Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Sebuah ancaman?



Ketika aku membuka pintu rumahku, betapa terkejutnya aku melihat sosok yang ada disana! Aoyama!


Aku terbalalak ketika melihatnya tersenyum seraya menunjukkan dua bingkisan besar di tangannya. Lututku terasa lemas sekali...


"Kalian meninggalkan ini kemarin..." Ujar Aoyama seraya mengulurkan kedua bingkisan besar itu kepadaku.


"Ku pikir, baby Joey akan menanyakan ini." Ucap Aoyama tersenyum manis, meskipun aku menatap nanar ke arahnya.


"Siapa yang datang, sa..." Young Joon menghampiri kami, seraya menggendong baby Joey


"Papa!"


Baby Joey terlihat senang sekali melihat Aoyama. Young Joon menatap baby Joey dan Aoyama bergantian.


***********************


Baby Joey sedang berada di kamarnya, bersama asisten rumah tangga kami.


Aku, Young Joon, serta Aoyama kini tengah berada di ruang tamu kami.


Suasana tegang benar-benar menyelimuti ruangan ini.


Young Joon menggenggam erat tanganku, yang saat ini duduk tepat di sampingnya.


Aoyama yang saat ini duduk tepat di hadapan kami, menatap kami seraya tersenyum.


Dia seolah mengejek


"Waaahh... Bukankah kalian begitu curang." Ujar Aoyama tersenyum sinis


"Apa maksudmu!" Sinis Young Joon


Aku segera mengusap bahu Young Joon, agar ia merasa lebih tenang


"Bukankah ini tidak adil? Kalian bersenang-senang di atas penderitaanku?" Aoyama seolah memancing amarah Young Joon.


Young Joon mencoba untuk berdiri, namun aku menarik tangannya.


"Mari kita jujur, berapa usia kandunganmu saat aku kembali bertemu denganmu dua tahun yang lalu?" Ucap Aoyama, seraya menatap tajam ke arahku


Young Joon tidak lagi dapat menahan emosinya, dia melepaskan genggaman tangannya, kemudian menghampiri Aoyama, dan mencengkeram kerah baju Aoyama.


"Jaga bicaramu, berandal sialan!" Ucap Young Joon menatap, Aoyama penuh amarah.


Aku menghampiri mereka, dan berusaha untuk menenangkan Young Joon, agar dia mau melepaskan cengkramannya.


"Ku mohon, Joon... Lepaskan..." Aku memohon, seraya menangis.


Namun Young Joon tidak juga melepaskan cengkeramannya.


Aoyama tersenyum licik ke arah Young Joon, kemudian menatapku


"Jenny, tidakkah kau memberitahunya tentang apa yang terjadi diantara kita, beberapa bulan se..."


Young Joon meninju wajah Aoyama, dan menghajarnya habis-habisan!


Aoyama tidak membalas!


Aku berteriak, agar Young Joon segera menghentikan serangannya terhadap Aoyama.


"HENTIKAAANNN!!!"


Aku berteriak seraya terisak.


Asisten rumah tanggaku segera menuju ke arah ruang tamu seraya menggendong baby Joey.


Baby Joey histeris melihat apa yang tengah terjadi diantara kami.


Aku segera berlari ke arahnya, kemudian meraih baby Joey, dan memeluknya erat.


Lalu Young Joon segera menghentikan serangannya, dan berlari ke arah kami, kemudian memeluk kami berdua.


Aoyama segera bangkit, dan melihat ke arah kami.


"Aku sudah tidak berharap untuk dapat memiliki Jenny..." Ujar Aoyama lirih.


Young Joon segera berbalik menatap Aoyama tajam.


"Namun setidaknya, berlakulah adil! Aku ingin memiliki bagian dari kenangan kami." Tatapan Aoyama, kini benar-benar penuh harap, ketika mengucapkan kalimat tadi.


Emosi Young Joon kembali tersulut, namun aku segera menarik tangannya.


"Lakukanlah tes DNA, untuk memastikan keyakinan ku, bahwa..."


"Bahwa apa!" Sela Joon dengan nada tinggi.


Aoyama menatap tajam ke arah kami


"Bukankah kedua orang tua kalian tidak mengetahui tentang perceraian kalian?" Ucap Aoyama dengan senyum licik kepada kami, dan itu cukup mengguncangkan kami.


Mata kami terbelalak mendengar kata-kata Aoyama.


"Bukankah akan terasa menyakitkan jika mereka mengetahui kenyataan bahwa kalian kembali bersama, setelah Jenny hamil." Ucap Aoyama menyeringai.


"Dan itu tidak lama setelah kami tidur bersama?" Imbuhnya lagi


Aku membuang nafas lirih, seraya menutup mulutku.


Air mataku tidak dapat tertahan lagi.


Aku hampir saja terjatuh, jika saja Young Joon tidak merangkulku.


Aoyama berjalan ke arah kami, dan berhenti tepat di hadapan kami.


"Satu Minggu! Kabari aku secepatnya." Ucap Aoyama kemudian berlalu, meninggalkan kami yang tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya.