
Setelah masalah itu, kami kembali menjalani hubungan kami seperti biasa. pergi kencan, menonton film, pergi ke taman hiburan, atau pun memasak bersama. Yahhh… selama ini tidak ada masalah apa pun yang terjadi.
KRING KRING
“Emmhh..”
Kurenggangkan badanku setelah mendengar suara alarm. Ahhh.. ini lah yang paling aku tidak suka. Padahal tadi aku sedang bermimpi indah. Dasar alarm yang menyebalkan. Tapi, bagaimana pun juga aku harus bangun. Menyiapkan sarapan untuk Jungkook tentunya.
“Baiklah, masak apa kita hari ini?”
Aku sedikit terkejut melihat bahan makanan yang ada di kulkas sudah mulai habis.
“Ya tuhan, kenapa cepat sekali habisnya? Padahal yang tinggal di sini cuman 2 orang. Bagaimana bisa ini terjadi dengan cepat?”
Bahan-bahan yang tersisa hanya cukup untuk membuat kimbap. Baiklah.. setidaknya ada makanan dari pada tidak sama sekali. Aku pun, mulai memasak dan memotong beberapa sayuran. Hingga tak terasa masakanku pun selesai.
Dengan senyum bangga, aku segera pergi ke atas untuk membangunkan bayi besarku. Setelah sampai di depan kamarnya, segera ku buka pintu yang berwarna coklat itu.
“Jungkook! Ayo bangun! Makanannya sudah si…ap..”
Tunggu… kemana dia pergi? Kenapa dia tidak ada di kamarnya? Bahkan kasurnya terlihat sangat rapih, seolah seolah dia tidak tidur semalam. Apa mungkin dia ada di kamar mandi? Dengan ragu aku pergi ke kamar mandi dan mulai mengetuk pintu.
“Jungkook? Apa kau di dalam?”
Tidak ada jawaban, apa mungkin dia juga tidak ada di dalam? Saat mencoba membuka pintunya, ternyata dugaanku benar. Dia tidak ada.
“Dia sebarnya ada dimana? Kenapa dia pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Aku harus segera menghubunginya.”
Dengan cepat aku langsung turun ke bawah untuk mengambil Hpku di kamar. Namun saat aku tiba di bawah, langkahku terhenti melihat Jungkook yang baru datang dengan wajah paniknya. Setelah itu, dia langsung menatapku dengan khawatir. Lalu dia pergi menghampiriku dengan nafasnya yang terdengar terengah-engah.
Ada apa ini? kenapa aku merasakan firasat yang buruk?
“Jungkook, kau dari mana? Kenapa kau tidak memberitahu dulu jika kau ingin per..gi..”
Tiba-tiba Jungkook memelukku dengan sangat erat dan membuatku sedikit terkejut karenanya. Bahkan aku bisa merasakan detak jantungnya yang terasa sangat cepat. Sebenarnya ada apa ini?
“Hey, ada apa? Apa ada masalah? Coba ceritakan padaku.”
“Hyerin.”
“…Ya?”
“Apa kau percaya padaku? Bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu?”
DEG!
Entah kenapa perkataan Jungkook langsung membuatku ketakutan. Apa yang terjadi sebenarnya?
Dengan pura-pura tenang, aku mencoba tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan menatap matanya.
“Kau ini kenapa? Tentu saja aku mempercayaimu.”
“Hhhh syukurlah…”
Mendengar jawabanku, Jungkook terlihat lebih tenang sekarang. Aku pun hanya tersenyum dan mengelus punggungnya lembut agar dia bisa tenang.
“Baiklah, coba ceritakan. Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa memberitahuku? Kau tahu? Aku sangat panik setelah melihatmu tidak ada di kamar.”
“Aku mendadak ada urusan penting dan tidak bisa memberitahumu. Karena saat itu, kau sedang tidur nyenyak. Jadi, aku tidak ingin menganggu tidurmu. Tapi, tenang saja. Sekarang semuanya baik-baik saja.”
