
“Hasa, ada berapa lagi rapat yang harus saya hadiri?"
“Untuk jadwal hari ini sudah selesai pak.”
Tak terasa, pekerjaanku sudah selesai begitu cepat. Padahal ini baru jam 5 sore. Biasanya aku pulang jam 10 malam. Apakah aku terlalu serius menyelesaikannya ya? Baiklah.. setidaknya aku bisa pergi bermain sekarang.
“Baiklah, terimakasih atas kerjamu hari ini. Kau bisa pulang sekarang.”
“Baik pak, terimakasih.”
Setelah Hasa pergi dari kantorku. Aku langsung segera membereskan barang-barangku dan memasukannya ke dalam koper kecil. Lalu, aku ambil jas yang tergantung di gantungan baju. Setelah siap memakainya aku langsung pergi keluar.
Karena ini masih sore, sepertinya aku ingin luangkan waktuku di Bar. Lagi pula ada Minju di sana. Bar itu tidak terlalu jauh dari perusahaanku. Karena itu aku sering pergi ke sana.
Setelah tiba di sana, aku langsung pergi masuk ke dalam. Suara diskotik yang sangat keras membuatku sedikit terganggu. Ada begitu banyak orang yang menari di sana. Tapi aku tidak begitu tertarik dengan hal seperti itu.
“Kau lagi?”
Yahh Minju adalah pemilik Bar ini. Aku dengannya sudah berbaikkan, tidak berkelahi lagi seperti dulu.
Aku pun segera duduk di kursi sambi menatapnya untuk meminta minuman yang biasa aku pesan. Tapi asal kalian tahu, Jihyun tidak pernah tahu kalau aku sering ke sini. Karena itu, rasanya sangat bebas kalau aku di sini.
“Kau tahu? Aku suka kau datang ke sini karena itu menguntungkanku. Tapi, kumohon kau jangan sampai mabuk lagi. Aku tidak ingin menjadi supirmu lagi malam ini.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. Yahh.. aku memang sudah sering merepotkannya.
“Tenang saja, aku tidak akan mabuk hari ini.”
“Terakhir kali kau bilang seperti itu padaku. Aku sudah bosan mendengarnya.”
“Kalau begitu, tolong satu botol wine.”
Minju hanya menatapku jengah. Kemudian dia pergi untuk mengambil botol wine yang biasa aku pinta. Sambil menunggu, aku menonton orang-orang yang sedang asik berdansa di lantai dansa. Sebenarnya ada banyak wanita di sini. Tapi sampai sekarang, aku tidak pernah tertarik dengan mereka.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman panas di sampingku.
“Kau milikku?"
“Aku milikmu malam ini.”
Entah kenapa melihat wajah wanita itu, terlihat sangat tidak asing bagiku. Bahkan aku merasa seperti pernah melihat wanita itu sebelumnya. Parasnya memang terlihat sangat cantik. Tapi, entah kenapa dia terlihat sangat mirip dengan seseorang yang kukenal dulu.
“Kenapa? Apa kau suka ja*** itu?”
Tiba-tiba suara Minju mengejutkanku. Langsung kugelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku tidak tertarik dengan yang seperti itu.”
Minju tersenyum sekilas. Lalu kembali memandang wanita yang ada di sampingku.
“Wanita itu sudah sering melayani para pria yang ada di sini. Mungkin itu adalah pekerjaannya. Menjadi Ja**** adalah pekerjannya.”
“Apa kau mengenalnya?”
Dengan basa basi, aku pun menyeruput segelas wine anggur. Kulihat Minju terus menatap wanita yang sedang melakukan ciuman yang sangat panas dengan pria itu. Astaga… dasar ja****, mereka selalu tidak mengenal tempat yang cocok untuk melakukan perbuatan keji itu.
“Kalau tidak salah…. Namanya adalah.. Kim Hyejin?”
“Ahh.. Kim Hyejin… nama yang sangat umum bukan? Entah kenapa aku selalu merasa seperti menge…nal..”
DEG!
