Love is You

Love is You
Lelah



Selama perjalanan menuju rumah Jungkook, aku tak henti hentinya menahan kesal setelah melihat apa yang di lakukan Jungkook pada Hyerin. Aku tahu, Jungkook pasti pada akhirnya akan menikah dengan Jihyun, tapi melihat Jungkook yang begitu peduli dengan Hyerin dan mereka saling mencintai. Membuatku percaya bahwa Jungkook tidak akan melakukan pernikahan itu.


Tapi sekarang, apa ini?! dia bahkan tidak memberitahu Hyerin terlebih dahulu mengenai pernikahannya dengan Jihyun. Dasar pria sialan!! Jika memang seperti itu jadinya. Aku benar-benar tidak akan mengampuninya!!!


Setelah tiba di rumah Jungkook, aku langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan cukup keras. Kemudian, aku segera pergi masuk ke dalam rumah Jungkook.


Sebenarnya aku ingin sekali memukulnya, menonjoknya dan membuat dia menderita karena telah menyakiti Hyerinku. Tapi, Hyerin tidak ingin aku melakukannya. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Kenapa dia masih tidak rela melihat Jungkook hancur? Padahal dia sudah di sakiti berkeping keeping olehnya.


Saat aku memasuki rumahnya, langkahku terhenti melihat Jungkook yang tengah berdiri di ruang tamu dengan tampangnya yang terlihat hancur. Mataku langsung menatap tajam padanya. Apa ini? apa dia sedang depresi sekarang?


Saat hendak pergi menghampirinya, langkahku menyadarkannya dan dia langsung menatapku terkejut.


“Jimin.. apa yang kau lakukan di sini? Di mana Hyerin?”


Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaannya. Seolah-olah tidak ada orang di rumah ini. Aku langsung pergi ke kamar Hyerin untuk mengambil barang-barangnya.


Saat membuka pintu kamar Hyerin. Hatiku terasa sakit melihat kamarnya yang begitu rapih dan bersih. Wangi ini adalah wanginya Hyerin. Sudah lama aku tidak datang ke kamarnya seperti ini. Aku pun segera mengambil koper yang ada di dekat lemari baju lalu segera membereskan semua barang-barangnya dengan sangat rapih.


Aku tahu, Jungkook pasti sedang berdiri di depan pintu kamar Hyerin dengan tampang sedihnya itu. Beruntungnya kau, aku masih bisa menahan emosiku sampai di sini.


Setelah selesai membereskan barang-barang Hyerin aku segera pergi keluar kamar dan melewati Jungkook yang sedang berdiri di sana. Namun tiba-tiba aku merasakan Jungkook menahan tanganku.


“Jimin, Tolong sampaikan padanya, aku benar-benar minta maaf atas semua kejadian ini.”


S…SIALAN!


Dengan cepat aku langsung menoleh ke belakang dan langsung menarik kerahnya dengan kasar. Mataku menatap tajam ke arahnya dengan penuh emosi hingga berwarna merah. Jungkook yang melihatku hanya bisa diam dengan tampang sedihnya itu. Dasar bang**t!


“AKU BENAR-BENAR MUAK DENGANMU BA****AN!”


“Kau telah membuat Hyerin kembali merasakan sakit yang selama ini dia pendam!”


“Dan kau bilang apa? Minta maaf? APA KAU MAU MATI HAH?!”


“Dia sangat mencintaimu dan kau membuat dia hancur dengan adanya pernikahan kau dengan Jihyun!”


“AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU DAN SANGAT INGIN MEMBUATMU MATI SEKARANG JUGA!”


“Tapi, Hyerin tidak ingin kau hancur ditanganku, dan aku terpaksa akan hal itu. Lihatlah! Walau kau sudah menyakitinya bertubi-tubi, dia tetap menyayangimu breng***!!”


“Tapi apa yang telah kau lakukan padanya?! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA SAHABATKU HAH?!”


Keinginanku yang ingin sekali menonjoknya. Aku luapkan dengan kata-kata yang selama ini ku pendam. Tanganku terus bergetar menahan emosi yang semakin lama semakin naik melihat ekspresi Jungkook yang terlihat begitu sedih. Dia ini kenapa? Apa dia pura-pura sedih sekarang? Kenapa dia terlihat sangat sedih setelah dia menyakiti Hyerin?


Setelah puas, aku langsung mendorongnya keras dan kembali terdiam menunduk.


Kenapa Hyerin? Kenapa kau harus mengalami hal menyakitkan seperti ini? apa salahnya? Padahal dia adalah wanita yang sangat baik.


“Jimin..”


“Jungkook.”


Aku langsung menjeda ucapan Jungkook, lalu menatapnya tajam.


“Aku mohon, jangan pernah datang lagi di kehidupan Hyerin. Dia adalah gadis yang baik, aku tidak ingin dia di sakiti oleh orang yang brengsek sepertimu lagi.”


Setelah puas melampiaskan semua emosiku. Aku pun menarik koper dan berjalan pergi keluar dari rumah ini.


