
Merasa sudah siap dengan pakaianku. Aku langsung membawa tas yang tergelatak di ranjang, kemudian segera pergi keluar dari apartemen. Tapi, setelah membuka pintu. Aku dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba ada di depan pintu apartemenku. Melihat itu, jantungku mulai berdegup kencang karenanya.
“Selamat pagi Hyerin..”
Merasa tidak percaya dengan adanya Jungkook di depanku. Aku terdiam beberapa detik.
Bagaimana bisa dia ada di sini?
“Jungkook? Bagaimana bisa kau ada di sini?”
“Jimin yang memberitahuku.”
Jimin? Tunggu.. sepertinya ada yang tidak beres. Bagaimana bisa Jimin memberitahu Jungkook dimana apartemenku? Bukankah dia membenci Jungkook?
Melihat Jungkook yang terus tersenyum membutku sedikit gugup. Dengan cepat aku bersikap seperti biasa.
“Lalu, ada apa kau datang ke apartemenku?”
“Apa lagi? tentu saja mengantarmu pergi bekerja.”
Tiba-tiba Jungkook langsung menarik tanganku. Membawaku pergi keluar dari apartemen. Demi apa, jantungku terasa mau meledak sekarang. Tangannya seperti mengalirkan listrik ke jantungku.
“Heh, Jungkook apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku.”
Sial, Jungkook tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah terus menarikku pergi entah kemana. Yang aku khawatirkan, bagaimna jika ada orang lain yang melihat? Pasti akan menjadi berita besar di internet.
“Jika aku melepasmu, kau pasti langsung kabur dariku kan? Sudahlah diam saja, ini hanya pegangan tangan.”
Tanpa sadar, aku tersenyum mendengar ucapannya. Tatapanku peralahan turun pada tangan bersarnya yang menggenggam erat tanganku. Ya tuhan… aku merindukan tangan besar ini.
Tak terasa kami sudah sampai di tempat parkiran mobil. Setelah dia melepaskan pegangan tangannya, aku hanya diam menatapnya. Tidak salah? Dia benar-benar akan mengantarku pergi?
“Apa yang kau pikirkan? Cepat masuk ke dalam.”
“Tapi, aku bisa naik bus seperti biasa.”
“Tidak hari ini, kau harus pergi denganku.”
Karena aku terus diam menatapnya ragu, itu membuat Jungkook jengah melihatku Akhirnya dia menarik tanganku agar cepat masuk ke dalam mobil. Awalnya aku kaget, karena ini bukanlah yang harus dilakukan. Bayangkan Jungkook itu sudah menikah, dan suaminya ada bersamaku. Ya tuhan… apa dia mau membuatku mati?
Setelah Jungkook masuk ke dalam mobil. Dia segera memasang sabuk pengamannya. Tapi, saat ini, aku masih terdiam kaku. Sejujurnya sekarang aku merasa cemas dan takut. Jika aku bertemu dengan Jihyun bagaimana? Apa aku akan hancur lagi? dan karirku berakhir?
“Hyerin.”
“Y-ya?”
Saat dia memanggilku. Tiba-tiba dia dia mencondongakan badannya ke arah ku. Melihat itu, aku langsung bersandar ke kursi mobil untuk menghindarinya. Tapi, semakin lama, Jungkook malah semakin dekat denganku. Hingga aku dan Jungkook berjarak 5 cm dari wajahku. Sumpah demi apa, jantungku rasanya benar-benar ingin copot! Dia ini kenapa?! Apa dia mau menciumku? Aku langsung memejamkan mata, karena tak berani untuk menatapnya.
Clek!
Huh?
“Kau kenapa?”
Setelah kubuka mata. Kulihat Jungkook sudah kembali duduk tegak di kursinya. Ohh jadi, dia barusan sedang membantuku untuk memasang sabuk pengaman?
A…Ha..Hahaha! begonya aku. Bagaimana bisa aku berfikir kalau dia mau menciumku? Aishhh ini memalukan sekali.
“Khekeke..”
Samar-samar aku mendengar suara tawanya. Oh ya tuhan! Aku sudah mempermalukan diriku sendiri sekarang!
“Jungkook.”
“Ya?”
Saat aku memanggil namanya dengan nada kesal. Jungkook langsung menoleh padaku, sambil tersenyum manis. Seketika, rasa kesal padanya menghilang begitu saja di gantikan dengan hatiku yang kembali berdebar-debar karenanya.
