebingungan


"Gue juga berharap itu bercanda, tapi gue dapet kabar dari wakepsek, tadinya gue mau minta ayu buat ikut lomba debat antar sekolah lagi"


"beneran ,lu ngomong dong yu?" tanya sassya sambil menggoyangkan badan ayu cukup kuat, rasanya ingin aku menepis tangan yang menyakitin ayu itu


"emmhh, iya gue mau pindah ke korea, om tante gue khawatir kalo gue sendirian disini, dan lu pada kan tau cita - cita gue apa, gue mau ngejar cita - cita gue disana"


"kapan lu pergi?" tanya Rara dingin


"minggu depan" kepala ayu menunduk sangat rendah


"heh bego, lu kenapa baru ngomong sekarang sih, kemarin pas kita nginep di rumah lu gak ngomong apa - apa" ujar rara dengan nada tinggi dan aku liat mata ayu yg mulai berkaca - kaca ingin rasanya memeluk dan membuat dia tenang


"gue takut ganggu konsentrasi belajar kalian"


"ah bodo amat lah terserah lu, gini cara nya lu gak anggep gue sama Rara sahabat lu percuma selama ini kita temenan" sassya pergi meninggalkan meja kami.


"gue kejar sassya dulu ya, biar gue tenangin dia" ujar Rara sambil mengejar sassya yang sudah didepan


"Makasih ya bri"


"buat?"


"udah bantu gue ngomong"


"seharus nya lu ngomong lebih awal yu"


"rasa takut gue terlalu besar" tiba - tiba air mata ayu mengalir membuat gue merasakan sesak saat melihat nya dan refleks langsung pindah duduj di sampingnya dan mengelus kepalanya sambil memegangin pundak nya


"sssttttt udah jangan nangis, gak akan nyelesain masalah kan ? mau gue anter pulang ? "


Ayu pun mengangguk


kami berjalan ke arah mobil ku, di dalam mobil ayu kembali menangis. Aku kebingungan harus apa ta pa sadar aku menggengggam tangan ayu dengan lembut. dan memandah wajah sedih nya yang membuat ku sesak


"udah jangan nangis, lu coba tarik nafas terus buang , lu tenang dulu"


dia mengikuti araha ku.


"udah tenang" tanya ku dan sedikit lega sambil terus menggenggam tangannya


"hemm" sambil mengangguk,


"lu arahin ya gue kan gak tau rumah lu"


"oke"


seketika hening dan rasa canggung memenuhin aura di dalam mobil


"jir canggung banget gue harus ngomng apa ini" bantin ku


"Bri" tiba - tiba ayu berbicara membuat ku sedikit kaget


"apa?"


"gue juga suka sama lu"


aku sontak menginjak rem mobil dengan fikiran agak linglung dan kaget


"apaan sih lu ngerem kok mendadak gitu , otak lu rusak ya, ish sakit banget , bego banget sih lu ah" sambil mengelus jidat nya yang sakit.


"ah sorry yu gue refleks"


"refleks apaan sih orang gak ada yg nyebrang juga, wah otak lu gak waras"


"iya otak gue mendadak gak waras, pas lu bilang suka sama gue, coba ngomong seksli lagi"


"gue juga suka sama lu"


sambil kebingungan tapi hati ku terasa berbunga dan di atas kepala serasa ada kupu - kupu yang terbang.


" sejak kapan "


"MOS ( Masa Orientasi Siswa )"


"MOS? Jd dia suka gue lebih awal?"batin ku


"Hah serius? kok bisa? kenapa ?"


"apaan sih lu , ya bisa lah , gak ada alasan begitu liat lu suka aja, udah buruan jalan sih mau sampe kapan ni mobil berhanti"


Brian melajukan lagi mobilnya


lalu hp ku ber bunyi


menutup telfon


"lu serius kan?"


"apaan sih lu , emang gue keliatan bercanda apa ? tapi bri, gue gak mau lu terlalu berharap sama gue" aku kebingungan dengan penyataannya


"kenapa gak boleh ? itu hak gue kan "


"Tapi Lu tau kan minggu depan gue pindah ke korea?"


"aku udah yakin dia bakal ngomong gini, pasti alasannya LDR itu sulit" batinku


"Terus kalo lu pindah emang gue gak boleh berharap ?"


"Bri, LDR itu gak bakalan lancar" tebakan ku benar


"kenapa lu yakin banget, di coba aja belum ?"


"maksud lu apa ?"


"gue mau lu jadi pacar gue mulai hari ini" tanpa pikir panjang aku nembak dia saat itu juga aku takut tapi gue gak bisa tahan perasaan aku lagi


"hah lu serius, bri gue mau pindah bri"


"terus masalahnya dimana?" brian menghentikan mobil nya sekali lagi di jalanan komplek rumah ku


"kita harus LDR bri"


"terus kenapa gue gak keberata. sama sekali, lagian pas liburan panjang gue bisa ke korea, kakak sepupuh gue tinggal disana kalo pun gue mau pindah gampang kan"


"lu yakin ?"


"gue yakin, jadi mulai hari ini kita pacaran"


Hari ini adalah hari paling bahagia untuk ku ternyata cinta ku gak bertepuk sebelah tangan


-----------------------------------------