
"Gila ya udah ujian aja gak berasa banget" keluh Rara sambil memakai dasinya.
"Hah, padahal seminggu ini belajar terus sama anak paling pinter disekolah" sambil melirik ku " tapi otak gue kayanya mentok di situ - situ aja, gak ada kemajuan sama sekali" keluh Sasya.
"Ya elah mana mungkin otak lu pada maju orang tiap gue jelasih lu pada malah sibuk chatingan mulu sama pacar lu, emang mereka gak pada belajar apa ?" grutuku sambil menoyor kepala kedua sahabat ku
"Elah yu, lu mah emang dari sono nya punya otak encer taro di kulkas aja gak balan beku" jawab sasya sambil memonyongkan bibirnya yang tipis
"ah udah buruan deh jalan nya kan cari kelas ama meja dulu nih" teriak Rara yang sudah mulai berlari menuju kelas. Aku dan Sasya pun mengikut Rara.
-----------------------------------------------------------------
Saat jam pulang kami berjalan menuju kantin sekolah.
"ahhhh gila ya ujian bahasa indonesia tapi susah banget buset bacaan nya panjang - panjang banget ampe pegel rasa nya bola mata gue" gerutu Sasya sambil memijat ujung mata nya.
"Emang dasar lu nya aja yang males banget sya, kalo baca whatsapp dari si Gerard aja lu semangat banget" ejek Rara sambil menepuk pundak sasya.
"Ya elah kaya lu kaga aja nyong," balas sasya sambil mendorong badan Rara maju kedepan
Aku pun tertawa melihat kelakuan kedua sahabat ku yang saling mengejek.
"Jangan ketawa lu kutu buku, puas bener liat temen kesusahan" timpal Sasya yang kesal dengan tawa ku
"Haha otak lu pada tuh yang susah di ajak kompromi HAHAHA" jawab ku dengan tawa makin keras
"udah - udah laper nih, makan apaan kita ?" tanya Rara
"gue Soto Betawi" jawab ku
"gue bakso ah, paling pas kalo abis ujian makan bakso pedes, asem biar gak pusing lagi." jawab sasya sambil jalan memegang kepala ke arah kios bakso di kantin.
-------------------------------------------------------------
"Gais abis selesai ujian lu pada nginep di rumah gue lagi dong" pinta ku
"Gue gak janji deh, bokap gue dah balik dari dinesnya, bakalan susah keluar rumah gue" ujar Rara sambil berkaca dan memakai liptint nya
"Gue juga gak janji, nyokap bokap ngajakin ke SG nih mau nemenin kaka gue, gue juga belum nengok ponakan gue nih" jawab sasya
"hemm gitu ya" dengan nada sedih aku menjawab kedua sahabatku.
----------------------------------------------------------------
Sesampainya di rumah Bi jah membuka pintu dan tersenyum.
"Neng ayu baru pulang, mau di masakin apa neng buat makan malem ?" tanya bi jah dengan senyum ramah.
"Apa aja bi, bi aku masuk kamar dulu ya mau mandi dan istirahat"
"iya neng, oh iya neng tadi ada telpon dari tante nya neng ayu, tapi bibi teh gak ngerti dia ngomong apa ? jadi bibi teh bilang neng ayu lagi sekolah belum pulang"
"oh ya udah bi gapapa nanti aku telpon tante , HP ayu batre nya abis bi makannya tante telpon kesini, makasih ya bi"
"iya neng" bi jah memandangku dengan tantan iba,
Bi jah cukup lama bekerja di rumah ku, tepatnya sudah hampir 8 tahun, tapi dia selalu pulang ke rumah nya setiap sehabis isya di jemput oleh anak atau suaminya, rumah bi jah ada di belakang komplek kua cuma sekitar 2 kilo dari komplek ku.
---------------------------------------------------------------
" iya bi ....." aku pun turun dan melihan bi jah sedang menuangkan minuman untuk ku,
"bi jah , temenin aku makan dulu ya?"
"tapi neng suami bi jah dah di depan."
"suruh masuk aja bi, makan sama - sama dulu bi"
"aduh neng gak enak bi jah"
"gapapa bi jah, bi jah sama suami bi jah kan keluarga aku disini, jadi gak usah malu"
bi jah pun tersenyum dan memanggil suaminya masuk.
"Mang ujang apa kabar ?"
"Baik neng, neng ayu gimana kabarnya?"
"baik , sini duduk Mang, makan sama - sama, bi pak wanto suruh masuk bi biar makan juga bareng kita"
"iya neng"
-----------------------------------------------------------------
Selesai makan bi jah membereskan meja di bantu pak wanto dan Mang ujang.
"Bi jah, Pak Wanto kalo udah selesai duduk sebentar ya, ayu mau ngomong sesuatu"
Wajah mereka mendadak bingung dan khawatir, seperti orang akan di pecat atau di PHK.
Tak lama mereka menghampiri ku yang sedang menonton tv di ruang tengah, dan mang ujang memutuskan menunggu di luar sambil merokok.
"udah selesai bi, pak ? sini duduk"
"udah neng" jawab bi jah di ikuti anggukan pak wanto , dan mereka duduk di sofa bersampingan
"Bi jah, Pak wanto makasih ya udah selalu nemenin ayu, dan masih mau kerja disini meski ayah, ibu udah gak ada.Bi jah, Pak wanto ayu mau ikut tante sama om ke korea" sambil menghela nafas aku memandang kedua wajah itu dengan seksama, mereka begitu kaget, bingung dan khawatir.
"emang Neng Ayu kapan berangkat ?" tanya bi jah gemetar
"mungkin satu atau dua minggu lagi" raut wajah mereka semangin mengecut mendengar perkataan ku
"kalo ayu gak disini bi jah sama pak wanto masih maukan kerja disini seperti biasa ?"
"eh maksudnya Neng" tanya pak wanto yang mulai merubah raut wajah nya
"iya setelah ayu di korea, bi jah sama pak wanto tetep kerja kaya biasa aja disini, ayu mau rumah ini tetep terawat, ayu gak mau rumah ini terbengkalai, banyak banget kenangan ayu sama ayah, ibu disini jadi ayu harap bi jah sama pak wanto mau merawat rumah ini"
"jadi bi jah tuh gak di pecat Neng"
"Lah bi jah emang ayu dan bilang mau pecat bi jah sama pak wanto" aku tertawa melihat ekspresi bi jah yang kegirangan di susul pak wanto, kami pun tertawa bersama -----