
KRING KRING KRING!
Dengan mata yang masih terasa berat aku berusaha untuk terbangun dari tidurku. Aku tidak boleh terus tertidur.
Hah baiklah, aku harus bersiap-siap untuk sekolah dan segera memasak untuk Jung..kook..
“T-tidak! lupakan! Lupakan dia Hyerin!.”
Ya tuhan, bagaimana bisa aku masih mengingat pria itu? Sudahlah.. lebih baik aku mandi sekarang.
Setelah 10 menit kemudian, akhrinya aku sudah siap dengan seragam sekolah. Dengan penuh semangat, aku segera pergi keluar kamar menuju dapur. Baru saja menuruni tanggga. Aku bisa mencium wangi makanan yang terasa enak.
Setelah tiba di dapur. Mataku membulat terkejut melihat ada Ibu dan Ayah Jimin di sana. Mereka sudah pulang?.
“Ahh Ibu, itu terlalu banyak.”
Ucap Jimin merengek setelah Ibunya memberikan setumpuk nasi yang sangat banyak ke piringnya.
“Kenapa? Kau harus makan banyak agar kau tidak sakit.”
“Tapi, aku harus diet. Sebentar lagi aku akan tampil di sekolah.”
Karena Jimin terus merengek. Akhirnya Ayah Jimin yang angkat bicara.
“Jimin, dengarkan apa yang Ibu katakan. Jika kau kurus seperti itu, kau akan terlihat jelek nanti.”
“Sudah-sudah sekarang lebih baik kau bangunkan Hyerin. Dia pasti sangat kelaparan sekarang.”
“Baiklah..”
Perasaan rindu pada keluarga ini membuatku hampir menangis. Sudah lama aku tidak merasakan suasana hangat seperti ini. Aku benar-benar merindukan kalian.
“Hyerin? Kau sudah bangun?.”
Saat Jimin bertanya padaku. Aku langsung menghapuskan air mata yang hampir jatuh ke pipiku. Dengan cepat aku langsung berlari lalu memeluk Ibu dan Ayah Jimin dengan sangat erat! Aku benar-benar merindukan mereka!.
“Ibu! Ayah! Aku rindu sekali pada kalian! Kapan kalian pulang?.”
“Uhhh ya tuhan, anak Ibu ternyata rindu sekali pada Ibu. Kemarin malam Ibu dan Ayah baru pulang. Ibu tidak memberitahumu agar menjadi kejutan nantinya.”
“Ya tuhan, Hyerinku semakin cantik sekarang.”
Ucap Ayah sambil mengelus rambutku lembut. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum lebar padanya.
“Ayah juga semakin tampan.”
“Kalau aku?.”
Tiba-tiba Jimin datang dan berdiri di depanku dengan tatapan yang berharap. Melihat itu, aku hanya mengernyitkan kening.
“Kau? Kau terlihat sangat kurus Jimin.”
“Apa?.”
“Tuhh.. Hyerin juga bilang apa. Kau itu terlihat kurus Jimin. Jadi makan yang banyak sekarang.”
Aku tersenyum lebar setelah berhasil membuat Jimin cemberut.
“Aishhh.. kalian semua sama saja menyebalkan.”
🌸🌸🌸
Selama perjalanan menuju sekolah, aku tak pernah henti-hentinya terus merasa gugup. Ku coba untuk menghela nafas dalam-dalam agar gugup ini hilang. Tapi nyatanya ini tetap sama saja.
“Hyerin, apa kau baik-baik saja?.”
Melihat aku terus menunduk membuat Jimin khawatir. Aku pun hanya menggelengkan kepala menjawabnya.
“A-aku tidak tahu, aku hanya merasa gugup.”
Jimin tiba-tiba langsung memegang tanganku dengan lembut lalu dia tersenyum.
“Tenangkan dirimu, aku akan selalu bersamamu. Jadi kau tidak perlu merasa gugup lagi.”
“Emm.. terimakasih.”
