
Hari yang selalu kunantikan adalah kembali tinggal bersama dengan Kakak. Bayangkan, terakhir kami bertemu sejak aku masih SMA. Tapi, sekarang aku sudah dewasa dan memiliki pekerjaan tetap. Kupikir setelah bertahun-tahun lamanya mencari Kakak hanyalah ilusi. Syukurlah sekarang aku bisa bertemu lagi dengannya.
Seperti yang dilihat. Dia tumbuh dengan sangat baik, dia juga tambah semakin cantik, lebih cantik dan ekspetasiku. Sebenarnya selama ini dia ada di mana? Apa yang dia lakukan selama dia tinggal di sini? Aku benar-benar ingin mengetahuinya.
Kini hanya ada aku dan Kakak berdua di kamar. Kami sedang tiduran di ranjang sambil saling berhadapan dengan senyuman yang tak pernah lepas.
“Aku masih tidak bisa percaya bisa bertemu lagi denganmu.” Kataku dengan perasaan yang sangat senang.
“Aku juga.”
“Kakak..”
“Hmm?”
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa itu?”
“Sebenarnya, selama kau tinggal di Seoul. Apa yang kau lakukan?”
Setelah aku bertanya. Rawut wajah Kakak berubah sangat terkejut. Matanya membulat lebar menatapku. Kemudian, dia langsung memposisikan dirinya duduk.
Melihatnya yang terkejut, membuatku bingung. Aku pun ikut bangkit dan duduk berhadapan dengannya. Badannya bergetar dan matanya juga terlihat sedikit memerah. Sebenarnya ada apa? Kenapa Kakak terlihat sangat terkejut?
“Kakak? kau kenapa?”
Mendengar panggilanku. Kakak langsung menatapku dengan wajah yang terlihat syok. Ya tuham, apa pertanyaanku, membuat dia tertekan?
Namun tak lama kemudian, matanya mulai berkaca-kaca menatapku.
“Hyerin..”
Melihat itu aku langsung terkejut
“Y..Ya? kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
Bibirnya terlihat gemetar, dan matanya mulai mengeluarkan air matanya. Melihatnya saja itu sudah membuatku sangat khawatir padanya. Sebenarnya ada apa? Kenapa dia terlihat sangat tertekan?
Perlahan dia memejamkan matanya lalu kembali menatapku.
“Ada yang belum aku katakan padamu. Tapi, aku takut kau akan membenciku. Padahal kita baru saja bertemu.”
Apa maksudanya?
“Kenapa? Memang ada apa?”
“Aku… “
Suaranya yang terdengar sangat gemetar, membuatku sangat khawatir padanya. Kenapa dia begitu ketakutan sekarang.
“Aku adalah seorang ja****.”
DEG!
Bagaikan di hantam petir. Hatiku langsung terasa sangat sakit saat itu juga. Ini jauh lebih menyakitkan dari biasanya. Nafasku mulai terasa sesak. Rasa amarahku mulai muncul saat mengingat masa laluku yang begitu kelam. Sendirian, di tinggalkan, dan begitu kesepian. Di balik semua itu, yang Kakak lakukan adalah melakukan pekerjaan kotor?!! Dia bilang sendiri bahwa dia ingin mencari uang untuk pengobatan Ibu. Tapi, dia..
TES!
Kulihat Kakak mulai mengeluarkan air matanya saat melihat reaksiku. Apa dia merasa bersalah? karena itu dia menangis? Perlahan dia juga langsung menundukkan kepalanya tak berani menatapku.
“Maaf… hiks.. maafkan Kakak. Aku benar-benar Kakak yang buruk. Aku ini kotor, dan benar-benar kejam. Maafkan aku hiks…”
Rasa benci, kesal, dan kasihan bercampur aduk menjadi satu. Aku benci dan kesal setelah mengetahui apa yang dia lakukan selama ini. Tapi, aku juga tidak ingin membuat dia lebih menangis lagi karena aku membencinya. Sekarang, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang pasti, aku benar-benar kecewa dengannya.
“Huffttt!!”
Tak terasa, air mataku tiba-tiba jatuh begitu saja mengingat ini begitu menyakitkan. Hatiku terasa lebih sakit setelah mendengar kenyataan ini. Kenapa-kenapa aku harus terus merasakan sakit yang bertubi-tubi?
“Selama ini, aku sendirian. Ayah tidak ada, Ibu tidak ada dan kau pergi meninggalkanku. Aku begitu sangat merindukanmu. Hingga rela pergi ke Seoul untuk mencarimu. Aku hampir menjadi gelandangan jika Jungkook tidak menolongku. Bahkan aku meminta bantuan polisi untuk mencarimu. Lalu aku bekerja menjadi pelayan café, untuk membiayai kehidupanku. Bahkan aku sudah banyak merepotkan keluarga Jimin. Dan selama ini aku terus menunggumu. Dengan harapan bisa bertemu denganmu cepat.”
