Love is You

Love is You
Hancur



Semakin lama pacaran dengan Jungkook. Semakin ingin tahu seperti apa itu Jungkook sebenarnya. Sebenarnya semenjak Jihyun mengatakan kalau aku merebut calon suaminya. Ingatan itu tidak pernah hilang, bahkan setiap aku melihat Jungkook. Ingatan itu selalu melintas di kepala. Rasanya sangat mengganggu sekali!


“Hahhh… bagaimana ini?”


“Bagaimana apanya?”


Kudongakkan kepala menatap Hana yang sedang sibuk memainkan Hpnya. Sekarang aku sedang bermain di rumahnya. Dia mengajakku untuk menemaninya karena dia sendirian di rumah.


“Hahhh... apa kau percaya kalau pertunangan Jungkook dan Jihyun batal?”


“Kenapa kau bertanya padaku? Tanyakan saja pada pacarmu.”


Kau benar tapi, aku sudah bertanya padanya dan jawabannya dia memang sudah membatalkan pertunangan itu. Tapi kenapa aku masih resah sampai sekarang? ini membuatku gila.


“Ahhh aku pasti sudah gila. Bukankah aku percaya padanya? Kenapa aku terus memikirkan masalah ini? seharusnya aku sudah tidak peduli lagi bukan dengan perkataan Jihyun? Tapi kenapa perkataannya tidak bisa hilang dari pikiranku?”


Sepertinya Hana dari tadi memperhatikanku. Raut wajahnya terlihat bingung, dan cemas. Hahh pasti dia menganggapku sudah gila.


“Apa kau baik-baik saja? sepertinya kau sudah mulai gila Hyerin.”


“Aku tahu.”


“Memangnya ada masalah apa sih? Coba ceritakan padaku.”


Hahh.. yahh tidak salah kalau aku cerita padanya. Lagi pula dia teman perempuan baikku satu-satunya di sekolah ini.


“Hei, apa menurutmu aku ini sudah merebut calon suaminya Jihyun? A-aku tidak mengerti kenapa Jihyun bilang seperti itu. Padahal Jungkook bilang sudah membatalkan pertunangannya. Aku memang percaya dengan Jungkook tapi, perkataan Jihyun masih membuatku resah sampai sekarang. Aku harus bagaimana?”


Keningnya mengkerut. Sepertinya aku malah membuat dia pusing.


“Tak kusangka hubunganmu dengan Jungkook sudah semakin dalam. Lebih baik, kau ikuti dulu jalannya. Cobalah untuk melupakan masalah itu, dan bersenang-senanglah dengan Jungkook. Gadis bernama Jihyun itu hanya ingin mengganggumu. Kau tidak boleh ikut terbawa permainannya.”


“Begitu ya?”


“Yap.”


“Hemm sepertinya kau benar. Jihyun itu memang wanita gila yang bisa membuatku ikut gila karenyana. Kau memang yang terbaik. Terimakasih Hana!”


Hana mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali melanjutkan memainkan Hpnya.


Ya, yang dikatakan Hana benar, aku tidak boleh terbawa permainannya. Baiklah lupakan Jihyun Hyerin!


🌸🌸🌸


Tidak, tidak, tidak! aku tidak boleh terus begini. Perkataan itu masih terus terngiang di kepalaku. Aku tidak bisa melupakannya, tidak bisa!.


“Haishh…!”


Padahal baru saja Hana sudah memberiku solusi. Tapi kenapa aku masih memikirkan perkataannya yang gila ini?


Kuacak rambut dengan kesal. Tak sengaja aku melihat minimarket di sampingku. Hahh lebih baik aku makan dulu.


Kulangkahkan kaki masuk ke dalam minimarket. Berhubung sekarang masih jam 5 sore. Masih sempat aku bermain di luar. Kalau sudah kemalaman Jungkook akan memarahiku.


Kupilih Samyang untuk melampiaskan rasa kesal ini. Setelah di rebus, dan di saring. Sekarang tinggal kita aduk dengan bumbu yang sangat luar biasa merah ini, dan akhrinya siap!