Hingga tak terasa, akhirnya kami sampai di sekolah. Dengan gugup, aku segera membuka pintu mobilnya. Selama kami berjalan melewati lorong sekolah. Semua murid yang ada di sekitar tak henti hentinya terus menatapku dengan tatapan sinis atau pun kasihan.
“Hyerin.”
“Ya?.”
“Setelah pulang sekolah nanti, apa kau mau menemaniku jalan-jalan?.”
“Apa maksudmu? Apa kau lupa aku ada kerja di Café nya Taehyung.”
“Ahhh ayolah.. sudah lama kita tidak menikmati waktu bersama. Aku juga ingin membantumu agar kau melupakannya.”
Aku sedikit terkejut mendengar dia ingin membantuku untuk melupakan Jungkook. Melihat dia terus tersenyum manis padaku, rasanya sengat gemas ingin mencubit pipinya.
“Uuuuu… Kau benar-benar sangat baik!.”
“Hehehe…”
Tak lama kemudian, kami sampai di kelas. Setelah masuk ke dalam, aku bisa melihat semua murid yang sudah hadir di sini. Termasuk Jungkook, dia sedang duduk di kursinya sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa kutebak. Melihat itu langsung aku menghindari tatapannya dan segera pergi menuju kursiku.
“Ohh Hyerin!.”
Hana dengan semangat langsung menarikku untuk segera duduk. Aku hanya bisa tersenyum kaku padanya. Karena aku merasa tak nyaman setelah duduk di bangkuku. Kenapa? Karena bangku Jungkook tepat berada di sebelahku!. Bagaimana bisa aku tenang?!.
“Apa kau sudah baikkan? Maafkan aku tidak bisa menjengukmu kemarin. Aku benar-benar sibuk.” Melihat itu aku hanya menggelengkan kepala.
“Tidak apa-apa.”
“Heh Taehyung.”
Suara Jimin membuatku menoleh menatapnya.
“Apa?.”
“Biarkan Hyerin untuk cuti kerja hari ini saja.”
Heh? dia masih bersikeras agar aku bisa menemaninya jalan-jalan? Tapi sayang sekali, raut wajah Taehyung berubah kesal mendengar permintaan Jimin.
“Apa kau bosnya? Tentu saja tidak bisa, dia harus kerja.”
“Hei! Apa kau tidak mengerti apa maksudku hah?!.”
Tatapan Jimin seolah-olah menyuruh Taehyung untuk melihat ke belakang. Yang dia maksud adalah aku dan Jungkook. Setelah dia menatapku dan Jungkook bergantian. Dia langsung mengerti apa yang dimaksud Jimin. Dengan hembusan nafas pasrah di pun menjawab.
“Huhh…baiklah… “
“Oke! Hyerin! Kau dengarkan? jangan sampai lupa ok? Taehyung sudah memberikanmu izin untuk cuti.”
Aishhh dasar tukang maksa.
“Baiklah..”
“Apa? Cuti? Memang kalian mau kemana? kenapa kalian tidak mengajakku juga?.”
Hana yang merasa tidak dianggap langsung angkat bicara.
Jimin yang mendengar Hana, langsung menoleh ke belakang dan menatap Hana dengan senyuman hangat.
“Sayang sekali Hana, kau tidak bisa ikut untuk kali ini. Karena kami ingin menghabiskan waktu untuk persahabatan aku dan Hyerin.”
“Aishhh.. menyebalkan.”
Selama mereka terus ribut bicara. Diam-diam aku mengintip Jungkook yang sedang duduk santai sambil memutar-mutar pulpen di tangannya. Setelah itu tiba-tiba Jungkook berdiri dan pergi keluar kelas.
“Uh? Dia mau kemana? padahal bel masuk sebentar lagi.”
🌸🌸🌸
Minji: “Hyerin, apa kau bisa ke UKS sekarang? Aku membutuhkan bantuanmu, sekarang ada banyak murid yang terluka di sini.”
Aku langsung membantingkan Hp ke meja kantin dengan kesal setelah melihat pesan dari Minji. Dia adalah salah satu teman ekskul ku. Masalahnya, aku benar-benar sedang kelaparan sekarang, dan baru saja mau memakan sesendok nasi, aku sudah mendapat pesan yang sangat menyebalkan ini. Kenapa tiba-tiba sekali sih?.