Air mataku terus mengalir mengingat semua kejadian pahit yang aku rasakan dulu.
“Tapi, di balik semua usaha yang aku alami. Kau sedang melakukan pekerjaan yang kotor itu!”
Karena terlanjur kesal, aku pun akhirnya berteriak dan membuat Kakak semakin menunduk. Aku tidak tahu harus marah atau tidak tapi, aku sangat kecewa sekali setelah mengetahuinya. Melihat itu, air mataku tak pernah berhanti mengalir.
“Aku senang, kita bisa bertemu kembali…”
Perlahan, Kakak kembli menatapku.
“Tapi aku benci, setelah mengetahui seperti apa pekerjaanmu selama ini.”
Kakak terlihat sangat terkejut mendengar perkataanku. Jujur saja aku tidak bisa menahan emosiku lagi. Rasanya sangat menyakitkan sekarang. Tapi, tidak mungkin jika kami harus berantem karena ini. Lalu berpisah lagi karena rasa benci. Hari ini baru saja kami bertemu, aku tidak ingin dia pergi lagi dari sisiku.
“Sejujurnya aku kecewa padamu, setelah mengetahui apa yang kau lakukan. Tapi, aku harap untuk sekarang dan selanjutnya, kau tinggalkan pekerjaan kotor itu. Aku mohon, apa kau bisa?”
Kakak akhirnya tersenyum, dia pun mengangguk padaku. Hahhh.. walau menyakitkan aku harus bisa menerimanya. Aku yakin saat itu, posisi Kakak sedang sulit. Maka dari itu, dia memilih jalan yang salah. Untungnya, dulu, aku tidak mengambil jalan yang salah seperti Kakak. Karena Jungkook menyelamatkanku saat itu.
🌸🌸🌸
Hari ini, mungkin akan berbeda dari hari yang biasanya. Karena sebelumnya aku selalu melakukan segela hal sendiri. Tidur, makan, bekerja dan terus melakukan hal itu sendirian. Sampai berfikir aku akan terus melakukan semua hal sendiri sampai akhir nanti. Tapi sekarang aku tidak sendirian lagi. Sekarang ada Kakak yang akan selalu menemaniku.
Tapi, setelah mengetahui tentang apa yang dia kerjakan selama ini. Rasa senangku hancur begitu saja. Jika aku membencinya. Itu artinya aku egois. Jadi aku harus bagaimana? Aku masih belum terbiasa dengan situasi ini. Apa lagi saat mengingat tadi pagi, itu membuatku merasa sangat canggung. Kami benar-benar diam dan tidak mengatakan apa pun.
“Huhh… apa aku perlu waktu?”
"Apa yang kau pikirkan?”
Seketika aku tersadar dari lamunanku saat mendengar suara Jimin. Ku lihat Jimin hanya diam di meja kerjanya sambil menatapku. Hahh astaga, bagaimana bisa aku lupa. Kalau sekarang aku sedang melaporkan tugas-tugas para pegawai pada Jimin. Aku benar-benar sudah kehilangan konsentrasi.
“Maaf, mari kita lanjutkan.”
Ku coba melihat kembali data-data yang ada dalam tablet. Tapi aku bisa merasakan Jimin sedang menggelengkan kepalanya melihat sikapku.
“Tidak apa-apa?”
“Emm.” Jimin menganggukkan kepalanya padaku.
Hahh aku sudah mengacaukan semuanya. Tapi kurasa, lebih aku istirahat saja dulu.
Setelah keluar dari knator. Aku langsung menghela nafas gusar.
“Huhhhh… bagaimana bisa aku melamun saat bekerja? Bagaimana jika gajiku turun? Asihhh!”
Baiklah mungkin secangkir coffe bisa membuatku lebih tenang. Sebuah tempat yang dulu sering kukunjungi langsung terbesit di kepala. Senyumku mengembang mengingat itu. Langsung saja aku pergi keluar perusahaan menuju Café yang tidak terlalu jauh dari sini.
Setelah pergi menaiki bus. Akhirnya aku sampai di tempat Café Sam. Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam. Seorang pria yang sedang sibuk di tempat kasir, membuat senyumku mengembang melihatnya.
“1 Coffe hangat untukku, Taehyung.”
Saat kupanggil namanya, dia langsung mendongakkan wajahnya ke dapan dan ekspresi wajahnya langsung berubah terkejut melihatku. Senyuman lebar khas miliknya terpampang di wajahnya sekarang.
“Hyerin!”
Aku sedikit tertawa kecil melihatnya yang terlihat sangat bahagia.
“Ya, ini aku. Maaf aku tidak datang lagi ke tempatmu beberapa minggu ini. Aku benar-benar sibuk saat bekerja. Jimin tidak melepaskanku untuk bebas mengunjungi Café mu lagi.”