Tunggu… kenapa dia tidak bicara jujur? Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? Ahh tidak, lebih baik lupakan saja. Aku takut stress setelah mendengar masalahnya.
“Baiklah, sekarang kau ganti baju, mandi lalu sarapan. Nanti makanannya cepat dingin.”
Jungkook tersenyum padaku sambil mengangguk. Lalu dia pergi berlalu ke kamarnya.
🌸🌸🌸
Sekarang aku, Hana, dan Jimin sedang pergi bersama menuju kelas. Kami baru saja makan bersama di kantin. Jungkook? Dia pergi dengan anak basketnya. Selama kami berjalan, kami terus mengobrol tentang hal-hal kecil dengan sedikit candaan. Hingga obrolan kami berhenti saat Minju tiba-tiba datang dan berdiri di depanku.
Aku terdiam menatapnya datar. Tumben sekali anak ini datang menghampiriku duluan? Ada apa? Tapi melihat sorotan matanya yang terlihat serius. Membuatku bingung padanya. Sebenarnya anak ini mau apa? Kenapa dia menatapku seperti itu?
“Hey Minju, Kau pikir ini sekolahmu? Menyingkirlah! Jangan menghalangi jalan kami.” Ucap Hana dengan sedikit menatap sinis.
“Hyerin!”
Mataku membulat terkejut mendengar dia berteriak memanggil namaku, padahal sudah jelas aku sedang berdiri di depanya. Kenapa dia harus teriak segala?
“A-apa?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Saat itu juga Minju langsung menarik tanganku. Namun Jimin dengan sigap langsung menahanku lalu menatap Minju tajam.
“Apa yang kau lakukan?”
Kini Jimin yang angkat bicara. Aishh.. jangan sampai ada perkelahian lagi.
“Berhentilah mengganggu Hye-“
“Diam kau kunyuk! Aku tidak bicara padamu.”
“A-apa kau bilang?!”
Saat Jimin hendak menarik kerah Minju, aku langsung menahannya.
“Jimin, aku tidak apa-apa. Kau tenang saja.”
Aku tersenyum padanya. Memastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah itu aku kembali menatap Minju untuk meminta penjelasannya.
“Ada yang ingin kukatakan padamu, tapi tidak di sini. Kita harus bicara berdua.”
Setelah dia mengatakan itu, Minju langsung pergi mendahuluiku. Melihat itu, aku pun mengikutinya dari belakang. Sebenarnya dia mau berbicara apa padaku? Kenapa dia meminta untuk berbicara di luar? Kenapa tidak langsung saja? Tumben sekali?
Aku pun mengikuti Minju hingga kami berhenti di sebuah taman yang terlihat sangat sepi. Melihat tampat ini kosong membuatku curiga padanya. Apa dia yang menyuruh anak-anak untuk mengosongkan tempat ini? Jika iya, aku akan memukul kepalanya.
“Baiklah, apa yang ingin kau katakan padaku? Tumben sekali, kau ingin berbicara berdua denganku di taman? Kenapa tidak di aula sepeti biasanya?”
“Jungkook akan menikah.”
DEG!
Kalimat itu seperti sebuah pisau tajam yang mengenai tepat pada jantungku. Rasanya sakit sekali mendengar kalimat itu. Kegelisahan dan ketakutanku mulai menyelimuti. Rasa-rasanya aku ingin menangis sekarang. Ahh ayolah, berfikir positif. Jungkook tidak akan menikah dengan Jihyun. Dia sendiri yang bilang padaku. Iya kan? Jungkook tidak akan….menikah kan?
“Apa maksudmu? Apa kau sedang bercanda?”
“Yang kukatakan kali ini benar-benar serius. Kau tahu sendiri, aku selalu mempermainkanmu. Tapi kali ini tidak. Aku benar-benar serius mengatakannya.”
Jantungku mulai bergetar cepat, rasa sakit yang menjalar di tubuhku mulai terasa kembali. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin!.
