
“Ahhhh! Akhirnya kita pulang! Badanku benar-benar terasa sangat lelah setelah seharian menyupir.”
Kami baru saja pulang dari Busan. Perkataan Jungkook tadi, masih terngiang-ngiang di kepalaku. Ahh bagaimana ini? satu sisi aku takut terjadi apa-apa bila satu rumah dengan Jungkook. Tapi, satu sisi lagi, aku merasa sudah banyak merepotkan Jimin kalau terus tinggal bersamanya. Hahhh… bagaimana ini?.
“Hyerin, aku mau mandi dulu ya? Badanku terasa sangat lengket sekarang.”
“I-iya.”
Hahhh sudahlah, aku pikirkan lain kali saja. Sekarang lebih baik aku istirahat dulu. Badanku juga terasa sangat lengket sekarang.
🌸🌸🌸
“ARGHH!.”
Sudah 3 hari aku memikirkan bagaimana keputusanku. Apa aku harus tinggal di rumah Jungkook atau tidak?! Lama-lama kalau seperti ini, aku bisa gila beneran!.
“Hyerin, kau sehat?.”
Suara Hana menyadarkanku, sekarang kami sedang istirahat di kantin. Sepertinya dari tadi, aku terus melamun sampai teriak seperti orang gila tadi. Melihat Hana yang yang hanya diam menunggu jawabanku, menurutku sepertinya tidak buruk kalau aku meminta tolong padanya. Lagi pula, dia tahu tentang perjalanan hubunganku dan Jungkook.
Ku pegang kedua tangannya, lalu menariknya cepat.
“Hana! Tolong aku.”
“E-eh? kenapa?.”
Kujelaskan semua yang terjadi, sampai pada akhirnya Hana mengangguk paham.
“Ya tuhan, masalah kecil seperti itu kau di buat pusing?.” Hana terlihat jengah setelah mendengar masalahku.
“Masalah kecil?.”
“Apa kau lupa? Sebelumnya kau pernah tinggal di rumah Jungkook kan? Bagaimana keadaanmu saat tinggal berdua bersamanya?. Baik-baik saja kan? Jadi, tidak salah kalau kau tinggal lagi bersamanya. Lagi pula hanya untuk sementara saja kan? Jadi, kenapa kau harus pusing dengan masalah kecil seperti ini? kau yang berlebihan tahu tidak?.”
Hana menggelengkan kepalanya jengah, lalu kembali minum jusnya sambil memainkan Hpnya.
Benar juga yang dia katakan. Sebelumnya aku pernah tinggalkan di rumah Jungkook. Seharusnya aku baik-baik saja kan? .
“Kau benar, kenapa aku tidak berfikir sampai ke situ?.”
“Itu karena kau bodoh Hyerin..”
“APA?!.”
🌸🌸🌸
Sekarang aku sedang berada di dapur sambil membantu Jimin menyiapkan makan malam. Tapi sampai sekarang, aku belum bilang ke Jimin soal aku akan tinggal di rumah Jungkook. Rasanya seperti meminta izin pada seorang Ayah. Apa lagi mengingat Jimin tidak begitu menyukai Jungkook. Pasti sangat sulit untuk meminta izin padanya.
“Hyerin, tolong simpan sayur ini di meja.”
“Hmm! Ok.”
Hahh,, lebih baik makan saja dulu Hyerin.
Setelah menyiapkan semua teman nasi di meja, kami mulai makan malamnya. Rasanya sangat canggung makan malam hari ini. Kenapa terasa begitu dingin hawanya?.
“Hyerin..”
“Y-ya?.”
“Katakan saja padaku, apa yang ingin kau bicarakan?.”
“Ehh?.”
Jimin menyadarinya? Bagaimana bisa? Kulihat Jimin menghembuskan nafasnya gusar lalu menatapku.
“Sudah 3 hari kau menahannya bukan? Kau pikir aku sebodoh itu? aku tahu kalau kau sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Cepat, aku tidak akan marah.”
Hmmm.. apa sekarang saja aku mengatakannya? Baiklah.. lagi pula dia sahabatku pasti mengerti.
“Jimin, apa aku boleh menginap di rumah Jungkook untuk sementara?.”
“APA?!.”