“Uwahhh kenapa ini lebih pedas dari biasanya?”


Apa mungkin karena suasana hatiku yang membuatnya semakin pedas?


Saat hendak menyeruput mie. Tiba-tiba seseorang menyimpan sebotol air minum di mejaku. Melihat siapa yang memberiku minuman ini, ternyata itu Minju. Dia hanya menatap datar padaku sambil membawa ramen dan minuman yang dia pegang. Lalu dia duduk bersebrangan denganku.


“Minju? Bagaimana bisa kau di sini?”


“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Setiap hari aku memang selalu makan ramen di sini. Jadi, kenapa kau di sini? Apa kau mendapat masalah lagi?”


Katanya lalu menyeruput mienya dengan lahap. Mendengar itu, membuat pikiranku kembali teringat dengan ucapan Jihyun. Hahhh kenapa dia bertanya seperti itu? membuatku gila saja. Bodo amatlah, lebih baik aku lanjut makan saja.


Karena aku tidak menjawab pertanyaannya, itu membuat Minju tersenyum sekarang.


“Pasti tentang pacarmu lagi, ya kan? Sudah kubilang berapa kali jangan pacaran dengan anak itu. Tidak, dari awal seharusnya kau tidak boleh berhubungan dengannya. Aku sudah mengatakannya sejak dulu, tapi kau tidak pernah mendengarku. Jadinya ini yang kau rasakan.”


Mendengar itu membuatku semakin kesal. Dia ini benar-benar ahli membuat orang kesal. Hahh, memang perkataanmu sepertinya tidak salah. Tapi tetap saja, dia itu menyebalkan sekali.


“Kau ini memang setahu apa tentang Jungkook huh?”


“Tentu saja aku tahu, kau lupa aku adalah sahabatnya sejak kecil?”


Ahh iya benar, bagaimana bisa aku lupa?


“Dulu, Jungkook itu, sebenarnya anak yang nakal, dia suka membully, suka membolos, bermain dengan wanita. Yahh parah sekali pokoknya.”


“Sama seperti kau.”


Senyum Minju luntur seketika.


“Tapi, dia itu tidak pernah berbohong dalam rasa suka.”


Aku langsung terdiam mendengar ucapannya. Apa dia tidak bercanda?


“Sejujurnya, dalam hidupku. Baru pertama kali aku melihat Jungkook setulus itu menyukaimu. Dulu, jika wanita yang dia miliki kupermainkan, dia tidak peduli sama sekali. Tapi, dia berbeda padamu. Padahal waktu itu, kita hanya ingin makan bersama. Tapi, dia langsung mengamuk dan meninjuku. Rasanya sangat menyebalkan sekali. Anak itu kalau sudah marah tidak pernah bisa menahan emosinya. Tapi, bukankah hanya dengan melihat dia marah seperti itu, bisa dibuktikan kalau dia memang sangat menyukaimu? Apa aku benar?”


Perkataannya membuatku kembali tersadar. Itu benar, dia sangat marah sekali kalau aku berdua dengan Minju. Kalau begitu dia memang benar-benar menyukaiku.


Senyumku perlahan mengembang setelah menyadari hal itu.


“Wahhh, lihat sekarang. Sepertinya kau sudah merasa lebih baik sekarang.”


Minju hanya tersenyum kecil melihatku.


“Hemmm terimakasih. Sepertinya kau tidak seburuk itu.”


"Apa kau bilang?"


🌸🌸🌸


Hahh sepertinya perkataan Minju membuatku merasa lebih baik sekarang. Kalau begitu aku tidak perlu khawatir sekarang.


Selama perjalanan pulang senyumku tak pernah luntur. Hingga tak terasa akhirnya aku sudah sampai di rumahnya Jungkook. Setelah masuk ke dalam rumah, aku dapat mencium aroma yang sangat enak dari dapur.


“Apa Jungkook sedang masak?”


