
Aoyama segera menemuiku, beberapa saat setelah ia menghubungiku tadi.
Ia menghampiriku dengan tergesa, begitu menemukanku yang kini tengah tertunduk lesu, di sebuah bangku taman.
"Bagaimana..." Ucapnya khawatir
Aku menatap wajahnya perlahan, karena tidak juga dapat menyembunyikan rasa sedihku...
"Apa yang terjadi, Jenny?" Ucapnya, lalu sedikit membungkuk, untuk menatap wajahku lebih dekat
"Joey... Tidak dapat menerima donor darimu..." Ucapku dengan terbata-bata
Aoyama membelalakan matanya, seolah tak percaya atas apa yang baru saja ku katakan!
Ia kembali menegakkan tubuhnya
"Apa kau tengah mengerjaiku?" Ucapnya tak percaya
"Aku tidak akan pernah bergurau, jika itu mengenai putraku..."
"Mungkin ada yang keliru, ayo kita..."
"Bahkan dokter berkata, bahwa tidak ada satu pun sel yang sama, antara milikmu, dan juga Joey..." Ucapku, kemudian air mataku mengalir dengan bebasnya
Aoyama semakin tercengang, mendengar ucapanku tadi.
Ia seolah kehabisan kata-kata!!!
Hening, hingga...
"Bagimana mungkin... Oowwh Tuhan!!! Bahkan kau dengar sendiri, apa yang gadis sialan itu katakan, 'kan?" Aoyama berusaha meyakinkanku
**************
Aku dan Aoyama akhirnya kembali menemui dokter Benny, untuk memastikan hasil test Aoyama, beberapa jam lalu.
Namun, jawaban dokter Benny, tetap sama, seperti yang ia katakan kepadaku, sebelumnya.
Aoyama seolah tidak dapat menerima jawaban dokter Benny, yang menurutnya tidaklah masuk akal itu!
"Jadi maksud anda, Joey bukanlah putra biologisku?" Ucapnya dengan amarah yang tertahan
"Ummm... Begini, tuan... Kami tidak dapat menjawab itu, karena itu bukanlah ranah kami, harus ada test..."
"Aku telah melakukan test DNA, dan hasilnya, akulah Ayah dari putraku!" Aoyama sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi, hingga ia menggebrak meja dokter
"Dengar, jangan buat ini semakin rumit! LAKUKANLAH APA YANG HARUSNYA KAU LAKUKAN!!!"
"Sudah... Cukup, Aoyama... Ku mohon..." Ucapku, seraya mengusap pundak Aoyama, yang hampir saja kehilangan kendalinya
"Tuan, kami tidak mungkin keliru... Test ini telah kami pastikan, dan mengenai Jonathan, saat ini kami tengah berusaha untuk mencari pendonor yang dapat..."
"Lanjutkanlah omong kosongmu! Karena aku akan memindahkan putraku dari sini!" Ucap Aoyama, kemudian beranjak dari duduknya
"Resikonya terlalu tinggi, jika anda hendak memindahkan Jonathan dari rumah sakit ini, tuan..."
Ucapan dokter Benny, dengan serta merta, menghentikan langkah Aoyama.
Aoyama yang baru saja menyentuh kenop pintu, kini kembali berbalik ke arah sang dokter
"Apa maksudmu?!" Sinis Aoyama
"Kondisi Jonathan, tidak memungkinkannya, untuk melalui perjalanan, bahkan perjalanan jarak dekat, sekalipun..."
"Tolong, percayakan Jonathan kepada kami, karena penyakit yang di derita Jonathan, adalah penyakit yang cukup langka! Bukan sekadar gagal ginjal akut biasa... Kami akan berusaha semaksimal yang kami mampu, walau pada dasarnya, tidak ada seratus persen, dalam ilmu kedokteran..."
Mati rasa...
Tentu saja...
Entah apa yang ku rasakan saat ini, satu hal yang pasti, aku harus tetap kuat, agar aku mampu untuk memperjuangkan kesembuhan putraku!