Sudah kuduga, pasti dia marah. Hahh… sudahlah katakan saja semuanya
“Aku sudah begitu banyak merepotkanmu selama ini. Ibu sudah menyekolahkanku, keluargamu sudah membiarkan aku menginap, dan masih banyak lagi kebaikan yang telah aku terima. Tapi aku rasa, kau juga harus menikmati hari-harimu hanya bersama keluargamu, tidak denganku. Jadi kurasa, aku harus tinggal di rumah Jungkook untuk sementara ini. Aku ingin kau menghabiskan waktumu bersama keluargamu Jimin. Sudah 5 bulan lamanya aku di sini, dan aku harap kau membiarkanku untuk menginap di rumah Jungkook. Kau tenang saja, sebelumnya aku juga pernah menginap di rumahnya, dan aku baik-baik saja. Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi.”
Raut wajah Jimin terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Terlihat sekali di wajahnya yang sedang menahan amarahnya. Mungkin di sangat marah padaku sekarang. Tapi, dia mencoba untuk bersabar sambil menghembuskan nafasnya gusar.
“Hahh… jadi, ini yang sulit kau katakan?.”
Dia menunduk sebentar, lalu kembali menatapku dengan khawatir.
“Hahhhh baiklah, demi sahabatku. Aku biarkan kau tinggal bersamanya. Tapi, harus kau tahu. Kau tidak membuat keluargaku kerepotan karenamu Hyerin. Aku senang selama kau tinggal bersamaku. Aku merasa memiliki seorang adik yang sangat menggemaskan. Tapi, jika kau ingin pergi, tidak apa-apa. Aku mengerti.”
Jimin… kau benar-benar sahabat terbaikku!. Kemudian perlahan Jimin tersenyum.
“Kalau kau ingin pulang, pulanglah. Rumahku selalu terbuka untukmu.”
“Terimkasih Jimin!!.”
“Tapi…”
E-eh? kenapa? Senyuman lebarnya terlihat lebih menakutkan sekarang.
"Kalau dia membuatmu menangis. Aku benar-benar akan membunuhnya. Jadi, aku harap. Tidak terjadi masalah apa pun dengan pacarmu. Kau mengerti Hyerin?.”
Glek!
“I-iya, aku mengerti. Terimakasih sudah memberiku izin..”
Tak kusangka Jimin terlihat lebih menakutkan bila marah seperti ini.
🌸🌸🌸
Saat itu juga, aku langsung menghubungi Jungkook untuk menjemput. Rasanya sangat gugup kalau mulai hari ini aku akan menginap. Padahal sebelumnya aku sudah pernah menginap. Kenapa aku harus gugup?.
Setelah menunggu cukup lama, akhrinya kami sampai. Sudah lama juga aku tidak ke sini. Rumahnya masih tetap sama seperti pertama kali aku datang ke sini, tidak ada yang berubah.
“Hyerin, biar aku saja yang mebawa kopermu.”
“Hmm terimakasih.”
Aku dan Jungkook turun dari mobil. Lalu dia membawa koperku dari bagasi mobil, sedangkan aku masih diam tidak menyangka akan tinggal lagi di sini. Langkah demi langkah, akhirnya aku kembali menginjak lantai rumah Jungkook. Entah rasa senang atau rindu hingga membuatku tersenyum melihat rumah ini.
Setelah aku sudah di dalam rumah Jungkook. Tepatnya di ruang TV. Rasanya aku kembali nostalgia.Tempat ini adalah tempat pertama yang aku tinggali ketika datang ke Seoul, dan saat itulah Jungkook datang menolongku.
“Apa kau masih ingat tempat ini?.”
“Tentu saja, bagaimana aku bisa melupakan tempat ini? ini adalah tempat pertama aku tinggali di Seoul.”
“Kau benar, kalau gitu, sebaiknya sekarang kau tidur saja. Sudah samakin malam sekarang.”
“Oke.”
🌸🌸🌸
KRING~ KRING~ KRING~
Aishh... kenpa berisik sekali? Padahal aku merasa baru saja tertidur. Dengan terpaksa, aku bangun lalu mematikan alarmnya. Dengan malas, aku berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokkanku terasa sangat kering sekarang. Namun baru saja turun dari tangga, aku dapat mencium aroma yang terasa sangat enak dari dapur.
Setelah tiba di dapur, aku melihat seorang wanita berseragam sekolah sedang sibuk memasak di sana. Menyadari siapa itu, senyuman manis terukir di wajahku.
“Hmm kurasa ini sudah cukup.”
