Love is You

Love is You
12.Curhatan Yusera



"Aku sudah memaafkanmu sebelum kau datang kerumah ini dan memohon maaf padaku! " jawab Satria ketus.


"Tapi, aku merasa bersalah padamu. " Ungkap Sera.


"Bersalah ?" Satria tersenyum masam setelah mengulang kata yang diucapkan Sera padanya.


"Aku justru ingin berterimakasih padamu. " Ungkap Satria. Sera menatap Satria, seolah bertanya karena tidak mengerti apa maksudnya ucapan Satria yang baru saja diucapkannya.


"Iya. Aku berterima kasih karena ketidakhadiranmu dipernikahan kita waktu itu. Karena dengan begitu, berarti kau sudah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Dan aku, tidak akan terjebak pernikahan dengan wanita yang tidak mencintai aku dengan sepenuhnya." Terang Satria pada Sera.


"Tidak. Bukan begitu !" Sera menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Apa aku mencintai dia dengan sepenuh hatiku? ' gumam Mela yang mendengar serta melihat perdebatan dihadapannya.


"Hari dimana yang seharusnya menjadi hari pernikahan kita berdua, tetap dilangsungkan pernikahanku. Hanya saja, tidak denganmu. Tapi, dengan lelaki pilihan orang tuaku. " Sera menjelaskan alasannya kepada pria yang sudah berstatus suami Mela itu.


Dan sangat disayangkan, Satria terlihat sama sekali tidak peduli itu.


"Baguslah. Hari itu juga tetap menjadi hari penting bagiku. Karena, hari dimana aku kau tinggalkan tanpa alasan yang jelas adalah hari dimana dilangsungkan pernikahanku dengan wanita yang selama ini menemaniku dalam suka dan duga. " Ungkap Satria panjang lebar sambil menebar senyuman manis pada Mela, istrinya.


Terlihat oleh Mela perubahan raut wajah Sera. Tapi, Sera yang begitu pandai mengubah ekspresi wajahnya kembali kesikapnya semula.


"Selamat! " ucap Sera pada Satria sambil menangis dan tersenyum disaat yang bersamaan.


"Selamat atas pernikahan kalian." Sera mengulang kata-katanya.


"Terima kasih. " Jawab Satria singkat." Selamat juga untuk pernikahanmu dengan lelaki pilihan orang tuamu" tambah Satria.


"He'em. Tapi, aku tak bahagia. " Jujur Sera pada pasangan suami istri dihadapannya kini.


'Lalu, apa kau kira aku bahagia? ' Mela membatin.


Ya. Mela tidak ikut menimpali pembicaraan pasangan batal menikah dihadapannya. Mela hanya mendengar dan hanya dapat membantahnya dalam hati.


"Asalkan orang tuamu bahagia. " Jawaban Satria yang membuat Sera terbelalak tak percaya.


Tidak pernah Sera menyangka, jawaban seperti itu yang akan keluar dari mulut lelaki yang selama ini amat sangat menyayanginya. Tidak sedikitpun dia mengira Satria akan menjawabnya dengan kata yang membuat hati Sera hancur.


Dari sini Sera sadar. Dirinya sudah mematahkan hati lelaki yang disayanginya, dan tidak akan pernah memiliki tempat lagi dihidup lelaki itu.


Sera yang datang mengharap belas kasihan sang mantan kekasihnya. Tapi, justru sakit yang dia terima. Kenyataan pahit yang didapatkannya.


Mela yang awalnya ingin sekali mencaci maki wanita dihadapannya hanya mampu menatap wanita itu sendu. Tanpa Sera katakan pada merekapun Mela sudah bisa menebak, bahwa hidup mantan kekasih suaminya itu tidak sedang baik-baik saja.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Kenyataan tidak lagi bisa diubah.


"Bukankah sejak awal kau ingin melihat ayah dan ibumu bahagia? Dan sejak awal juga, kedua orang tuamu sudah tidak menyukai aku, tidak menginginkan aku menjadi menantu mereka. Yang mereka ingin bukan pekerja seperti diriku. Tapi, pengusaha pemilik perusahaan." Ungkap hati Satria.


"Kau tau ? Dari ayahmu meminta tempat diadakan ijab kabul di rumahku saja, aku sudah curiga kalian akan mengerjai dan mempermalukan aku. Tapi, aku meyakinkan hati bahwa semuanya akan baik-baim saja. Namun semuanya menjadi kenyataan dihari itu." Tambah Satria mengungkap isi hatinya.


"Sekarang, pergilah!" usir Satria. "Kita sudah bicara, dan kau sudah membuat waktuku terbuang sia-sia. "


Sera kembali menatap raut wajah lelaki kesayangan yang berada dihadapannya itu. Lelaki yang dulunya selalu ingin dekat dengannya, lelaki itu yang dulu tidak mengizinkan dia pergi dari rumahnya. Tapi sekarang, lihatlah! Lelaki kesayangan Sera itu bahkan mengusir dirinya dalam keadaan sadar.


"Mengapa kau menatapku seperti itu? " tanya Satria, saat menyadari dirinya ditatap dalam diam oleh mantan kekasihnya itu.