Ternyata dugaanku benar. Dia sedang sibuk memasak sekarang. Melihat itu, rasanya hatiku terasa tenang. Dengan perasaan senang, aku langsung berlari menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.


“Hemm.. kau sedang masak apa? Tidak biasanya kau seperti ini.”


“Aku sedang belajar menjadi calon suami yang baik untuk Hyerin.”


Aku tertawa kecil mendengarnya.


Cihhh dia memang selalu bisa membuatku tersenyum dengan godaannya.


“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”


DEG!


Tiba-tiba ada suara perempuan dari belakangku. Langsung kulepas pelukannya dan berbalik ke belakang. Mataku membulat terkejut melihat seorang wanita tua yang terlihat sangat mirip dengan Jungkook sedang berdiri tidak jauh dari tempat kami. Jantungku langsung berdegup kencang melihatnya, rasa takut yang selama ini aku pendam kembali menyelimutiku. Ba-bagaimana ini?


“I-Ibu?!”


Mendengar Jungkook memanggil wanita itu dengan sebutan Ibu, membuatku tak berani untuk melihatnya.


“Siapa kau?! Apa yang kau lakukan dengan anakku?!!”


Nafasku tercekat mendengar pertanyaannya. Hatiku terasa hancur sekarang, mataku juga terasa mulai berkaca-kaca. Tak kusangka hal yang kutakutkan benar-benar terjadi sekarang.


Aku merasa Jungkook pergi berlari menuju Ibunya.


“Ibu, bagaimana bisa sampai ke sini? Kenapa tidak memberitahuku dulu?”


“Jangan mengalihkan pembicaraan Jungkook! Katakan pada Ibu siapa wanita itu?!!”


Ya tuhan, sekarang aku harus bagaimana? Ibu, tolong aku, kenapa ini harus terjadi?


“Dia pacarku Ibu.”


DEG!


Mendengar kata pacar keluar dari mulutnya Jungkook, langsung membuatku terasa ditusuk oleh benda tajam. Bagaimana bisa dia mengatakan itu sekarang? apa kau mau aku mati oleh Ibumu?!


Saat aku mendongak terkejut. Kulihat Ibu Jungkook melotot terkejut pada Jungkook.


“K-kau bilang apa? Dia… pacarmu?!”


Perlahan dia kembali menatapku tak menyangka. Melihat itu, rasanya hidupku akan hancur sekarang. Sekarang aku harus bagaimana?


“Ibu, dengarkan pernjelasanku dulu.”


“Penjelasan apa lagi?! sudah jelas kau membatalkan pertunagan itu karena wanita ini kan?! Bagaimana bisa kau seperti itu? apa kau mau perusahaan Ayah bangkrut hanya karena keegoisanmu?!”


Setelah mengatakan itu, Jungkook tidak membalas ucapan Ibunya, dia malah diam membeku di tempat dengan tampangnya yang seakan-akan semuanya akan hancur sekarang.


Melihat Ibu Jungkook berjalan cepat ke arahku. Membuatku sangat terkejut. Dia menatap tajam padaku.


“Kau tahu? Hanya karena wanita sepertimu yang hadir dalam kehidupan Jungkook semuanya hancur! Asal kau tidak datang sedikit saja, maka Jungkook dan Jihyun sudah menikah dari dulu!”


Badanku bergetar mendengar ucapannya. Aku sudah tak bisa lagi membendung air mata sekarang. Terlalu menyakitkan untuk menahannya. Ya tuhan sekarang aku harus bagaimana? Apa aku akan di cap pelakor oleh Ibunya? Atau aku akan di perlakukan kejam oleh keluarganya? Aku sangat ketakutan sekarang.


“IBU! Sudah kubilang aku tidak ingin menikah dengan Jihyun! Sudah berapa kali aku mengatakannya! Kenapa Ibu memaksaku? Kenapa Ibu mengatur kehidupanku?”


