
Sekarang aku sedang berada di rumah Jimin. Lebih tepatnya menginap di sini. Biasanya kalau pekerjaanku lembur. Aku memilih untuk menginap di rumahnya agar bisa selesai dengan cepat.
Tapi, pikiranku selalu teringat pada Jungkook waktu dia mengatakan masih mencintaiku. Entah kenapa, aku langsung luluh mendengarnya. Aku tidak tahu yang aku lakukan sekarang benar atau tidak? Karena sekarang aku sudah menjalin hubungan lagi dengannya.
Ahhh! Aku juga tidak tahu malah mengatakan 'iya' saat dia bertanya ingin menjalin hubungan lagi atau tidak? Aishhh jika Jimin tahu dia pasti akan marah. Sangat-sangat marah besar seperti singa.
Kulihat dia sedang sibuk membaca di meja kerjanya. Huhhh.. sepertinya aku harus memberitahunya soal ini. Bagaimana pun juga kita sahabat. Tidak ada rahasia di antara kami.
“Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Aku tahu dari tadi kau menatapku.”
Mulutku ternganga mendengarnya. Bagaimana dia bisa tahu aku sedang melihatnya? Hahhh.. baiklah lebih baik aku bicara saja dengannya sekarang.
“Jimin..”
“Hmm?”
“Apa kau tahu Jungkook dan Jihyun sudah cerai?”
“APA?!”
Oke, dia teriak. Sudah jelas dia tidak tahu tentang ini. Dia menatapku terkejut tidak percaya.
“Apa kau yakin tidak salah dengar?”
“Ya, dia sendiri yang bilang kalau dia sudah bercerai dengan Jihyun.”
Keningnya berkerut mendengar itu. Dia seperti bingung dengan info ini. Oke sekarang aku bilang padanya.
“Karena itu, dia menembakku kemarin..”
“K-kau bilang APA?!”
Damn! Dia sangat marah Hyerin. Sekarang aku harus bagaimana?
“Lalu apa yang kau katakan padanya? Apa jangan-jangan… kau mengatakan ‘IYA’?!”
“I-iya.”
“HYERIN!!!”
Dengan cepat aku langsung berlari pergi keluar dari ruang kerja Jimin. Lalu menutup pintunya rapat-rapat. Setelah merasa aman, kuhela nafas lega.
Ya tuhan, itu sangat menakutkan. Baru pertama kali dia sengamuk itu padaku. Hahh sudah kuduga dia pasti marah sekali sekarang. Sekarang aku harus bagaiamana agar dia tidak marah?
BRAKK!
Aku terkejut mendengar suara pintu yang terbuka dengan keras. Mataku membulat melihat Jimin tengah melotot marah padaku.
Mati kau Hyerin!
Setelah itu dia langsung berjalan cepat menghamiriku. Lalu memegang kedua pundakku dengan menatap marah.
“Kau bilang iya padanya?!”
Karena takut, aku memilih untuk memejamkan mata dari pada menatapnya
“Ma-maafkan aku. Tapi, ternyata bukan hanya aku yang tersakiti. Dia juga ikut tersakiti karena menikah secara paksa. Kumohon mengertilah. Awalnya aku juga tidak mempercayainya. Tapi, dia mengatakannya dengan sejujur jujurnya. Karena itu tolong izinkan dia untuk bersama denganku lagi.”
“Kau bilang apa? Izinkan? Hey! Apa kau ini bodoh sekali? Dia itu sudah menyakitimu selama bertahun-tahun! Dialah yang membuatmu menderita selama ini! Kenapa kau menerimanya? Masih ada banyak pria baik yang akan menerimamu!”
Karena kesal dia terus memarahiku. Aku pun balik menatapnya marah.
“Lalu siapa?! Siapa pria yang baik itu?!!”
Jimin langsung terdiam mendengar pertanyaanku. Kemudian dia menunduk sebentar untuk menghembuskan nafasnya gusar. Setelah itu, dia pergi turun ke bawah menuju dapur.
Cihh.. lihat, dia sendiri tidak bisa menjawabnya. Kenapa dia sangat mengaturku sekali? Karena kesal, aku pun ikut turun ke bawah menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, kulihat Jimin sedang meminum sebotol air dingin yang dia ambil dari kulkas.
“Kau tahu, aku tidak pernah menjalani hubungan dengan siapa pun kecuali dengannya. Walau dia orang yang menyakitiku dulu. Tapi dia adalah orang yang bisa membuatku merasakan seperti apa itu bahagia. Dari lubuk hatiku, aku masih ingin bersama dengannya. Karena aku sangat merindukannya selama 9 tahun ini. Tapi sebagian dari hatiku, aku masih takut bila menjalani hubungan lagi dengannya. Aku takut terjadi hal buruk pada hubungan kami dan itu sangat menggangguku!”
Jimin hanya diam menatapku intens, lalu dia pun akhirnya kembali berbicara.
“Aku tahu, dia adalah pria pertama yang telah menolongmu saat kau sendirian. Aku tahu dia lah yang membuat hidupmu lebih berwarna. Aku tahu hanya dia lah yang bisa membuatmu tersenyum lagi."
Tak lama kemudian, tatapannya berubah sedih saat melihatku.
"Tapi, aku tidak ingin melihatmu kembali menangis. Aku tidak ingin melihatmu kembali hancur. Melihatmu hancur dan menangis seperti itu. Membuatku merasa gagal menjadi sahabat yang baik untukmu. Aku hanya takut kau merasakan rasa sakit lagi seperti dulu.”
Perkataannya membuatku sangat terharu padanya. Ternyata selama ini dia hanya khawatir padaku. Perlahan aku tersenyum melihat dia terus cemberut. Aku pun berjalan ke arahnya lalu memeluknya dengan erat sambil menepuk punggungnya pelan.
“Hemm.. sahabatku, kau benar-benar sahabatku Jimin. Kau tak pernah gagal menjadi sahabatku. Kau adalah yang terbaik untukku. Jadi, jangan pernah merasa gagal atau cemas lagi padaku.”
Perlahan aku bisa merasakan Jimin membalas pelukanku lalu mengusap punggungku pelan. Tak lama kemudian aku lepas pelukannya untuk melihatnya. Yang kulihat dia hanya diam cemberut menatapku sedih. Aku tersenyum melihatnya yang terlihat sangat lucu. Ku tarik kedua ujung bibirnya ke atas dengan 2 jari telunjukku.
“SMILE~”
Dengan nada yang sengaja aku imutkan, itu sukses membuat Jimin tersenyum dan tertawa kecil.
“Aissh kau benar-benar...”
Aku tertawa kecil melihatnya kesal karena ulahku.
“Jadi bagaimana pendapatmu?”
“Hufhht.. baiklah aku izinkan tapi, jika dia menyakitimu lagi untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar tidak akan memaafkannya! Apa kau mengerti?”
“Aihhh kau benar-benar Ibu tiri yang jahat. Baiklah Ibu!”
“Ibu?”
Hahhh... syukurlah dia mengizinkanku. Aku kira dia tidak akan mengizinkanku lagi.
"Tapi, ada yang ingin aku tanyakan padamu lagi.”
“Apa itu?”
“Jujur padaku. Apa kau menyukai Kak Hyejin?”
Saat aku bertanya seperti itu. Jimin tiba-tiba terkejut melotot padaku dan membeku di tempat.
Astaga.. apa aku tidak salah lihat? Jimin menyukai Kakakku? Melihat dia tidak berkutik membuatku yakin aku tidak salah tebak.
“Apa? apa itu benar kau menyukai Kakakku?!”
“T-tidak! aku hanya menganggapnya seorang Kakak! kau ini bicara apa?” Suaranya yang terbata-bata sudah sangat jelas bahwa dia menyukai Kak Hyejin. Senyumku semakin lebar tidak percaya dengan apa yang kulihat sekarang.
“Ya tuhan, apa aku tidak salah lihat? Sahabatku menyukai Kakakku?! Demi apa?! Jadi selama ini, kau tidak pernah pacaran karena kau sudah menyukai Kakakku sejak lama?!”
Melihatku, Jimin langsung tergagap gagap.
“Hye..Hyerin, bukan begitu, tapi-"
“HEY! Katakan apa itu benar?! Kau menyukai Kakakku Jimin?!!”
“H..Hyerin..” Mendengar itu, Jimin seolah-olah sudah terjebak dengan pertanyaanku.
“Karena itu, selama ini kau tidak pernah membicarakan wanita lain, karena kau sudah menyukai Kakakku sejak dulu?!”
“T-tidak bukannya begitu, dengarkan aku dulu.”
“YA TUHAN! Aku tidak pernah mempercayai hal ini. Sahabatku Jimin! Menyukai Kakakku!”
“HYERIN!”
“APA?!”
Jimin yang awalnya kesal padaku, perlahan dia pun menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya gusar. Aku yang melihatnya ikut terdiam. Apa aku terlalu berlebihan?
“Kau benar, aku menyukai Kakakmu sejak dulu. Maaf aku tidak pernah memberitahumu sejak dulu.”
WHAT?! THE F***!
Padahal aku sengaja melebih lebihkan karena ingin mengerjainya. Tapi tak kusangka yang aku katakan tadi benar. Bahwa Jimin, menyukai Kak Hyejin. Aku pun terdiam karena terkejut mendengar jawabannya. Bagaimana pun juga aku masih tetap tidak bisa mempercayainya. Selama ini aku selalu mengira Jimin itu anti menyukai wanita. Dia selalu serius dalam segala hal, dan tak pernah memikiran hal seperti menyukai seorang wanita. Tapi, aku tidak menyangka wanita yang selama ini Jimin sukai adalah Kakakku sendiri! Demi apa! aku masih sangat terkejut mendengar kenyatannya.
Tapi, jika itu benar. Selama 9 tahun ini, apa dia juga menderita? Apa dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? Aku yakin, selama ini ternyata tidak hanya aku sendiri yang merasa sedih karena Kakak menghilang, tapi Jimin juga.