"Oke. Jika kau masih ingin disini tidak masalah. Ada istriku dirumah ini" Tambah Satria karena tidak mendapat jawaban Sera.


Satria pun berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Mela, istrinya itu. Dengan kaku Mela menyambut tangan suaminya dan menciumnya takzim. Setelah itu, Satria mencium kening istrinya sebelum benar-benar berlalu. Sedang Mela yang dicium oleh Satria benar-benar salah tingkah.


Andai hanya mereka berdua sudab pasti dia akan mencubit suaminya itu. Ah salah, jika hanya mereka berdua yang dirumah sudah pasti Satria tidak akan melakukan itu bukan. Dan Mela dengan polosnya justru mengikuti saja drama yang sedang dilakukan oleh suaminya.


Mereka tampak seolah pengantin baru yang saling menyayangi. Dan itu, sangat menyakitkan bagi Sera yang melihat adegan demi adegan yang Mela perankan dengan baik.


Hanya dalam hati dia dapat mengatakan 'Awas saja lo nanti, Sat. '


Sementara itu, Satria bersorak kegirangan dalam hatinya. Karena bisa mengerjai istrinya yang suka mengomel itu.


Mela mengantarkan suaminya sampai didepan pintu dan meninggalkan Sera yang tetap duduk di sofa. Saat sampai didepan pintu dan tidak terlihat oleh Sera barulah Mela mencubit pinggang suaminya itu.


Satria yang me dapat cubitan dari Mela hanya meringis tanpa suara karena takut terdengar oleh Sera.


"Dadaah sayang. " Ucap Satria sebelum masuk ke mobilnya.


Bukan menjawab Mela malah menjulurkan lidahnya pada Satria. Itu membuat Satria senang bukan kepalang dapat mengerjai istrinya itu.


Mela menarik nafas dalam sebelum kembali kedalam ruangan yang mana Sera masih duduk disana menantinya.


Sera menatap Mela yang baru saja kembali duduk setelah mengantarkan suaminya pergi bekerja.


"Mbak. " Tegur Sera yang bermaksud mengakhiri keheningan antara mereka berdua.


"Mbak bahagia dengan pernikahan ini? " tanya Sera pada Mela.


'Mau apa sih ni orang interogasi gue'Mela kembali membatin.


"Mbak tau, aku sama sekali tidak bahagia menikah dengan lelaki pilihan orang tuaku. Dia... dia bukan pria normal mbak." Ungkap Sera sambil air mata yang kembali membajiri pipinya.


"Dia selalu melakukan kekerasan saat ingin berhubungan mbak. Dia menyiksa ku untuk membangkitkan libido nya. " Tambah Sera menjelaskan karena melihat tidak ada jawaban dari Mela.


"HAH? " Mela terkejut mendengar penjelasan Sera.


"Jadi... " Mela tidak bisa melanjutkan kata-kata yang tercekat ditenggorokannya. Dia hana mampu menunjuk dengan jarinya bekas lebam di wajah Sera.


"Iya mbak. " Jawab Sera membenarkan pikiran Mela.


"Astaga " gumam Mela pelan.


"Trus, ngapain lo mau kalo gitu? " tanya Mela.


"Karena, dia udah kasih banyak uang sama ayah dan ibuku, mbak. " Jelas Sera sambil terisak.


"What ? lo kawin apa dijual? " teriak Mela pada Sera.


"Aku ngelakuin ini demi mereka bahagia, mbak. Ayahku, sangat suka uang. " Sera terkekeh setelah mengatakan itu. Mungkin, dia menertawakan nasib hidupnya sendiri.


"Iya. Gue tau semua orang pasti suka yang namanya uang. Tapi, haruskah ngorbanin perasaan anaknya sendiri ? nggak kan? " ucap Mela.


"Ya, mau gimana lagi mbak. Semua ini demi mereka." Gumam Sera pelan, yang masih bisa terdengar oleh Mela.


'Lo nggak tau aja, gue juga jalanin ini semua juga karena orang tua, Ser. ' Ucap Mela dalam hati.


"Suami mbak pasti nggak gitu kan, mbak? " tanya Sera.


"Hahh... Aaaa... maksud lo Satria? " tanya Mela gelagapan.


Sera mengangguk membenarkan ucapan Mela.


"Ahh.. Nggak lahh. " Jawab Mela salah tingkah.


'Lo nggak tau aja Ser, gue belum pernah ngapa-ngapain ama laki gue.' kembali Mela membatin.


"Ya udah mbak. Aku mau izin pulang dulu. Kalau suamiku tau aku keluar, bisa dibunuh aku olehnya mbak. Apalagi dia tau aku datang kesini. "


"Ya ampun. Lo udah tau bakal dapat masalah, ngapain masih pergi sihh? " kesal Mela.


"Aku... cuma mau jelaskan sama Satria aja mbak. Dan, aku juga nggak punya teman yang bisa di ajak bicara." Ucap Sera sambil berdiri bermaksud ingin segera pergi.


"Oke. Ya udah, lo hati-hati ya, Ser. " Ucap Mela saat mengantar Sera pulang sampai depan gerbang rumahnya.


Setelah Sera pergi, barulah Mela masuk kembali kedalam rumah dan mengunci pintu.


Bersambung.......