
"Hyerin, apa kau masih tidur.... tunggu….apa ini? Kau sudah bangun?”
“Memangnya aku apa? Koala?”
“Ya, kau memang selalu tidur sampai siang, jadi aku pikir kau adalah Koala.”
“Kakak!”
“Bagaimana kabar adikku?”
“Syukurlah, adikmu selama ini baik-baik saja. Dia sudah menjadi wanita yang kuat dan dewasa. Dia juga sudah memiliki pekerjaan. Dia hidup dengan sangat baik sekarang.”
Pikiranku terus mengingat moment dimana terakhir kali aku bertemu dengannya, adikku Hyerin. Aku memang pantas di sebut Kakak yang brengsek. Meninggalkan Hyerin dan Ibu sendirian di rumah selama 9 tahun dan lebih memilih mencari pekerjaan keji ini dari pada berada di samping keluargaku. Tapi, sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk meninggalkannya dan membuat dia menderita. Aku hanya merasa frustasi dengan biaya biaya yang tidak mencukupi untuk keluargaku. Karena itu, aku pergi meninggalkan rumah.
Kuhela nafas gusar setelah mengigat Adikku.
“Aku benar-benar merindukanmu.”
“Hei cantik, apa kau sedang kosong?”
Tiba-tiba ada seorang pria datang mendekatiku. Dia sudah mulai mengelus-elus wajahku dengan senyumannya yang terlihat sangat menjijikan.
Sejujurnya aku sudah sangat lelah dengan pekerjaan kotor ini. Aku juga benci diriku sendiri karena lebih memilih pekerjaan ini dari pada pekerjaan yang lain.
“Apa hari ini, aku bisa membawamu pergi ke ranjangku?”
Dengan cepat aku langsung menghempaskan tangannnya dari wajahku. Lalu menatapnya tajam.
“Permisi tuan, aku tidak ingin di sentuh dengan pria mesum sepertimu.”
Dengan cepat aku langsung pergi berlari keluar dari Bar ini. Samar-samar aku dengar dia memanggilku dan meneriakiku dari sana.
“Hey! Kau wanita ja****! Berani-beraninya kau mengatakan aku pria mesum! Lihatlah dirimu sendiri yang sudah kotor dasar ja****!”
Yap, kata ja**** sudah sering kudengar. Pernyataan itu benar, namun menyakitkan.
Dengan sigap, aku langsung pergi berjalan pergi menuju kosanku. Mulai sekarang aku berhenti dari pekerjaan kotor ini. Aku ingin bertemu adikku. Aku ingin kembali menjadi Hyejin yang dulu.
Saat aku tengah berjalan di trotoar. Langkahku terhenti saat melihat seorang pria yang sedang berdiri tidak jauh dariku sekarang. Jantungku berdegup kencang melihatnya. Hatiku juga terasa sakit saat melihatnya. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali menangis. Rasa rindu, sedih dan bahagia semuanya bercampur menjadi satu. Tanpa kuminta, air mataku jatuh begitu saja mengenai pipi. Bibirku pun ikut begetar sekarang. Dengan berat aku sebut nama seorang pria yang ada di depanku sekarang.
“J-Jimin.. "
“Hai…Kak Hyejin.”
Air mataku jatuh mendengar suaranya. Sudah lama aku tidak mendengarnya. Mungkin tidak ada yang tahu kalau aku dengan Jimin, pernah saling menyukai. Tapi itu kisah lama, yang kini perasaan itu masih tetap ada dalam hatiku.
“Sudah lama.. kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu sekarang?”
Aku masih diam tidak menjawab pertanyannya. Sejujurnya aku sangat senang bisa bertemu dengannya. Tapi, mengingat siapa diriku sekarang membuatku tersadar bahwa aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku takut dia tahu tentangku, seperti apa diriku sebenarnya.
“Kakak?”
Tunggu, sejak kapan Jimin berdiri tepat di hadapanku sekarang? Dengan cepat aku langsung melangkah mundur. Namun tiba-tiba dia menahan tanganku dan menatapku bingung.
“Kau kenapa Kak?”
“A-aku..”
“Kakak..”
Panggilannya membuatku terdiam membeku. Hatiku terasa hancur melihat dia tersenyum sekarang.
“Seperti apa dirimu sekarang, di mataku, kau tetaplah Kakak yang ku kenal. Jadi, tolong jangan merasa bersalah dan takut. Aku tahu, kau adalah wanita yang memiliki hati baik seperti malaikat. Aku tahu selama ini kau berjuang demi keluargamu, dan aku paham tentang itu. Jadi tolong, kembalilah.. pulanglah.. aku dan Hyerin akan selalu menyambut kedatanganmu.”
Tanpa terasa tangisanku semakin pecah mendengar ucapannya. Suara yang terdengar tulus dari hatinya, membuatku merasa terharu.
Aku pun menunduk dan menangis dalam diam. Aku benar benar Kakak yang buruk.
