Love is You

Love is You
The Memories



Waktu demi waktu terus berjalan, dan kini tak terasa sudah 9 tahun lamanya sejak terjadinya kejadian itu. Dimana aku memutuskan hubungan dengan gadis yang ku cintai.


Sekarang dimana dia? Apa yang dia lakukan? Apa dia baik-baik saja? ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Aku tahu, aku adalah pria yang brengsek yang sudah menyakitinya bertubi-tubi. Apa mungkin ini takdirku? Bahwa aku memang bukan pria yang baik untuknya? Kalau begitu, kenapa aku masih tidak bisa melupakannya? Kenapa aku masih mencintainya sampai sekarang? Lalu kenapa aku selalu merindukannya? Setelah 9 tahun lamanya. Perasaanku terhadapnya tak pernah berubah. Aku masih sangat mencintainya seperti saat pertama kali bertemu dengannya.


“Kau masih menyukainya?.”


Aku terdiam mendengar suara Jihyun. Sekarang dia sedang berdiri di samping ranjangku. Dia baru saja menyiapkan baju kerjaku untuk hari ini. Tapi, aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyannya.


“Apa kau bodoh? kau sudah menikah denganku Jungkook. Kita sudah menikah selama 9 tahun setelah kejadian itu!. Lupakanlah dia! Dan lihatlah aku! Aku adalah istirimu! Dan kau adalah suamiku! Tak bisakah kau mencintaiku?.”


Suaranya yang terdengar frustasi, memuatku semakin tidak peduli dengannya. Selama 9 tahun ini, aku tidak pernah menanggapinya setelah menikahinya. Aku selalu bersikap dingin padanya dan jika bertemu dengan orangtuanya aku selalu memasang topeng bahagiaku.


Perkataan Hyerin benar, kini Orangtuaku sangat bangga setelah aku menikah dengan Jihyun. Perusahaan Orangtuaku sukses, dan sekarang perusahaan itu sedang aku jalani. Walau begitu, aku tak pernah merasa bahagia.


Setelah banyak berfikir, aku segera turun dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi. Tanpa menatap Jihyun.


“Jungkook. Aku bicara denganmu! Kenapa kau tak pernah menanggapiku?!.”


Langkahku berhenti mendengar ucapannya. Aku pun menghembuskan nafasku gusar, lalu menoleh ke belakang untuk menatapnya. Kulihat Jihyun terlihat sangat kesal sekarang. Tapi aku tetap menatapnya dingin dan datar.


“Kau yang menginginkan pernikahan ini, bukan aku. Kita memang sudah menikah, kau memilikiku tapi kau tak akan pernah memiliki hatiku. Selama 9 tahun ini kau sudah menjadi istirku, tapi aku tak pernah menanggapimu sebagai istriku. Kenapa? Karena aku membencimu. Sekarang apa kau puas?.”


Jihyun terlihat tambah kesal padaku. Tapi aku tetap diam tak bergeming. Setelah itu, aku segera pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku.


TRUSHHH!


Suara air yang mengalir ke tubuhku membuatku kembali termenung. Aku selalu saja termenung saat sedang mandi. Mengingatkanku saat moment bahagia bersama Hyerin, dan itu selalu membuat hatiku tergores bila mengingatnya. Kenapa ini begitu menyakitkan? Kenapa rasa sakit ini terus ada padaku?.


“Hyerin.. kau di mana?.”


🌸🌸🌸


“Sekian, terimakasih atas rapatnya hari ini.”


Aku tersenyum pada setiap presdir yang datang di rapat ini. Seperti biasa, Jimin selalu hebat saat dia bekerja. Rasa kagumku sejak dulu tak pernah berubah. Setelah semua orang telah pergi dari ruang rapat. Jimin langsung menghembuskan nafasnya lega, dia terlihat begitu lelah hari ini. Kemudian dia menyandarkan badannya ke kursi. Suaranya yang terdengar frustasi dan lelah membuatku hanya bisa tersenyum tipis padanya. Memang menjadi seorang CEO sangatlah sulit. Tidak ada waktu untuk berlibur. Setiap hari selalu saja ada pekerjaan yang harus di selesaikan.


“Lelah pak?.”


Mendengar suaraku dia hanya menatapku sekilas sambil tersenyum kecil.


“Sangat, hei, apakah masih ada tugas yang harus di selesaikan lagi?.”


Mendengar pertanyaannya. Aku langsung membuka buku jadwalnya.


“Kita masih punya 7 tugas lagi yang harus di selesaikan, pak.”


“Ahh yang benar saja..”