“A-apa buktimu, jika Jungkook benar-benar akan menikah dengan Jihyun. Kau tahu dari mana?”
Minju terlihat menahan emosi. Kemudian dia mengambil Hp dari sakunya, lalu mengarahkannya padaku. Yang kulihat hanyalah sebuah tombol merah di sana. Aku pun mencoba untuk menekannya dengan tangan yang bergetar.
“Apa kau bilang?”
“Aku akan menikah dengan Jungkook akhir bulan ini. Setelah makan malam tadi, orangtuaku dan orangtua Jungkook sudah menentukan tanggal pernikahannnya.”
DEG!
Badanku langsung terasa sangat lemas, dan aku sudah tidak bisa membendung air mata lagi. Rasanya benar-benar sakit mendengar suara Jihyun mengatakan kalau mereka akan segera menikah. Dadaku terasa sangat sakit!.
“Hyerin.. kau tidak apa-apa?”
Suara Minju terdengar sangat khawatir. Tapi aku tidak mempedulikannya. Ini terlalu tiba-tiba.
“Aaa…ahh..hiks…s..sakit…hiks…benar-benar sakit…”
Jungkook… jadi, semalam yang kau maksud ada urusan penting itu, adalah makan malam bersama keluarga Jihyun? Kenapa kau berbohong padaku? Kenapa kau mengkhianatiku? Padahal aku sangat percaya padamu, dan sangat bergantung padamu. Tapi kenapa? Hiks… kenapa kau menghancurkannya? Kenapa Jungkook kenapa?!
“H-Hyerin..”
Minju langsung memeluk dan membuatku mau tak mau hanya bisa diam menangis di dadanya.
“A..ah tidak tidak… hiks… Jungkook tidak akan menikah…..hiks..hiks… Jungkook tidak akan menikahhhhh hiks… tolong katakan, ini semua bohong tolong katakan… hiks… dia yang mengatakan akan terus bersamaku dan selalu ada di sampingku. Dia yang selalu bilang padaku bahwa semua akan baik-baik saja…. hiks… aku mohon… katakan ini semua bohong…aaaahh ahh hiks… tolong katakan Minju… aku sangat mencintainya…”
Minju tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengelus pungguku dan semakin memelukku erat.
“Maaf.. sudah membuatmu sakit seperti ini. Aku hanya tidak ingin kau merasakan sakit yang lebih dalam lagi jika kau melihat mereka menikah.”
“TIDAK!!”
Aku langsung mendorong tubuh Minju dengan keras dan menatapnya dengan tajam. Wajahnya terlihat terkejut dengan kelakuanku yang tiba-tiba berteriak padanya.
Dengan cepat, aku berlari pergi mencarinya untuk mengetahui kebenarannya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan wajahku yang sudah berantakan dengan air mata ini. Tapi, semakin lama aku terus memikirkan tentang pernikahan itu. Itu membuat jantungku bertambah sakit. Air mataku tidak pernah berhenti mengalir selama pergi mencarinya.
“Hahaha..! iya, aku tahu kita adalah team yang hebat!”
Suara itu…
Aku langsung menoleh ke samping melihat Jungkook dengan teman-teman basketnya sedang berjalan ke arah kantin. Melihat wajahnya yang terlihat ceria membuatku tambah terasa sakit. Kenapa dia terlihat bahagia setelah membohongiku? Apa dia Jungkook yang selama ini ku kenal?
Dengan cepat aku pun berjalan ke arahnya dan berhanti beridiri tepat di depanya. Dengan jantung yang terus berdetak kencang dan air mata yang terus mengalir. Aku menatap tajam padanya. Jungkook yang menyadari kedatanganku langsung terkejut. Dengan cepat dia menghampiriku lalu memegang kedua bahu dan menatapku dengan tatapannya yang sangat cemas.
“Hyerin! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis? Katakan siapa yang membuatmu menangis?”
Kau… kaulah yang membuatku menangis dan sakit seperti ini bodoh!
“Apa kau.. akan menikah?”
