
Aku sudah memutuskan dengan sangat matang, tentang keputusanku ini...
Yeah! Aku akan menghapus semua rasa sakitku, ditinggal pergi oleh orang yang paling ku sayangi, di muka bumi ini...
Dan aku, akan hidup jauh dari hal yang akan membuatku selalu terbayang tentang kenangan manisku bersama putra semata wayangku...
Biarlah...
Walaupun keputusan ini mungkin akan berdampak buruk terhadap keluargaku, bahkan diriku sendiri, namun... Bukankah aku juga berhak atas pilihan untuk hidupku?!
"Mari kita akhiri saja hubungan kita..." Ucapku kepada Young Joon
Senyumnya yang semula semringah, tiba-tiba lenyap dari wajah tampannya.
Semua mata kini menatapku heran
"Jenny, kamu ngomong apa sih, nak!" Ujar papa seolah tak percaya
Aku menoleh ke arah papa, kemudian tersenyum, lalu meraih kedua tangannya.
"Pa, maafin Jen, yang baru berani terus terang sama papa, sekarang..." Ucapku, kemudian tertunduk
"Jen sama Young Joon, sebenarnya udah cerai..." Ucapku, kemudian kembali menatap wajah ayahku
Papa terhenyak, seolah tak percaya atas ucapanku
"Jenny, tapi kita telah melakukan pemberkatan ulang di Jerman..."
"Young Joon..." Aku kembali menoleh ke arah Young Joon
"Pemberkatan itu, tidak memiliki arti apapun!"
"Pemberkatan, tetaplah pemberkatan, nak! Apapun itu, kalian masih tetap pasangan suami-isteri! Kalian sudah berjanji di hadapan tuhan..."
"Tuhan nggak bisa menuhin permintaan aku, pa! Apa aku tetap harus nepatin janji aku ke tuhan?!" Aku segera menyela ucapan papa
Semua yang berada di ruangan ini, sepertinya telah kehabisan kata-kata, melihat sikapku ini
"Jenny... Coba kamu pikirkan ucapan kamu..."
"Aku udah pikirin ini secara matang, Kak Victor!"
"Keputusan aku sudah bulat, dan aku, butuh waktu untuk sembuhin diri aku, jadi..."
"Aku mohon, untuk kali ini aja, tolong hargai keputusanku! Aku permisi sekarang!" Ucapku kemudian bergegas dari ruangan itu
Ketika baru saja hendak membuka pintu kamarku, Young Joon segera meraih lenganku, dan membuatku menghadap ke arahnya
"Apa maksud dari semua ini?" Kesalnya
Aku segera menghempas tangannya, namun Young Joon kini beralih meraih kedua pundakku
"Dengar, Jenny! Ku mohon, berhentilah untuk melakukan hal di luar batas! Ini sudah benar-benar..."
"Benar-benar apa?! Benar-benar gila?! Yeah! Aku memang sudah kehilangan kewarasanku! Aku bahkan telah kehilangan diriku sendiri semenjak..."
"KAU PIKIR HANYA DIRIMU YANG KEHILANGAN JOEY!!!" Ujar Young Joon dengan penuh emosi, seraya mengguncang tubuhku
Young Joon menitikkan air mata...
Wajahnya merah padam, seolah ingin melepas semua amarah yang telah lama terpendam
"Aku bahkan hampir gila ketika harus menghadapi kenyataan, bahwa putraku harus pergi untuk selamanya dari hidupku, di tambah lagi... Melihat keadaan istriku yang semakin hari semakin terpuruk!"
Young Joon mulai terisak, matanya sungguh memancarkan kesakitan yang luar biasa...
Melihatnya seperti ini, membuatku kembali mengingat akan kenangan kami, ketika masih bersama dulu...
Dan rasa nyeri, kembali menyeruak di dalam relung jiwaku...
