Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Permohonan...



"Huufffttt... Ada sedikit masalah di Amerika, jadi aku memutuskan untuk menerima tawaran dari temanku, untuk bekerja disini." Ucap dokter Veronica


"Owwwh... Jadi kau ditugaskan disini, sekarang?"


"Hmmm... Berberapa bulan semenjak terakhir kali kita bertemu, lebih tepatnya!" Ucap dokter Veronica lagi


"Uuummm... Omong-omong, apa yang kau lakukan disini?"


Pertanyaan dokter Veronica, kembali mengingatkanku akan putraku, dan dengan seketika, wajahku kembali murung...


"Uummm... Itu... Putraku tengah menjalani pengobatan, disini."


"Putramu? Umm... Maksdmu, Jonathan?"


"Yeah..."


"Kalau boleh aku tahu, penyakit apa yang di derita?" Ucap dokter Veronica dengan hati-hati


"Gagal ginjal akut." Jawabku berusaha tegar


Dokter Veronica tercengang, begitu mendengar ucapanku tadi


"Oh Tuhan... Semoga semua baik-baik saja, nantinya, lalu... Apakah Jonathan melewati proses hemodialisis?"


"Yeaahh... Tentu! Dan itulah masalahnya sekarang! Golongan darahnya sangat langka, dan aku memiliki golongan darah yang berbeda dengannya."


"Kau dapat meminta bantuan ayahnya! Golongan darahnya ayahnya! Mereka memiliki golongan darah yang sama 'kok!"


"Yeah, aku sudah meminta Aoyama..."


"DOKTER VERONICA!!!"


Seorang lelaki berseragam perawat, kini menghampiri dokter Veronica.


"Dokter Della memintamu untuk ke kab, sekarang." Ujar laki-laki itu


"Ok, baiklah!" Jawab dokter Veronica kepada laki-laki itu


"Ummm, nyonya Park, aku permisi dulu, ya! Kita dapat berbincang lain waktu! Sampaikan salamku kepada Jonathan dan tuan Park, ya!" Ucap dokter Veronica, sesaat sebelum berlalu.


Sepeninggal dokter Veronica, aku kembali melanjutkan langkahku menuju kamar Joey.


Sudah ada mama, papa, serta Dennis dan Clara di ruangan Joey, begitu aku tiba disana.


"Hai, Pel!" Ucap Dennis, kemudian memelukku


"Lu yang sabar, ya... Gw yakin, semua bakalan baik-baik aja!" Ucapnya, kemudian menguraikan pelukan


Aku mengangguk samar, kemudian tersenyum...


"Gw denger, kalian jadian, ya?!" Ucapku mencairkan suasana


Dennis dan Clara tersipu malu, begitu mendengar ucapanku.


"Iissshhh!!! Apaan sih lu!" Ucap Clara tersipu


"Besok Clara mau proses mualaf, Jen... Sebentar lagi, mereka mau nikah..." Sahut mama, seraya tersenyum


"Anjiiirrr!!! Kenapa gw baru tau! Gila lu ya, berdua!" Ucapku agak kesal


"Y-yaa... Gi-gimana, ya... Uuummm..."


"Clara malu katanya, Pel!" Ucap Dennis, menggoda kekasihnya, yang juga sepupuku itu.


Clara reflek mencubit gemas pinggul Dennis.


"Aaawww, sakit, sayang!" Ucap Dennis seraya meringis


"Iiissshhh!!! Kamu tuh apaan sih, yang!" Ucap Clara gemas


"Dah pake aku-kamu... Dah pake sayang-sayangan... Hmmmm... Inget banget dulu lu berdua tuh kaya' kucing sama anjing, ya!" Ucapku riang, membuat mereka tersipu malu


"Namanya jodoh, mana kita tau, Jen..." Ucap papa


"Iya juga sih, ya... Btw, si Gina belum balik juga dari Amrik?" Tanyaku


"Proses nikahnya agak ribet, Jen! Apalagi calonnya kan angkatan udara gitu!" Sahut Clara, kemudian menghampiriku, dan ikut duduk di sofa bersamaku


"Hmmm... Ujung-ujungnya dapat orang berseragam juga, kaya mamaknya." Ucapku


"Yeaah... Namanya jodoh..."


"Mana kita tau, Jen..." Aku dan Clara menyela serta meniru ucapan papa, hingga kami semua yang berada di ruangan itu tertawa riang


Yeah... Kedatangan mereka, setidaknya daoat sedikit mengalihkan rasa sedihku atas keadaan putraku...


*********************


Hampir dua jam, setelah Aoyama menjalani tes, ia kini kembali menemuiku dan juga Joey di ruangan Joey.


Papa, mama, serta Dennis dan Clara sudah pergi beberapa waktu yang lalu.


"Papa!" Seru Joey


"Halo, jagoan! Bagaimana keadaanmu?" Ucap Aoyama, kemudian duduk di samping bangkar Joey


"Sudah lebih baik! Ummm... Ku pikir papa akan kembali bersama daddy?"