“Ce-cepat jalankan mobilnya. Aku tidak ingin terlambat saat bekerja.”
“Baik nona Hyerin."
Ohh ya tuhan, lihatlah. Sepertinya dia sengaja mempermainkanku sekarang.
Tapi, mengingat dia bukan milikku lagi. Itu membuat fikiran buruk kembali menyelimuti. Aku hanya takut bila nanti bertemu dengan Jihyun. Apa dia akan menghancurkan karirku nanti? Hahhh semoga saja tidak terjadi hal yang buruk padaku.
Saat tengah berdo’a. Aku mengernyitkan mata melihat pemandangan yang ada di luar bukanlah jalan menuju tempat kerjaku. Tunggu, sebenarnya dia mau membawaku kemana?
“Jungkook, kau membawaku kemana? ini bukan jalannya.”
“Ahh kau benar, ini bukan jalan menuju tempat kerjamu. Tapi, ini jalan menuju kejutanmu.”
“Kejutan?”
“Yap.”
Tak habis pikir. Anak ini tidak pernah berubah. Kenapa dia selalu saja seenaknya membawaku pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu? Huh baiklah semoga perkataanmu benar.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Jungkook menghentikan mobinya. Sepertinya kita sudah sampai di tempat yang dia sebut kejutan untukku.
“Baiklah, mari kita turun. Kejutan menunggumu.”
Setelah mengatakan itu, Jungkook pun keluar dari mobilnya. Sedangkan aku masih bingung di tempat. Tapi ya sudahlah, turuti apa saja kemauannya. Setelah turun dari mobil. Aku pergi mengikuti Jungkook yang pergi entah kemana. Tanpa sadar, ternyata sekarang kami ada di tempat taman yang sangat indah. Apa ini kejutan yang dia maksud?
“Jungkook, kita mau kemana?”
“Hyerin.”
Ku dengar Jungkook memanggil. Aku pun menoleh dan menatapnya.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Apa itu?”
“Apa kau masih mengingat Kakakmu? Yang bernama Kim Hyejin.”
Mendengar pertanyaannya membuatku sedikit terkejut. Rupanya dia masih ingat tentang Kakakku. Perlahan aku tersenyum dan mengangguk.
“Tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya.”
“Lalu, apa kau merindukannya?”
Dia bercanda? Tentu saja aku sangat merindukannya.
“Ya, aku sangat merindukannya.”
Jungkook tersenyum padaku setelah mendengar jawabanku. Begitu pun aku yang ikut tersenyum padanya.
“Kalau begitu, jika kau bertemu dengannya. Apa yang ingin kau katakan padanya?”
Pertanyanaannya, membuatku seakan langsung mengingatkanku pada saat bersama Kakak dulu.
“Jika aku bertemu dengannya, yang pertama aku lakukan adalah memeluknya, dan mengatakan bahwa aku sangat merindukannya. Aku juga ingin bertanya, apa dia baik-baik saja? apa dia hidup dengan baik di sini? Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya.” Kataku sambil tersenyum lebar.
“Tapi, kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang Kakakku?”
Melihat dia hanya tersenyum manis membautku semakin bingung. Sebenarnya apa yang dimaksud? Kenapa dia terus menanyakan tentang Kakak?
“Kau ingat? aku akan memberimu kejutan bukan?” Ku anggukan kepala untuk menjawab pertanyannya.
“Kejutanmu itu, tepat ada di belakangmu sekarang.”
Saat dia menunjuk ke arah belakangku. Aku pun segera membalikan badan untuk melihatnya. Setelah berbalik, aku langsung terkejut melihat siapa yang ada di depanku sekarang. Seorang wanita yang benar-benar aku rindukan selama ini. Hatiku terasa ingin meledak sekarang. Perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Perlahan aku mulai mengeluarkan air mata melihatnya.
“K..Ka..Kakak?!!”
Kakak tersenyum lebar saat aku memanggilnya. Karena tak kuasa menahan rindu. Aku langsung berlari menghampirinya dan memeluknya dengan sangat erat! Tak peduli dengan keadaan sekitar, yang ingin aku lakukan sekarang, benar-benar ingin memeluknya. Aku sangat merindukan Kakakku.
