Love is You

Love is You
13.Makan Tanah



"Hah, gila tuh orang. Gue disuruh dengar curhatannya. Gak tau aja dia, gue juga butuh curhat kali. " Omel Mela sambil merebahkan tubuhnya disofa.


"Duhh, mana gue lapar lagi. " Mela tidak hentinya ngedumel, dan mengusap-usap perutnya yang lapar.


"Gue mau makan gimana, ya. " mela kembali duduk dan berpikir sejenak.


Setelah berpikir panjang dan cukup lama, akhirnya Mela memutuskan pergi berbelanja seperti yang dikatakan Satria, suaminya.


Diambilnya uang yang diberikan Satria, yang dia simpan didalam kemari. Kemudian, dia keluar setelah mengunci pintu lebih dulu. Tidak lupa juga Mela membawa serta ponselnya.


Untuk jaga-jaga, jikalau nanti dia lupa jalan pulang kerumah kembali. Maklumlah, orang kampung mana paham hidup dikomplek yang bentuk rumahnya hampir sama.


Mela berjalan pelan melangkah kakinya, di jalan trotoar. Menuju persimpangan seperti yang suaminya, Satria ucapkan beberapa waktu yang lalu.


Dari tempatnya berdiri saat ini, sudah mulai terlihat persimpangan jalan yang dimaksud suaminya. Jalanan cukup ramai siang itu. cuaca juga lumayan terik.


Ternyata benar seperti yang diucapkan Satria. Dipersimpangan jalan ini ada warung, tidak hanya satu tapi, ada beberapa. Ada yang menjual makanan siap dan ada juga warung yang menjual bahan makanan.


Karena perutnya sudah sangat lapar, dan menuntut untuk segera diisi, Mela akhirnya memilih duduk makan disana. Disalah satu warung yang menyediakan makanan siap.


Mela memesan nasi uduk dengan air minum teh manis. Kemudian, dia menempati salah satu kursi yang kosong ditempat itu.


Tidak memerlukan waktu yang lama untuk menunggu, penjual disana pun mengantar pesanan Mela.


"Silakan, mbak! " ucap penjual nasi uduk tersebut pada Mela.


"Terima kasih. " Balas Mela yang kemudian langsung menarik piring berisi nasi uduk yang baru saja disuguhkan padanya.


Mela makan dengan lahap. Selain karena rasa lapar yang mendera, dia juga karena dia yang sedang banyak pikiran.


Seperti itulah Mela, jika orang lain akan melakukan aksi mogok makan saat sedang banyak pikiran maka berbeda sekali dengan Mela, yang akan melampiaskan semua pada makanan. Dan hebatnya, tidak mempengaruhi berat badannya.


Setelah menghabiskan makanan dipiring, Mela duduk sambil meneguk air teh manisnya dengan pelan. Sambil otaknya berpikir, haruskah dia membeli bahan makanan untuk memasak juga?


'Jika aku masak, pasti bocah tengik itu akan kegirangan dan semakin banyak berharap padaku' batin Mela.


'Ya sudahlah. Tidak usah saja'pikir Mela.


"Berapa bu? " tanya Mela pada penjual nasi uduk.


"Makannya sepuluh ribu, minumnya lima ribu. Semua jadi lima belas ribu, mbak. " Jawab penjual.


Mela memberikan uang lima puluh ribuan. Dengan cekatan penjual itu memberikan kembalian uang Mela.


"Terimakasih." Ungkap Mela sambil tersenyum, penjual hanya balas tersenyum pada Mela.


Saat keluar dari warung tempat baru saja dia makan, ternyata disamping warung itu adalah penjual donat. Dengan semangatnya, Mela masuk kewarung penjual donat.


'Lumayan, buat cemilan. " Pikir Mela.


"Ada yang bisa dibantu, mbak? " tanya penjual ramah saat Mela masuk.


"Donatnya, berapaan bu? " tanya Mela balik pada penjual.


"Kalo yang mini isi delapan lima belas ribu mbak. Dan, kalo yang sedang isi lima juga lima belas ribu mbak. " Jelas penjual donat.


"Hmmm, ya udah yang sedang aja dua kotak ya, bu. " Ucap Mela.


"Mau toping apa mbak? " tanya penjual lagi.


"Ada apa aja? "


"Ada meses, kacang, keju, dan coklat."


"Ya udah. Campur aja bu. "


"Sabar menunggu ya, mbak. Silakan duduk dulu. " Suruh ibu penjual.


"Mbaknya, dari mana mau kemana nih? " tanya penjual kepada Mela. Mungkin, melihat Mela yang tidak sabar menunggu.


"Saya dari makan disebelah, dan sekarang mau pulang bu. " Jujur Mela.


"Oh, mbaknya tinggal dekat sini? " Mela mengangguk membenarkan pertanyaan ibu penjual donat.