DEG!
Jungkook langsung terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaanku, badannya terlihat kaku dan menegang, yang awalanya dia memegang pipiku, perlahan tiba-tiba dia melepaskan pegangannya. Melihat kelakuannya yang terlihat terkejut membuatku yakin bahwa yang di katakan Minju benar, dia akan menikah dengan Jihyun.
Aku pejamkan mataku untuk sesaat karena tidak kuat melihat kenyataan ini. Terlihat sangat jelas dengan raut wajahnya yang mengatakan ‘iya’ atas jawabanku.
“Tolong katakan padaku, bahwa yang aku dengar salah! Kau, Jungkook! tidak akan menikah dengan Jihyun! Katakan!”
“Hyerin, dengarkan penjalasanku... aku tidak bermaksud untuk menyakitimu aku..”
PLAK!
Hatiku benar-benar terasa di tusuk benda tajam mendengar jawabannya. Karena muak! Aku pun langsung menamparnya dengan sangat keras. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Dia tidak mengatakan tidak akan menikah atau kalau aku salah mendengarnya. Dia hanya bilang tolong dengarkan penjelasannya. Apa itu berarti dia mengakuinya? Bahwa dia akan menikah?!
Aku yakin mataku sudah merah padam sekarang dengan air mata yang terus mengalir. Tapi, aku tak pernah berhenti terus menatapnya tajam. Jujur saja, rasa sakit yang kini kurasakan lebih menyakitkan dari pada di tinggal Ibu, Ayah dan Kakak. Aku.. yang telah mempercayainya sejak awal, dan mencintainya sejak awal. Tak kusangka dia mengkhianatiku dengan cara yang sangat menyakitkan.
“Kau pria brengsek!!”
Mata Jungkook terlihat terkejut mendengar ucapanku yang mengatakan kata ‘brengsek’ padanya. Dia pun menoleh ke depan menatapku dengan tatapan terkejutnya. Aku hanya tetap menatapnya tajam padanya dengan penuh air mata yang terus mengalir.
“Kau tahu sendiri aku sangat mempercayaimu dan aku sangat mencintaimu! Tapi… kau dengan teganya pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini? kau bilang kau mencintaiku, kau bilang akan selalu ada untukku, kau bilang akan selalu membuatku bahagia. Lalu kemana kenyataan itu semua?!! Kau… hiks… kau benar-benar pria brengsek yang pernah kutemui Jungkook…hiks..”
Tatapannya langsung menyorotkan kesedihan di dalamnya. Dia tidak melihatku dia hanya menatap ke bawah dan hanya mendengarkan apa yang aku katakan, tanpa ada jeda darinya untuk mengatakan bahwa aku salah mengatakan itu. Tapi, kenyataannya dia hanya diam dan tidak menentang bahwa yang aku katakan itu salah. Melihat reaksinya seperti itu. Membuatku sangat kecewa padanya.
“Kau masih ingat? Kau pernah mengatakan saat mengunjungi makam Ibuku. Kau mengatakan bahwa kau akan selalu ada di sampingku! Lalu… kenapa kau mengingkarinya Jungkook?! Kenapa akhirnya seperti ini?! kau meninggalkanku dengan cara yang sangat menyakitkan!”
Aku hanya terus berbicara padanya dan berteriak padanya. Semua orang di kantin hanya diam menatapku dan Jungkook bergantian dengan pandangan kasihan. Yang ingin kudengar sekarang hanyalah. Dia mengatakan kalau aku salah tentang pernikahan itu. Tapi nyatanya dia malah diam tidak menjawabku bahkan tidak berani untuk menatapku.
“Kau yang bilang bahwa semua akan baik-baik saja! lalu sekarang apa?! Kenapa kau megingkarinya?! Hiks… kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan aku sangat mempercayaimu.. tapi kenapa…hiks… kau… membuat kepercayaanku padamu hancur Jungkook… hiks..”