Hyerin terlihat sangat sibuk di sana. Rasanya suasana ini sungguh familiar. Dulu, dia juga pernah membuatkan sarapan untukku. Tak kusangka, hal itu akan terjadi lagi sekarang.
“Jungkook? Kau sudah bangun?.”
Ehh? Dia sudah selesai masaknya?.
Karena sudah ketahuan, akhirnya aku duduk di kursi sambil tersenyum.
“Sejak kapan kau bangun?.” Ucapku sambil terus menatapnya.
Hyerin terlihat sedang memikir sejenak.
“Pukul 5 pagi? Kalau begitu, pergilah mandi. Sebentar lagi kita harus pergi ke sekolah.”
Kuanggukkan kepala sambil berdiri hormat padanya.
“Siap bos!.”
🌸🌸🌸
“Hyerin, pulang nanti kau akan kerja?.”
Sekarang kami sudah tiba di sekolah, lebih tepatnya di lorong loker.
“Tentu saja, kenapa?.”
“Tidak ada. Hanya saja kalau kau mau pergi ke sana, telphon aku. Karena aku ada latihan basket hari ini jadi aku akan izin sebentar untuk mengantarmu.”
“Kalau kau ada latihan, kau tidak usah mengantarku. Aku bisa pergi ke sana sendiri.”
“Tidak, kau tidak boleh pergi sendiri. Di luar sangat berbahaya.”
‘Berbahaya?’ Wahhh.. apa dia mulai khawatir padaku? Cihh lagi pula siapa yang akan berbuat jahat padaku?.
“Cihhh, berlebihan. Aku baik-baik saja, kau tidak usah berlebihan seperti itu.”
Jungkook tersenyum mendengar ucapanku, lalu tak lama kemudian Jimin datang menghampiri kami.
“Selamat pagi Jimin!.”
“Hmm selamat pagi.”
Jimin tersenyum seperti biasa padaku, namun setelah menatap Jungkook dia kembali dengan tatapannya yang dingin.
“Ahh Jimin, sebenarnya aku tidak suka meminta bantuan orang lain. Tapi, apa kau bisa mengantar Hyerin setelah pulang sekolah ke tempat kerjanya? Aku ada latihan basket hari ini.”
“Cihh, pacar apa kau tidak bisa mengantar wanitanya pergi kerja?.”
“Apa kau bilang?!.”
Ya tuhan… sampai kapan mereka berakhir?.
Ku tarik lengan Jimin lalu membawanya pergi.
“Jungkook kau tenang saja, aku baik-baik saja. Sampai Jumpa di kelas nanti!.”
🌸🌸🌸
Sudah hampir 5 bulan aku sekolah, yang berarti sebentar lagi UTS akan dimulai. Karena itu, aku sedang belajar mati matian sekarang.
Kini aku sedang berada di perpustakaan sendirian dengan beberapa buku mata pelajaran. Aku memang bodoh, tapi setidaknya aku harus dapat nilai yang cukup bagus agar tidak membuat Ibu dan Ayah Jimin kecewa.
“Kau sedang belajar apa?.”
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengusap kepalaku, pasti itu Jungkook, dan ternyata dugaanku benar. Aku hanya tersenyum melihatnya datang, kemudian dia duduk di samping sambil memandangku lembut.
“Aku sedang bejara Fisika. Hahhh.. kau tahu? aku benci hitung hitungan seperti ini. Butuh waktu 1 jam untuk menyelasaikannya. Rasanya sangat pusing saat mengerjakannya. Untunglah aku bisa mengerjakannya sedikit walau pun lama.” Kusandarkan badanku ke kursi sambil menghela nafas gusar.
“Mau aku bantu?”
Huh? Dia mau membantu?. Aku menoleh ke samping sambil menatapnya malas.
“Apa kau bisa?.”
“Tidak mungkin.” Ucapku sambil menggelengkan kepala dan tersenyum paksa.
“Hei, aku tidak bohong.”
Aku tersenyum, setelah berhasil membuat dia marah. Membuatnya marah adalah hal yang kusuka. Aku pun kembali menatap bukuku seolah olah tidak peduli. Namun, Jungkook malah diam-diam mengintip hasil jawabanku dengan tatapannya yang serius.
“Hei, kau serius? Dari 10 soal, kau berhasil menjawab 4 di sana! sisanya salah semua!.”
Tunggu.. dia bilang apa?! Bagaimana bisa dia menilai jawabanku hanya dengan sekali lihat? Itu tidak mungkin. Apa dia mau menggangguku?! Merasa tidak terima aku langsung marah padanya.
