
Hari demi hari, semuanya kembali seperti biasa. Sudah tidak ada lagi yang namanya masalah di antara kami. Semuanya terasa tentram dan damai. Hubunganku dengan Minju juga sudah kembali normal, begitu pula Jungkook. Yahh mungkin kami terkadang sedikit adu mulut karena hal sepele. Tapi, setelah itu, kami langsung berbaikan dan saling memaafkan.
Jika memikirkan tentang masalah aku harus menjauhi Jungkook. Itu sudah tidak perlu di pikirkan lagi. Karena pada kenyataannya Jungkook tidak pernah berubah padaku. Dia tetap seperti Jungkook yang ku kenal selama ini dan itu membuatku sangat bersyukur.
Hari ini adalah hari minggu. Jungkook sedang pergi keluar bersama anak basketnya. Jadi aku pakai waktu luang ini untuk tidur di ranjang yang sangat kucintai! Kalian tahu? setelah banyak menghadapi ujian itu. Akhirnya aku bisa menikmati hari yang sangat santai.
“HYERINNN!!!”
Ya tuhan… kenapa selalu ada yang mengganguku di saat aku tengah tertidur? Tapi, kenapa suara itu terdengar seperti suara Jimin? Hahh pasti aku sedang bermimpi sekarang. Tidak mungkin Jimin datang ke rumah Jungkook hanya untuk menggangguku tidur kan? Lebih baik aku kembali tidur.
Kutarik selimutnya sampai menutupi seluruh badanku, lalu melanjutkan tidurnya.
“Tck dasar kerbau. Cepat bangun!”
Suara itu kenapa semakin lama semakin jelas? Dengan malas kubuka selimutnya lalu mengintipnya dari dalam. Mataku terkejut melihat Jimin yang tengah berdiri di pinggir ranjangku sambil menatap marah.
“Jimin?! Bagaimana bisa kau ada di sini?”
Itu bukan mimpi, itu kenyataan!
“Kau tidak perlu tahu bagaimana aku bisa di sini, yang penting sekarang cepat kau mandi dan bersiap-siap untuk pergi.”
“Aishhh tidak mau! kau ini sangat mengganggu!”
“Kau tidak mau pergi ke Everland?”
“E-EVERLAND?!”
I-itu taman hiburan! Aku tidak boleh menghilangkan kesempatan terbaik ini. Everland adalah tempat yang sangat aku impikan dari kecil. Tak kusangka Jimin akan mengajakku pergi ke sana. Jimin kau memang yang terbaik!
Dengan cepat aku pergi ke kamar mandi lalu bersiap-siap untuk pergi.
🌸🌸🌸
Selama diperjalanan wajah ceriaku tak pernah lepas. Aku benar-benar bahagia sekarang!. Akhirnya, aku bisa pergi ke tempat yang kuimpikan sejak kecil. Aku masih ingat dulu pernah bilang pada Jimin, kalau aku ingin sekali pergi ke taman bermain. Tak kusangka, akhirnya aku bisa ke tempat itu!!
“Tapi, sebelum itu, kita pergi makan dulu. Kita belum sarapan pagi ini.”
“Oke, kita makan di mana?”
Kita pergi sarapan di Café Mamas City Hall. Dilihat-lihat tempat ini memang terlihat modern, tapi aku tidak peduli karena Jimin yang akan membayar semuanya. Entah kesurupan apa dia hari ini jadi baik sekali padaku.
“Hmmm! Enak!”
“Enak? Baguslah makan yang banyak. Kita harus cepat-cepat pergi sebelum tiketnya kehabisan.”
“Ehh?!”
Jadi dia belum membeli tiketnya? Aishh bagaimana sih? Katanya ingin mengajakku pergi. Bagaimana bisa dia lupa untuk membeli tiketnya dulu? Baiklah, kalau gitu, aku harus cepat makannya. Tapi, samar-samar aku mendengar suara tawa Jimin. Dia kenapa?
“Hahahaha! tenang saja makannya. Jangan terburu-buru, aku hanya bercanda, kau ini kenapa mudah di tipu?”
“Apa kau bilang?!”
Aishhh dia memang menyebalkan, bagaimana bisa aku percaya padanya? Jimin tidak mempedulikanku yang kesal padanya. Dia lebih memilih menikmati sarapannya.
“Hyerin.”
“Apa?!”
“Menurutmu, kapan terakhir kali, kita menghabiskan waktu bersama?”
Menghabiskan waktu bersama? Kapan?