"Maka, sudahi saja semua perihmu, dan lepaskan dirimu dari belenggu rasa sakit ini!" Ucapku kemudian melepas kedua tangannya dari bahuku, dan langsung meninggalkan pria itu begitu saja...
Aku langsung menangis sejadi-jadinya, sesaat setelah mengunci pintu kamarku...
Yeah!
Bahkan hanya melihat manik matanya, sudah dapat membuka luka yang bahkan belum juga sembuh hingga saat ini!
Entah apa yang akan terjadi, jika aku kembali melanjutkan hidupku dengannya...
Mungkin, hidupku akan selalu dipenuhi oleh air mata, karena bayangan tentang kenangan tentang Joey, akan selalu mewarnai hari-hariku...
***************************
Lauterbrunnen, Bern, Swiss
Saat ini aku tengah memandangi keindahan Staubbach Falls...
Selama hampir 5 bulan berada di Swiss, entah sudah berapa puluh kali aku mengunjungi air terjun ini...
Tempat ini seolah memiliki daya magis, yang terus memanggilku agar aku selalu mengunjunginya lagi dan lagi...
Aku kembali menangkap beberapa gambar, untuk ku abadikan melalui lensa kameraku, yeah... Walaupun sebenarnya beberapa objek, bahkan telah ku bidik secara berulang...
Seperti kebiasaanku, aku selalu menatap kembali hasil bidikan kameraku.
Dan beberapa objek yang ku bidik secara berulang, dari semenjak kedatanganku pertama kalinya kesini, akan ku tempatkan di masing-masing folder yang berbeda, sesuai waktu, dan objek itu sendiri, di dalam laptopku...
Kini aku tengah menatap salah satu objek yang ku bidik secara berulang, semenjak hampir lima bulan yang lalu...
Sebuah pohon besar...
Usianya mungkin sudah puluhan, atau mungkin ratusan tahun, entahlah!
Sekilas, tidak ada yg berubah dari pohon itu, semenjak pertama kali aku membidiknya, namun... Jika diperhatikan secara saksama, saat pertama kali pohon tersebut ku bidik melalui lensa kameraku, dedaunan yang terdapat pada pohon itu, terlihat kering, dan banyak sekali yang berguguran...
Bahkan dahannya, terlihat sudah lapuk, seolah dimakan usia...
Dan ketika aku kembali menatap objek tersebut, namun dengan rentang waktu yang berbeda, hingga terakhir kalinya aku menangkap gambar pohon tersebut, yaitu hari ini...
Terjadi perubahan yang begitu mencolok terhadap pohon tersebut!
Dedaunan yang sebelumnya terlihat kering, kini sudah kembali menghijau...
Bahkan dahan rapuh, yang sebelumnya terlihat sangat jelas, kini telah berganti dengan dahan muda yang baru, dan terlihat lebih segar...
Ku pikir, bahkan selama hampir lima bulan saja, sudah terjadi banyak perubahan pada pohon itu, lalu bagaimana dengan diriku?
Pikiranku kembali melayang pada kejadian hampir lima bulan yang lalu...
Kejadian dimana aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat ini...
Betapa aku, yang saat itu rapuh, dengan tekad yang entah datang darimana, dapat dengan beraninya mengambil keputusan yang sungguh sangat berani!
Memulai kehidupan baru di negeri yang bahkan belum pernah ku sambangi, dengan budaya dan bahasa yang hampir tidak ku mengerti, sungguh tantangan yang sebenarnya cukup berat untukku, namun...
Karena ini adalah keputusanku, pada akhirnya aku dapat memetik suatu pelajaran!
Keputusan yang telah kau buat, adalah tanggung jawab yang harus kau pikul selamanya!
Yeah!
Inilah diriku kini...
Jennifer Elizabeth Lie, wanita lajang berusia 33 tahun, yang telah melepas hampir seluruh masa lalunya...
Wanita lajang, yang telah menghapus hampir sebagian dari kenangan buruknya, dan juga... Wanita lajang, yang telah kembali membuka lembaran baru di dalam hidupnya...