Aku menghampus air mata yang terus saja keluar. Kulihat reaksinya yang hanya diam dan terus menunduk membuatku semakin terasa sakit. Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa?! Kenapa aku terlihat seperti korban di sini? Kenapa dia tidak menangis? Kenapa dia hanya diam?! Kenapa dia tidak membelaku? Kenapa..hiks…
Saat tengah menghapus air mataku. Aku bisa melihat Jihyun yang sedang berdiri di belakang Jungkook dengan raut wajah yang terlihat puas setelah melihatku menderita.
Melihatnya tersenyum, membuatku tersadar betapa menyedihkannya diriku ini. Kenapa aku seperti orang bodoh saja? kenapa aku tidak mati saja?
Kuhembuskan nafas gusar untuk meredakan rasa sesak. Aku pun mulai berjalan mendekati Jungkook dan berhenti di depannya yang hanya berjarak 20 cm saja. Menyadari keberadaanku, dia langsung mendongakkan kepalanya. Raut wajahnya yang terlihat sedih berubah terkejut melihat wajahku yang sudah hancur berantakan karena air mata. Tapi aku malah tersenyum tipis padanya. Walau terasa sakit saat melihat wajahnya.
“Jungkook… pada akhirnya, hubungan kita berakhir di sini. Kau tahu? Kau lah satu-satunya harapan yang ku punya untuk terus bangkit. Tapi, pada akhirnya aku memang hanya sendiri dan tidak layak untuk bahagia. Karena pada akhirnya kau akan pergi meninggalkanku dengan membuat kenangan buruk di hatiku.”
Air mataku mengalir melihat Jungkook tiba-tiba meneteskan air matanya. Dia menangis… dia menangis… hiks.. aku pun menunduk mencoba untuk mengumpulkan tenagaku agar aku kuat untuk mengatakan perpisahan padanya.
“Kau tahu? Aku…hiks.. aku sangatt mencintaimu… tapi, karena ulahmu…kau membuatnya hancur… hiks..” Kujeda sebentar untuk menenangkan diri.
“Jungkook… terimakasih, karena selama ini kau telah memberitahuku seperti apa rasa kasih sayang. Kau merawatku, menjagaku dan terus membuatku bahagia selama ini. Aku benar-benar berterimakasih padamu. Semoga pernikahanmu lancar, dan semoga kau bahagia selalu dengan Jihyun. Ingat, kau jangan pernah menyakitinya seperti kau menyakitiku. Biarkan aku menjadi wanita terakhir yang kau sakiti..”
“..Hiks..Hyerin… “
Air mataku mengalir mendengar dia memanggil namaku. Mungkin itu adalah panggilan terakhir yang ku dengar darinya.. dengan perasaan yang sesak aku terus mencoba untuk tersenyum padanya walau terasa sangat sakit. Melihatnya yang mulai menangis membuatku tambah terasa sakit.
Setelah itu, aku pun segera pergi berjalan melewatinya, dan pergi menghampiri Jihyun yang sedang tersenyum padaku.
“Kalian benar-benar terlalu banyak drama di sini, apa dramanya sudah selesai?”
“Jihyun.. aku ingin meminta maaf padamu karena telah merebut calon suamimu. Aku memang layak di panggil wanita ja**** seperti yang kau katakan.”
“Hah! Baguslah kau menyadarinya.”
Melihat itu, aku hanya tersenyum kecil lalu sedikit menunduk.
“Semoga.. pernikahan kalian lancar…, dan aku harap kau akan selalu membuat Jungkook bahagia.”
“Ohh tentu saja! terimakasih Kim Hyerin~”
Dengan langkah berat aku mencoba pergi dari tempat kantin ini. Selama perjalanan pergi, tanpa tentu arah, aku hanya diam menatap kosong dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Hingga tak sadar aku pergi menuju atap sekolah.
“Aku sudah mengatakannya, aku sudah mengakhirnya.. aku sudah…”
“Jungkook akan menikah.”
“Hiks..”