Untung aku bukan CEO nya. Mungkin kalau aku, bisa saja pingsan.


Setelah itu di menatap jam tangannya sekilas. Lalu berdiri dari kursinya sambil menatapku.


“Hyerin, ayo kita makan siang dulu.”


“… Baiklah.”


Aku dan Jimin langsung pergi ke tempat kantin yang ada di perusahaan ini. Kantin yang ada di perusahaan ini, memiliki makanan yang sangat enak.


Hanya saja, yang paling aku tidak suka di sini adalah para pegawainya, mereka selalu berteriak kencang seperti orang gila ketika Jimin datang. Aku tidak mengerti, padahal dia bukan artis.


Karena hal itu, kami selalu makan siang di luar, tidak pernah di kantin. Tapi, sepertinya Jimin sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi.


“Ahh.. akhirnya kita bisa makan.”


Kita baru saja mengambil menu makan siang. Kemudian kami pun duduk di meja yang kosong.


“Apa… tidak apa-apa, anda makan di sini pak?.”


“Tidak apa-apa. Lagi pula makanan di kantin kita sangat enak. Rugi jika aku tidak mencobanya.”


“Baiklah...”


Aku pun mengambil sesendok air sup dan langsung meminumnya. Mataku membulat merasakan rasa yang sangat enak di sup ini. Seperti yang di katakan banyak orang makanan di sini sangatlah enak.


“Permisi..”


Aku dan Jimin langsung menghentikan kegiatan makan kami saat mendengar suara seorang wanita yang kukenal.


Ahhh.. ternyata wanita itu adalah Yuni. Dia sedang berdiri di sampingku sambil tersenyum. Tak lupa dia juga membawa makan siang di tangannya.


“Apa aku boleh bergabung dengan kalian?.”


“Ahh.. apa kau temannya Hyerin?.” Ucap Jimin santai.


“Y-ya! benar. Aku adalah teman kerjanya Hyerin. Namaku Kim Yuni! Aku bekerja di bagian Administrasi pak!.”


Jimin hanya tersenyum lalu mengangguk ngangguk pada Yuni.


“Baiklah, silahkan Yuni. Kau bisa bergabung dengan kami.”


“Te-terimakasih!.”


Hahh? sejak kapan Yuni gugup seperti ini? biasanya dia selalu acuh terhadap seorang pria.


“Hyerin? Kau makan di sini? Tumben sekali!.”


Aku terkejut mendengar suara Woobin yang tiba-tiba datang. Melihatnya saja membuatku curiga. Apa yang dikatakan Jimin benar? Bahwa dia itu menyukaiku? Ohh tidak, aku lupa kalau di sini ada Jimin. Apa Jimin akan marah padanya?


“Ohh.. Ada CEO di sini. Selamat siang, namaku Kim Woobin, aku temannya Hyerin pak.”


“Ahh begitukah?.”


Ohh ya tuhan, suasana dingin apa ini? sudah lama aku tidak melihat Jimin marah seperti ini. Jangan sampai dia merusak suasana makan siangnya.


“A-apa aku boleh bergabung dengan kalian?.”


“Ahh tentu saja! Silahkan duduk.”


Yuni?! Apa kau tidak lihat situasinya? Jimin tidak menyukai Woobin!


Tapi setelah mendengar Yuni menerima permintaannya. Woobin tanpa berfikir panjang langsung duduk berseberangan denganku. Dia terlihat sangat senang sekali, dan tersenyum padaku. Aku yang merasa sedikit risih, hanya bisa tersenyum kecil padanya.


“Hai Hyerin, sudah lama kau tidak makan di kantin. Selama ini, kau makan siang dimana?”


“Ahh.. a-aku..”


“Dia selalu makan siang denganku, sepertinya anda tidak mengetahuinya, bahwa kami selalu bersama.”


Jimin? Apa itu kau? Kesannya seolah-olah aku ini adalah miliknya.


Woobin yang mendengarnya sedikit terkejut, kemudian dia kembali tersenyum dan mengangguk.


“Ahh begitukah? Kalau begitu, nikmati makan siang kalian.”


Ya tuhan… kenapa rasa-rasanya aku ingin pergi dari sini. Tapi dari pada memikirkan itu, lebih baik aku mengobrol saja dengan Yuni.


“Yuni, bagaimana dengan hari ini? apa kau harus lembur lagi?.”


“Ahh.. yahh seperti itulah.. tapi karena aku selalu lembur. Pekerjaanku akhir-akhir ini mulai ringan.”


“Ahhh benarkah? Syukurlah! Kalau begitu, bagaimana jika setelah pulang kerja. Kita pergi main untuk meringankan pikiran kita?.”