“Hiks..Hiks…Ka.Kakak!!”
“Ya..ini aku aku Hyerin..”
Suaranya, akhrinya selama 9 tahun aku bisa mendengar suaranya lagi!
“A-aku benar-benar merindukanmu…hiks...aku merindukanmu…”
“Ya.. aku juga merindukanmu…hiks…”
Mendengar dia ikut menangis. Aku bisa merasakan dia semakin memelukku erat. Dia juga menenggelamkan wajahnya pada pundakku. Begitu pun aku.
“Maaf…hiks..maafkan aku Hyerin… hiks… aku benar-benar minta maaf padamu..”
Mendengar dia terus meminta maaf, aku langsung melepas pelukan untuk melihatnya. Kulihat tatapannya yang terlihat sangat menyesal dengan tangisan yang terus keluar dari matanya. Melmbuatku langsung menggelengkan kepala padanya.
Tidak, aku sudah tidak peduli lagi tentang kesalahanmu. Yang aku pedulikan sekarang, hanyalah Kakak untuk datang kembali. Aku sangat ingin melihatmu lagi.
Aku pun tersenyum lalu menghapus air matanya yang terus menetes.
“Tidak… dengan kedatanganmu saja sudah membuatku senang. Aku tahu, alasanmu pergi adalah untuk kami. Jadi, jangan pernah merasa bersalah Kak.”
“Hahhh… aku sangat merindukanmu…. Sudah lama juga aku tidak bertemu Ibu. Aku sangat merindukannya. Tapi, kenapa aku tidak melihat Ibu? Ibu dimana?”
DEG!
Jantungku terasa jatuh mendengar pertanyaan Kakak. Rasa sakit yang selama ini kupendam kembali menyelimuti. Tanpa sadar, aku kembali menangis setelah mendengar ucapannya.
Karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Kakak langsung melepas pelukannya. Dia pun menatap bingung padaku.
Aku tidak ingin Kakak ikut menangis karenaku, tapi aku tetap tidak bisa menyembunyikan air mataku yang kembali mengalir deras di pipi. Aku tatap wajahnya dengan perasaan yang sangat sakit. Aku takut, ucapanku akan membuat dia kembali menangis dengan perasaan yang terasa sangat sakit.
“Hyerin? Kenapa? katakan dimana Ibu?”
“H..Hiks.. hiks.. Ka..Kakak..hiks..”
Melihatku yang sudah telihat hancur berantakan karena air mata. Membuat Kakak kembali menangis. Aku rasa dia paham dengan reaksiku yang terus menangis. Tapi, dia mencoba untuk tetap tersenyum, walau matanya sudah mulai memerah menahan tangis.
“Kenapa? Kenapa kau menangis? Dimana Ibu? Aku juga merindukannya, katakan padaku di mana Ibu?”
Kakak tetap menahan senyumnya. Tapi aku tetap tidak bisa mengatakannya sekarang. Aku tidak ingin Kakak merasakan seperti apa yang kurasakan dulu.
Perlahan dia mulai memegang kedua pundakku. Dengan berharap bahwa yang dia pikirkan salah.
“Hey.. Hyerin…katakan padaku.”
Melihat dia terus dengan tatapan kecewanya. Membuat nafasku terasa sesak.
“Hiks…. I..Ibu… Ibu..hiks..”
“Ibu kenapa? Ibu kenapa Hyerin?”
Aku semakin menunduk mendengar Kakak terus bertanya dimana Ibu. Tangisanku pun semakin deras sekarag. Karena aku terus menangis tanpa menjawab pertanyaannya. Itu membuat Kakak kesal dan ketakutan. Semakin lama Kakak mulai megoyangkan pundakku dan berteriak padaku.
“Dimana Ibu! Katakan padaku! Hisk… katakan padaku… kumohon hiks…”
Mendengar suaranya yang mulai terdengar parau. Aku pun kembali menatapnya. Kulihat Kakak benar-benar terlihat sangat kacau sekarang. Dia sudah menangis deras di hadapanku sekarang. Melihatnya saja membuatku semakin terasa sangat sakit. Karena tidak rela melihat dia terus menangis dan menunggu jawbanku. Akhirnya aku mulai mengatakannya dengan suara yang terdengar parau.
“Ibu.. hiks.. Ibu sudah meninggal.”
DEG!