“Hei, bagaimana bisa kau menilai semua jawabanku dengan sekali lihat? Memang sepintar apa dirimu? Kau tahu? Aku mengerjakannya dalam 1 jam dengan sungguh-sungguh!. Walau 10 soal aku yakin, setidaknya 95 persen jawabanku benar. Bagaimana bisa kau mengatakan hanya 4 soal yang berhasil kujawab? Memangnya kau ini guru? Aku tidak suka kau seenaknya menilai jawabaku!, aishhh pergi sana! jangan ganggu aku!.”
“A-apa?.”
Aishhh dia di sini mau membantuku atau merendahkanku sih?! Aku sangat membenci orang yang merendahkanku. Setidaknya aku sudah berusaha keras. Kenapa dia tidak membantuku? dan malah merendahkanku?!.
Langsung saja kubawa buku fisikanya dan pergi dari perpustakaan. Samar-samar aku mendengar suara Jungkook yang memanggil namaku. Tapi aku tidak peduli!. Kenapa dia tidak mengerti sih? Seharusnya dia mengajariku bukan merendahkanku! Aku memang tahu, dia pernah mengikuti olimpiade, aku sendiri melihatnya di rumah! Dia memiliki banyak piala di sana!. Tapi, kenapa dia malah merendahkanku?!.
“Lebih baik, aku pergi ke tempat yang sepi.”
Entah kemana aku pergi ke sekarang. Yang penting jangan sampai aku bertemu dengan Jungkook.
Saat dalam perjalanan, langkahku berhenti melihat Minju yang sedang duduk diam di kursi tepatnya di ruang aula.
Apa aku belajar di sana saja? lagi pula sudah lama sekali kami tidak beradu mulut karena aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Mau dia marah atau bagaimana pun, aku tetap tidak peduli.
Aku langsung membuka pintu, lalu segera masuk ke dalam. Menyadari kehadiranku, dia langsung menatapku bingung.
Dia menatapku seperti itu adalah hal yang wajar, karena memang ini pertama kalinya aku berani menghampirinya. Tapi aku tidak peduli, rasanya tempat ini lebih aman, karena Jungkook jarang sekali ke ruang aula.
Melihat dia bingung, aku malah tersenyum padanya, lalu duduk bersebelahan dengannya.
“Aku pinjam ruanganmu sebentar ya?.” Ucapku sambil bersiap-siap untuk belajar.
“Apa yang kau lakukan?.”
“Apa lagi? aku sedang belajar. Kau tidak belajar?.”
Kulihat Minju masih diam dengan tatapan bingungnya. Tapi wajar juga sih dia bingung padaku, karena aku tidak pernah sedekat ini dengannya. Ku buka buku fisika lalu mulai melanjutkan belajarnya.
“Tapi ini bukan ruang belajar nona Hyerin.”
“Kali ini saja, biarkan aku di sini. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan Jungkook. Jadi aku mohon kerja samanya.” Ucapku sambil tersenyum paksa, lalu kembali balajar.
Mendengar ucapanku, sepertinya itu membuat Minju tertarik. Di pun tersenyum lebar, lalu menatapku penasaran.
“Kau bilang apa? Tidak ingin bertemu Jungkook? Kenapa? Apa kau berantem dengannya?.”
Ku anggukkan kepala tanpa menatapnya.
“Bisa di bilang begitu.”
“Kenapa? Apa kau marah karena dia melakukan kesalahan?.”
“Tentu saja! dia merendahkanku dalam bejajar. Aku tahu aku tidak sepintar dia, tapi setidaknya aku sudah berusaha. Tapi, apa kau tahu? Dia malah merendahkan dan tidak membantuku! Aku benci orang yang suka merendahkan sesuatu.”
Duhh sial, kenapa aku malah ngamuk sekarang pada Minju?.
Tapi sepertinya itu tidak membuat dia marah. Kebalikannya dia malah menganggukkan kepala seolah mengerti apa maksudku.
“Tentu saja, aku juga benci orang selalu merendahkan. Siapa yang suka direndahkan? Semua orang pasti tidak suka.”
“Nahhh! Itu yang aku maksud!.”
Minju tersenyum melihatku yang setuju dengan pendapatnya. Hahh sudahlah, setidaknya dia lebih baik dari pada Jungkook untuk saat ini. Lalu, aku kembali melanjutkan belajarnya.