Tu-tunggu… dia bilang Kim Hyejin?!
Saat itu juga, aku langsung kembali menoleh ke samping untuk melihat wanita itu. Namun sayang sekali wanita itu sudah tidak ada di sampingku. Aku pun mencoba mencarinya dengan mataku. Saat melihat ke atas, aku bisa melihat wanita itu yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama pria yang barusan menciumnya.
Oh ya tuhan, apakah ini kebetulan? Atau bagaimana? Jangan bilang kalau wanita yang baru saja ada di sampingku adalah kakaknya Hyerin yang selama ini dia cari?! Apa selama ini, dia selalu bersembunyi di sini? Dan menjadi… seorang ja****?!
🌸🌸🌸
“Jadwal hari ini… seperti biasa padat.”
Kini aku sedang berada di kantor. seperti biasa bekerja, bekerja dan bekerja. Tapi karena kemarin aku sudah menghabiskan waktuku untuk bersenang-senang. Rasa penat di pundakku menjadi ringan.
Mataku terkejut melihat Jimin tiba-tiba keluar dari kantor. Aku pun langsung berdiri dari kursi dan menunggu perintahnya
“Hyerin, hari ini.. kita makan di tempat biasa. Apa tidak apa-apa? Aku tidak ingin bertemu dengan Kim Woobin lagi, aku tidak suka dengannya.”
Hehh? Makan siang? Kukira dia akan memberiku tugas. Dengan senang hati aku hanya mengangguk.
“Terserah padamu Jim, aku ikut-ikut saja.”
“Oke.”
Akhirnya, seperti yang di katakan Jimin. Aku dan Jimin pergi makan siang di sebuah Restoran yang biasa kami datangi untuk makan sing. Restoran ini tidak jauh dari perusahaan kami. Jadi kami bisa makan dengan santai tanpa di kejar waktu. Saat aku hendak membuka pintu masuk, ada sebuah tangan yang ikut memegang tanganku. Saat itu juga aku terdiam di tempat dan melihat siapa yang ikut membuka pintu tersebut.
Saat kulihat wajahnya, mataku langsung membulat lebar. Jantungku juga langsung berdebar debar. Perasaan gugup dan takut juga panik, langsung menyelimutiku. Kalian tahu siapa yang ada di hadapanku sekarang? Dia adalah Jeon Jungkook.
“H..Hye..Hyerin…?!”
“J..Jungkook?!”
Bagaimana ini? bagaimana bisa dia muncul di hadapanku sekarang? Aku sudah mulai melupakannya lalu, kenapa dia muncul lagi?! apa dia mau membuatku tergoyah lagi? apa yang dia lakukan di sini?!
“Jungkook?! Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa kau ada di depanku lagi?! bagaimana kau bisa...!”
GREPP!
Tiba-tiba Jungkook langsung memelukku dengan erat. Kelakuannya yang tiba-tiba membuatku terdiam membeku di tempat. Aku tidak tahu harus senang atau marah sekarang. Karena sejujurnya, aku benar-benar merindukan pelukannya ini.
“Hyerin, syukurlah… syukurlah aku bisa menemukanmu lagi… aku benar-benar sangat merindukanmu.”
Tidak.. aku tidak boleh tergoyah lagi. Aku tidak ingin masuk dalam kebohonganmu itu lagi.
Dengan cepat, aku langsung melepas pelukannya dan mendorongnya.
Jungkook terlihat sangat terkejut setelah melihat tindakanku padanya. Dia pun menunduk dan terdiam di tempat.
“Ma-maaf..aku tiba-tiba memelukmu, tanpa seizinmu.”
“Hyerin! Tunggu aku!”
Suara Jimin yang memanggilku membuatku sedikit terkjut. Bagaimana ini? Jika Jimin melihat Jungkook apa dia akan marah?
Saat Jimin datang menghampiriku. Ekspresi wajahnya berubah terkejut setelah melihat Jungkook yang sedang berdiri di depanku. Wajah kesal, dan dinginnya mulai muncul di wajahnya.
