Love is You

Love is You
Maaf



Hari demi hari sudah berlalu. Tak terasa hari ini sudah waktunya untuk masuk sekolah. Sebenarnya aku sudah siap dan tinggal berangkat sekarang. Tapi entah kenapa aku tidak punya keberanian untuk pergi ke sana. Rasanya sangat menakutkan bila bertemu dengan orang yang ada di sana. Semenjak hari dimana Ibu Jungkook datang ke rumah, aku dan Jungkook jadi jarang berbicara. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Entahlah, mataku juga sudah kelelahan karena sering menangis di malam hari hingga membuatku tidak bisa tidur. Pasti sekarang mataku sembab sekali.


“Hyerin? Apa kau sudah siap?”


“…Ya.”


Mendengar Jungkook memanggilku, aku pun segera bangkit dari ranjang dan segera pergi keluar kamar. Jungkook pasti sedang menungguku di depan rumah. Baru saja membuka pintu. Aku di sudah di suguhi dengan raut wajah Jungkook yang terlihat dingin. Jujur saja melihat itu membuatku sedikit sakit.


Jungkook yang melihat tampangku agak berantakan. Membuatnya sedikit khawatir.


“Apa kau sakit?”


“Tidak, ayo kita pergi.”


Seberusaha keras aku tersenyum seperti biasanya. Selama perjalanan, kami hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku lebih memilih menatap pemandangan dari jendela dengan hati yang terasa hancur. Tiba-tiba aku mendengar Jungkook berbicara.


“Apa kau masih memikirkan perkataan Ibu?”


Mendengar pertanyaannya aku hanya diam tidak menjawab.


“Sudah kubilang, kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Semua akan baik-baik saja, lupakan perkataan Ibu. Kita kembali saja seperti dulu lagi, seolah tidak terjadi apa-apa bagaimana?”


“Lupakan? Apa bagimu melupakan adalah hal yang mudah?”


Moodku benar-benar tidak baik. Bagaimana bisa, dia mengatakan hal itu dengan mudah? Apa dia tidak memikirkan diriku yang benar-benar merasa paling hancur di sini?


“Apa kau marah?”


“Kau pikir itu hal yang biasa bagimu? Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya jika aku sudah merusak hubungan keluargamu. Aku memang pantas di panggil wanita ja****.”


“HYERIN! Kau ini bicara apa?!”


“Kenapa?! Bukankah kau akan meninggalkanku? Kau tahu sendiri bukan hubungan ini sudah sangat retak? Kenapa kau masih membelaku di depan Ibumu?. Aku tahu semua ini akan terjadi. Aku memang tidak layak untuk bahagia.”


“Jangan pernah bicara seperti itu lagi.”


“Kenapa? Karena itu semua benar?! Bahwa aku ini adalah perusak hubungan orang lain! Seharusnya aku tidak layak untuk hidup!”


“HYERIN!”


DEG!


Mataku membulat terkejut mendengar suaranya. A-apa dia baru saja membentakku?


CKITT!


Tiba-tiba Jungkook mengerem mobilnya di pinggir jalan. Kemudian dia kembali menatapku marah.


“Jangan pernah sekali kali kau berfikir, kalau kau tidak layak hidup atau berfikir kau adalah wanita ja****. Kau adalah wanita yang berhati baik. Kau itu penyayang, sabar, dan kuat. Aku tahu itu.”


Mendengar perkataannya membuatku kembali ingin menangis. Entah kenapa aku merasa jika hidup itu sangat menyakitkan. Kenapa hal buruk selalu terjadi?


“Lalu kenapa? satu persatu masalah datang padaku? Kenapa semuanya begitu berat?! Satu persatu orang yang ku sayangi pergi Jungkook! Ayah, Ibu, Kakak dan sekarang kau!”


Hatiku terasa sangat sakit melihat wajahnya yang ikut hancur melihatku menangis.


“Kau tahu aku sangat menyayangimu. Tapi kenapa selalu saja ada masalah yang memisahkan kita?! Apa aku adalah wanita pembawa sial?.“


Ekspresi marahnya menghilang setelah melihatku menangis. Dia malah terlihat khawatir sekarang. Saat dia hendak memegang pipiku. Dengan cepat aku langusng mengindarinya.


“Maaf, sepertinya aku sedang ingin sendiri sekarang. Aku akan turun di sini.”


Segera kubuka pintu mobilnya, dan pergi berjalan menuju sekolah. Samar-samar aku bisa mendengar dia memanggil namaku. Tapi, aku tetap berjalan dan tidak mempedulikan panggilannya. Untuk sementara aku tidak ingin melihat wajahnya.


🌸🌸🌸


Selama jam pelajaran atau istirahat, aku sama sekali tidak bicara dengan Jungkook. Sebenarnya, Jungkook selalu menghampiriku. Tapi dengan cepat aku langsung menghindarinya. Aku masih tidak ingin membicarakannya tentang masalah itu. Mengingatnya saja sudah membuat dadaku terasa sangat sakit.


Sekarang, aku sedang berjalan sendirian di tepi lorong sekolah dengan tatapan kosong. Semangatku hilang, tidak tahu harus pergi ke mana.


Tak sengaja saat berjalan aku menemukan ruang aula di samping. Ahh iya, Minju biasanya selalu diam di sini. Setelah masuk ke dalam, ternyata dugaanku benar. Dia sedang berdiri menghadap jendela. Tanpa ragu, aku pergi menghampirinya lalu berdiri di sampingnya.