Cukup lama, aku hanya diam menatap kosong ke bawah setelah mendengar jawaban dari Jimin, dan itu membuat Jimin merasa panik melihatku yang tidak ada respon sama sekali. Dia pun, memegang pundakku dan menatapku dengan tatapan penuh penyesalan.
“H..Hye..Hyerin, maaf.. maafkan aku! Selama ini, aku menyembunyikan hal ini darimu karena aku takut kau akan membenciku. Aku takut, kau tidak ingin menjadi sahabatku lagi jika kau tahu soal ini.“
Melihatku yang masih terdiam menatapnya datar. Membuat dia terlihat semakin bersalah.
“A-aku benar-benar minta maaf! Aku janji, aku tidak akan menyembunyikan apa pun lagi darimu. Maaf, aku merahasiakannya darimu.”
Perlahan, aku kembali menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
“Jimin.”
“Y-ya?”
Raut wajahnya mulai panik saat aku memanggilnya.
“Apa selama 9 tahun ini, kau juga ikut sedih saat Kakak tidak ada? Apa selama ini kau menunggunya?”
Jimin yang terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku, akhirnya tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Ya, aku selalu menunggunya selama 9 tahun ini. Aku tahu ini gila, karena masih menyukainya sampai sekarang. Aku juga merasakan perasaan yang sama sepertimu saat Kak Hyejin hilang. Aku juga merasa sedih dan hancur saat tahu bahwa Kak Hyejin tidak ada. Tapi sekarang, sudah tidak apa-apa. Kakakmu sudah kembali dan kita sudah tidak perlu merasa sedih lagi.”
Kulihat Jimin tersenyum padaku, dan itu membuatku ikut tersenyum padanya. Aku pun kembali memeluknya sambil menyandarkan kepala di dada bidangnya. Begitu pun dia yang memelukku dengan erat.
“Ya, sekarang Kakak sudah kembali dan kita bisa berkumpul kembali bersama.”
Aku bisa merasakan detak jantung Jimin yang memburu. Kurasa dia sedang jatuh cinta sekarang.
“Hei Jimin.”
“Hemm?”
Aku sedikit merenggangkan jarakku dengan Jimin untuk bisa menatapnya.
“Aku senang kau menyukai Kakakku, dan selalu setia menyukainya hingga sekarang. Walau pun memang itu sangat mengejutkan. Tapi, mengetahui kau yang menyukai Kakakku. Itu membuatku merasa aman dan tenang. Karena kau adalah pria yang sangat baik. Kau itu pengertian dan selalu setia pada orang yang kau sayangi. Jadi aku sangat bersyukur wanita yang kau sukai adalah Kak Hyejin. Aku merasa sangat beruntung bisa mengenalmu, kau tahu itu.”
Jimin hanya tersenyum sambil mengusap rambutku dengan lembut dan seketika dia tiba-tiba mencium keningku sekilas.
“Kau juga adalah wanita yang sangat baik bagaikan malaikat. Mau seberapa sakitnya yang kau terima. Kau akan tetap tegar, dan akan tetap menerima mereka yang telah menyakitimu. Kau tahu, tidak semua orang bisa melakukan hal itu. Karena itu, aku ingin ada seseorang yang akan terus melindungimu, dan mungkin aku tidak bisa terus melindungimu. Karena sekarang aku harus melindungi 2 wanita yang sangat aku sayangi.“
Aku tersenyum lebar mendengar perkatannya yang membuat rasa senangku kembali datang, begitu pula Jimin. Tapi, perlahan, ekspresi Jimin tiba-tiba kembali badmood. Melihat itu, aku hanya diam bingung.
“Tapi, kenapa harus dia? Kenapa harus Jungkook pria yang kau sukai? Kau tahu, ada banyak pria di dunia ini yang bisa melindungimu dan membahagiakanmu. Kau tahu? Jika kau bersama dengannya, perasaanku selalu tidak tenang, dan takut dia menyakiti dirimu lagi.“
“Hey Jimin, aku tahu ada banyak pria baik di dunia ini yang bisa aku temui. Tapi, tidak semua orang yang bisa se setia Jungkook. Ini sudah 9 tahun lamanya, dan dia tetap menyukaiku. Kau tahu, dia sudah menikahi Kim Jihyun yang sangat cantik dan dia adalah orang kaya. Tapi, kenapa dia masih menyukaiku hingga sekarang? Aku tahu, aku sudah gila, karena masih menerimanya. Padahal, dia sudah menyakitiku lebih dari apa pun. Tapi, aku masih ingin bersamanya kembali. Jimin, apa kau bisa mempercayainya? Apa kau bisa mempercayaiku?”
“Hahhh… baiklah, demi sahabatku. Aku akan mempercayainya. Tapi, ingat, jika dia sudah menyakitimu sehelai rambut saja. Aku tak akan membiarkanmu kembali bersamanya. Walau kau masih ingin bersamanya. Aku akan melarangmu dan tidak mengizinkanmu bersamanya. Apa kau mengerti nona Hyerin?”
Aku tersenyum tipis mendengarnya, begitu pula Jimin.
"Baik Ibu!"
"Ibu?!"