Love is You

Love is You
Eps 38



Setelah mendapatkan nasehat dan dukungan dari kakak dan teman-temannya akari berubah tegar, dia akan berusaha membuat akira kembali mengingatnya. Sudah seminggu akari tidak melihat akira, akhirnya hari ini akira di izinkan pulang dari rumah sakit. Akari berniat untuk menjemputnya.


"Ri apa kamu yakin, mau manjemput akira" tanya yuriko sedikit khawatir.


"Aku harus yakin yuri, bagainanapun akira pacarku, dan aku akan memperjuangkanya" ucapku sambil mengulas senyum. Sebenarnya aku sendiri merasa ragu, aku takut tersakiti. Tapi demi akira aku akan bertahan.


"Kamu tenang saja yuri, biar aku yang akan menemani akari" ucap tatsuya.


"Baiklah, aku sedikit tenang bahwa akari tidak pergi sendirian" ucap yuri.


"Baiklah, aku dan akari berangkat sekarang" pamit tatsuya mengacak rambut yuriko.


"Hati-hati, jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai" ucap yuriko.


Aku tersenyum bahagia, melihat kemesraan dua sejoli di depanku.


"Akari.. Semangat.. " ucap yuriko memberiku pelukan penyemangat.


Aku mengangguk, sambil melambaikan tangan " bye.. "


"Mereka mau kemana " tanya saki yang baru kembali bersama satoru.


"Menjemput akira.. " jawab yuriko.


"Semoga akira cepat mengingat akari" ucap satoru.


Saki dan yuriko mengangguk.


Setibanya di rumah sakit, jantungku terus berdetak ridak karuan, telapak tanganku berkeringat dingin. Aku berusaha melawan rasa gugupku. Aku berdiri mematung di depan pintu kamar akira yang madih tertutup.


"Tenanglah, ada aku di belakangmu" ucap tatsuya.


Aku menghela nafas, berusaha bersikap senormal mungkin.


"Cekleeekk" pintu lebih dulu terbuka, sebelum aku membukanya.


"Nak akari.. " ucap ibu akira terkejut melihat kedatanganku.


"Tante, apa kabar.. " sapaku memeluknya.


"Baik.. Tante baik, kamu sendiri gimana kabarmu, maaf kan tante.. " ucap ibu akira tampak sedih.


"Aku baik-baik saja tante, tante hangan terlalu cemas" ucapku tersenyum setulus mungkin.


"Siapa sayang.. " tanya ayah akira, mendekat ke arah kami.


"Akari.. Benar ini kamu nak.. " ucap ayah akira memelukku erat.


"Ayo masuk, om benar-benar merindukanmu" ucap ayah akira. Ayah akira masuk sambil merangkulku dengan tersenyum lebar.


"Akira lihat siapa yang datang.. " ucap ayah akira.


Akira yan sedang berdiri di depan jendela, berbalik menatapku.


"Akira.. " ucapku tersenyum hangat kepadanya.


"Apa yang kau lakukan disini.. " akira menatapku tajam.


"Jlepp.. " tatapannya menusuk jantungku.


"Akira kenapa kau berkata begitu, akari kemari ingin menjemputmu" ucap kesal ibu akira.


"Iya akira, aku datang untuk ikut mengantarmu pulang" jawabku gugup.


"Memang kamu siapa, aku tidak mengenalmu lebih baik kau pergi dari sini sekarang" bentak akira.


Mataku mulai berkaca-kaca, aku sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak keluar.


"Akira, akari ini kekasihmu, kenapa kau berkata kasar kepadanya.. " ucap ayah akira, mengeratkan rangkulannya di lenganku memberiku kekuatan.


"Jika dia benar kekasihku, kemana dia selama ini, kenapa dia baru muncul sekarang" tanya sakras akira.


"Dia selama ini berusaha menguatkan dirinya, agar tidak tersakiti oleh kata-kata pedasmu itu akira" ucap tatsuya mendekat.


"akira, ada apa ini ribut-ribut.. " tanya kaori yang baru datang, berjalan mendekati akira.


"Lihat siapa yang datang.. " ucap akira menunjukku.


"Oh ternyata, gadis tak tau diri ini, kamu ngapain kemari, lebih baik kamu pergi tidak ada tempat untukmu disini" ucap sinis kaori.


"Jaga mulutmu kaori, yang seharusnya pergi itu kamu, dasar wanita ular" bentak tatsuya.


"Kau, aku sudah bilang jika kamu masih berani menghina kaori, lebih baik kamu pergi" ucap akira.


"Akira, nak mereka sahabat dan pacarmu, kenapa kamu seperti ini, ibu benar-benar tidak mengenalimu nak" isak ibu akira.


"Tante, akari gak papa, tante jangan sedih, akari pamit ya, mungkin akira masih perlu waktu untuk menenangkan diri" ucapku memeluk ibu akira.


Akira membuang muka, malas melihat drama di depannya.


"Akira, aku harap kamu segera sadar. Agar kau tidak menyesal nantinya.. " ucap tatsuya, menarik ku pergi.