“Sepertinya, saat kita pergi ke pasar Gukjae.”
Pasar Gukjae yaitu tempat oleh-oleh dari Busan, di sana ada makanan khas, pakaian, atau souvenir. Waktu itu Yuju kebetulan lagi ada acara keluarga. Jadi kami menghabiskan waktu berdua ke sana.
“Ahh benar, Gukjae..”
“Apa? kau lupa? Bagaimana bisa kau lupa?!”
“Hmmm maaf. Nah, ayo cepat habiskan nanti keburu ramai di sana.”
Cih, mengganti topik.
🌸🌸🌸
“WAHHH LUAR BIASA!!!”
Akhirnya kita sampai di Everland. Seperti yang dikatakan Jimin di sini memang sangatlah ramai. Sejak aku sampai di sini, senyumku tak pernah luntur. Ini benar-benar tempat yang sangat ingin aku kunjungi setelah Namsan Tower.
“Bagaimana? kau suka?”
“Tentu saja! kau tahu sendiri. Dari kecil, aku ingin pergi ke sini. Terimakasih sudah mengabulkan permintaanku.” Aku tersenyum lebar padanya, begitu pula Jimin.
Tanpa lama-lama, aku langsung menarik tangan Jimin pergi untuk bermain. Ada begitu banyak permainan di sini, sampai membuatku bingung ingin main yang mana dulu.
Tawa kami tak pernah hilang setiap kami menaiki wahana. Kami sudah menaiki Colombus Adventure, Rapter Ranger, Amazon Express, dan Thunder Falls. Rasanya sangat luar biasa. Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya.
“Jimin, kita naik apa lagi?”
“Hmm aku tahu, ikut aku.”
“Kemana?”
Apa dia mengajakku ke Panda World? Aaa! Pasti panda-pandanya sangat lucu! Aku juga hampir lupa untuk pergi ke sana. Untung saja Jimin mengingatkanku.
“Tadaaa!! Rumah Hantu!”
GLEK!
R-Rumah Ha-Hantu? RUMAH HANTU?! kau bercanda Jimin? Kau tahu aku paling tidak ingin pergi ke sini. Kenapa kau mengajakku ke sini? Apa kau lupa?
Aku terdiam mematung melihat gedung Rumah Hantu yang terlihat sangat menyeramkan di depan mata. Ada banyak dekorasi patung-patung hantu dan juga kuburan. Ini benar-benar menyeramkan!
“Ji-Jimin.. lebih baik kita pergi ke Panda World yuk? Mereka sangat lucu dan menggemaskan. Aku tahu kau pasti ingin ke sanakan? Lebih baik kita pergi ke sana, sekarang.”
🌸🌸🌸
Park Jimin sialan! Dia malah memaksaku untuk masuk ke dalam Rumah Hantu sekarang! Dia benar-benar jahat, kenapa dia memaksaku masuk? Kalau dia ingin masuk, masuk saja sendiri! kenapa harus bawa-bawa aku?!
“Tidak, kau harus masuk!”
“Tidak! aku tidak mau masuk!! Cepat lepaskan, lepaskan aku bilang!!”
Tenaganya terlalu kuat! Aku tidak bisa melepaskan genggaman tangannya. Sampai akhirnya, mau tidak mau aku ikut masuk ke dalam.
Aishhh bagaimana ini, aku benar-benar takut hantu. Tidak peduli kalau dikatakan seperti anak kecil. Aku benci Hantu!
“Ji-Jiminn, aku takut… kenapa kau memaksaku hah?!”
“Kenapa? Kapan lagi kita bisa ke sini? Ini kesempatan kita.”
“Kesempatan apanya bodoh! kalau kau mau pergi, pergi sendiri! Kenapa kau membawaku hah?!!.”
“ARGHHHH!!”
“AAAAAA!!! JIMIN..!!”
Tiba-tiba hantu datang dari arah sampingku. Rasanya jantungku ingin copot melihat wajahnya yang sangat menyeramkan dilumuri darah. Aku langsung, memeluk tangan Jimin dan menyumput di dadanya. Hantu sialan! Kenapa dia menakutiku?!
“Eiii, itu cuman boneka. Kau ini kenapa sih? Boneka saja takut.”
Bodo amat! Aku benar-benar ingin cepat-cepat keluar! Kenapa juga bonekanya sangat menyeramkan?
Dengan terpaksa, aku menutup mata sambil memeluk lengan Jimin. Aku tidak ingin lihat, aku tidak ingin lihat!
