Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Bimbang...



Park Young Joon...


Laki-laki itu, kini tengah bercengkrama dengan putraku...


Tubuhku bergetar dengan hebat saat ini, terlebih... Ketika mata kami saling bertemu...


Rindu?


Bohong besar, jika aku tidak merindukannya!


Sangat! Aku sangat, sangat merindukan laki-laki yang sebenarnya masih berstatus suamiku itu!


Namun rasa rendah diriku, seolah mencegahku untuk melakukan hal itu!


Aoyama berbisik kepada, seraya menggenggam erat jemariku...


"Apa yang harus ku lakukan?" Bisiknya


Aku segera menatap sayu wajahnya, yang saat ini terlihat begitu tegang,seolah menahan amarah...


Aku begitu mengetahui, sebesar apa rasa benci Aoyama terhadap Park Young Joon, setelah peristiwa itu, dan aku tidak ingin, Aoyama menunjukkan itu, di depan Joey...


"Ku mohon, lakukanlah apa yang harusnya kau lakukan... Demi Joey..." Ucapku lirih


Aoyama mengangguk samar, dan seolah berusaha untuk merubah ekspresi wajahnya, agar terlihat baik-baik saja.


"Mommy! Papa! Daddy!" Ujar Joey penuh semangat, menunjukkan Young Joon kepadaku dan juga Aoyama


"Waaaaahhh... Kau terlihat bahagia sekali, bertemu dengan daddy, sayang!" Ucapku, kemudian mengecup puncak kepala Joey


Young Joon segera meraih tanganku, dan dengan serta merta, membuatku berbalik ke arahnya!


Mata kami saling bertemu...


Sulit untuk mengartikan tatapan Young Joon kepadaku saat ini, hanya saja...


"Maaf, kalian akan membuat Joey merasa sesak, jika berdiri disini!" Aoyama meraih tanganku, berusaha untuk menjauhkanku dari Young Joon


Namun Young Joon dengan sigap, menarik tanganku, kemudian merangkulku, membuatku kembali menatapnya, yang saat ini terseyum kepada Aoyama


"Maaf, aku hanya sedikit emosional begitu melihat ISTRIKU!" Ucap Young Joon seraya tersenyum, dengan menekankan ucapan terakhir


Aoyama tersenyum kesal, begitu mendengar ucapan Young Joon!


"Kami akan menemui dokter Joey setelah ini, untuk membahas tentang proses hemodialisis, yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki GOLONGAN DARAH YANG SAMA DENGAN JOEY!" Aoyama tersenyum, dan kembali membalas ucapan Young Joon


Young Joon tersenyum santai, kemudian berkata...


"Baiklah! Aku akan ikut dengan kalian! Toh aku juga berhak ada disana, karena aku adalah SUAMI JENNY!"


"Hahahahaaaaaaa! Ada apa denganmu!" Aoyama terlihat menahan amarahnya, melihat sikap Young Joon


"Apa ada yang salah..."


"Baiklah... Ku pikir, sudah saatnya Joey istirahat, sekarang..." Kataku, kemudian melepas rangkulan Young Joon, lalu merapikan selimut Joey


"Joey, sayang... Kau harus istirahat sekarang, agar cepat sembuh, ya..." Ucapku seraya mengusap lembut puncak kepalanya, kemudian mengecup keningnya.


Joey mengangguk, sambil tersenyum


"Baiklah! Tapi, apakah aku akan bertemu dengan papa dan daddy, ketika aku membuka mataku nanti?" Ucap Joey sambil tersenyum bahagia


Young Joon dan Aoyama segera menghampiri Joey...


"Tentu!" Ucap mereka secara bersamaan, kemudian saling menatap dengan tatapan tidak suka


"Baiklah, kalian..."


"Aku akan menunggumu di luar, sebelum dokter iti datang!" Ucap Aoyama


"Joey, papa pergi sekarang, ya..." Ucap Aoyama, kemudian mengecup kening Joey, sesaat sebelum menatap tajam ke arah Young Joon.