Menyadari keberadaanku Minju langsung menatap bingung padaku.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Dengan malas aku menjawab.


“Kenapa? Apa aku tidak boleh datang ke sini? Apa ini sekolahmu?”


Melihat sikapku yang sedikit berubah membuat dia tambah bingung.


“Hei, apa kau sakit? Kenapa wajahmu terlihat hancur?”


“Tck… wajahku itu tidak hancur, yang hancur itu hatiku. ”


“Kau punya masalah apa lagi dengan Jungkook?”


Mendengar pertanyaannya, aku pun tersenyum padanya dan menyuruhnya untuk duduk. Awalnya dia diam tidak menurutiku. Tapi, tak lama kemudian, dia pun akhirnya menurutiku lalu duduk di kursi yang ada depanku.


“Akan ku beritahu rahasia yang tidak orang lain tahu.”


Ucapku dengan senyuman pahit. Minju yang tidak mempermasalahkan perkataanku. Dia hanya mangangguk kecil.


“Ok, apa itu?”


Sambil menghembus nafas gusar, aku menatapnya lemas.


“Ibunya Jungkook, datang ke rumah 1 minggu yang lalu.”


“APA?!”


Minju terkejut mendengar perkataanku. Aku hanya tersenyum melihatnya. Tak lama kemudian semangatnya tiba-tiba muncul dan menatapku dengan penasaran. Badannya sedikit maju ke arahku agar bisa mendengar dengan jelas.


“Lalu, apa yang terjadi setelah itu? apa kau di usir?”


Cihh dia memang tahu sekali situasiku.


“Seharunya aku diusir dan di asingkan seperti yang ada di film-film. Tapi, Ibu Jungkook tidak mengusirku. Dia hanya bilang harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Kalau begitu artinya.. apa aku harus putus dengan Jungkook?”


Setelah mendengar ceritaku dia tersenyum sinis.


“Hey.. kau benar-benar terlihat seperti orang yang putus asa. Apa masalah ini benar-benar menyakitimu?”


“Heh! Aku ini sudah kehilangan seorang Ayah, Ibu, dan Kakak. Kalau sekarang aku kehilangan Jungkook. Tentu saja itu membuatku semakin hancur bodoh.”


“Hey.. kau ini tidak perlu berlebihan, ada begitu bnyak pria di muka bumi ini yang bisa menjadi pacarmu, bukan dia saja, bodoh.”


Mendengar itu, aku langsung tersenyum.


“Kalau begitu, kau mau menjadi pacarku?”


Minju ikut tersenyum mendengar pertanyaanku.


“Ayo.”


Kami berdua terdiam sesaat lalu tertawa terbahak-bahak setelah mengingat apa yang baru saja kami bicarakan. Hahh.. sebenarnya aku ini kenapa? Aku benar-benar seperti sudah gila.


“Hey, akan kuberitahu rahasia yang belum diketahui oleh siapa pun.”


Aku yang mendengarnya kembali menoleh menatapnya sambil tersenyum.


“Kau tahu? Walau aku selalu bertengkar dengannya. Dia masih tetap sahabatku dan aku masih mengenal siapa dirinya. Jadi, kau tenang saja… Jungkook tidak akan membiarkan masalah ini semakin rumit. Percayalah.. Jungkook adalah pria yang tangguh, dan dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan salah satu yang di inginkannya adalah kau. Dia tidak akan membuat masalah ini semakin rumit. Jadi kau tenang saja… “


Hatiku kembali terasa rapuh mendengar perkataannya. Ya itu benar, Jungkook adalah pria yang tangguh dan selalu berjuang untuk mencapai keinginannya. Baiklah kalau begitu, akan kugunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.


“Minju kau tahu? Kau itu adalah pria jahat yang paling baik yang pernah aku temui. Terimakasih atas penjelasanmu, itu membuatku terasa lebih lega sekarang.”


Minju langsung mengerutkan keningnya dan menatap tajam.


“Kau bilang apa? pria jahat?”


Senyumku melebar melihat dia mulai marah. Lalu aku segera bangkit dari kursi.


“Aku akan pergi menemui Jungkook dan mencoba untuk membicarakan masalah ini dengan baik-baik. Kalau begitu, sampai jumpa!”


🌸🌸🌸


Padahal aku sudang mengelilingi semua ruangan yang ada di sekolah. Tapi, aku tetap tidak bisa menemukannya. Hingga ke tempat terakhir yaitu taman sekolah. Baru saja tiba di sana. Aku menemukan Jungkook yang sedang duduk di kursi kayu dengan tatapan kosong. Melihat itu rasanya aku ini sudah keterlaluan sekali tadi pagi. Perkataanku sepertinya sudah membuatnya sedih.


Ku coba untuk menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Menyadari keberadaanku dia langsung menatap terkejut.


“Hyerin..”


Aku mencoba untuk tersenyum padanya.


“Hyerin, kau tidak apa-apa? Maaf atas pekerkataanku tadi pagi. Aku mengerti, perkataan Ibu pasti sudah membuatmu sakit. Aku janji padamu, akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat.”


Tatapannya yang terlihat sangat serius, membuatku tambah percaya padanya.


“Tidak, aku yang seharunya minta maaf. Perkataanku tadi pagi pasti sudah membuatmu cemas. Aku hanya terlalu emosi saat itu. Aku tahu, semua masalah ini akan cepat selesai jika kita menjalaninya bersama.“


Dia tersenyum manis mendengar ucapanku. Lalu dia mengacak rambutku lembut.


“Aku sayang padamu.”


“Aku juga.”


🌸🌸🌸