“Kau tahu? Ini pertama kalinya kita berdua sependapat tentang sesuatu.”
Kuanggukan kepala, lalu menoleh padanya dan tersenyum kecil
“Aku juga berfikir seperti itu.”
TAK! TAK! TAK!
Tiba-tiba terdengar suara sepatu yang berjalan ke arah kami. Saat aku melihat kebelakang ternyata itu Jihyun!. Aku terkejut melihat dia datang tiba-tiba. Sudah cukup lama, dia tidak berurusan lagi denganku. Tapi, kenapa dia datang ke sini?.
Kulihat dia menatapku dan Minju bergantian dengan tatapan sinis.
“Minju? Hyerin? Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kau sedang selingkuh dari Jungkook?.”
Ohh ya tuhan, mendengar pertanyaannya langsung membuatku pusing. Kenapa harus ada tikus di sini? Apa dia tidak bisa diam saja dan tidak membuat masalah?.
“Minju, apa yang dia lakukan di sini?.” Ucap Jihyun dengen ekspresi tidak percaya.
Minju tersenyum sekilas padaku, lalu menatap Jihyun.
“Dia hanya sedang belajar bersamaku. Dia bilang, dia sedang berantem dengan Jungkook. Karena itu dia datang padaku.”
A-apa? kenapa kau mengatakan yang sebenarnya pada Jihyun?!.
“Begitukah?.”
Jihyun menatapku sinis padaku setelah mendengar ucapan Minju.
Hahhh... kumohon Jihyun, apa kau bisa tidak usah ikut campur dan diam saja? hah? Apa kau bisa?.
“Jihyun, apa kau datang ke sini hanya untuk menganggangku belajar? Jika iya, tolong keluarlah dari aula ini. kau sangat mengganggu di sini.”
Smirknya langsung muncul setelah mendengar perkataanku. Lalu dia pun berdiri.
“Baiklah, ******. Silahkan lanjutkan belajarmu, semoga kau berhasil.”
A-APA KAU BILANG?! ******?! What the fu**!
Saat hendak berdiri. Tiba-tiba Minju menarikku kembali untuk duduk, dan aku menatap bingung padanya. Kenapa dia menghentikanku?. Namun Minju malah tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
“Tenanglah, dan lanjutkan belajarmu. Jangan pedulikan perkataannya. Dia hanya ingin memancing amarahmu saja.”
Kuhela nafas gusar mendengarnya. Hahhhh... tenang Hyerin. Kau tidak boleh terbawa emosi. Lebih baik kau lanjut belajar saja.
🌸🌸🌸
Sudah hampir 1 jam, aku belajar di aula bersama Minju. Entah kerasukan apa, hari ini Minju tidak lagi mengungkit lagi masalah hubunganku dengan Jungkook. Toh sudah jelas aku dengannya pacaran sekarang. Mungkin karena itu dia diam. Tapi lebih anehnya lagi, dia mau saja belajar bersamaku. Tak kusangka dia memiliki sisi seperti ini.
Karena sudah terlalu lama belajar, rasanya otakku sudah terkuras habis. Perutku juga sudah kelaparan sekarang. Lebih baik aku makan siang saja dulu.
“Minju, apa kau lapar? Aku sangat kelaparan sekarang.”
Minju yang awalnya fokus membaca kini beralih menatapku.
“Baiklah, ayo kita pergi. Aku juga lapar.”
Selama perjalanan kami terus saja membahas tentang materi yang baru saja kami pelajari. Jujur saja, Minju ini tidak terlalu pintar hanya saja dia adalah orang yang pas untuk di ajak kerja sama. Membicarakan tentang pembullyan yang selalu dilakukan oleh Minju. Sekarang, dia tidak melakukannya lagi, aku juga tidak tahu alasannya kenapa, tapi melihat perubahannya yang sekarang. Bukankah itu bagus?.
Kini kami sudah sampai di kantin. Seperti biasa di sini selalu ramai.
“Apa kau suka Kimbap?.”
“Ya.”
“Ini untukmu saja, aku tidak menyukainya.”
Minju memberikan Kimbapnya padaku. Untukku sih terima-terima saja lagi pula kimbap adalah makanan favorit.
“Terimakasih.”
Setelah selesai mengambil makanan, kami pergi menuju meja yang kosong.
“Hmm kau mau duduk di mana?.”
BUGH!
