Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Ingin anakku kembali seperti sedia kala...



"Depresi..."


Satu kata, yang membuat jiwaku bergoncang dengan hebatnya!


Dan lagi-lagi, sudah pasti penyebabnya adalah...


Aku...


Sepanjang hidup putraku, selalu dilimpahi kasih sayang dari semua orang, terutama, Park Young Joon!


Mereka seolah satu, dan tak pernah terpisahkan...


Hingga akhirnya, hari 'kiamat' itu tiba!


Joey bukannya tidak pernah lagi bertemu Young Joon, semenjak kejadian itu, mama dan papa memberi tahu ku, bahwa Young Joon beberapa kali mengunjungi putra kami, uum..... Maksudku, putraku...


Namun, jelas saja itu berbeda dengan apa yang selama ini Joey rasakan, ketika kami bertiga masih hidup bersama!


Joey bahkan tidak pernah menanyakan mengapa kami kini hidup secara terpisah kepada mama dan papaku, dan mungkin itulah yang membuatnya depresi!


Bahkan bocah kecil yang belum genap berusia 5 tahun itu, sudah dapat memendam rasa sakit seorang diri!


Oh Tuhan! Betapa rendahnya diriku, jika dibandingkan dengan putraku!


**************************


Hari ini, adalah waktunya Joey menjalani proses hemodialisis...


Tentu saja aku merasa sangat gugup! Sangat!


Aku sungguh sangat berterima kasih kepada orang yang dengan murah hati, mau mendonorkan darahnya kepada putraku, beberapa saat sebelum proses ini berjalan...


"Kak, maaf banget, ya... Mungkin ini pertama dan terakhir kali saya bisa bantu Joey, karena lusa, saya sudah harus balik ke Swiss, untuk urus pernikahan saya, ummmm..." Ucap gadis itu, merasa tidak enak


"Eh? Iya, kenapa?"


"Saya yakin banget, Joey akan baik-baik saja! Dan semoga, ini adalah proses hemo pertama sekaligus terakhir untuk Joey, ya!" Gadis itu seolah berusaha menyemangatiku


"Saya benar-benar berterima kasih sama kamu, karena mau bantu anak, yang bahkan nggak ada hubungan darah sama kamu!" Ucapku


"Sudah kewajiban saya, sebagai umat Tuhan, kak!" Jawabnya, sesaat sebelum memasuki ruangan hemodialisa


Tentu saja aku tidak boleh merasa kecewa, atas ucapan gadis tadi, mengingat, betapa murah hatinya gadis itu, yang mau menolong orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya...


Aoyama!


Yeah! Aku akan menghubunginya!


Ku raih ponsel yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak ku gunakan, dari dalam sling bag ku.


Ku tarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan, sesaat sebelum menyalakan ponselku.


Tidak lama setelah ponselku menyala, banyak sekali pemberitahuan pesan masuk disana, dan aku segera menghapus semua pemberitahuan itu, kemudian langsung mencari nama 'Aoyama' dari daftar kontakku.


Jantungku berdegup dengan hebat, bersamaan dengan suara nada sambung panggilan ini...


Dan begitu panggilan terhubung...


"Jenny?"


Suaraku tercekat, begitu mendengar suara itu...


Sesak sekali rasanya, bahkan walau hanya mendengar suaranya...


"Jenny, apa itu kau?" Aoyama kembali memastikan di seberang sana


"I-i.. A-aku..."


"Jenny, apa kau baik-baik saja?" Aoyama jelas mengkhawatirkanku di seberang sana...


Masih!


Masih sama!


Aoyama masihlah orang yang sama...


Aoyama masih selalu menjadi orang yang mengetahui keadaanku, walau hanya mendengar suaraku melalui sambungan telepon...


"Aoyama..."


Sekuat hati aku berusaha untuk mengatur emosiku, agar suaraku tidak bergetar...


"Jenny? Apa hal buruk sedang terjadi?"


Sialnya! Mendengar ucapan Aoyama tadi, air mataku justeru mengalir dengan deras, hingga menciptakan isakan yang memilukan!


"Dimana kau saat ini?"


"A-aku... Aku... Aoyama... Hiks... Hiks... Hiks... Aoyama... Dapatkah kau ke Indonesia, secepatnya?" Bahkan isakanku, sepertinya lebih jelas dari ucapanku!


"Aku akan bersiap sekarang! Kirimi aku alamat dimana aku dapat menemuimu secepatnya!" Ucapnya, kemudian menutup panggilan.


Aku bahkan belum sempat memberinya alasan mengapa ia harus ke Indonesia...


Oh Tuhan... Entah apa yang akan Aoyama lakukan, jika ia mengetahui mengapa ia harus ke Indonesia?


Aku segera mengiriminya pesan, berupa alamat rumah sakit ini, dan tanpa menunggu waktu lama, ia langsung membaca pesanku, begitu pesan ini terkirim!


Apakah ia begitu menanti pesan dariku?


Namun aneh, jika Aoyama tidak langsung menghubungiku untuk sekedar bertanya, mengapa aku mengiriminya alamat rumah sakit?


Dan, tentang bagaimana sikap Aoyama nanti, jika ia mengetahui alasan mengapa aku memintanya untuk datang, biarlah itu menjadi urusanku...


Tidak mengapa jika nantinya ia akan memaki atau menghardikku, karena... Aku hanya ingin anakku kembali seperti sedia kala...