Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Dengan caraku sendiri



Suara Aoyama, menghentikan langkahku, dan Joey...


Ia kini menghampiri kami, dan langsung berlutut di hadapan Joey, kemudian menakup kedua pipi putraku tersebut.


Aoyama tersenyum, kemudian mengecup kening putraku.


Perih...


Ini sungguh perih!


Aku bahkan membekap mulutku, agar jeritan hatiku tidak terkuak.


Air mataku mengalir dengan bebas, melihat pemandangan ini.


"Joey, papa akan membawamu bersama papa, ok!" Ucap Aoyama, tersenyum lembut


"Oke!" Jawab Joey, seraya mengacungkan ibu jarinya, dengan senyum penuh semangat


Aoyama kini berdiri, menatap wajahku, dengan tatapan teduhnya...


"Kalian... Selesaikanlah masalah kalian di tempat lain..." Tiba-tiba Stephanie berucap lirih


Aku dan Aoyama, dengan seketika menoleh ke arah Stephanie


"Ku mohon... Jangan tambahkan trauma baru dalam hidupku..." Imbuhnya


"Joey, tunggu disini sebentar, ya... Nanti mommy kembali." Ucapku kepada Joey


Ketika aku hendak menghampiri Stephanie...


"Hentikan, Elle!" Ucapan Stephanie menghentikan langkahku


"Cukup... Tidak perlu..." Ucapnya lagi


Yeah...


Seperti dugaanku...


Stephanie pasti sangat membenciku!


"Pergilah... Biarkan aku..." Suara Stephanie bergetar, air matanya kembali menetes


Aku kembali melanjutkan langkahku, namun...


"KU KATAKAN PADAMU, PERGIII!!!" Stephanie berteriak kepadaku


Young Joon hendak memghampiriku, namun aku segera menyergahnya


"Young Joon, ku pikir aku akan kembali bersama ayah dan ibuku..." Ucapku lirih


**********************


Esoknya, di kediamanku... Aku, beserta mama dan papaku, lalu keluarga Young Joon, dan juga keluarga Aoyama, kini berkumpul


Kami semua, membahas tentang hak kami atas Joey.


Kami semua merasa, bahwa kami berhak atas Joey.


Keluarga Young Joon merasa, bahwa mereka berhak atas Joey, karena mereka menyayangi Joey, tanpa syarat


Sedangkan keluarga Aoyama, mereka merasa berhak atas Joey, karena bukti yang tertera!


Perbincangan ini, seolah tidak memiliki jalan keluar yang memuaskan untuk masing-masing pihak, hingga akhirnya, pada malam harinya, aku memutuskan untuk menenangkan diriku, bersama Joey


Mama dan papa tentu saja setuju akan hal itu, mengingat, aku begitu tertekan karena masalah ini.


Maka, setelah percakapanku dengan mama dan papa, kami memutuskan bahwa, aku dan Joey akan tinggal untuk sementara waktu di rumah tante Vera, di Australia


Mengenai statusku, yang walaupun hanya menikah secara gereja, Aku dan Young Joon sebenarnya masih menjadi pasangan suami-istri, hanya saja...


Huuufftt...


Entah sampai kapan ini akan berlangsung, hanya saja...


Aku hanya membutuhkan waktu, untuk memperbaiki hidupku


Setelah dua bulan berada di Australia, aku belum juga dapat memulihkan keadaanku.


Berbagai macam cara, telah ku coba, namun nihil! Hatiku masih saja terasa sakit, tiap kali terlintas dalam pikiranku, untuk kembali pulang ke Indonesia.


Joey beberapa kali kembali ke tanah air, terlebih, beberapa bulan lagi, putraku akan segera masuk sekolah.


Aku tidak begitu mempermasalahkan, apakah baik Keluarga Young Joon, maupun keluarga Aoyama hendak bertemu dengannya, toh... Mereka berhak menemui putraku, asalkan, Joey dalam pengawasan mama dan papaku.


Tentang hubunganku dengan kedua pria itu...


Huuufffttt...


Aku berpesan kepada mama dan papa, bahwa aku tidak ingin mereka berdua mengetahui keberadaanku!


Tidak siapapun, tanpa terkecuali!


Karena jika entah Young Joon ataupun Aoyama menemuiku, aku akan kembali teringat, tentang apa yang membuatku seperti ini


Terkesan pengecut, memang...


Namun, aku akan menyelesaikan ini semua, dengan caraku sendiri, tapi ku mohon... Beri aku waktu, sedikit lagi...


Biarkan aku menyelesaikan semua ini, dengan caraku sendiri...


Namun, takdir berkata lain...


Menginjak bulan ketiga, semenjak keberadaanku di Australia, kabar mengejutkan, datang dari kedua orang tuaku...


Pukul 3 dinihari, waktu Australia, mama menghubungiku sambil terisak...


"Jenny... Pulang ya, nak... Joey..."


Suara mama begitu lirih dalam isakannya, kepedihan sungguh amat terasa dalam hatiku, tentang keadaan putra semata wayangku


"Ya, ma... Joey kenapa?" Ucapku setenang mungkin, meskipun sejujurnya, aku sungguh sangat gelisah


"Joey di rumah sakit, nak... Dokter bilang... Hiks... Hiks... Hiks... Joey mengalami gagal ginjal..."


Tangis mama pecah, sesaat setelah mengucapkan hal tadi...


Bagai tersambar petir rasanya, mendengar hal terburuk dalam hidupku...


Betapa aku mengutuk diriku sendiri, mendengar hal mengerikan ini...


Joey...


Semakin aku membayangkan wajahnya, semakin aku mengingat, betapa buruknya aku sebagai sosok ibu...


Joey...


Mengapa harus aku yang menjadi ibumu, yang bahkan begitu kotor untuk mendapat predikat seorang ibu...


Joey...


Akan ku lakukan apapun, agar keadaanmu kembali baik-baik saja...


Aku berjanji, setelah semua membaik, kita akan memulai hidup baru yang jauh lebih baik...


Bahkan lebih baik, dari ketika kita hidup bersama dengan 'daddy' mu...


Mommy pastikan itu!


Tunggu mommy, Joey...


Mommy akan pulang...