
2 TAHUN KEMUDIAN
"Mommy, ku pikir gaunmu terlalu terbuka." Protes Joey
Joey selalu saja protes tentang apapun yang ku kenakan!
Aku menoleh ke arahnya yang saat ini cemberut seraya melipat kedua tangannya di dada
"Lalu, apa yang harus mommy kenakan?" Kataku
"Jika mommy ingin mengenakan gaun itu, pakailah sesuatu untuk menutupi punggung mommy! Aku tidak suka orang lain melihat tubuhmu!" Ucap Joey semakin menekuk wajahnya.
Entahlah!
Wajah bocah lelaki berumur 4 tahun ini, semakin menggemaskan, ketika dia marah seperti ini.
Dan jujur saja, jika melihat sikap protektifnya begini, entah mengapa, itu semakin membuatku yakin, bahwa Joey memang benar-benar anak biologis Young Joon
"Ada apa ini?" Ucap Young Joon yang baru saja masuk ke ruangan ini, kemudian langsung menghampiri kami
Young Joon menatap wajah Joey, lalu berlutut di hadapan Joey.
"Apa yang terjadi, tuan muda?" Ucap Young Joon, seraya mencubit gemas kedua pipi Joey
"Aku tidak suka pakaian mommy!" Ucap Joey menatap tajam ke arahku.
Young Joon tersenyum, kemudian menatapku
"Bukankah mommy terlihat cantik sekali?" Young Joon kembali menatap Joey, dan anak itu menggeleng dengan keras
"Aku tidak suka gaun itu, Daddy! Punggung mommy terlihat dengan jelas!" Ketusnya, dengan wajah yang semakin ditekuk!
Kami semua tertawa mendengar pengakuan anak kami.
Young Joon kemudian berdiri, lalu menghampiriku. Dia segera melepas jas nya, dan memakaikannya kepadaku
"Bagaimana jika seperti ini?" Young Joon kini meminta pendapat Joey
Joey segera tersenyum lebar, dan mengacungkan kedua ibu jarinya.
Itu membuat kami segera berlari ke arahnya, tidak tahan untuk memeluk gemas tubuh anak kesayangan kami ini!
"Jangan tidur terlalu larut! Kau harus menuruti apa yang bibi Marie katakan, oke?" Ucap Young Joon, seraya mengacungkan ibu jari ke arah Joey
Joey tersenyum, kemudian mengacungkan ibu jarinya.
"Baiklaaahh... Ayo kita ke kamarmu!" Lanjut Young Joon
Kemudian kami bertiga berjalan menuju kamar Joey, untuk menitipkan putra Kami kepada Marie
***********************
"Akhirnya, Aoyama akan menyusul kita." Ucapku sambil tersenyum, menatap Young Joon yang tengah fokus mengemudi.
Young Joon tersenyum, dan menatap sekilas ke arahku
"Yeah! Akhirnya... Setidaknya aku bisa bernafas lega, sekarang." Young Joon tersenyum, dan kembali menatapku.
Aku mengerutkan keningku, heran
"Maksudmu?" Sahutku
Aku masih belum melepaskan pandanganku dari Young Joon, yang kini kembali fokus mengemudi. Namun Young Joon hanya tersenyum
Kami telah tiba di restoran yang Aoyama tentukan, melalui sambungan telepon beberapa hari yang lalu.
Ketika kami telah berada beberapa langkah dari meja tempat Aoyama dan gadisnya berada, aku benar-benar merasa terkejut!
Dan yang tak kalah mengejutkannya, Young Joon bahkan sampai terperanjat melihat gadis yang duduk di sebelah Aoyama!
"Stevie!" Kataku, seraya menunjuk ke arah gadis itu
Young Joon dan Aoyama tersentak begitu mendengarku, menyebut nama gadis itu!
"Elle!" Sahut gadis itu
Gadis itu berdiri, kemudian menunjuk ke arahku seraya menutup mulutnya tak percaya.
Aku berlari kecil ke arahnya, kemudian langsung memeluknya.
