Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Sesuatu yang salah...



Yeah...


Sudah dua tahun berlalu, dan semenjak pertama kali aku menatap wajah putraku, aku tidak pernah berhenti memikirkan ucapan Aoyama.


Aku selalu menatap wajah putraku setiap kali ia terlelap, hanya untuk memastikan, apakah benar yang dikatakan oleh Aoyama?


Namun Young Joon selalu saja menghampiriku, dan berkata.


"Putraku akan seperti ayahnya, yang selalu mencintai ibunya sampai kapanpun..." Ucapnya, kemudian mengecup keningku.


Aku selalu menatap wajah Young Joon tiap kali ia mengatakan hal itu.


Mataku selalu saja berkaca-kaca!


Bukan, bukan karena aku terharu dengan ucapannya, namun...


Aku selalu merasa ada yang salah setiap kali Young Joon menyebutkan kata 'putraku', kepada baby Joey!


Baby Joey...


Ia adalah bocah yang sangat lucu!


Tingkahnya selalu saja dapat menghibur kami.


Kulitnya yang seputih salju, pipi yang sedikit kemerahan, apalagi ketika dia sedang tertawa, atau menangis karena menginginkan sesuatu.


Bola mata yang bulat, hidung yang sedikit mancung, bibir merah mungil, dan...


Setiap melihat wajahnya, aku selalu mengingat Aoyama!


Terkadang aku merasa, bahwa apa yang dikatakan Aoyama adalah benar!


Ya tuhan...


Aku selalu saja hampir menangis setiap kali melihat baby Joey tertawa riang di pelukan Young Joon.


"Daddy!" Putraku riang sekali bermain dengan 'ayahnya'.


Aku menghampiri mereka.


"Daddy Joey, sore nanti aku akan membawa Joey ke mall bersamaku untuk membeli beberapa keperluan." Kataku sambil tersenyum.


"Yeaaaayyyyy!!!" Baby Joey tampak riang sekali mendengar kata 'mall'.


Itu membuatku dan Young Joon tertawa melihat tingkahnya!


"Aaahhh... Baiklah!" Ucap Young Joon, seraya menatapku, lalu tersenyum.


"Ingat, jangan nakal! Dan jangan buat ibumu marah." Ucap Young Joon, serata menempelkan ujung jari telunjuknya di hidung baby Joey.


Baby Joey tersenyum, lalu mengangguk.


"Baiklah, aku berangkat sekarang, ya!" Ucap Young Joon, kemudian memeluk dan mengecup baby Joey, lalu berdiri, seraya menggendong baby Joey.


Aku bergegas merapikan dasinya, lalu meraih baby Joey dari Young Joon, dan kami mengantar Young Joon sampai ke halaman rumah.


"Daaaaahhhh....!" Young Joon melambaikan tangan, sesaat setelah menyalakan mesin mobilnya, begitupun aku dan baby Joey.


**************


DC mall selalu saja ramai oleh pengunjung. Mungkin inilah yang membuat baby Joey senang sekali tiap aku mengatakan kata mall di hadapannya.


Baby Joey selalu tersenyum di setiap tempat yang kami kunjungi, dan itu membuat para pramuniaga yang ada disana selalu gemas melihatnya.


Dan ketika kami mengunjungi toko mainan, baby Joey tiba-tiba minta diturunkan dari stroller, untuk memilih sendiri mainan yang dia inginkan, hingga membuatku tak kuasa untuk menolaknya.


Aku menemaninya yang begitu bersemangat memilih mainan yang dilihatnya.


Ia menunjukkan beberapa mainan kepadaku, meminta persetujuan dariku untuk membelinya, dan aku selalu mengangguk.


Aku tidak dapat menolaknya, karena itulah yang Young Joon lakukan, tiap kali baby Joey menginginkan sesuatu!


Ponselku tiba-tiba berdering, Young Joon menghubungiku, yeah!


Aku segera menempelkan ponselku di telinga baby Joey, dan memberikan isyarat kepadanya, bahwa yang menghubungi adalah ayahnya.


"Daddy!"


Baby Joey bahagia sekali!


Dia menceritakan apa saja yang dia lakukan, dan dia beli kepada ayahnya, dengan suara cadelnya. Aku segera mengambil alih panggilan.


"Dia membeli banyak sekali mainan." Kataku dengan nada suara seolah mengeluh di seberang sini.


Kemudian aku berjalan ke arah rak yang tidak jauh dari tempatku dan Joey saat ini, untuk melihat sebuah mainan yang pasti disukai oleh baby Joey.


"Dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan! Aku tidak ingin melihat putraku sedih." Young Joon terdengar bersemangat sekali di seberang sana.


"Kau terlalu memanjakannya! Kau dapat merusaknya nanti." Kataku sedikit mengeluh, seraya meraih bola karet yang terdapat tombol dan lampu-lampu unik, dan berniat menunjukkannya kepada baby Joey.


"Kita akan mengajarkan tentang itu nanti." Sahut Young Joon di seberang sana, dan aku kembali menuju tempat semula


"Harus secepatnya..."


Aku terkejut setengah mati, melihat putraku tidak ada lagi disana!


Begitupun keranjang berisi mainan yang sudah dia pilih!


Aku segera mencarinya di semua lorong rak, yang ada di dalam toko mainan yang cukup besar itu.


"Jenny...Mommy Joey... Ada apa denganmu?" Suara Young Joon di seberang sana terdengar khawatir.


Dan saat aku berjalan ke arah kasir, jantungku hampir saja terlepas, melihat putraku sedang berada di dalam gendongan Aoyama!


Baby Joey begitu bahagia, bahkan tertawa riang melihat mainan yang di bayarkan.


Begitupun Aoyama!


Dia tampak memeluk dan mengecup putraku!


Putraku sama sekali tidak menolaknya!


Bukankah ini aneh?


Baby Joey bukanlah anak yang mudah di dekati oleh siapapun, terlebih orang asing!


Namun kali ini...


Aku menghampiri mereka.


"Jenny, kau baik-baik saja?" Young Joon benar-benar terdengar sangat khawatir di seberang sana


"A-aku akan menghubungimu lagi, nanti." Kataku dengan suara yang sedikit tertahan, kemudian segera menutup panggilan telepon.


"Apa yang kau lakukan kepada putraku?" Kataku dengan suara bergetar, dan mata yang berkaca-kaca.


Mereka berdua menatapku dan tersenyum.


"Mommy... Papa!"


Baby Joey berkata kepadaku seraya tersenyum riang!


Nafasku terasa sesak disini.


Aoyama menatap baby Joey dan tersenyum bahagia, kemudian mengecupnya.


Kemudian kasir yang melayani mereka, berkata


"Waaahh... Wajah kalian mirip sekali... Itu manis sekali!" Ujar kasir itu seraya menatap mereka berdua kagum.


Aku menatap wajah kasir itu nanar...


"Yeah... Putraku benar-benar persis denganku, bukan?" Sahut Aoyama kepada kasir itu.


Aku menatap wajah Aoyama, air mataku menetes setelahnya.