“Jimin.. “
Sebaliknya, Jungkook justru terihat bahagia melihat Jimin.
“Jimin! Sudah lama kita tidak bertemu! Bagaimana kabarmu sekarang?”
Jimin terdiam mendengar pertanyaan Jungkook. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Sambil menatap tajam ke arah Jungkook.
Ahhh aku sudah tahu ini, Jimin pasti sangat membenci Jungkook hingga dia menatap tajam ke arah Jungkook seperti itu.
“Tentu saja, aku baik-baik saja Jungkook, sudah lama kita tidak bertemu.” Ucapnya dengan nada dingin.
“Ya! Itu benar! Apa kalian datang ke sini, untuk makan siang? Kalau begitu.. bagaimana jika kita makan bersama? Anggap saja seperti reuni kita.”
Aku terdiam membeku sambil menggigit bibir mendengar tawaran Jungkook. Tapi senatural mungkin aku harus terlihat biasa. Jimin yang menatapku terdiam menunggu jawabanku. Tak lama kemudian, aku pun mengangguk mengiyakan.
“Baiklah..”
Ya tuhan, mimpi apa aku semalam? Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan Jungkook hari ini? sudah 9 tahun lamanya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Melihat dia yang duduk bersebrangan denganku. Membuatku sedikit gugup. Apa lagi dia terus menatapku dengan tatapan bahagianya, sesekali dia juga tersenyum manis padaku. Ohh astaga.. kenapa dia terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya?! Ya tuhan kau bilang apa Hyerin? Ingat dia itu sudah menyakitimu. Ini akan membuatku mati rasa. Tapi syukurlah… dia tidak bersama Jihyun sekarang. Setidaknya tidak ada wanita itu, aku tidak masalah. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan wanita itu.
“Jungkook, sepertinya kau terlihat sangat semangat hari ini.”
“Ahh.. iya itu benar. Aku juga tidak tahu, apa yang membuatku terlihat semangat hari ini.“
Saat dia mengucapkan itu, dia pun menatapku dan tersenyum. Ohh ya tuhan, senyumannya membuat hatiku berdebar 2X lipat. Aku pun langsung menunduk untuk menghindari tatapannya.
“Kau terlihat semakin cantik Hyerin.”
DEG!
Mati! mati! mati! apa dia mau membuatku mati?! kenapa dia tiba-tiba memujiku?!
Seberusaha mungkin, aku mencoba untuk tersenyum dan mengangguk padanya.
“Terimakasih.”
“Sekarang, kau bekerja dimana?.”
“A-aku, aku bekerja di perusahaan HighDream. Aku menjadi sekretaris di sana.”
Jungkook tersenyum lebar mendengar ucapanku. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami.
“Wah itu luar biasa! siapa atasanmu?”
“Aku.”
Jawaban Jimin langsung membuat Jungkook terdiam. Kurasa Jungkook tidak suka jika Jimin adalah atasanku. Tapi seketika dia mengangguk dan tersenyum pada Jimin.
“Kalian, memang sahabat yang sejati ya? Syukurlah kalian terus bersama sampai sekarang. Itu membuatku senang melihatnya.”
“Yap, kita selalu bersama dan tak terpisahkan. Tapi.. bagaimana denganmu? Di mana istrimu itu? Kim Jihyun…“
Perkataan Jimin seakan seperti pisau tajam yang menembus jantung Jungkook, begitu pun padaku. Jungkook langsung terdiam mendengar pertanyaan Jimin. Dia menunduk lalu menghembuskan nafasnya gusar.
“Kau tahu? Sudah 9 tahun kita tidak bertemu. Sebaiknya kita membicarkan hal yang lain. Apa bisa? Aku tidak ingin membicarakan tentang itu.”
“Kenapa? Bukankah kau suaminya? Bagaimana bisa kau tidak senang jika aku membicarakan istirmu itu? bagaimana rumah tangga kalian? Apa lancar? Atau.. apa kalian sudah memiliki anak?"