Tiba-tiba saja ingatan buruk kembali berputar. Ingatan saat aku masih berpacaran dengan Jungkook membuatku kembali menangis dengan deras.
“Sebenarnya, sudah lama aku merencanakan ini. Tapi, maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang.”
“Mau kah kau jadi pacarku?”
“A-aku juga menyukaimu! jadi jangan membuat situasinya canggung!"
“Hiks.. Hiks..”
Pikiranku langsung teringat saat pertama kali Jungkook menembakku untuk menjadi pacarnya, saat itu aku benar-benar bahagia.
“Emm emm emmm, aku tidak bisa membiarkan kalian lewat begitu saja. apa yang terjadi di sini? Apa kalian pacaran?”
“Ya, kita pacaran. Jadi kalau kau apa-apakan Hyerin, mati kau di tanganku.”
Jungkook dulu kau benar-benar marah saat ada orang yang mendekatiku. Kau bahkan berkelahi dengan Minju hanya karena aku belajar bersama dengannya.
“Jungkook.. apa kau berjanji akan terus bersamaku?"
“Kenapa kau bertanya seperti itu? sudah jelas, aku akan terus bersamamu kapan pun itu.”
“Apa kau yakin?"
“Hey.. apa kau meragukanku? Tentu saja aku akan selalu ada di sampingmu.”
“Jungkook.. asal kau tahu, apa pun yang terjadi. Aku akan selalu mencintaimu.”
“Aku juga.. sangatttt mencintaimu..”
Sakit…hiks.. benar-benar sakit.. kenapa aku terus mengingat janji pahit itu?
Kini aku sudah ada di atap sekolah dengan tatapan kosong. Mengingat semua moment itu benar-benar terasa mimpi sekarang. Mengatakan aku mencintaimu begitu mudah saat itu, aku selalu membuat dia sarapan di pagi hari dan juga..
“Dan juga kita selalu menghabiskan waktu bersama… tapi… hiks.. kenapa sekarang berbanding terbalik dengan dulu? Waktu itu, aku sangat bahagia dengannya. Tapi sekarang kenapa begitu menyakitkan? Hiks..”
Aku memegang dadaku yang terasa sangat sakit, dan tubuhku terasa sangat lemas sekarang. Aku pun terduduk lalu memandangi langit yang terlihat mendung membuatku teringat dengan Ibu, Ayah dan Kakak.
“Ibu, Ayah, Kakak…hiks… kenapa hidupku terasa sangat sulit? Kenapa ini terasa sangat menyakitkan? Biarkan aku ikut juga bersama kalian.. jangan tinggalkan aku di sini!”
“Hyerin!”
Aku terkejut mendengar seseorang memanggilku. Ternyata itu adalah Jimin. Dia datang dengan raut wajahnya yang terlihat sangat khawatir padaku. Aku pun, kembali menangis melihatnya yang datang menghampiriku. Setelah itu, dia langsung memelukku erat dan aku pun ikut membalas pelukannya. Ku luapkan semua rasa sakitku sambil menangis keras di dadanya. Sedangkan yang dia lakukan, hanyalah mengelus punggungku dengan lembut.
Ya tuhan.. terimakasih telah memberikanku sahabat seperti Jimin.
“Jimin…hiks.. Jungkook.. dia..dia akan menikah.”
“Iya..aku tahu.”
“Kenapa.. dia pergi Jimin? Kenapa dia meninggalkanku dengan meninggalkan rasa sakit seperti ini? Katakan padaku kenapa?“
“Tenangkan dirimu. Jika dia pergi dan meninggalkanmu. Itu artinya dia bukan pria yang baik untukmu.”
“Jimin.. kau tidak akan meninggalkanku kan? Kau akan selalu bersamaku kan? Kumohon.. jangan tinggalkan aku sendiri.. aku tidak punya siapa siapa lagi kecuali kau dan Yuju.“
“Iya, aku janji tak akan meninggalkanmu.”
Mendengar itu membuatku sedkit tenang sekarang
🌸🌸🌸