
“KITA SUDAH BERAKHIR!”
“Kau dan aku sudah berakhir. Kau akan menikah dengan Jihyun, dan itu akhirnya”
“Hei… kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Hyerin… kumohon..”
“Jungkook! Sudah cukup aku menjadi orang yang egois. Aku tidak ingin keluargamu hancur hanya karena aku. Jika kau tidak menikah, lalu bagaimana dengan keluargamu? Apa kau tidak pernah memikirkan itu? bagaimana jika bangkrut? Apa kau ingin melihat kedua orang tuamu kecewa terhadap keputusanmu? Aku tidak ingin menjadi egois lagi Jungkook. Aku tidak ingin kita hidup bahagia, sedangkan keluaragamu hancur. Aku tidak ingin itu terjadi”
“HYERIN!.”
Ohh ya tuhan! Kenapa aku bisa-bisanya melamun saat sedang menikamati jalan-jalan bersama Jimin? Hah.. sepertinya pembicaraanku dengan Jungkook tadi di sekolah membuatku tidak bisa fokus. Padahal Jimin sudah membawaku ke taman bermain. Tapi aku malah melamun seperti ini, dan membuatnya khawatir.
Jimin menatapku dengan raut wajahnya yang terlihat khawatir.
“Apa kau baik-baik saja?.”
Dengan cepat aku langsung mengangguk sambil tersenyum.
“Ahh iya, aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir.”
“Heyy.. ayolah, itu wajar jika kau masih memikirkannya. Kau butuh waktu untuk melupakannya.”
“Kau benar.”
“Dari pada memikirkan itu! bagaimana jika kita masuk rumah hantu lagi?.”
Mataku membulat terkejut mendengar ucapannya.
“A-APA?! TIDAK! Tidak, tidak, tidak! Apa kau lupa? Aku tidak ingin pergi ke sana.”
Dengan cepat aku langsung menggelengkan kepala saat dia terus menarik tanganku.
“Ayolahhh! Hanya sekali ini saja!.”
“Tidak..tidak, tidak, kumohon Jimin, aku bilang tidak! TIDAKKK! JIMIN! LEPASKAN AKU!.”
OH Astaga! Dia benar-benar menyebalkan! Dia terus memaksaku pergi ke dalam rumah hantu! Kenapa dia benar-benar menyebal sekali hari ini?!.
Dengan cepat aku langsung bersembunyi di belakang punggung Jimin. Sedang Jimin hanya tertawa melihat kelakuanku.
“Hahahaha..! Hey Hyerin, kenapa kau bersembunyi di belakangku?.”
“Jimin! Setelah keluar dari sini, kau akan mati di tanganku!.”
“Apa? Hey, kau tidak usah takut. Mereka itu orang! Bukan hantu asli. Kenapa kau bodoh sekali?.”
“Kalau begitu kenapa mereka berpakaian seperti nyata? Kenapa mereka terus menakutiku? Padahal aku dengannya sama-sama manusia.”
Ucapku yang membuatnya menggelengkan kepala.
“Kalau dia terlihat manusia, untuk apa mereka mengadakan permainan rumah hantu seperti ini bodoh! kau benar-benar..”
Aku hanya diam menatapnya dengan kesal, lalu kembali bersembunyi di belakangnya. Asataga… seharusnya aku tidak pergi ke sini! Aishh!.
“Jimin.. lain kali kala- YAAK YAAAAAAAAKKKK!! PERGI KAU! PERGI KAU HANTU BODOH!.”
Baru saja kami masuk. Tiba-tiba ada hantu datang dari samping, dan beraninya dia menyentuh pundakku. Itu langsung membuatku terkejut ketakutan melihatnya. Aku langsung memeluk Jimin dari belakang dan menutup wajahku dengan punggungnya. Jimin yang terkejut langsung tertawa melihatku. Benar-benar menyebalkan!.
“HAHAHAHA! Makannya kau jangan jadi penakut! Lihat dia terus menakutimu!.”
“ITU GARA-GARA KAU! CEPAT! AKU INGIN KELUAR!.”
“Heh.. bagaimana bisa kita keluar? Kita baru saja masuk bodoh.”
”Aishhh.. rasanya aku ingin mati sekarang.”
“Heiii...”
“Apa?.”
Tanpa sadar aku langsung menoleh kebelakang saat ada yang menyapaku dan bodohnya aku malah tertipu dengan suaranya. Ternyata yang memanggilku adalah hantu!.
Mataku membulat terkejut melihat wajahnya yang berlumuran darah sedang tersenyum lebar padaku. Membuatku bergidik ketakutan.
“I.I..IBBBUUUUU!!!!!.”
Aku langsung memeluk Jimin sambil mendorongnya pergi agar menjauh dari hantu itu. Astaga! Benar-benar menakutkan.
“Kenapa?! Kenapa?!.”
“Hantuuu..hiks… ada hantu di belakangku…hiks..”
“Kau..kau menangis lagi?.”
“HEH! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN INI PADAKU?! APA KAU MAU MEMBUNUHKU?!.”