***********************
Pukul 19.45, Keluargaku, dan juga Aoyama sudah berkumpul di ruang perawatan Joey.
Kami sama-sama tengah mencari, bagaimana cara untuk mendapatkan pendonor untuk proses hemodialisis yang harus kembali Joey jalani esok.
Beberapa cara, telah kami tempuh, untuk mendapatkan pendonor, bahkan melalui media sosial!
Sulit sekali untuk mendapatkan pendonor dengan golongan darah yang dimiliki oleh putraku!
Aku hampir saja putus asa, hingga Clara akhirnya memintaku untuk menemaninya berbelanja beberapa kebutuhan Joey, yang sudah habis
"Jen, kita beli peralatannya Joey dulu, yuk!" Ajaknya, dan akupun mengangguk
Begitu tiba di parkiran...
"Astaghfirullah! Kunci mobil gw!" Ucap Clara, ketika ia mencari sesuatu di dalam sling bag nya
"Hmmmm... Dah fasih banget sekarang 'nyebut' nya..." Godaku, seraya tersenyum, hingga Clara tersipu
"Iiihhh... Lu mah! Btw, Jen! Kayaknya kunci mobil gw di dalam, deh! Kita ke dalam sekarang, yuk!" Ajak Clara
"Lu aja, sana! Biar gw nunggu disini! Capek banget gw dari tadi bolak-balik!" Jawabku
"Ummm... Yaudah, gw ke dalam sekarang, ya! Lu tunggu disini! Jangan kemana-mana!"
"Mau kemana lagi emangnya, gw!"
"Yaudah! Tunggu disini sebentar, ya!" Ucap Clara, kemudian bergegas.
Beberapa saat setelah Clara berlalu, aku kembali bertemu dokter Veronica, yang ternyata memarkirkan mobilnya tepat di sisi kanan mobil Clara.
"Nyonya Park!" Sapa dokter Veronica, yang baru saja hendak membuka pintu mobilnya
Dokter Veronica langsung menghampiriku....
"Oh, Hi dok! Kau baru mau pulang?" Jawabku
"Hmmm... Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, ummm... Bagaimana keadaan Jonathan?"
"Kami memiliki masalah, dok... Kami belum juga mendapatkan pendonor untu Joey..." Lirihku
"Lho, apa terjadi masalah dengan ayahnya?" Dokter Veronica terlihat mengerutkan kening
"Itulah yang menjadi permasalahannya... Dokter Benny bilang, tidak ada kesamaan sel, antara Joey dan Aoyama..."
"Joey dengan siapa?" Dokter Veronica kembali memastikan
"Aoyama... Mitsugi Aoyama!" Aku kembali memperjelas ucapanku
"Mengapa Mitsugi Aoyama?! Jelas saja mereka tidak memiliki kesamaan darah, terlebih sel, nyonya Park!" Ucap dokter Veronica tak percaya
"Ma-maksudmu?"
"Bagaimana kau dapat berpikir jika Jonathan dan Aoyama memiliki sel yang sama, sedangkan mereka tidak memiliki hubungan darah?!"
'Deeeeeeggghhhh!!!!!'
Apal lagi, ini???
Fakta apa lagi, ini???
"Hasil test yang waktu itu ku berikan kepada tuan Park, adalah hasil test yang asli, sedangkan yang ia hancurkan, adalah gertakanku! Aku tak mungkin mempertaruhkan jabatanku demi menutupi suatu fakta!"
Entahlah...
Ucapan demi ucapan yang terlontar dari dokter Veronica, membuat kepalaku sungguh pening!
Apa maksud dari ini semua??
"Dokter, apa kau dapat mempertanggung jawabkan ucapanmu ini?!" Aku kembali memastikan
"Kapanpun kau ingin melakukan test ulang, aku akan selalu siap!" Ucapnya yakin
"Jadi..."
Ponselku tiba-tiba berdering...
Ku tatap layarnya, sesaat sebelum aku menjawab panggilan.
"Sebentar, dokter..." Ucapku kepada dokter Veronica
"Ya, Ra... Ada apa?"
"Jen, Joey..."