“Aishh kenapa ini harus terjadi padaku?.”
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?.”
Suara Jimin membuatku beralih menatapnya datar.
“Jimin, aku harus pergi ke UKS dulu sekarang. Apa kau bisa menungguku sebentar?.”
Jimin yang mengerti, akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Ok.”
Setelah itu, aku langsung pergi berlari menuju UKS.
Kenapa sih harus di saat jam istirahat? Kenapa tidak saat jam mata pelajaran saja? Jadi aku bisa bebas dari jam pelajaran. Aishhh menyebalkan sekali. Memang siapa yang sakit sih?.
Cukup jauh jarak antara UKS dan kantin hingga membuatku kelelahan setelah berlari. Dengan nafas yang masih tidak bisa di atur, aku pun segera masuk ke dalam ruangan itu.
Setelah masuk, aku di kejutkan dengan banyaknya perawat di sini. Melihat itu, aku langsung terdiam kaku . Kenapa hari ini sangat ramai sekali?.
“Hyerin!.”
Kulihat Minji datang menghampiriku.
“Ada apa ini? kenapa hari ini sangat ramai?.”
“Ada sekumpulan murid yang berkelahi saat jam pelajaran tadi. Mereka terluka cukup parah, dan kami membutuhkanmu untuk memeriksanya. Karena cukup banyak yang terluka di sini.“
“Berkelahi? Apa maksudmu?.”
“Aishh.. sudahlah! Nanti saja kau bertanyanya. Sekarang kau rawat anak yang ada di tirai paling ujung. Dia belum di obati sama sekali.”
“B-baiklah.”
Minji langsung pergi berlari setelah menyuruhku untuk menangani anak yang ada di paling ujung. Ok, sekarang aku harus mengambil kotak P3K yang ada di lemari. Setelah mengambil kotak P3K itu, aku langsung pergi berlari menuju tirai yang Minji maksud.
Saat aku masuk ke dalam tirai itu. Jantungku langsung berdetak kencang setelah melihat siapa yang ada di dalam tirai ini. Perasaan gugup dan takut mulai menyelimutiku. Kenapa harus dia? Kenapa harus dia yang aku tangani?!.
Apa kalian tahu siapa yang sedang berbaring lemah di depanku sekarang? Dia adalah Jungkook! Astaga! Kenapa dunia ini sungguh sempit sekali?! Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?!.
Tapi, setelah melihat kondisinya yang terlihat kacau membuatku tak tega melihatnya. Kening yang berdarah, mata yang terlihat ungu, bibir yang mengeluarkan darah begitu juga hidungnya. Sebenarnya apa yang dia lakukan sampai babak belur begini?.
Tanpa berpikir panjang aku segera duduk di kursi dan mulai mengobati luka-luka yang ada di sekitar wajahnya. Dengan perlahan-lahan aku mencoba untuk membersihkan darahnya terlebih dahulu dan mencoba agar tidak menyakitinya. Selama masa pengobatan Jungkook sama sekali tidak membuka matanya, itulah yang membuatku aman. Setidaknya dia tidak melihatku dan aku bisa mengobatinya dengan nyaman tanpa rasa gelisah.
“Ahh.. ini benar-benar parah.. sebenarnya apa yang dia lakukan? Apa dia mencoba untuk bunuh diri?.”
“Ya, aku mencoba untuk bunuh diri.”
DEG!
Suara Jungkook langsung membuat tanganku berhenti beraktivitas. Apa dia baru saja bicara? Apa aku membangunkannya?
Dengan gugup, perlahan aku mencoba untuk menatapnya. Mataku membulat terkejut, melihat dia sekarang tengah menatapku dengan tatapannya yang sedih. Tatapannya itu, langsung membuatku kembali bergetar takut.
“Aku mencoba untuk bunuh diri, karena telah menyakiti wanita yang sangat kucintai. Aku ini pria yang brengsek. Seharusnya aku mati saja.”