Bodo amat kalau dia kesakitan, aku terus memukulnya tanpa henti.
Aishh bagaimana bisa dia mengajakku ke tempat ini?. Aku benar-benar sangat takut pada hantu.
Saat Jimin tengah berbalik badan menghadapku sambil menahan tanganku. Aku hanya diam menatapnya kesal. Namun saat aku menatapnya tatapanku teralihkan pada makhluk yang ada di belakangnya. Mataku membulat melihat siapa makhluk itu.
“J..Ji..Jimin.. di..di belakangmu.”
“Apa?.”
Saat Jimin memutar badan ke depan, makhluk itu semakin mendekat dan mulai berteriak menakuti aku dan Jimin.
“ARGGGHH!!!.”
“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!.”
🌸🌸🌸
9 TAHUN KEMUDIAN
KRING..KRING..KRING
Ku tatap Jam Bekerku yang terus berdering di nakas. Senyumku mengembang melihat jam yang sudah menunjukan pukul 05.00 pagi.
“Sepertinya aku sudah mulai terbiasa bangun pagi.”
Aku berjalan ke arah jam beker lalu mematikan alarmnya. Setelah itu, aku kembali membenarkan rambutku yang tergerai panjang. Ku coba untuk mengikatnya menjadi satu. Setelah selesai, aku mencoba memeriksa penampilanku, apakah sudah rapih atau belum. Setelah merasa sudah siap. Aku ambil kantong kecil di ranjang lalu segera pergi keluar dari apartemen. Aku tidak boleh terlambat untuk bekerja. Jika terlambat, maka bos akan memotong gajiku. Itu tidak boleh sampai teradi.
Ahh.. 9 tahun sudah berlalu, dan kini aku sudah punya kehidupan yang baru. Aku sudah mendapat pekerjaan tetap sekarang, yaitu bekerja sebagai sekretaris di perusahaan HighDream.
Iya aku tahu. Aku juga tidak percaya bisa bekerja di tempat itu. Terlebih lagi di perusahaan. Tapi jujur saja, mendapatkan pekerjaan ini tidaklah mudah. Ada begitu banyak proses hingga aku bisa berdiri di titik ini dan aku bersyukur bisa mendapat pekerjaan ini. Sehingga aku bisa tinggal di apartemenku sendiri.
Jimin? Aku sudah tidak tinggal lagi di rumahnya. Aku sudah pindah sekitar 4 tahun yang lalu? Sejak mendapatkan pekerjaan ini aku sudah pindah. Tapi walau hidupku berubah, aku tetap menjadi orang biasa.
“Hufhhtt.. semoga aku tidak terlambat.”
Selama pergi bekerja, aku selalu menggunakan Bus sebagai kendaraanku. Tidak lagi menaiki mobil Jimin seperti dulu. Sebenarnya dia sering menawarkan ku untuk berangkat kerja bersama. Tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin terus menyusahkannya.
Butuh waktu 30 menit untuk bisa sampai di perusahaan tempatku bekerja. Ahhh benar, aku juga sudah memiliki beberapa teman kerja di sana. Mereka semua menyambutku dengan baik.
“Hyerin? Wahhh seperti biasa kau selalu berangkat pagi.”
Yuni tiba-tiba muncul lalu ikut masuk lift bersamaku. Dia itu adalah salah satu teman kerjaku di sini. Dia memiliki paras yang sangat cantik dan memiliki mata yang besar. Tapi, sayang sekali dia selalu terlihat sangat lelah. Tidak pernah aku melihat dia fresh selama kerja di sini.
“Yuni? Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat tidak baik-baik saja.”
“Ahhh.. wajahku? Kau tahu? Aku selalu lembur. Bahkan aku tidak tahu apa tempat ini adalah rumahku atau bukan? Bagaimana jika aku pindah tempat tinggal saja di sini?.”
Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya yang terdengar konyol.
“Hei, ini terlalu besar untuk di sebut rumah untukmu. Apa kau tidak istirahat saja dulu? Jam kerjamu masih lama bukan? Ini masih sangat pagi.”
“Aku juga berfikir begitu. Aku akan tidur dulu di tempatku seperti biasa. Kalau begitu semoga kerjamu lancar!.”
“Terimakasih, kau juga.”
Yuni hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya. Tak lama kemudian lift pun terbuka. Yuni pun pergi keluar dengan jalannya yang terlihat tidak stabil.
“Ahhh.. dia pasti sangat kelelahan.”
“Siapa yang kelelahan?.”
“Huh? Kim Woobin.”
Woobin tersenyum setelah aku memanggil namanya. Dia juga merupakan salah satu teman kerjaku juga. Namanya Kim Woobin.
Awalnya dia sedang beridiri di luar lift. Namun tak lama kemudian dia ikut masuk ke dalam lift bersamaku. Setelah itu dia menekan tombol lift untuk menutup pintu liftnya.
“Selalu seperti biasa Hyerin. Kau adalah pegawai yang sangat rajin datang pagi ke sini.”
“Ahh.. iya. Lalu bagaimana denganmu? tumben sekali kau datang pagi-pagi?.”
