
Kembali ke Indonesia, dengan perasaan terburuk dalam hidupku...
Bahkan ini jauh lebih buruk, dari perasaanku, ketika hendak menemui mendiang nenekku dulu...
Aku kembali ke Indonesia bersama Clara, sepupu cantikku.
Sepanjang perjalanan kami menuju tanah air, Clara tidak henti-hentinya memberikan semangat kepadaku, yang saat ini tengah kembali rapuh.
"Jen, Joey bakalan baik-baik aja, okay?!"
Entah sudah berapa ratus kali, Clara mengucapkan hal itu, untuk memotivasi diriku agar aku tidak menunjukkan sisi lemahku di hadapan Joey nanti, namun...
Tetap saja...
Tidak ada satu ibu-pun di dunia ini, yang dapat dengan mudah memanipulasi perasaannya, ketika melihat buah hati mereka, tengah menghadapi hal buruk!
Rumah sakit...
Tempat ini, seolah memiliki aura menakutkan untukku...
Aku dan rumah sakit, seolah memiliki hubungan yang tidak pernah baik, mengingat...
Dua kali, dua nyawa orang yang ku sayang, melayang di tempat dimana, harusnya nyawa dapat di selamatkan...
Mama dan papa menyambut kedatanganku dengan tangisan...
Jangankan untuk membuatku tegar, bahkan mereka sendiri, mungkin tidak dapat membuat diri mereka tegar, atas kejadian ini...
"Maafin mama, nak... Maafin mama..." Isak mama dalam, seraya memelukku
"Maafin papa juga, nak... Papa sudah lalai..."
Sesak...
Menyakitkan rasanya, mendengar mereka mengatakan hal itu kepadaku...
Menyesakkan rasanya, ketika kau mengetahui fakta bahwa, dirimulah yang seharusnya mengucapkan hal itu...
Aku segera menguraikan pelukanku, sekuat hati, aku berusaha untuk tegar, untuk berkata...
"Jen yang harusnya ngomong gitu, ma... Seandainya Jen nggak lemah, semua ini nggak akan terjadi... Seandainya Jen nggak egois, Joey nggak akan..."
"Keluarga anak Jonathan?"
Suara seorang wanita, menghentikan ucapanku.
Wanita itu kini menghampiri kami, yeah... Wanita yang sepertinya berusia 20 tahunan, berpakaian perawat, kini tersenyum ramah menatap kami
"Dokter Benny, sudah menunggu di ruangannya, Oma sama opa nya Joey, bisa kesana, sekarang?" Ucapnya ramah
"Saya yang akan menemui dokter, Sus!" Ucapku
Perawat itu menatapku, dengan tatapan heran...
"Saya mamanya Joey!" Ucapku, membuat perawat tadi merubah ekspresi wajahnya
Begitu tiba di ruangan dokter yang dimaksud perawat tadi, dokter yang tampak seumuran papaku, mempersilakan diriku untuk duduk di kursi yang ada tepat di hadapannya.
"Jadi, ibu ini, mamanya Jonathan, ya?" Sapa dokter itu ramah
"Ya, dok... Bagaimana keadaan anak saya?" Ucapku dengan wajah gelisah
Dokter tersebut tersenyum, alih-alih langsung menjawab pertanyaanku.
"Ibu sudah menemui Joey?"
Pertanyaan dokter tersebut, seketika membuatku murung...
Aku bahkan tidak memiliki nyali, untuk menemui putraku, yang saat ini tengah terbaring lemah di atas bangkar ruang perawatan...
"Bagaimana ini bisa terjadi, dok?" Ucapku, terbata-bata, menahan air mata yang kapanpun dapat mengalir dengan bebasnya
"Joey ini, kurang minum air putih ya, bu... Saya sudah tanyakan langsung sama anaknya, dia bilang dia nggak suka air putih..."
Kebiasaan Joey yang satu ini, persis seperti Young Joon...
Young Joon bukanlah penggemar air putih!
Tapi, Joey bukanlah anak biologis nya, aaahhh!
Tentu saja itu dapat terjadi, mengingat, mereka hidup bersama selama 4 tahun, dan kebiasan dapat saja tertular!
"Dan satu hal lagi, uuummm... Ibu sudah tahu, Joey juga ditangani psikiatri?"
Psikiatri? Maksudnya?
Putraku mengalami masalah dalam kejiwaannya?
"M-maksudnya, gimana ya, dok?" Keningku berkerut, ketika mengucapkan hal tadi
"Lebih lanjutnya, untuk diagnosis yang satu ini, nanti langsung ibu tanyakan saja ke dokter Irma, psikiatri nya Joey, ya... Hanya sepertinya, keadaan mental Joey, juga ada hubungannya dengan penyakit Joey saat ini."
Apa?!
Apa aku tidak salah dengar?
Bukankah Joey selalu ceria, tiap kali kami melakukan panggilan video?
Putraku bahkan tidak pernah sekalipun bertanya kepadaku, tentang keadaan kami beberapa bulan ini?!
Lantas, mengapa Joey mendapat pendampingan dari psikiatri?
"Ibu?" Ucapan dokter membuyarkan lamunanku
"I-iya, dok..."
"Begini, gagal ginjal Joey ini, sebenarnya sudah masuk dalam kategori gagal ginjal akut, dan solusinya, tetap harus ada tindakan hemodialisis atau cuci darah..."
Aku selalu memperhatikan ucapan demi ucapan dokter Benny dengan saksama, dan aku kembali terhenyak, begitu dokter Benny berkata...