Nafasku terasa sangat sesak sekarang. Mendengar perkatannya langsung membuatku terasa sakit. Aku berusaha untuk mencoba bersikap seperti biasa. Seolah-olah tidak mendengarnya. Aku pun kembali melanjutkan mengobatinya hingga selesai. Tanpa mempedulikan ucapannya.
“Hyerin, maafkan aku. Maaf aku telah menyakitimu dan menjadi pria yang brengsek untukmu. Aku mencoba untuk membatalkan pernikahan itu. Aku mencoba melakukan berbagai macam cara agar bisa membatalkan pernikahan itu. Tapi… aku tidak bisa. Aku tidak tahu harus melakukan apa.”
Suaranya yang terdengar sangat lemah dan berat, membuatku kembali ingin menangis. Tapi aku tetap berusaha bersikap biasa dan terus mengobatinya tanpa menatapnya. Kumohon, berhenti mengatakannya Jungkook.
“Selama ini aku terus memikirkan itu agar aku bisa membatalkan pernikahan itu. Karena itu.. tolong maafkan aku. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Karena aku tidak ingin hubungan kita berakhir.”
Mataku terpejam mendengar ucapannya yang terdengar lirih itu. Rasa-rasanya setiap perkataannya seperti sebuah pisau yang menembus jantungku.
Aku pun terdiam dan menatapnya yang terlihat sangat hancur dengan air mata yang keluar dari matanya. Apa aku tidak salah lihat? Jungkook menangis?.
Melihatnya yang terlihat hancur membuatku ikut terasa hancur dan membuatku ikut ingin menangis melihatnya.
“Aku sangat mencintaimu lebih dari apa pun. Aku ingin kita terus bersama seperti dulu lagi. Aku tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak aku cintai Hyerin. Wanita yang kucintai hanya kau Hyerin.. “
“Jungkook..”
Tatapan matanya yang terlihat kosong, kini mulai menatapku dengan tatapan sedihnya.
“Aku juga mencintaimu. Aku juga merindukan saat kita selalu bersama seperti dulu. Aku benar-benar ingin kita kembali bersama seperti dulu lagi. Tapi, takdir kita berkata lain. Kau bukan takdirku, dan aku bukan takdirmu. Mau tidak mau ini akhirnya Jungkook. Kau harus menikah dengan Jihyun.”
Jungkook kembali menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar perkataanku.
“Tidak..tidak.. ini bukan akhrinya, pasti ada cara. Pasti ada cara agar pernikahan ini batal. Hyerin, ayo kita kabur, bagaimana dengan America?.”
Mendengarnya yang terlihat putus asa, membuatku tersenyum pahit melihatnya.
“Itu terdengar bagus. Kita bisa menghabiskan waktu berdua dan bisa melakukan apa pun yang kita suka bersama. Tapi, bagaimana dengan Ibumu? Bagaimana dengan Ayahmu? Bukankah mereka sedang ada masalah dengan sahamnya? Karena itu mereka menikahkanmu dengan Jihyun. Lalu, bagaimana dengan Kakakku? Dia masih ada di kota besar ini sendirian. Apa kita biarkan saja mereka menderita dan kita bahagia di atasnya?.”
“Aishhh!!!.“
Air mataku menetes melihat dia langsung menunduk frustasi mendengar ucapanku. Aku dan Jungkook pun kembali terdiam dan sibuk memikirkan masalah masing-masing. Kenapa semua ini selalu terjadi padaku? Untuk bisa merasa bahagia sangatlah sulit.
Ahh tidak, aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh membuat pernikahan Jungkook dan Jihyun batal. Jika pernikahan mereka batal. Maka keluarga Jungkook pasti mengalami kesulitan karena keegoisanku. Saham mereka akan menurun dan bangkrut jika Jungkook tidak menikah dengan Jihyun. Iya, ini sudah jalan yang terbaik. Aku memang harus mengakhiri hubunganku dengan Jungkook.
Saat aku tersadar dari lamunanku, aku pun kembali menatap Jungkook yang sedang terdiam menatap serius ke depan. Melihatnya saja sudah membuat hatiku bergetar. Aku mungkin tidak akan melihat dia tersenyum lagi bersamaku. Dia sudah bukan milikku lagi. Sebentar lagi dia sudah menjadi milik Jihyun. Dan aku tak akan lagi mendapat kehangatan bersamanya seperti dulu. Mungkin ini sangat menyakitkan untukku, tapi tidak dengan keluarga Jungkook. Mereka akan bahagia jika Jungkook dan Jihyun sudah menikah nanti.
“Jungkook, mulai sekarang, kau jangan memanggilku atau datang padaku, apa kau mengerti?.”
Jungkook yang terihat terkejut mendengar ucapanku langsung memposisikan badannya duduk tegak dan segikit di condongkan ke arahku.
“Kenapa? Apa maksudmu?!.”
Nafasku mulai terasa sesak lagi saat dia menatap tidak percaya dan kecewa padaku. Aku pun berusaha tersenyum, walau rasanya sangat sulit.
“Kita sudah berakhir di sini. Kau sudah bukan milikku lagi, kau milik Jihyun sekarang. Jadi, kau jangan pernah datang menemuiku lagi atau memanggilku lagi. Apa kau mengerti?.”
Jungkook terus menatapku kecewa. Lalu dia memegang pundakku dan menatap dengan penuh harap, bahwa apa yang aku katakan salah. Aku hanya bisa diam menunduk sambil menangis dalam diam.
“Hey.. Hyerin kita baru saja membicarakan bagaimana agar pernikahan ini batal. Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku harus menjauhimu? dan tidak mendatangimu lagi? apa maksudmu?!.”
“KITA SUDAH BERAKHIR!.”
Aku langsung berteriak padanya dengan perasaanku yang sangat hancur sekarang. Jungkook membulatkan matanya terkejut mendengar ucapanku.
“Kau dan aku sudah berakhir. Kau akan menikah dengan Jihyun, dan itu akhirnya!.”
Aku menatap penuh emosi padanya dengan air mata yang terus mengalir. Jungkook yang terkejut langsung menggelang gelengkan kepalanya dan menatapku penuh harap.
“Hei… kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Hyerin… kumohon..”
“Jungkook! Sudah cukup aku menjadi orang yang egois. Aku tidak ingin keluargamu hancur hanya karena aku. Jika kau tidak menikah, lalu bagaimana dengan keluargamu? Apa kau tidak pernah memikirkan itu? bagaimana jika bangkrut? Apa kau ingin melihat kedua orang tuamu kecewa terhadap keputusanmu? Aku tidak ingin menjadi egois lagi Jungkook. Aku tidak ingin kita hidup bahagia, sedangkan keluaragamu hancur. Aku tidak ingin itu terjadi.”
Jungkook langsung memejamkan matanya setelah menengar ucapanku. Perlahan dia mulai melepaskan pegangannya dari bahuku. Aku yang melihatnya hanya bisa terdiam menahan tangis.
Setelah itu, aku langsung menghapus air mataku dan segera membereskan kembali obat-obat yang tergelatak di meja kecil ke kotak p3k. Setelah selesai, aku segera berdiri dan menatapnya sesaat. Dari tadi, dia hanya terus menunduk terdiam tanpa mengatakan apa pun.
“Setelah pulang sekolah nanti, obati kembali lukamu. Semoga kau cepat sembuh.”
Setelah itu, aku segera pergi keluar dari dari ruang UKS ini. Setelah menutup pintu, tubuhku langsung terasa sangat lemas. Aku pun berjongkok sambil menangis dalam diam menahan rasa sakit yang bertubi-tubi.
Sejujurnya, saat mengatakan kalau hubunganku dengannya sudah berakhir. Benar-benar terasa sangat berat. Aku sangat ingin menangis sekecang-kencangnnya sekarang. Tapi aku tidak bisa membiarkan Jungkook mendengarnya. Aku tidak boleh, membuatnya kembali bergetar. Dia harus menikah demi keluarganya.
“Ya, ini sudah tepat. Aku tidak boleh mundur lagi.”
🌸🌸🌸