Tiba-tiba aku merasakan Jimin memelukku dengan erat dan itu membuatku kembali menangis deras.
“Tidak apa-apa..”
🌸🌸🌸
Kutatap kertas putih yang ada di tanganku dengan perasaan yakin. Sudah kupikirkan berkali kali. Sekarang aku sudah yakin dengan keputusan ini. Mau bagaimana pun juga, ini sudah pasti, dan aku tidak ingin terus memikirkannya.
Setelah siap, aku langsung pergi menuju ruangan kerja Jihyun. Sebenarnya ini pertama kalinya dalam 9 tahun. Aku datang ke ruang kerjanya. Luar biasa bukan?
Tok Tok Tok
“Silahkan masuk.”
Setelah ku ketuk pintunya, dan mendengar izin dari Jihyun. Aku pun segera membuka pintunya dan berjalan masuk ke dalam. Kulihat Jihyun sedang duduk di kursi kerjanya, sambil menatap beberapa berkas.
“Apa aku mengganggu?”
Sepertinya suaraku membuat dia terkejut. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya. Raut wajahnya telihat terkejut. Dia langsung berdiri lalu tersenyum padaku.
“Jungkook? Jarang sekali kau datang ke ruanganku? Ada apa ini tiba-tiba?”
Tanpa membalas pertanyannnya, aku langsung menyerahkan secarik kertas putih padanya. Dia sedikit bingung melihat kertas yang aku berikan padanya.
“Apa ini?” Katanya sambil membaca isi surat itu.
“Itu surat perceraian.”
“APA?!”
Jihyun terlihat sangat terkejut mendengar ucapanku. Dia pun langsung membaca isi surat yang aku berikan dengan ekspresi tidak percaya. Tak lama kemudian dia kembali menatapku tidak percaya. Tapi aku tidak peduli dengannya yang terlihat sangat terkejut sekarang.
“Apa maksudmu Jungkook?! Kenapa kau membuat surat percerian seperti ini?!”
“Jihyun, kau tahu, kita sudah menikah selama 9 tahun dan aku tetap tidak bisa mencintaimu. Aku pikir, hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Aku harap kau menyetujuinya.”
Setelah mengatakan itu. Aku melihat Jihyun mulai menangis di depanku sekarang. Dia langsung menggelang gelengkan kepalanya. Kemudian berjalan menghampiriku.
“Jungkook, bagaimana bisa kau sejahat ini padaku? Kau tahu aku sangat mencintaimu. Selama 9 tahun ini, aku tetap bersabar menunggumu untuk mencintaiku. Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau dengan mudahnya memintaku bercerai denganmu?!!”
Sejujurnya setelah menikah dengannya, dia berubah 180 drajat. Dia bermain drama di depanku. Dia tersenyum, merawatku, dan mencintaiku karena keegoisannya. Di belakangku, sebenarnya dia sangat jahat terhadap keluargaku. Dia sengaja memanfaatkan saham, agar bisa menikah denganku. Hanya untuk kepuasan dia sendiri. Dasar wanita gila.
“Sudah cukup kau membuat keluargaku menderita karenamu. Kini urusan kita sudah selesai. Aku ingin kau menandatangani surat ini.”
Melihat aku sangat dingin padanya. Jihyun berubah menatap tajam.
“Apa ini karena wanita itu?”
“Apa maksudmu?”
“Kim Hyerin! aku tahu selama ini kau menyembunyikan sesuatu padaku. Aku tahu, kau kembali bertemu dengannya bukan?!”
Mataku terkejut mendengarnya. Bagimana bisa dia tahu tentang Hyerin? Apa dia memata mataiku selama ini?
“Apa kau memata mataiku?” Kataku dan mulai menatap tajam. Tapi tatapan sinisnya kembali datang, dia tersenyum smirk sekarang.
“Kita lihat saja, apa kau masih berani menceraikanku setelah aku melakukan sesuatu pada wanita itu.”
Spontan aku langsung mencengkram lengannya. Hatiku langsung membara saat Jihyun mengatakan akan mengancam Hyerin. Wanita ini benar-benar tidak pernah berubah. Kenapa dia begitu keras kepala?
Ku tatap tajam mata Jihyun yang membuatnya ketakutan sekarang.
“Jangan berani-beraninya kau berbuat sesuatu pada Hyerin. Kau tahu aku sudah muak dengan sikapmu ini! Tidak bisakah kau berubah? Kau ini bukanlah anak SMA lagi Jihyun. Kau sudah besar dan kau sudah dewasa. Berhentilah bermain-main seperti anak kecil.”
Kulihat Jihyun terlihat sangat ketakutan. Perlahan aku melepaskan pegangannya, dan masih menatap tajam padanya.
“Perceraian ini, bukan karena Hyerin. Ini memang kemauanku, jadi tolong jangan membawa orang lain dalam hal ini. Aku harap kau memahaminya.”
Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi keluar dari ruangan Jihyun.
🌸🌸🌸