“Diam! Ibu tidak berbicara denganmu. Ibu kecewa padamu. Kau lebih memilih wanita gila ini dari pada Ayahmu yang sudah bekerja keras untuk membiayai kehidupanmu.”


“Tapi Ibu..”


“Nyonya, tolong maafkan Jungkook.”


Aku tidak boleh membiarkan Jungkook dimarahi. Dia tidak berasalah sama sekali. Akulah yang salah di sini. Dengan memberanikan diri aku menatap Ibu Jungkook dengan yakin. Tapi tatapan Ibu Jungkook masih menatap tajam seperti sebelumnya.


“Jungkook tidak bersalah, tapi aku yang salah. Seharusnya dari awal aku tidak berada di sini. Maaf, sudah merusak keluargamu dan merusak pertunangan Jungkook dan Jihyun. Aku janji akan segera memutuskan hubungan ini dan pergi dari rumah ini. Tolong maafkan Jungkook.”


Sakit… benar-benar sakit. Aku tidak kuat lagi untuk menahan air mata. Rasanya aku benar-benar ingin mati sekarang.


“HYERIN!”


TES!


Mendengar penjelasanku, Jungkook langsung berteriak memanggil namaku. Mendengar suaranya saja sudah membuatku kesakitan. Aku pun hanya menunduk dan segera menghapus air mataku. Aku tidak berani untuk melihatnya. Ini terlalu menyakitkan.


“Jangan pernah kau bicara seperti itu! aku tidak akan membiarkanmu pergi. Ibu... aku janji, akan menyelesaikan masalah ini. Tapi, jangan sampai membuat Hyerin pergi. Aku sangat mencintainya Ibu, ku mohon.”


Hatiku terasa sangat sakit mendengar itu. Tak kusangka dia masih ingin membelaku saat kondisi sudah hancur seperti ini. Mendengar penjelasanku, dan Jungkook. Ibu Jungkook hanya bisa menghela nafas gusar sambil menengadahkan kepalanya ke atas.


“Melihat kalian sudah membuatku sangat pusing sekarang.”


Setelah itu, Ibu Jungkook kembali menatapku tajam.


“Baiklah, Ibu akan memberikan kalian kesempatan untuk berfikir. Kalian harus bersyukur hanya aku yang tahu tentang hubungan kalian. Jika suamiku tahu tentang hubungan kalian. Dia pasti akan marah besar pada kalian berdua. “


Badanku terasa membeku mendengar itu. Tak kusangka Ibu Jungkook akan memberikan kesempatan untukku dan Jungkook.


Setelah itu, Ibu Jungkook pergi menghampiri Jungkook.


“Jungkook, Ibu harap masalah ini cepat selesai. Kau tahu kan kalau Ayah marah seperti apa? Ibu, akan menutup mulut tentang hubungan kalian.”


Jungkook mengangguk cepat.


“Ya Ibu, terimakasih.”


Ibu Jungkook tersenyum kecil sambil mengangguk. Lalu dia pun pergi berlalu keluar rumah. Melihat dia sudah pergi. Rasanya tubuhku lemas seketika. Badanku langsung ambruk jatuh. Saat itu juga Jungkook langsung menghampiriku dan membantuku.


“Hyerin, kau tidak apa-apa?”


Hatiku kembali hancur mengingat semua yang terjadi barusan. Aku kembali terisak keras hingga membuat Jungkook terkejut. Apa yang di katakan Jihyun benar. Aku ini Ja**** yang sudah merusak pertunangan orang lain. Seharusnya aku tidak ada sejak awal.


“Hyerin..”


Jungkook yang memanggilku. Perlahan aku menoleh menatapnya dengan tatapan hancur. Mengerti akan keadaanku. Jungkook langsung memelukku erat, dan membuat tangisanku semakin meledak.


“Hiks… sakit… di sini sangat sakit Jungkook… sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin berpisah denganmu, aku sangat mencintaimu..”


“Aku juga sangat mencintaimu, tenang saja kita hadapi ini semua bersama.”


🌸🌸🌸