“Hmm.. ada beberapa urusan di sini yang harus aku selesaikan.”
“Ahh begitu.”
“Hei, bagaimana jika malam ini, kita adakan makan malam bersama? Apa kau mau?.”
Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba sekali?.
“Y-ya?”
Tumben sekali ada makan malam bersama? Biasanya yang mengadakan malam bersama adalah CEO kami. Tapi melihat dia menunggu jawaban, aku hanya tersenyum simpul.
“Aku… akan melihat jadwal ku dulu hari ini. Jika ada waktu luang, nanti aku akan menghubungimu.”
“Ok, kutunggu.”
Tak lama kemudian, lift pun terbuka. Aku segera pergi keluar dari lift menuju tempat kerja ku. Setelah berjalan berjarak 10 meter dari lift, akhirnya aku sampai.
“Hahh.. semoga hari ini jadwalnya tidak terlalu padat.”
Ku simpan kantong kecil di meja kerja. Lalu segera duduk di kursi, dan membuka buku jadwal kerjaku hari ini. Saat membukanya. Mataku membulat lebar melihat banyaknya jadwal hari ini.
“Ya tuhan… kenapa banyak sekali jadwal hari ini?.”
“Kim Hyerin, datanglah ke ruanganku sekarang.”
Aku terkejut mendengar suara telephon dari CEO. Dengan cepat aku segera pergi masuk ke dalam ruangan CEO dengan membawa buku jadwalnya.
Setelah membuka pintu, aku bisa melihat kursi besar CEO yang sedang mengarah ke jendela. Dengan semangat aku mencoba tersenyum lalu menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu pak?.”
Saat kursi itu berputar ke arahku. Pria yang sedang duduk di kursi itu pun tersenyum padaku. Lalu dia menarik kursi besarnya untuk lebih mendekat ke arah mejanya dan dia sedikit mencondongkan badannya dengan menopang tangan di dagunya.
“Good Morning Hyerin.”
“Good Morning Jimin."
Ya, CEO ku adalah Park Jimin. Walau pun dia adalah sahabatku. Aku tetap harus berjuang untuk bisa bekerja di sini. Dia sama sekali tidak membantuku sama sekali untuk bisa bekerja di sini. Aku benar-benar berusaha untuk bisa sampai di titik ini.
“Hari ini, apa jadwalnya padat lagi?.”
“Ya, itu benar. Jadwal hari ini ada sekitar 20 tugas yang harus kita selesaikan hari ini.”
“Huffhhhttt… ini benar-benar melelahkan.”
Melihat dia frustasi membuatku semakin tersenyum. Aku tahu ini sangat banyak, tapi apa boleh buat.
Seketika aku mengingat ucapan Woobin tadi di lift. Dia mengajakku untuk makan malam bersama hari ini. Ini aneh, biasanya yang selalu mengajak makan bersama adalah Jimin sebagai CEO. Terkahir kami makan malam bersama adalah 1 bulan yang lalu. Karena saat itu, saham kita sedang naik. Jadi, kita merayakannya saat itu juga.
“Jimin, apa kau mengadakan makan bersama pegawai malam ini?.”
“Apa?.”
“Kim Woobin, dia mengajakku saat kami sedang di lift tadi.”
Jimin terlihat terkejut dan bingung dengan perkataanku. Kemudian dia kembali menatapku.
“Aku tidak mengadakan makam malam bersama malam ini. Hei, apa kau sudah mengatakan iya padanya?.”
“Tidak, aku belum menerima ajakannya.”
“Bagus! Dia tidak bermaksud untuk makan malam bersama dengan pegawai, yang dia maksudkan adalah makan bersama berdua denganmu. Hey, apa kau masih bodoh seperti dulu? Dia hanya ingin berduaan denganmu!.”
“Hehhh?!.”
“Aishh.., kau ini bagaimana? Kau tidak boleh sembarangan untuk menjalani hubugan lagi bersama pria. Kau harus tahu latar belakangnya dulu. Jika kau ingin menjalani hubungan dengan pria. Jangan sampai hubungan seperti Jungkook terulang kembali.”
Aku terkejut mendengar ucapannya. Ba-bagaimana bisa dia mengatakan mana itu lagi sekarang?.
“H-Hey! bagaimana bisa kau menyebutkan namanya lagi?!.”
Jimin hanya diam tidak menjawab. Lalu dia berjalan menghampiriku dan mengambil buku jadwalnya dari tanganku. Aishhh dia ini masih sama menyebalkannya seperti dulu.
“Aku hanya tidak ingin kau tersakiti lagi seperti dulu.”
Perlahan, kesalku menurun setelah mendengar ucapannya.
Hahhh aku tahu, dia tidak bermaksud begitu. Tapi jujur saja, sampai saat ini aku belum bisa melupakannya. Walau pun sedikit demi sedikit sekarang aku mulai bisa melupakannya.
“Sudahlah, kita kembali saja fokus untuk bekerja. Hyerin, tolong siapkan rapat kita hari ini. Hubungi perusahaan yang bersangkutan.”
“Baik.”
🌸🌸🌸