Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Nyaman...



Pagi ini, seperti biasa...


Aku menyuapi sarapan untuk Joey, dan seperti biasa, walaupun wajahnya sayu, Joey masih tetap ceria!


Syukurlah, Joey tidak mengalami gejala efek samping, seperti yang dokter khawatirkan, setelah proses cuci darah kemarin!


Oh ya, aku juga sempat menemui gadis yang kemarin mendonorkan darahnya untuk Joey, Kinan namanya...


Cantik, juga baik hati!


Aku kembali mengucapkan terimakasih kepadanya, sesaat sebelum Kinan meninggalkan rumah sakit ini...


"Alhamdulillah, prosesnya lancar, kak! Semoga Joey cepat membaik, ya! Kalau gitu, saya permisi sekarang,ya! Sampaikan salam saya untuk Joey" Ucapnya seraya tersenyum manis, sesaat sebelum berlalu...


Kinan, jasamu akan selalu ku kenang... Sampai kapanpun, aku akan selalu mengingat wajahmu, agar aku dapat membalas kebaikanmu, suatu saat nanti, disaat takdir mempertemukan kita kembali...


"Mommy, kau tahu, bibi yang kemarin bersamaku di ruangan itu?" Ucap Joey sesaat setelah menyesap air putih


"Hmmmm? Ya, ada apa?" Jawabku, seraya merapikan peralatan makan di atas meja


"Dia memintaku untuk memanggilnya tante, lalu..."


"Lalu?"


"Bibi itu memberiku boneka beruang ini, tahu!" Ucapnya seraya menunjukkan boneka beruang berwarna coklat berukuran sedang


"Waaaahhh! Baik sekali, ya! Apa kau menyukai boneka itu?"


"Hhhmmm... Tentu saja! Bibi itu memang baik, juga cantik! Omong-omong, mom..."


"Ya, ada apa, sayang?"


"Apa itu tante?" Ucapnya, seraya memeluk boneka beruang


"Tante itu ya bibi..." Jawabku, seraya tersenyum, memandang wajah tampannya.


"Oh, ya! Bibi itu juga menitipkan salam untukmu, lho!"


"Benarkah?!" Ucap Joey penuh semangat


"Hmmmm..." Aku mengangguk sambil tersenyum


Entahlah...


Semakin Joey bertumbuh, entah mengapa, wajahnya semakin mirip dengan Young Joon, padahal jika melihat fakta, darah Young Joon sama sekali tidak mengalir dalam tubuhnya...


'Tok... Tok... Tok!'


Suara ketukan, membuyarkan lamunanku...


Aku melihat ke arah pintu sekilas.


"Masuklah!" Sahutku, lalu kembali merapikan beberapa barang.


Begitu pintu terbuka...


"Papa!!!" Ucap Joey riang!


Dan dengan seketika, aku menoleh ke arah sosok yang Joey panggil tersebut...


Aoyama...


Kini ia berjalan ke arah anakku, sesaat setelah tersenyum hangat kepadaku...


Mati rasa, tentu saja!


Ingin menangis rasanya, namun tidak bisa!


Dan itu cukup membuat dadaku terasa sesak!


Kini Aoyama dan Joey tengah berbincang akrab...


Manis sekali sebenarnya, terlebih... Karena sejatinya, mereka memang ayah dan anak yang sesungguhnya...


Aku segera menghampiri mereka, dan tersenyum melihat perbincangan yang terlihat seru ini


"Lalu, kapan kau akan mulai bersekolah?" Ucap Aoyama, seraya mengusap lembut puncak kepala Joey


"Harusnya 4 bulan lagi, pa! Ku harap aku akan pulih secepatnya!" Jawab Joey riang


"Harus! Semangat!" Ujar Aoyama seraya mengepalkan tangan ke udara


"Semangat!!!" Sahut Joey meniru Aoyama


*************************


Di taman yang berada di rumah sakit...


Hening, hingga akhirnya Aoyama yang duduk di hadapanku berkata...


"Aku akan melakukan apapun, demi kesembuhannya!" Ucapnya, kemudian menggenggam erat tanganku


Aneh...


Aoyama bahkan tidak menghakimiku, atas kejadian yang menimpa Joey...


Aoyama terkesan memahami situasi ini, dan lebih memilih untuk mencari solusi, dibanding harus menyalahkan keadaan...


Kagum, tentu saja!


Sempat terpikir olehku, andai saja waktu itu aku langsung meng-iyakan, ketika ia memintaku untuk menikahinya, tentu semua ini tidak akan terjadi...


Huuffftt... Jennifer Elizabeth Lie!


Apa yang sedang kau pikirkan!


"Bukankah putraku benar-benar hebat?" Ucap Aoyama, membuyarkan lamunanku


"Eh?" Aku secara reflek menatap wajahnya


Aoyama tersenyum, begitu melihat responku...


Dan ia benar-benar tampan dengan senyum itu! Dan aku, terkesima...


"Joey bahkan tidak menunjukkan bahwa ia tengah mengalami kesakitan, ketika terakhir kali kami bertemu..." Ucapnya lagi


Masih, Aoyama masih menggenggam tanganku...


Ia seolah enggan melepas genggaman tangannya...


Aku tersenyum, mendengar ucapannya...


Sejujurnya, aku sungguh merasa nyaman, dengan sikapnya ini


"Jadi, kau pernah mengunjungi Joey?"


"Hmmmm... Beberapa kali, untuk memastikan, apakah putraku baik-baik saja."


Aku langsung melepaskan genggaman tangannya, perlahan, sesaat setelah mendengar ucapannya tadi


"Maaf..." Ucapku tanpa melihat wajahnya, karena merasa bersalah


Aoyama kembali menggenggam tanganku, dan membuatku menatap wajahnya lagi...


"Untuk apa?"


Wajahnya begitu teduh...


Sungguh, begitu bodohnya aku, telah mencampakkan laki-laki seperti ini!


"A-aku..."


"Akulah yang bersalah disini..."


Lagi...


Aoyama lagi-lagi selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang paling bertanggung jawab, atas setiap kesalahan yang terjadi antara kami!


"Jika saja waktu itu aku tidak bertele-tele ketika mempersiapkan pernikahan kita..."


"Aoyama... Hentikan..." Suaraku begitu lemah, ketika mengatakan hal tadi


"Itu membuatku semakin merasa buruk..." Ucapku lirih


"Jenny, dapatkah kita memulai semua dari awal, setelah semuanya selesai?" Ucap Aoyama penuh harap


Hening, hingga...


"Dapatkah kita fokus tentang Joey dulu, untuk saat ini?" Ucapku, lalu melepaskan genggaman tangannya


Aoyama menghela nafas, kemudian mengangguk perlahan


"Baiklah..." Ucapnya


************************


Aku dan Aoyama kini tengah berjalan di lorong rumah sakit, menuju ruangan Joey, dan setelahnya, kami akan menemui dokter Benny, yang menurut perawat yang pagi tadi ku jumpai, akan datang sedikit terlambat, karena tengah melayani pasien dari rumah sakit lain, tempat dokter Benny juga berpraktik.


Ketika tiba di depan pintu ruangan Joey, aku dan Aoyama mendengar dengan jelas, Joey tengah tertawa riang, seolah tengah bercengkrama dengan seseorang di dalam sana!


Aku segera membuka pintu ruangan ini, dan melemas seketika, begitu ku lihat pemandangan yang ada di hadapanku saat ini...