Ucapan Joey, membuatku dan juga Aoyama saling beradu pandang, karena bingung, hendak menjawab apa


"Uummm, Joey..."


"Oowwhh, seperti itu... Baiklah!" Joey kembali riang


Tidak lama kemudian, Joey kembali tertidur... Entah, mungkin Joey memang harus banyak istirahat, sehingga ku pikir, beberapa obat mungkin memiliki efek samping mengantuk.


Aku dan Aoyama memutuskan untuk makan siang di kantin rumah sakit ini, mengingat, aku tidak dapat meninggalkan Joey terlalu lama.


"Bagaimana test kesehatan tadi?" Ucapku, kemudian menyuap makanan


"Semuanya berjalan dengan lancar, dan kita akan mendapatkan hasilnya dalam waktu 5 jam." Jawab Aoyama


"Oohh... Baiklah, semoga semuanya berjalan dengan baik, jadi Joey dapat kembali menjalani hemodialisis, esok!" Ucapku penuh harap


"Yeah! Aku sungguh berharap..."


Tiba-tiba ponsel Aoyama berdering.


Ia segera meraih ponselnya dari saku depan celananya.


"Ummm, Jenny, aku menerima panggilan sebentar, ya?" Ucap Aoyama


"Silakan..." Jawabku.


Entah, tapi Aoyama tidak menunjukkan tanda akan beranjak dari duduknya, hingga akhirnya, ia menerima panggilan telepon itu di hadapanku.


"Ya? Ada apa?"


Aoyama tampak serius mendengar ucapan samar suara orang yang ku dengar.


Aku tidak mengetahui apa yang orang itu katakan, hingga...


"Jenny... Aku harus pergi sekarang... Ummm... Aku akan kembali lagi, setelah ini selesai, bagaimana?"


Aku tersenyum, mendengar ucapannya. Mengapa ia harus selalu meminta pendapatku, atas apa yang seharusnya ia dapat lakukan tanpa harus menerima pendapatku?


"Pergilah..." Jawabku


"Baiklah... Ummm... Kabari aku, jika hasil test nya keluar, sebelum aku kembali."


"Pasti!"


Sebelum berlalu, Aoyama mengecup keningku, dan itu sungguh membuatku membeku untuk beberapa waktu...


Selesai makan, aku kembali menuju ruangan Joey... Agak terkejut rasanya, begitu ku lihat, putraku sudah terjaga...


"Lho, kau sudah bangun, nak?" Ucapku, kemudian menghampirinya


"Hhhmmm... Aku baru saja mimpi indah!" Ucapnya sambil tersenyum


"Benarkah? Bukankah mimpi indah, justru membuatmu enggan untuk membuka mata?"


Joey menggeleng sambil tersenyum...


"Mmm... Aku terbangun karena aku ingin, itu bukan hanya sekedar mimpi!!"


Ucapan Joey membuatku tertawa renyah, kemudian beranjak dari dudukku, menuju ke arah meja yang berada beberapa langkah dari bangkar Joey, untuk meraih buah.


"Memang apa yang kau impikan, sayang?" Ucapku, seraya meraih sebuah apel.


Dan ketika hendak meraih piring kecil dan juga pisau, kegiatanku seketika terhenti, begitu mendengar Joey berkata...


"Aku bermimpi, mommy dan daddy kembali bersama seperti beberapa waktu lalu..."


Perih...


Tentu saja!


Ku rasa, itu bukanlah sebuah mimpi, namun harapan yang selama ini ada di dalam benaknya, selama beberapa waktu ini...


Harapan yang hanya dapat ia simpan sendiri, dan tidak ingin ia sampaikan kepada siapapun...


Harapan yang ia takut, jika ia utarakan, itu akan melukai perasaan orang yang ada di sekitarnya...


Harapan terpendam, yang pada akhirnya, melukai dirinya...


Air mataku menetes, dan aku buru-buru mengusapnya, sesaat sebelum aku menghampiri putraku.


"Kau mau apel..."


"Mommy..." Suara Joey melemah, ketika menyela ucapanku


"Yeah, ada apa, sayang?" Ucapku


"Dapatkah aku membuat permohonan?" Ucapnya dengan raut wajah yang tak biasa


"Hmmm... Tentu saja, kau dapat meminta banyak permohonan kepada Tuhan!"


Joey menggelengkan kepalanya, begitu mendengar ucapanku.


"Aku sudah memohon kepada Tuhan, tapi ku rasa, Tuhan memintaku untuk memohon langsung kepada mommy..."


Mata Joey berkaca-kaca, ketika mengatakan hal tadi...


Menyesakkan rasanya, melihatnya seperti ini...


Aku segera meraih kedua tangannya, lalu mengecup nya...


"Katakan, apa permohonanmu..." Ucapku, menatap lembut ke arah matanya


"Aku ingin, mommy dan daddy kembali bersama, seperti dulu... Aku ingin, itu bukan hanya sekedar mimpi..."