Jimin, apa kau sengaja menggodanya agar dia marah? Hentikan permainanmu. Aku di sini, hanya ingin makan siang dengan tenang. Lagi pula, aku sudah tidak peduli tentang hubungan Jungkook dan Jihyun. Kenapa dia terus menanyakan hal itu?
Jungkook yang akhirnya menyerah, dia tersenyum tipis lalu menatap Jimin dengan dingin.
“Apa kau merindukan Jihyun? Jika kau merindukannya kau bisa datang ke butiknya. Kau tahu? Walau pun aku sudah menikahinya selama 9 tahun ini. Aku tak pernah sedikit pun mencintainya. Aku tak pernah mau memberikan hatiku padanya. Kenapa? Karena hatiku sudah penuh dengan orang yang aku cintai dulu. Tapi, kupikir wanita itu sepertinya sudah tidak mencintaiku lagi. Bahkan dia enggan berbicara padaku sekarang.”
Perkataan Jungkook seakan membuatku seperti terbang ke langit. Dia bilang apa? Dia bilang masih mencintaiku? Apa aku tidak salah dengar? Apa aku harus senang atau tidak?
Tak lama kemudian, Jungkook kembali menatapku dengan lembut dan tersenyum manis. Astaga… jangan sampai aku mulai menyukainya lagi. Oh ya tuhan, ingatlah Hyerin. Dulu, kau pernah merebut calon suami orang lain, jangan sampai sekarang kau merebut suami orang lain lagi. Aku sudah mulai melupakannya. Kini hidupku sudah lebih baik tanpanya. Jangan sampai sebuah masalah baru muncul lagi, dan menghancurkan masa depanku.
“Kau gila. Kau sudah bertunangan Jungkook. Kau sudah memiliki istri dan berumah tangga. Jangan sampai kau mengatakan mencintai wanita lagi. Jika itu terjadi, kau benar-benar pria yang brengsek.”
“Ya, kau benar, aku adalah pria brengsek. Sejak dulu aku memang pria yang brengsek. Tapi bagaimana lagi? aku masih sangat mencintainya, dan pernikahan ini bukanlah kemauanku, aku di jodohkan dengan terpaksa demi keluargaku.”
Jantungku berdegup kencang mendengar pernjelasannya. Kemudian dia menatapku dengan tatapan sedihnya.
“Dia bilang, aku harus menikahinya agar keluargaku bahagia, dan aku menurutinya. Tapi, kenapa? Selama 9 tahun ini, walau pun karirku sukses, kenapa aku tak pernah merasa bahagia? Selama 9 tahun ini, aku merasa terkurung dalam penjara dan aku masih terus menunggu agar bisa bertemu dengannya lagi.”
Entah mengapa, mendengar ucapannya. Membuatku ingin sekali menangis rasanya. Hatiku kembali terasa sangat hancur. Perasaan yang sudah ku kubur dalam-dalam kini terbuka kembali. Tapi, Jungkook tetap tersenyum padaku dengan sangat lembut. Ya tuhan, kenapa aku sangat ingin memeluknya sekarang? Aku ingin mengelus punggungnya dan memeluknya dengan erat.
“Aku selalu berfikir, dimana dia sekarang? Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia tumbuh dengan baik? Apa dia sudah makan? Aku benar-benar merindukan senyumannya.”
Senyumanku terukir setelah mendengar semua penjelasannya. Jungkook yang terkejut melihatku, perlahan dia juga ikut tersenyum padaku.
“Aku merindukanmu Hyerin.”
“Aku juga.”
Setelah mengatakan itu, pelayan datang membawa makanan siang kami. Tatapan kami kini mulai kembali biasa. Aku pun menoleh dan menatap Jimin.
Saat aku menatapnya, aku sedikit terkejut melihat Jimin yang terlihat sebal padaku. Aku yang bingung langsung bertanya padanya tanpa suara.
“Apa?”
Tapi, Jimin hanya menggeleng kan kepalanya padaku. Lalu kami pun mulai menikmati makan siang kami dengan tenang.