"Hanya saja, untuk golongan darah Joey, di rumah sakit kita ini, sungguh sangat terbatas, bu..."
"Eh? M-maksudnya, dok?"
"Pe-permasalahannya, apa, dok? Lanjutkan saja, saya baik-baik aja, kok!" Ucapku memastikan.
Dokter menghela nafas, seolah ragu untuk melanjutkan ucapannya...
"Uhuummm... Kami hanya memiliki 1 cadangan darah, bu... Dan golongan darah yang dimiliki oleh Joey, adalah golongan darah yang sangat langka..."
"Kalau begitu, saya siap untuk transfusi darah saya, dok!" Aku segera menyela ucapan dokter
"Bu, golongan darah Joey, itu AB negatif, yang hanya boleh mendapat transfusi dari golongan darah yang sama.."
Ucapan dokter, dengan serta merta, membuat duniaku runtuh...
Jelas saja, aku tidak dapat mendonorkan darahku kepada putraku, karena kami memiliki golongan darah yang berbeda...
"Apa yang harus saya lakukan, dok?"
Yeaaah... Pada akhirnya, air mataku kini mengalir, bersamaan dengan ucapanku tadi...
"Papanya Joey pasti golongan darahnya sama... Kita bisa komunikasikan ini, bu?" Ucapan dokter, kembali membuatku tertegun
Aoyama!
Yeah! Demi putraku, aku akan menghubunginya!
"Nah, iya bu... Joey selalu bilang sama saya juga, Joey tuh kangen banget sama papanya, siapa tau, dengan ketemu papanya, keadaan Joey, bisa membaik!" Sahut perawat yang tadi membawaku ke ruang ini, seraya memberi catatan kepada dokter Benny
***************************
Pada akhirnya, meskipun hancur, aku menemui putraku, yang bahkan dengan wajah sayunya, masih tetap ceria, menyambut kedatanganku
"Aku begitu merindukan mommy!" Ucapnya sendu
"Mommy lebih merindukanmu, sayang..." Ucapku seraya mendekap tubuhnya, yang sepertinya agak lebih kurus
"Bagaimana perasaanmu, sekarang?" Ucapku seceria mungkin
"Aku saaaangat bahagia! Oya, mommy! Sebentar lagi, aku akan sekolah, lho!"
"Benarkah!"
"Hmmmm..."
Entahlah... Joey seolah begitu mengerti perasaanku...
Semenjak pertemuan kami tadi, tidak sekalipun ia membahas tentang Young Joon, ataupun Aoyama kepadaku
"Nenek dan kakek telah mendaftarkanku ke sekolah!"
"Wooowww! Sungguh?! Dimana, itu?!" Ucapku seraya mengupas kulit apel untuk putraku
"Tidak jauh dari rumah nenek dan kakek!" Ucapnya kemudian melahap apel yang ku sodorkan kepadanya
"Apa kau telah melihat sekolah itu?"
"Tentu! Kakek dan nenek mengikut sertakanku!"
Melihat keceriaannya seperti ini, seolah menumbuhkan semangat baru dalam hatiku!
Anakku pasti akan sembuh! Yeah! Aku sangat yakin!
"Hanya saja, mommy..." Tiba-tiba wajah Joey murung, ketika mengatakan hal tadi
"Ada apa, sayang?"
Joey terlihat sangat ragu, ketika hendak melanjutkan ucapannya...
"Katakanlah..." Ucapku, dengan senyum yang ku harap dapat membuatnya nyaman untuk melanjutkan ucapannya
"Aku takut membebani mommy, jika aku mengatakan hal ini..." Ucapnya, dengan raut wajah sedih
Aku tersenyum, menatap wajah polos putra semata wayangku ini, seraya mengusap lembut rambut hitamnya...
"Melihat ekspresi wajah seperti inilah, yang membebani mommy, tahu!" Ucapku seraya mencubit gemas pipinya
Joey kembali tersenyum riang, namun ucapannya kali ini...
"Mommy, ketika mendaftarkan namaku di sekolah itu, mengapa mereka hanya memyebut namaku 'Prince Jonathan'? Bukankah namaku adalah Prince Jonathan Park?"
Aku hampir saja melenyapkan senyumku, ketika mendengar ucapan putraku...
"Daddy bilang, namaku Prince Jonathan Park, karena aku adalah anaknya Park Young Joon alias daddy kan, mom?"
Sesak... Nyeri... Sakit...
Ketiga rasa itu, seolah bersatu padu, untuk menghancurkan perasaanku...
Mataku benar-benar perih, menahan air mata sekuat hati
"Mommy menangis, ya? Maafkan aku, mom..."
Sungguh... Raut wajah Joey benar-benar menghancurkan hatiku...
"Mata mommy ini terkena air apel, sayang... Ya Tuhan... Ternyata perih sekali!"
Yeah... Berdusta...
Entah sampai kapan aku akan selalu mendustaimu, nak...
"Omong-omong, apa kau sudah bisa berbicara dengan bahasa Indonesia?"
"Uuummm... Bisa, sedikit!" Ucapnya dalam bahasa indonesia
"Lagipula, mom... Di sekolahku nanti, aku akan tetap menggunakan bahasa Inggris, jadi... Tidak apa-apa kan, jika bahasa Indonesiaku tidak begitu baik?"
Tidak mengapa, Joey...
Lakukanlah apapun yang menurutmu nyaman...
Lakukanlah apapun yang membuatmu bahagia...
Sebab, kebahagiaanmu, adalah alasanku untuk tetap bertahan di dunia ini...