“Hyerin! Hyerin! Di belakangmu.!”
“AAAA! MANA?! MANA?! PERGI SANA HANTU SIALAN!”
Kataku teriak-teriak sambil menutup mata. Aku tak berani untuk melihatnya.
“WAHAHAHAHA! Kau ini teriak ke siapa? Di belakangmu tidak ada siapa-siapa tahu!”
Huh? Kucoba untuk membuka mata, lalu menatap ke belakang.
"AARRGHHH!”
“HA! HA! HANTU!!”
Jimin! kau membohongiku! Langsung ku peluk erat tangannya sambil mendorongnya untuk cepat pergi dari sini. Rasanya ingin sekali aku ingin menangis sekarang. Kenapa Jimin menjahiliku?!
“Hyerin? Kau nangis?”
“Hiks..hiks… ini semua gara-gara kau bodoh. Kalau kau mendengar perkataanku, maka aku tidak akan menangis seperti in- GYYAAAAAAAAA!!!! JIMIN!!”
“AAAA!! HAHAHAHA!”
Hantu sialan! Dia ternyata masih terus mengerjarku dari belakang. Dengan cepat aku memeluk Jimin, dan bersembunyi di dadanya. Tapi dia malah tertawa keras, melihat kelakuanku. Jimin awas saja kau!
Setelah melewati berbagai rintangan. Akhirnya, aku dan Jimin bisa keluar. Aku memintanya untuk berhenti sebentar, dan kami beristirahat di kursi kayu yang kosong.
“Waaaahh…itu luar biasa! Aku kira itu tidak seru, tapi ternyata seru sekali!”
Mendengar ucapannya, rasanya ingin sekali aku memukul kepalanya. Dia benar-benar menyebalkan sekali. Kenapa dia memaksaku untuk masuk ke sana?
Kupukul pundaknya cukup keras, hinggan membuatnya kesakitan atas kelakuanku.
“Hey, sakit! kau ini kenapa?”
“Kau yang kenapa! Apa kau lupa? aku sangat takut dengan hantu! Kenapa kau memaksaku untuk masuk ke sana! kau ini… benar-benar menyebalkan.”
Kataku sambil menghapus air mata dengan tisu. Melihatku yang baru saja selesai menangis, dia langsung merasa bersalah.
“Kau tidak apa-apa? Maaf aku tidak bermaksud begitu.”
Melihat dia merasa bersalah sekali. Rasanya tidak tega juga kalau melihatnya seperti itu. Hahhh sudahlah, aku benci kalau sudah canggung begini.
“Baiklah aku memaafkanmu. Tapi, sebagai gantinya kau harus menuruti permintaanku!”
“Oke! Apa itu?”
“Rollercoster.”
“APA?!”
Hahahaha rasakan, aku tahu kau membenci permainan ini. Jadi, aku sengaja memintanya untuk menaiki ini agar kita impas. Kau kira hanya kau yang bisa menjahiliku Jimin?
Setelah kami sampai di permainan itu. Aku bisamendengar suara jeritan orang-orang yang sedang menaiki Rollercoster. Mendengar itu, pasti sudah ditebak, kalau permainan yang satu ini pasti sangat menakutkan.
“Jimin, bagaimana?”
“K-kau serius? Kau tahu kan? Aku takut dengan permaianan ini.”
Senyum kemenanganku terpampang jelas setelah mendengar perkataanya. Rasanya aku sukses menjahilinya.
“Tentu saja, karena itu aku ingin kau naik ke sana bersamaku. kau janji akan mengabulkan permintaanku kan? sekarang ayo kita masuk!”
Kutarik tangan Jimin ke tempat antriannya, sedangkan Jimin malah merengek meminta permainan yang lain untuk menebus kesalahannya. Hahahaha rasakan Jimin, memang enak dijahili seperti ini?
Setelah kami selesai menaiki Rollercoster, kami berencana untuk pergi photobox. Ini adalah hal yang sangat wajib sebagai kenangan. Aku tidak boleh sampai kehilangan kesempatan ini.
“Wajah lucu.” CKREK!
“Wajah dingin.” CKREK!
“Wajah konyol.” CKREK!
“Wajah senang.” CKREK!
Setelah melihat hasilnya aku dan Jimin tertawa melihat foto-foto yang konyol ini. Ku edit sedikit dan selesai! Akan kusimpan foto ini baik-baik.
🌸🌸🌸