"Kau benar! Kurasa itu adalah ide yang bagus!.”


“A-apa? pergi? Hyerin, bukankah kau bilang jika jadwalmu selesai kau akan pergi makan malam bersamaku?.”


Dasar bodoh! aku lupa tentang itu. Bagaimana sekarang? Aku bahkan sudah terlanjur mengajak Yuni. Mana mungkin aku tiba-tiba membatalkannya. Sejujurnya aku pun tak ingin makan bersama dengannya.


“Maaf Woobin, Hyerin tak bisa makan malam denganmu hari ini. Dia ada janji denganku begitu pun dengan Yuni. Jadi, apa kau tidak masalah Hyerin tidak bisa makan malam hari ini denganmu?.”


Nice Jimin! Kau memang bisa mengerti aku!


Sekarang Woobin terlihat kecewa mendengar ucapan Jimin. Sayang sekali, dia pria yang baik, tapi maaf… aku tak bisa menerimamu Kim Woobin.


“Jadi, kita akan pergi bersama CEO?.”


Yuni terlihat sangat terkejut sekarang. Ahh benar ini pertama kalinya Jimin mengajak seorang pegawai. Pasti dia sangat terkejut.


“Ya, kita akan pergi bersama. Apa kau tak keberatan nona Yuni?.” Ucap Jimin dengan senyuman manisnya yang mampu membuat Yuni luluh.


“Te-tentu tidak pak! Aku senang sekali bisa pergi bersama dengan anda!.”


Baiklah… terserah kau Jimin. Aku cukup tersenyum melihat kebodohanmu, padahal aku tahu. Kau pasti sangat kelelahan.


🌸🌸🌸


Kami pergi makan malam bersama di tempat Berbeque. Sudah lama juga aku tidak makan di sini. Untunglah Jimin mengajakku ke tempat ini.


“Kudengar.. kalian adalah sahabat sejak kecil. Apakah itu benar?.”


Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Yuni. Ku tatap Jimin yang ikut terkejut juga bersamaku.


“Y-yahh itu benar, kami memang sahabat sejak kecil.” Mendengar itu, Yuni langsung terkejut senang.


“Wahh benarkah?! Itu luar biasa! temanku adalah seorang sahabat dari CEO Park Jimin!.”


“Hahahaha tidak bisa saja..” Kataku sambil meneguk air minum.


“Kalau begitu, pak Jimin. Apa anda pernah merasakan rasa suka pada Hyerin atau sebaliknya?.”


Hampir saja aku tersedak mendengar pertanyaannya. Dengan cepat aku melotot terkejut mendengarnya. Dia bilang apa? Rasa suka? Pada Jimin? Ku lihat Jimin juga ikut menatap terkejut.


“Kami bukanlah sahabat yang seperti itu. Kami hanya menyayangi satu sama lain, seperti keluarga. Aku memandangnya seperti adikku sendiri.” Langsung ku anggukkan kepala cepat.


“Ya itu benar!. Aku juga menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Kami tidak pernah merasakan hal seperti itu.”


“Kalau begitu, kalian sudah tahu sifat masing-masing bukan? Hyerin, menurutmu pak Jimin seperti apa di matamu?.”


Yuni? kau ini kenapa? Kenapa kau terus menanyakan hal seperti itu? Tapi baiklah, akan ku jawab pertanyaannya. Aku pun tersenyum lalu menatap Jimin sambil berfikir-fikir.


“Jimin ini, adalah pria yang sangat baik. Dia pintar, cerdas, dan pengertian. Dia juga selalu setia terhadap orang yang dia sayangi. Dia terlalu sempurna untuk di bilang pria idaman. Tapi, tenang saja… walau dia sangat sempurna. Aku akan tetap memandangnya seperti sahabatku. Dari pada sahabat, dia lebih pantas disebut seperti keluargaku.”


Jimin tersenyum manis mendengar ucapanku, begitupun aku. Setelah itu dia mengangguk angguk sebagai ucapan terimakasih.


“Itu benar, aku juga bependapat seperti itu. Hyerin adalah wanita cantik yang memiliki hati yang sangat baik. Dia juga sangat pengertian terhadap orang yang dia sayangi. Dan juga, dia adalah wanita yang sangat kuat, dia tak akan pernah menyakiti siapa pun. Dia akan selalu setia pada orang dia sayangi.“


“Wahhh kalian benar-benar so sweet sekali! Baiklah, untuk merayakan persahabatan kalian agar tetap erat. Mari kita makan bersama!.”


“Mari!.”


🌸🌸🌸