"Oke! Jangan lupa untuk kembali, ya!" Ujar Joey riang


Aoyama mengangguk sambil tersenyum, kemudian berlalu, dan kembali menatap tajam ke arah Young Joon sekilas!


Beberapa detik setelah Aoyama meninggalkan ruangan ini...


"Huh! Pria itu!" Young mendengus kesal


"Young Joon, aku..."


Ucapanku terhenti, begitu Young Joon menatapku lekat...


Menatapnya seperti ini, kembali membuatku merasa sangat bersalah kepadanya...


"Tidak adakah yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Ucapnya lembut


Hening, hingga aku berbalik ke arah Joey, namun ku dapati putraku sudah terlelap.


Young Joon meraih tanganku, dan akupun kembali berbalik ke arahnya...


"Young Joon, aku..."


"Jenny... Aku masih suamimu, kan?"


"Yo-Young..."


"Mengapa bersikap seolah aku tidak memiliki arti apapun, untuk kalian?" Young Joon terlihat emosional kini... Matanya berkaca-kaca...


"Apa hanya karena ucapan gadis sialan itu, sikapmu menjadi seperti ini?"


"Apa karena ucapan gadis sialan itu, semua yang telah kita bina selama ini, menjadi hancur tiada arti?"


"Young Joon, Joey sedang tidur..."


"Jenny, aku mencintai Joey, layaknya darah dagingku, meskipun pada kenyataannya..." Young Joon menghentikan ucapannya


"Joey adalah putraku, Jenny! Dia adalah putraku!"


"Young Joon, ku mohon... Beri aku waktu... Beri aku ruang, untuk..."


"Baiklah... Aku akan pergi... Aku akan kembali memberimu nafas, namun... Izinkan aku untuk tetap memastikan keadaan putraku..." Ucapnya kemudian berlalu, namun...


Young Joon tiba-tiba menghampiriku, dan langsung mengecup bibirku...


Jantungku hampir saja terlepas...


Kening kami saling bersentuhan, ketika Young Joon melepas ciumannya...


"Aku mencintaimu, Jennifer..." Ucapnya, kemudian berlalu...


********************


Di ruangan dokter Benny...


"Jadi, kita akan kembali menjalani proses hemodialisis, besok ya, bu... Ummmm, ini papanya Joey?" Ucap dokter Benny ramah


"Iya, dok! Ini papanya." Jawabku


"Oke baiklah, pertama, kita harus melakukan pemeriksaan terhadap papanya Joey, nah, selanjutnya, kita baru dapat memastikan apakah papanya Joey, memenuhi kriteria pendonor untuk Joey, atau tidak." Dokter Benny menjelaskan


"Apakah tidak ada cara lain, untuk proses kesembuhan putraku, dokter? Dengan cangkok ginjal, misalnya?" Ucap Aoyama


Dokter tersenyum, mendengar ucapan Aoyama


"Begini, pak... Untuk saat ini, kami memilih cara yang minim akan resiko, dan untuk anak seusia Joey, cara yang paling minim akan resiko, hanya hemodialisis ini."


"Baiklah, lalu kapan, aku harus menjalani pemeriksaan?" Ucap Aoyama


"Sekarang, bisa?" Tanya dokter


"Tentu!" Jawab Aoyama yakin


"Baiklah! Mari kita mulai prosesnya sekarang!"


*******************


Ketika Aoyama tengah menjalani tes, aku hendak kembali ke ruangan putraku, dan tanpa sengaja, seorang dokter menyapaku!


"Nyonya, Park?!" Ujar dokter tersebut


Tampaknya, dokter itu tidak asing untukku...


Entahlah, walaupun entah dokter ini berasal dari Eropa atau Amerika, wajahnya seperti tidak asing untukku!


"Maaf?" Ucapku, masih memastikan


"Apa kau telah melupakanku?" Ucapnya seraya tersenyum


Aku masih terus mencoba untuk mengingat, hingga...


"Aku dokter Veronica! Yang waktu itu..."


"Ooowhh.. Ya!!! Ya Tuhan! Maafkan aku! Bagaimana keadaanmu? Mengapa kau bisa berada disini?" Ucapku