Dengan suaraku yang terdengar parau. Itu membuat Kakak terlihat sangat terkejut. Matanya membulat lebar. Perlahan dia mulai melangkah mundur setelah mendengar ucapanku. Isakan tangisnya berhenti seketika karena syok sambil menutup mulutnya tidak percaya. Tubuh terasa lemas, dia pun terjatuh dengan ekspresinya yang masih syok. Dengan cepat aku langsung pergi menghampirinya.
Perlahan dia menggelengkan kepala tidak percaya sambil memegang kepalanya yang membuat rambutnya berantkan.
“A…Ahh Tidak..tidak… hiks.. tidak…hiks…TIDAK!!!”
“Ka..Kakak…”
Air mataku lolos keluar mendengar jeritan Kakak yang terdengar sangat menyakitkan. Kakak mulai menunduk dan menangis berteriak memanngil Ibu dengan nada yang terdengar sangat sedih.
“I..IBBUUU!!!”
“Tidak Ibu…! Hiks.. tidak!... Ibu tidak mungkin pergi! Ibu tidak akan pergi!”
“Kakak..”
Tiba-tiba Jimin datang dan mencoba menenangkan Kakak. Saat Jimin datang menghampirinya. Kakak langsung menatap Jimin dengan wajahnya yang kacau.
“Jimin, itu bohongkan? Ya-yang dikatakan Hyerin bohongkan? Ini tidak mungkin. Ibu tidak mungkin pergi secepat itu…hiks…”
Melihat tatapan Kak Hyejin yang terlihat sangar sedih, membuat Jimin hanya bisa diam dengan sorotan matanya yang ikut sedih.
“Kak, itu benar. Setalah kau pergi dari rumah, besok harinya Ibu sudah tidak ada.”
Mendengar ucapan Jimin, ingatanku kembali berputar saat Ibu meninggal dan aku menangis histeris di rumah sendirian. Perasaan saat itu, sangatlah menyakitkan lebih dari apapun. Kurasa Kakak sedang merasakan rasa yang sangat menyakitkan itu. Melihat dia terus menangis. Aku hanya bisa menunduk sambil menangis dalam diam. Tanpa sadar, seseorang sedang mengusap pundakku dengan lembut. Kulihat ternyata itu Jungkook. Dia tersenyum lembut padaku, seperti mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Hiks…tapi..tapi, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah aku pergi dari rumah…hiks.. bagaimana ini bisa terjadi? hiks.. bagaimana ini bisa terjadi! aku benar-benar sangat ingin bertemu dengannya!”
“Kakak…”
Suaraku yang terdengar lemah, membuat Kakak terdiam dan langsung menatapku. Walau terasa sulit, tapi aku mencoba untuk tersenyum. Aku juga mencoba untuk mengusap wajahnya dan menghapus air matanya.
“Sudah 9 tahun aku sendirian, tanpa Ibu… dan Kakak… hiks..”
“Banyak sekali perjuangan yang aku lakukan, untuk bisa menemukanmu.”
“Setelah kita berpisah. Aku sangat kesulitan untuk bisa bertemu dengamu lagi dan aku selalu merindukanmu selama ini..”
“Karena itu…hiks… tolong, kau jangan pernah pergi lagi meninggalkanku… hiks.. kumohon… aku tidak ingin sendiri lagi. Sekarang aku hanya punya kau hiks.. kumohon..”
Ucapanku membuat Kakak kembali menangis. Kemudian, dia menarikku ke dalam pelukannya. Melihat apa yang dia lakukan. Membautku semakin menangis deras. Aku bisa merasakan Kakak menganggukkan kepalanya sambil mengusap punggungku lembut.
“Ya… aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Maaf sudah membuatmu harus merasakan rasa sakit itu sendiri. Maafkan aku Hyerin..”
“Aku selalu menunggumu selama ini… hiks… terimakasih kau sudah datang padaku..” Kataku sambil memeluknya erat.
Hari ini, aku lewati dengan tangisan sedih dan bahagia. Aku sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan Kakak setelah 9 tahun lamanya. Ada begitu banyak cerita yang aku lewati tanpa Kakak. Beban yang selama ini kupendam akhrinya terangkat semua. Walau sebenarnya, masih ada sedikit lagi yang belum terangkat, dan itu adalah Jeon Jungkook.