"Kok jarang kelihatan ya mbak? " tanya penjual semakin kepo dan penasaran akan asal usul Mela.


"Saya tinggal disebelah sana, bu. Dan kebetulan saya baru tinggal disini karena ikut suami saya. Kami baru menikah bu. " Cerita Mela apa adanya.


"Ooo... Mbak Mela istrinya mas Satria yang kemarin baru nikah ya? " tanya penjual memastikan bahwa dirinya tidak salah.


"Iya bu. " Jawab Mela malu-malu.


"Wahh... mas Satria juga suka mampir disini pulang kerja, mbak. Katanya buat camilan malam. Tapi, semenjak nikah nggak pernah. Mungkin semakin semangatnya pulang ya, mbak. " Ucap penjual sambil terkekeh dan menyerahkan plastik yang berisi dua kotak donat.


"Terima kasih, bu. " Ucap Mela sambil menyerahkan uang pada penjual, sebelum pergi kembali kerumah.


"Iya mbak. Sering kesini ya, mbak. Nama saya bu Ani. " Tutur ibu penjual donat pada Mela yang baru saja Mela ketahui nama beliau adalah bu Ani.


Tanpa menjawab, Mela segera berlalu dan melambaikan tangan pada wanita yang sepantaran ibunya itu.


'Hah, tidak seburuk yang kukira. ' Ucap Mela sesampainya didepan rumah dan membuka pagar.


Mela duduk didepan televisi, mengunci pintu rumah. Televisi sengaja dia nyalakan walaupun dirinya hanya sibuk berkutat dengan ponselnya. Dia menyalakan televisi agar tidak terlalu sepi, agar ramai Mela menyalakan televisi dengan suara yang keras. Takut kalau-kalau penghuni kamar tamu akan datang menemuinya.


Misteri penunggu kamar tamu yang diucapkan Satria lah yang membuat Mela menyalakan televisi walaupun dirinya asyik membaca novel online diponselnya dengan ditemani cemilan donat full toping.


Ponsel Mela berdering saat dia sedang asyik membaca salah satu novel kesukaannya disalah satu aplikasi novel online. Mela segera menggeser tombol hijau dilayar benda pipih persegi empat itu, saat tahu yang meneleponnya adalah suaminya, Satria. Panggilan video segera terhubung setelah Mela menyambungkannya.


[Siang sayang. Mau dibawa-in makan siang apa, sayang.]Tawar Satria pada Mela, istrinya itu.


[Nggak usah!] seperti biasa jawaban Mela selalu ketus.


[Ya ampun sayang. Kamu sampai makan tanah gara-gara nggak kukasih makan. ] Ekspresi wajah suami Mela tampak terkejut melihat istrinya.


[Si alan lo.] Kesal Mela sambil mengambil tisu membersihkan mulutnya setelah tau apa yang membuat suaminya itu kaget. Karena mulut istri Satria itu belepotan coklat bekas makan donat.


Melihat istrinya kesal karena dikatakan habis memakan tanah olehnya, Satria diseberang sana tertawa terbahak-bahak.


[Oke. Sekarang serius, mau dibawain apa nih. Ntar lagi gue pulang.]Ucap Satria setelah berhenti menertawakan istrinya itu.


[Kan gue udah bilang, nggak usah. Kalo lo ngotot, ya udah terserah! ]Sewot Mela.


[Duhh, ini nih yang bikin repot. ] Satria berucap pelan dari seberang telepon sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Mela yakin itu.


Sementara Mela mengerutkan dahinya seolah bertanya apa maksud 'repot' yang Satria katakan.


[Iya. Cewek kalo jawab terserah menurut gue nyeramin, tau nggak. ]Ungkap Satria.


[Mending to the point aja deh, mau dibawa-in makan siang apa? kalo jawabnya terserah. Jujur, gue takut jadi serba salah. ] Satria berbicara sambil meringis.


[Alah. Lebay lo, drama banget. Gue pemakan segalanya. Jadi, apapun yang lo beli pasti gue makan. Udah! Assalamualaikum! ] ucap Mela. Lalu, setelah itu dia memutuskan sambungan panggilan video dengan suami dadakannya itu.


Seusai mengakhiri pembicaraan via telepon dengan suaminya, Mela kembali rebahan dan kembali kedunia novelnya.


Tidak lama kemudian, ponselnya kembali berdering.


[Apaan lag... ] belum selesai Mela berbicara setelah menyambungkan telepon dengan sang suami. Terdengar suara teriakan Satria dari seberang telepon.


[GUE DILUAR WOI GUE DILUAR ] teriak Satria, Mela sampai menjauhkan ponsel dari telinganya saat Satria berteriak.


'Harus banget ya teriak-teriak gitu. Gak bisa apa, bilang baik-baik sama gue' Mela ngedumel tapi tetap pergi kedepan membuka pintu untuk suaminya.


Bersambung....