
“Hyerin?”
“……”
“Hyerin?”
“……”
“HYERIN!”
“I-IYA!”
Astaga, kenapa Taehyung berteriak memanggilku?
Aku pun segera pergi menghampirinya yang sedang duduk di salah satu kursi Café.
“Ada yang bisa kubantu?”
“Ada apa denganmu hari ini? aku sudah memanggil namamu berulang kali, tapi kau tidak dengar. Apa kau sedang tidak enak badan hari ini?”
Hahhh dasar bodoh. Sepertinya tadi aku terlalu banyak melamun karena ucapan Jihyun di sekolah masih terngiang-ngiang di kepalaku.
Dengan cepat aku berikan senyuman terbaikku sambil menggelengkan kepala.
“Tidak, aku tidak apa-apa.”
Namun sepertinya Taehyung tidak mempercayai perkataanku. Dia malah menatap curiga padaku.
“Tidak mungkin, sudah terlihat jelas dari matamu yang terlihat sembab. Apa kau tadi menangis?”
Ahh benar, sembab. Tadi aku banyak menangis saat pulang sekolah. Hahh.. aku lupa tidak menutupinya, dasar bodoh.
“Hahhh… sudahlah kau tidak perlu menjawabnya. Karena sekarang sudah pukul 9 malam, sebaiknya kau pulang saja. Kerja hari ini cukup sampai di sini saja.”
“Te-terimakasih.”
Sebenarnya Taehyung menawarkanku untuk mengantarku pulang dengan mobilnya. Tapi aku menolaknya dan lebih memilih untuk menaiki bus.
Selama perjalanan pulang aku tak henti hentinya melamun menatap kosong ke jendela. Memikirkan ucapan Jihyun di sekolah tadi. Membuat kepalaku pusing. Sekarang aku harus bagaimana? Apa sebaiknya aku pergi dari rumah Jungkook dan memutuskan hubungan ini?
Setelah sampai di rumah Jungkook, entah kenapa tiba-tiba aku tidak berani untuk masuk ke dalam. Aku merasa sudah tidak pantas lagi untuk tinggal bersamanya. Apa sebaiknya aku pergi saja?
Ahhh sudahlah… setidaknya aku harus membicarakan baik-baik tentang masalah ini. Setelah itu baru aku memutuskan untuk pergi atau tidak.
Ku beranikan melangkah masuk ke dalam rumah Jungkook. Jantungku terus berdetak kencang setiap aku melangkah masuk ke dalam rumahnya. Hahh… semoga semuanya akan baik-baik saja…
Setelah tiba di ruang tamu. Aku bisa melihat Jungkook yang sedang berjalan mondar-mandir di ruang tv dengan raut wajah yang gelisah.
“Jungkook, apa yang kau lakukan?”
Suaraku membuatnya menghentikan melangkah. Melihat kedatanganku membuatnya terkejut. Dia langsung berjalan menghampiriku, lalu memegang kedua pundakku dan menatap khawatir.
“Kau dari mana saja? kau membuatku sangat khawatir.”
Melihat wajahnya langsung membuatku gugup. Tapi aku tidak boleh gugup seperti ini, aku harus terlihat biasa. Kucoba untuk tersenyum manis padanya.
“Apa maksudmu? tentu saja aku sedang bekerja. Kau juga tahu itu.”
“Hahh kau benar… hmmm soal tadi di sekolah..maaf. Aku sudah keterlaluan mengatakan kau selingkuh dengan Minju, maafkan aku, dan juga maaf soal merendahkanmu waktu di perpustakaan, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bercanda, tapi sepertinya aku sudah keterlaluan..”
Melihat dia menyesal atas perbuatannya dan meminta maaf padaku. Membuatku tersenyum. Ya, inilah Jungkook yang kukenal. Kuusap rambutnya pelan sambil menatapnya lembut.
“Tidak apa-apa. Waktu di sekolah aku dan Minju hanya sedang belajar bersama. Tapi sepertinya Jihyun mengadu aku selingkuh darimu agar kita saling benci. Kau tahu sendirikan? Aku tidak akan pernah selingkuh darimu. Aku sangat mencintaimu…“
Jungkook pun tersenyum lalu mengangguk padaku.
“Aku juga.”