🌸🌸🌸


Sudah hampir berjam jam aku terus menangis di kamar. Rasa sakit itu masih terus aku rasakan hingga sekarang. Jujur saja aku sudah benar-benar lelah terus menangis seperti ini. Tapi, kenapa aku terus saja menangisinya? Kenapa air mataku terus keluar? Hyerin sadarlah! Kau tidak berhak menangisinya yang telah menyakitimu! Kau itu benar-benar bodoh!


CKLEK!


Suara pintu yang terbuka, membuatku mendongakkan kepala untuk melihatnya. Tenyata yang datang adalah Jimin. Dia baru saja datang dari rumah Jungkook.


Setelah pulang sekolah tadi, Jimin langsung mengajakku untuk kembali menginap di rumahnya. Awalnya aku akan pergi ke rumah Jungkook dulu, untuk mengambil barang-barangku. Tapi Jimin langung menghentikanku dan bilang kalau dia saja yang pergi. Jadi, aku hanya perlu diam di sini dan menunggunya datang. Saat Jimin datang menghampiriku dia langsung memelukku erat.


“Sudahlah… kau jangan menangis lagi. Sudah berjam-jam kau menangis. Kau pasti sangat kelelahan.”


“Hiks..iya.”


“Tidak, aku tidak punya nafsu untuk makan sekarang.”


“Baikah, kalau begitu kau tidur saja dulu.”


Saat Jimin mulai menidurkanku. Aku langsung memegang tangannya.


“Jimin.”


“Kenapa?”


“Temani aku tidur, aku tidak ingin sendirian.”


“Baiklah.”


Mendengar itu aku tersenyum. Lalu segera menidurkan diriku di ranjang bersama Jimin. Setelah kami sudah mendapatkan posisi yang nyaman. Jimin menarik selimutnya dan menutupi tubuhku.


“Tidurlah..”


Aku mengangguk sebagai jawaban, lalu segera memejamkan mataku sambil memeluk Jimin begitu pun sebaliknya.


🌸🌸🌸


Entah kenapa, hari ini suhu tubuhku terasa sangat panas. Keringat dingin terus keluar dari tubuhku. Ku lepas pelukan Jimin lalu tidur terlentang. Agar tubuhku bisa terkena udara dingin.


“Hyerin?”


Dia sudah bangun? Tak lama kemudian, Jimin bangkit dari tidurnya dan mengecek kedaanku dengan menelpekan punggung tangannya pada keningku.


“Hyerin! Kau demam! Kau tunggu dulu di sini. Akan ku bawa kan bubur dan obat.”


Setelah itu, dia langsung pergi keluar dari kamarku. Melihat itu, aku hanya bisa pasrah dan diam.


Hahhh.. kenapa aku harus sakit? Padahal kemarin aku sudah lelah menangis, tapi sekarang malah demam. Ahhh sudahlah, ambil sisi positifnya saja, dengan sakit begini aku jadi tidak bisa sekolah dan tidak bertemu dengan Jungkook. Belum lagi, pasti ada banyak murid-murid yang membicarakanku yang tidak-tidak di sana.


Tak lama kemudian, Jimin datang dengan membawa bubur dan juga obat. Dia tak segan-segan langsung menyuapiku, dan juga mengompreskan suhu tubuhku dengan kain yang di basahai air hangat. Melihat dia sangat antusias merawatku. Membuatku tersenyum melihatnya.


“Hahh… aku akan sangat iri kalau ada gadis yang kau sukai. Gadis itu pasti sangat beruntung.”


Jimin hanya tertawa kecil mendengar ucapanku. Tapi setelah beberapa detik kemudian, aku baru sadar kalau sekarang sudah jam 7 pagi.


“Jimin, apa kau tidak sekolah? ini sudah jam 7.”


“Ahh..aku malas bertemu Jungkook. Jika melihatnya aku selalu ingin menonjoknya.”


“Hey, apa kemarin kau memukulnya?”


“Tidak, aku hanya memarahinya saja. Lagian kau ini kenapa? Dia sudah menyakitimu tapi kenapa kau masih peduli padanya? Seharusnya kau biarkan aku untuk memukulnya.”


Entahlah, kenapa aku tidak ingin dia kenapa napa? padahal kemarin aku sendiri sudah menamparnya.


“Dia sudah hancur, di jauh lubuk hatinya dia sudah hancur. Kau tidak memukulnya saja dia sudah merasakan kesakitan itu, aku tahu itu.”


“Aishhh kau ini, kenapa terlalu baik sih?”


“Sudahlah! Kenapa jadi membahas ini, kau ini mau sekolah atau tidak?”


“Tidak.”


Dia langsung menggeleng kepalanya tanpa berfikir panjang.


“Hey, bukankah sebentar lagi ada pertunjukan di sekolah? kau harus rajin latihan!”


Mendengar ucapanku, Jimin menghembuskan nafasnya pasrah.


“Tck, baiklah.. tapi setelah kau menghabiskan bubur ini, baru aku akan pergi.”


Ya tuhan, kenapa dia ini susah sekali dikasih tahu?


🌸🌸🌸