
Kuputuskan untuk mengikuti solusi Jimin. Ya, itu lebih baik. Tapi, aku tidak ingin bertemu dengannya di rumah Jungkook. Rasanya kalau di sana, aku kembali teringat tentang Jihyun. Tempat yang ingin kudatangi sekarang adalah Namsan Tower.
Tempat ini adalah kenangan indahku bersama Jungkook. Semoga saja di tempat ini, bisa membuat kenangan baik lagi.
Baiklah, apa aku hubungi dia sekarang? Ku ambil Hp dari saku celana lalu segera menyalakannya.
Aku sedikit terkejut melihat ada begitu banyak chat dan panggilan yang tidak terjawab. Ternyata itu semua dari Jungkook. Pasti dia sudah menghubungiku waktu di Everland tadi.
Dengan gugup, ku tekan nomor telephonnya lalu menunggu jawabannya. Selang beberapa detik kemudian, Jungkook langsung mengangkat telphonku.
“Hyerin! Kau dimana sekarang? aku sudah mencarimu kemana-mana tapi masih belum bisa menemukanmu.”
Suaranya terdengar terengah-engah. Apa dia masih mencariku sampai malam begini?.
“Jungkook bisakah kita bertemu sekarang? Aku ada di Namsan Tower.”
“Namsan Tower? Baiklah aku pergi ke sana sekarang. Tunggu aku.”
Setelah itu, Jungkook langsung memutuskan telphonnya. Suaranya yang terdengar terengah-engah saat bicara barusan, apa itu artinya dia masih mencariku sampai sekarang? Hah, dia pasti gila.
Selang beberapa menit kemudian. Kudengar Jungkook memanggilku dari jauh. Melihat itu, aku hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Hingga akhirnya dia berlari menghampiriku. Setelah sampai, aku bisa mendengar suara nafasnya yang tidak beraturan. Dia membungkuk sebentar sambil mengatur nafas. Dia terlihat benar-benar kelelahan sekarang.
Apa dia lari dari bawah? Tidak mungkinkan? Itu sangat jauh.
Setelah merasa baikkan. Dia berdiri tegak dengan hidungnya yang memerah dan keringat yang membasahi rambut. Melihat itu membuatku terkejut. Apa dia sungguh lari dari bawah?
“Kau baik-baik saja?”
Jungkook mengangguk pelan sambil tersenyum walau nafasnya masih belum teratur.
“Yahh… akuh baik-baik saja. Dari tadi aku mencarimu di rumah, lalu ke rumah Jimin, sekolah, dan café. Hahhh.. Kukira kau sudah pergi meninggalkanku.”
Hahhh tadinya mau begitu. Tapi, syukurlah Jimin sudah memberiku solusi. Kuhembuskan nafas gusar lalu kembali menghadap pemadandangan.
“Aku ada di minimarket. Memang tadinya aku ingin pergi darimu. Tapi syukurlah Jimin menyuruhku untuk bicara baik-baik denganmu.” Kataku tanpa melihatnya.
“Maaf, sebenarnya pagi tadi memang aku sedang berkumpul dengan anak basket. Tapi, tiba-tiba Jihyun datang dan memintaku untuk menemani dan menghabiskan waktu bersamanya sehari saja. Kalau aku tidak menurutinya, dia mengancam akan melaporkan yang tidak-tidak pada orangtuanya. Termasuk aku juga tidak boleh memberitahumu. Jadi, aku terpaksa. Maafkan aku..” Dia sengaja menjeda sebentar untuk melihat tanggapanku. Tapi aku masih diam tidak bergeming.
“Tentang pertunangan, aku tidak berbohong. Pertungan itu sungguh aku sudah membatalkannya. Mulai sekarang juga aku tidak menangggapinya lagi dan akan menjauhinya. Aku janji.”
Kuhembuskan nafas gusar setelah mendengar semua penjelasannya, lalu kembali menoleh menatapnya.
“Jungkook.”
“Iya?”
Kutatap matanya sendu “Aku mengerti. Tapi, apa kau pernah berfikir hubungan kita semakin lama semakin retak? Maksudku, sepertinya tidak hanya Jihyun yang membenci hubungan kita. Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah mereka juga akan membencinya? Aku hanya takut, hubungan kita ini tidak berjalan baik seperti yang kita harapkan.”
Ya, itu yang kutakutkan. Bagaimana dengan orangtuanya? Aku tidak pernah bertemu dengan mereka.
Namun tiba-tiba Jungkook memelukku dengan menggunakan mantelnya yang besar. Hingga membuat seluruh tubuhku tertutup dengan mantelnya. Rasanya sangat hangat, dan membuatku terasa tenang sekarang. Dia pun membalikkan tubuhku agar menghadap pemandangan.
“Kita pasti bisa menghadapinya. Apa kau percaya padaku?”
Rasa takut menghilang begitu saja setelah dia memelukku. Rasa hangat, tenang dan nyaman membuatku tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban.
Iya itu benar, dan itu sudah lama sekali. Tak kusangka dia masih mengingatnya.
“Emm kau benar.”
“Saat itulah aku mulai ada rasa suka padamu.”
“Benarkah?!”
Tidak kusangka dia sudah menyukaiku sejak lama sekali. Saat menatap kebelakang. Jungkook tersenyum lalu tertawa kecil sambil mengacak rambutku pelan. Kemudian dia kembali memelukku erat.
“Bagaiamana dengamu? Kapan kau mulai menyukaiku?”
Aku mulai menyukaimu? kapan? Sepertinya waktu aku datang bulan saat itu. E-ehh?! datang bulan?! Aishhh apa aku benar-benar menyukainya waktu kejadian yang memalukan itu? bagaimana bisa?
“Hemmmm.. itu.. ahhh itu sangat memalukan! Aku tidak bisa mengatakannya.”
Jungkook langsung mencubit pipiku gemas mendengar jawabanku.
“Hey, aku sudah mengatakannya padamu. Kau tidak boleh curang.”
Kuhembuskan nafas pasrah mendengarnya. Hahhh baiklah lagi pula pada akhrinya juga akan ketahuan.
“Aishhh baiklah! Tapi janji kau tidak akan ketawa.”
“Ok janji, aku tidak akan tertawa.”
Aishhh sial, apa kau harus mengatakannya? Memikirkannya saja sudah membuat sangat malu.
“A-aku mulai menyukaimu, saat kau menggendongku ke UKS, kau masih ingat? Saat itu aku sedang datang bulan.”
Langsung kututup wajahku yang mulai memerah ini. Ini sangat memalukan!
“Pftt..”
Huh? Apa dia sedang menaha tawa sekarang? Saat ingin menatapnya untuk memastikan dia menertawaiku atau tidak. Jungkook langsung menahan kepalaku untuk terus menatap lurus kedepan.
Wahhh sepertinya dia sedang menertawaiku sekarang. Sudah kuduga ini memang sangat memalukan!. Apa lagi dia menahan terus kepalaku. Membuatku tak bisa melihatnya.
“Kau pasti tertawa.”
“Ti-tidak.”
“Bohong! Kau tertawa barusan! Sini aku lihat!”
Saat hendak melihatnya lagi. Jungkook langsung menahan kepalaku lagi.
“HEH!”
“Sudahlah, lebih baik kau lihat saja pemandangan ini. Sayang sekali kalau kau tidak menikmatinya.”
“Cihhh alasan..”
🌸🌸🌸