"Ya tuhaaannn! Bagaimana kabarmu?" Ucapku sambil menatap wajahnya seraya tersenyum
Kami berempat telah memesan hidangan, dan menunggu hidangan tersebut datang.
Entah mengapa, Young Joon dan juga Aoyama nampak tegang sekali disana, berbanding terbalik, denganku dan juga Stevie.
"Bukankah dunia ini sempit sekali, Young Joon?" Aku sedikit terkejut, mengetahui Stevie mengenal Young Joon.
Aku segera menatap Young Joon yang terlihat salah tingkah!
Sikap Aoyama dan Young Joon, mendadak berubah, semenjak kedatanganku dan Young Joon tadi!
Aku tidak begitu menghiraukan itu, karena terlalu asyik dengan Stevie, hingga sedikit melupakan eksistensi kedua pria yang notabene adalah pasangan kami
Ku rasa, Stevie pun merasakan hal yang sama sepertiku, dan mungkin itu sebabnya, ia baru mengucapkan hal tadi, kepada Young Joon, ketika fokus kami pada akhirnya teralih
"Oh... Itu... Hahahahaa... Iya." Jawab Young Joon dengan wajah yang nampak memerah
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" Sahutku
Aku mengalihkan pandangan kepada Stevie dan Aoyama secara bergantian.
Aoyama terlihat salah tingkah
"Ya, tentu saja!" Sahut Stevie lagi.
Aku kembali menatap Young Joon, hingga akhirnya, aku menyadari akan satu hal!
Aaaahhhh, ya!!!
Mereka pernah menyebut nama Stephanie!
"Aaaahhhh!" Aku berseru
Mereka bertiga, kini menatapku!
"Jadi, ini Stephanie yang kalian berdua ceritakan waktu itu?" Kataku kepada dua lelaki yang entah mengapa menjadi aneh semenjak tadi.
"Apa yang mereka ceritakan?" Stephanie menyelidik
"Aaahhh... Itu... Itu... Sayang, kami menceritakan tentang masa lalu kita sewaktu kuliah dulu." Ucap Aoyama nampak salah tingkah, seraya menggenggam tangan Stevie
"Ooowwwhh... Itu... Hahahahaaa!" Stevie tertawa terbahak-bahak.
"Ayolah, Elle! Itu hanyalah masa lalu!" Stevie nampak berusaha mencairkan suasana.
Aku tersenyum, karena toh, memang benar apa yang di ucapkan olehnya
"Ba-bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Selidik Aoyama
"Kami teman baik sewaktu SMA." Jawab Stevie
"Maksudmu?" Akhirnya Young Joon berani kini berani mengeluarkan suara
"Stevie dan aku adalah sahabat, ketika kami SMA." Kataku menjelaskan.
"Memangnya kalian tidak tahu, bahwa Stevie adalah orang Amerika?" Ucapku, kemudian melirik ke arah Young Joon dan juga Aoyama yang masih terlihat kaget.
"Joon, bukankah kau pernah menjadi kekasihnya?" Ucapku seraya menatap wajah Young Joon, yang seketika memerah, begitu mendengar ucapanku tadi
"Aaahh... Itu... Itu..."
"Dia tidak pernah peduli kepadaku! Dia hanya mempedulikan media sosialnya!" Ketus Stevie
Aku menoleh ke arah Stevie
"Maksudmu?" Tanyaku heran
"Selama 3 bulan pacaran, ku pikir dia benar-benar menginginkanku! Nyatanya, hanya untuk menghindari si Kimmy brengsek itu!" Ketus Stevie lagi, seraya menatap tajam ke arah Young Joon.
Aku kembali menoleh ke arah Young Joon
"A-aku..." Ucap Young Joon seraya mengusap kepalanya
Beruntung!
Hidangan yang kami pesan, akhirnya datang!
Dan itu membuat fokus kami, kini beralih kepada hidangan yang kini ada di hadapan kami
"Baiklah, kita nikmati dulu, santapan ini!" Aoyama mencairkan suasana.