Taehyung hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Tidak apa-apa.. aku mengerti. Kalau begitu, kau tunggu sebentar. Akan aku siapkan 1 Coffe panas untukmu.”
“Baik.”
Setelah melihat dia pergi masuk ke dalam. Aku pun segera berputar ke belakang menuju tempat duduk. Namun, saat aku berbalik. Aku dikejutkan dengan sebuah dada bidang yang dibaluti jas berwarna hitam di depan mataku.
Perlahan-lahan aku menatap ke atas untuk melihat siapa pria yang ada di depanku sekarang. Setelah melihatnya, mataku membulat terkejut. Ternyata dia Jungkook! Dia tengah diam menatapku begitu pun aku.
🌸🌸🌸
Demi apa, aku tidak menyangka sekarang aku sedang duduk bersebrangan dengan Jungkook. Kalian tahu? Ini sudah hampir 10 menit dia diam menatapku dengan tatapan yang terus membuat jantung berdebar-debar. Aishh kenapa diam saja? apa aku yang membuka topik duluan?
“Jungkook.”
“Ya?”
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa itu?”
“Dimana kau menemukan Kak Hyejin saat pertama kali melihatnya?”
Wajah Jungkook terlihat terkejut mendengar pertanyaanku. Namun tak lama kemudian dia pun menjawab.
“Di Bar Kim Minju.”
Seketika rasa gugup dan takut menyelimutiku. Ini gila, mendengar kata Bar saja, sudah membuatku takut untuk mendengar jawaban yang selanjutnya.
“Lalu, apa kau tentang pekerjaan Kakak?”
“… Ya, dia bekerja dengan cara kotor di sana.”
Aku langsung memejamkan mata dan menunduk setelah mendengar ucapannya. Huhhtt… rasanya ingin sekali aku menangis sekarang. Ternyata yang Kakak katakan kemarin malam benar, dia tidak berbohong padaku.
“Sejujurnya, aku sudah menemukan Kak Hyejin beberapa hari yang lalu.”
Apa? Aku langsung mendongak lalu menunggu ucapan selanjutnya.
“Awalnya aku juga terkejut. Melihat seperti apa pekerjaan Kakakmu selama ini di Seoul. Karena takut salah orang. Aku sempat tidak langsung menyapanya dan menanyakan namanya. Karena aku pikir aku salah lihat. Tapi Minju bilang gadis itu bernama Kim Hyejin dan nama itu benar-benar mirip dengan nama Kakakmu. Bahkan dia sangat mirip denganmu. Karena itu, aku bisa tebak dia memang Kakakmu Hyerin.”
Rasa sakit dan kecewa menyelimutiku saat mendengarnya. Tapi aku mencoba untuk terus untuk menahannya.
“Saat aku bertemu dengannya. Dia terkejut setelah mengetahui bahwa aku adalah temanmu. Dia langsung menanyakan kabarmu dan memintaku untuk bercerita seperti apa Hyerin sekarang? dan apa saja yang dia lakukan? Mendengar kau baik- baik saja, itu sudah membuatnya terlihat senang. Namun, seketika dia tiba-tiba menangis di depanku.”
Keningku berkerut mendengarnya. Menangis?
“Kenapa dia menangis?”
“Dia menangis karena dia takut, adiknya akan membencinya setelah mengetahui perkejaan apa yang dia lakukan selama ini.”
DEG!
Saat itu juga air mataku jatuh mendengarnya. Benarkah Kakak menangis? Apa dia merasa takut jika aku mengetahui seperti apa dirinya?
“Karena itu dia memintaku untuk tidak memberitahumu bahwa aku menemukannya. Dia berusaha untuk tidak menemuimu karena takut kau akan membencinya.”
Hatiku hancur dan aku kembali menangis merasakan rasa sakit ini. Aku menunduk dan terus menunduk sambil menutup wajah yang sudah hancur di guyuri air mata.
“Kau tahu?”
“Aku benar-benar sangat kecewa mendengar Kakak bekerja di tempat yang mengerikan itu. Rasanya sangat menyakitkan kalau dia bukanlah Kakak yang dulu ku kenal.” Aku menjeda sebentar sambil menghapus air mata.
“Tapi, kurasa posisi Kakak saat itu, sangatlah sulit. Karena itu dia mengambil jalan yang salah.” Ucapku sambil terus menghapus air mata.
“Jungkook.”
Aku dongakkan kepala untuk menatapnya, dan tersenyum padanya.
“Jika saja, saat itu kau tidak menolongku. Mungkin, aku akan melakukan hal yang sama seperti Kakak.” Ucapanku membuat Jungkook sedikit terkejut.
“Terimakasih, kau telah menolongku waktu itu.”
🌸🌸🌸