Saat sedang mengusap rambutnya, aku baru menyadari kalau kening Jungkook masih berdarah. Pasti ini gara-gara Minju waktu mereka berkelahi di sekolah. Ya tuhan anak ini, apa dia tidak pernah merawat dirinya?
“Tunggu di sini, aku ambil P3K dulu.”
Dengan cepat aku bawa P3K di lemari dapur, lalu segera menghampiri Jungkook kembali. Tak lupa aku basahi kapas dengan air hangat terlebih dahulu untuk membersihkan lukanya.
“Kau ini benar-benar…, seharusnya kau tidak berkelahi tadi. Lihat lukamu, bagaimana kalau terkena infeksi?“
Dia ini sudah membuatku marah, lalu mengira aku selingkuh, sekarang dia malah membuatku khawatir. Sebenarnya mau dia apa sih?
Namun, selama aku mengobati lukanya, Jungkook terlihat hanya diam saja tidak bergeming. Dia malah terus tersenyum lembut padaku.
“ Kau tahu? Masalah apa pun yang terjadi di antara kita. Aku akan tetap mencintaimu.”
DEG!
Jantungku terasa sakit mendengar perkataannnya. Aku tahu, dia mengatakannya dengan tulus, tapi entah kenapa aku merasa perkataan itu sudah tidak pantas lagi untukku. Aku merasa sudah tidak pantas untuk menjadi orang yang dicintainya.
Seharusnya aku merasa sangat senang sekarang. Moment seperti inilah yang ku tunggu-tunggu. Tapi kenapa? Untuk pertama kalinya, saat mendengar ucapan lembut darinya. Aku malah merasa sangat sakit medengarnya.
Ahh, aku tidak tahu, yang bisa kulakukan hanya menunduk setelah mendengar ucapannya.
“Hyerin? Kenapa? Apa kau sakit?”
Jujur saja, aku sangat mencintainya lebih dari diriku sendiri. Dia lah yang membuat hidupku lebih baik. Dialah yang membuatku bisa tersenyum setiap saat. Tapi kenapa setelah tahu kenyataan ini, aku malah merasa sudah tidak pantas lagi jika masih mencintainya.
“Hyerin, jangan diam seperti ini, cepat katakan padaku sekarang. Apa yang terjadi?”
Jika yang di katakan Jihyun benar, maka apa aku harus menjauhi Jungkook?!
Menyadari hal itu, aku langsung mendongak menatapnya syok. Apa aku benar-benar harus menjauhimu Jungkook? Tapi, kenapa hatiku tetap ingin bersamamu?
“Hyerin? Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sangat syok?”
Tangisanku pecah setelah melihat wajahnya.
Jungkook katakan, apa aku harus menjauhimu?
“Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku sekarang.”
Kugeleng-gelengkan kepalaku sambil terus menangis dalam diam saat melihatnya.
Tidak, tidak, tidak… aku tidak ingin berpisah denganmu Jungkook. Aku sangat mencintaimu, aku ingin terus bersamamu. Kumohon katakan kalau yang dikatakan Jihyun itu bohong.
“Jungkook..hiks..”
“Hmm? kenapa? katakan padaku sekarang, ada apa?”
Setiap aku meneteskan air mata, Jungkook langsung dengan sigap menghapus air mataku dengan lembut. Entah kenapa rasanya menyakitkan bila mengingat aku tidak akan pernah merasakan sentuhan lembutnya lagi.
“Jungkook.. apa kau berjanji akan terus bersamaku?”
Awalnya Jungkook terlihat bingung dengan pertanyaanku, namun tak lama kemudian dia tersenyum.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? sudah jelas, aku akan terus bersamamu kapan pun itu.”
“Apa kau yakin?”
“Hey.. apa kau meragukanku? Tentu saja aku akan selalu ada di sampingmu.”
“Jungkook.. asal kau tahu, apa pun yang terjadi. Aku akan selalu mencintaimu.”
Jungkook tersenyum lembut. Lalu dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
“Aku juga sangatttt mencintaimu..”
Yahh… untuk saat ini biarkan aku merasakan kehangatan ini. Aku tidak tahu apa yang di katakan Jihyun itu benar atau tidak. Tapi yang terpenting adalah, aku harus percaya pada Jungkook.
🌸🌸🌸