Pria ini adalah pria yang pernah mewarnai hidupku dan juga membuat goresan di hatiku. Ada perasaan sedih dan bahagia, karena bisa bertemu dengannya. Tapi, aku tetap takut, pada apa yang terjadi jika aku bersama lagi dengannya. Menghadapi keluarganya dan juga bertemu dengan Jihyun. Aku rasa itu sangat menakutkan.
Tapi, aku tidak mengerti. Kenapa dia datang lagi? kenapa dia masih mencariku? dan kenapa dia masih menyukaiku? Aku tidak mengerti, kenapa dia masih mengejarku? Padahal aku sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Apa lagi, dia sudah menikah dengan Shin Jihyun.
Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak boleh masuk lagi ke dalam permainannya. Aku tahu dia sudah sangat baik. Hingga membantuku untuk bisa bertemu dengan Kakak. Tapi, itu tetap saja, aku tidak boleh menerimanya kembali ke dalam kehidupanku. Dia sudah dimiliki oleh wanita lain. Dan aku tidak boleh membuatnya berpaling lagi padaku.
“Hyerin.”
“Hm?”
Kini, aku dan Jungkook sedang duduk berdua di kursi kayu. Sedangkan Kakak sedang bersama Jimin sekarang. Sejujurnya aku tidak tahu, kalau ternyata Jimin dan Kakak begitu dekat hingga mereka sekarang sedang mengobrol berdua di kursi kayu yang lain.
“Apa kejutanku kali ini, membuatmu senang?”
Mendengar pertanyaannya, itu membuatku tersenyum lebar padanya. Aku pun menoleh menatapnya dan mengangguk anggukan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
“Ya, aku sangat senang sekali. Terimakasih, kau sudah membantuku untuk bisa bertemu dengan Kakak. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikanmu.”
Mendengar itu, Jungkook langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Ya? ahh tidak usah, kau tidak perlu memberi apa pun padaku.”
“Tidak, aku harus membalas kebaikanmu padaku.”
“Tidak, tidak perlu. Aku benar-benar membantumu dengan senang hati.”
“Tidak Jungkook! Aku sangat berhutang budi padamu. Aku sudah berpisah dengan Kakak selama 9 tahun, dan sekarang kau akhrinya bisa mempertemukanku dengan Kakak. Aku benar-benar tidak bisa hanya diam saja setelah apa yang kau lakukan. Jadi kumohon, biarkan aku membayar kebaikanmu.”
Jungkook langsung terdiam terkejut mendengar semua ucapanku. Perlahan dia pun mengangguk kecil.
“Baiklah.. jika itu yang kau mau.”
“Tentu saja, sekarang katakan apa yang kau inginkan?”
Ku perlihatkan senyuman manisku agar dia mau mengatakan permintaannya. Tapi, dia malah ikut tersenyum melihatku.
“Apa kau.. benar-benar akan mengabulkan permintaanku?”
Ucap Jungkook dengan senyuman lebarnya. Kurasa penawaranku membuat dia terlihat sangat senang. Ya sudahlah, aku pun hanya mengangguk dan terus tersenyum.
“Kau tidak akan mengubah pemikiranmu bukan? Kau akan tetap mengabulkan permintaanku?”
“Tentu saja, aku tidak akan mengubah pemikiranku.”
“Kalau begitu, aku akan memberitahumu nanti, tidak sekarang. Tapi kau harus berjanji akan mengabulkannya.”
Hmmm? Dia tidak ingin memberitahuku sekarang? kenapa? Tapi ya sudahlah jika itu permintaannya.
Kuanggukan kepala sambil tersenyum.
“Baiklah, tapi, kenapa tidak sekarang saja? aku masih mempunyai waktu luang untuk mengabulkan permintaanmu.” Mendengar ucapanku dia langsung berdiri dari kursi.
“Kalau sekarang, aku yakin kau tidak akan siap untuk mengabulkan permintaanku. Jadi, kita lakukan nanti saja.”
Apa maksudnya kenapa aku tidak siap mengabulkan permintaannya? Aku pun ikut berdiri lalu menatapnya tidak mengerti.
“Kenapa? Kenapa tidak sekarang saja?”
Jungkook masih saja menggelengka kepalanya.
“Tidak, aku ingin nanti saja.”
Sumpah dia sangat misterius sekali.
“Baiklah, terserah padamu.”
🌸🌸🌸