Saat aku tengah memilih. Tiba-tiba aku dikejutkankan dengan seseorang yang tiba tiba meninju wajah Minju yang membuatnya tersungkur bersama nampannya yang berisi makanan.
Apa ini? kenapa tiba-tiba dia ditinju? Siapa yang meninjunya?.
“APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK!.”
Tu-tunggu… suara ini. Bukankah itu suara Jungkook?!.
Setelah aku menengok ke belakang ternyata benar itu Jungkook. Kenapa dia meninju Minju? Dia ini kenapa?!.
Minju yang baru tersadar dari apa yang terjadi padanya, langsung menatap Jungkook dengan penuh dendam. Dia pun beridiri dan langsung membalas pukulan Jungkook tepat pada wajahnya.
Melihat mereka yang sedang berkelahi didepanku. Aku hanya bisa terdiam terkejut melihatnya. Mereka ini kenapa? Kenapa kalian tiba-tiba bertengkar seperti ini?!.
“KAU INI KENAPA BRENGSEK?! APA KAU INGIN MATI HAH?!.”
Suara Minju, membuat semua murid yang ada di kantin lansung berkumpul untuk menyaksikan perkelahian antara Jungkook dan Minju.
Jungkook yang sudah kembali beridiri, langsung menarik kerahnya Minju dengan keras. Melihat wajahnya yang terlihat sangat marah dengan matanya yang memerah membuat aku sedikit ketakutan melihatnya. Sebenarnya apa yang terjadi?.
“Kau yang akan mati sialan! Apa yang kau lakukan bersama Hyerin?! Apa kau ingin membuatnya selingkuh dariku hah?!.”
DEG!
J-Jungkook.. KAU BILANG APA TADI HAH?! SELINGKUH?! Dia mengira aku selingkuh dengan Minju?! Apa dia sudah gila?!.
Minju yang terkejut mendengar perkataannya Jungkook, langsung menarik kerahnya tak kalah keras. Dia juga menatap Jungkook dengan tatapan penuh dendam.
“Apa maksudmu *******?! Kaulah yang brengsek di sini sialan! Orang mana yang ingin direndahkan seperti apa yang kau lakukan pada Hyerin! Kaulah yang ******* sialan!.”
Sudah cukup! Kenapa mereka kekanak kanakan sekali?!. Ku simpan nampan di meja makan, lalu segera berlari ke arah Jungkook dan Minju untuk meleraikan mereka berdua.
“Kalian berdua hentikanlah perkelahian ini!.”
“Hyerin! Pergilah dari sini, orang brengsek seperti ini akan aku selesaikan dengan cepat.”
Aku terkejut mendengar ucapan Minju. Kenapa kau sangat membenci Jungkook Minju?.
“Kau yang brengsek sialan!.”
Dan kau juga sama saja Jungkook!.
Dengan perasaan membara, aku pun mendorong tubuh mereka agar terpisah. Setelah berhasil dileraikan, aku langsung menatap kesal pada Jungkook. Tapi sepertinya Jungkook tidak mengerti perasaanku, dia masih saja memasang wajahnya yang kesal pada Minju.
“Hyerin, kau pergilah dari sini, nanti kita bicara berdua.”
Kau benar-benar keterlaluan Jungkook. Bagaimana bisa kau mengira aku selingkuh darimu? Apa kau tidak mempercayaiku?.
Saat hendak melayangkan tamparan padanya. Seketika tanganku berhenti melihat wajahnya yang terlihat hancur dengan adanya luka dan darah yang keluar dari keningnya.
Dengan kesal aku turunkan tanganku dan menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Jungkook, kau tahu sendiri aku sangat menyukaimu! Bagaimana bisa kau mengatakan aku selingkuh darimu setelah kau merendahkanku?!.”
Kau sudah keterlaluan Jungkook padahal belum lama kita pacaran dan kau sudah berfikir yang tidak-tidak tentangku.
Jungkook terlihat terkejut dengan suaraku yang terdengar keras.Tak lama kemudian, ekspresinya berubah menjadi khawatir melihatku yang mulai menangis.
“H..Hyerin..”
“Aku mohon padamu, untuk sementara kau jangan muncul di depanku.”
Dengan cepat aku pergi keluar dari area kantin. Rasanya benar-benar menyesakkan mendengar dia bilang aku selingkuh darinya. Bagaimana bisa dia bilang seperti itu? selama ini aku selalu mencintainya.
🌸🌸🌸