Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Secercah harapan...



"Astagaaaa!!! Gw ditolak lagi, masa!!! Lulusan Universitas ternama di US lho, gw ini!"


Aku melemas seketika, begitu menerima pesan melalui surel ku, tentang CV ku, yang lagi-lagi di tolak oleh sebuah perusahaan di negeri ini...


Yeah...


Hampir setahun semenjak kepulanganku ke Indonesia, terhitung sudah puluhan kali aku mengirim CV ke beberapa perusahaan, dari mulai perusahaan besar yang sangat bergengsi, hingga perusahaan menengah.


Tidak ada satupun dari perusahaan itu, yang tertarik untuk menerimaku agar dapat bergabung dengan mereka!


Persetan dengan gelar sarjana!


Nyatanya, titelku yang tertera sebagai lulusan Universitas ternama di luar negeri, tidaklah berpengaruh sama sekali di negeri ini!


Usia, dan minimal, pengalaman kerja!


Yeah! Selalu itu yang menjadi alasan mereka menolakku!


Huuuffttt... Jika saja mereka mengetahui bahwa aku pernah menjabat sebagai manager keuangan di salah satu perusahaan ternama di dunia! Catat! DUNIA!


Ahhh... Sudahlah...


Memang tidak ada buktinya!


Aku bekerja disana, tidak sampai satu tahun, lalu, pergi begitu saja setelah menyerahkan surat pengunduran diri, tanpa mengetahui, bagaimana respon dari pihak perusahaan...


Ya tuhaaaann... Mengingat hal itu, kembali membuatku terkenang akan dua pria yang pernah ada di hidupku...


Mengapa hidupku begitu mudah, ketika kedua pria itu ada di sisiku???


"Aaaaaarrrrrgggghhh!!! Nyerah gw!!!"


Aku kembali mengacak-acak rambutku, dan kembali menutup laptopku, lalu memejamkan mataku diatas lengan yang tertumpu di atas meja ini.


'Tok...! Tok...! Tok...!'


"Jen!!! Lu kenapa!!!"


Clara langsung masuk ke dalam kamarku, begitu tahu, kamar ini tidak dikunci.


Ia bergegas menghampiriku, yang masih dengan posisi yang sama.


Enggan sekali untuk merespon kehadirannya di rumah ini, yang entah sejak kapan


"Lu kenapa, Jen!" Ucapnya khawatir


Aku menoleh malas ke arahnya, dan melihat sekilas ke arah gundukan besar di perutnya.


"Jangan pikirin gw... Pikirin dulu itu perut lu yang makin gede! Dah 'ngap banget gw lihatnya!" Ucapku malas, lalu kembali ke posisi semula


"Iisshh!!! Jenol!!! Nggak ada senang-senangnya lu, gw datang!" Kesal Clara


Aku kembali menoleh malas ke arahnya, kemudian bangkit dari dudukku dengan lemas, juga wajah memelas.


"Kalo lu jadi gw, lu juga bakalan kayak gini, Ra..." Ucapku kemudian 'membuang' tubuhku di atas ranjang, dengan posisi tertelungkup


Clara segera menghampiriku, kemudian duduk tepat di sampingku.


"Ya lu cerita, donk..."


"Gw ditolak lagi... Huu... Huuu.. Hu..." Rengekku


"Ya ampun!!! Gw kirain apaan!" Ucap Clara santai


Ucapannya membuatku terbangun seketika, lalu duduk tepat di hadapannya, untuk menatap langsung ke arah wajahnya!


"Kok 'gw kirain apa'! Gila kali lu ya! Lu bayangin aja! Masa nih, ya! Gw yang lulusan universitas ternama di US, dengan predikat 'Summa Cumme Laude' puluhan kali ditolak sama perusahaan!" Ucapku menggebu-gebu


"Alasannya?" Ucap Clara santai


"Umur gw nggak masuk kriteria!"


"Emang, umur lu berapa?"


"Beda setahun doank sama lu!"


"Berapa?"


"Tiga... Aaaargggghhhh!!!!"


"Hahahaahahahahaahahahahaaaaaa!!!!!" Clara tertawa terbahak-bahak melihat diriku, yang kini tengah bersikap layaknya bocah kecil sedang tantrum, diatas ranjang


"Ya udah, kita ke luar dulu, yuk! Kita kan dah janjian sama anak-anak, mau ngumpul hari ini!" Ujar Clara


Ucapan Clara, dengan serta merta, mengalihkan perhatianku, dan kembali terbangun dari 'tantrum' ku


"Oh iya, ya! Yuk, lah!" Ucapku, kemudian bergegas


Clara benar-benar keheranan melihat sikapku yang dapat berubah 180° dengan cepatnya!


"Lu kenapa?!" Ucapku yang heran, melihat sikap Clara


"Eh? A-ayo deh!" Sahutnya, kemudian bangkit dari duduknya.


Begitu kami berjalan ke arah pintu...


"Ganti baju dulu, woooyy!!!" Ucapan Clara, menghentikan langkah kami


"Oh iya, ya!" Sahutku


***********************


"Jadi, cuma karena umur?!" Ucap Dennis, di balik roda kemudi, sesekali menoleh ke arahku yang berada di kursi penumpang


Aku mengangguk lemas, seraya menekuk wajahku


"Lho, emang umur lu berapa, sih?!"


"Dennis! Setan! Kita tuh seumuran, ya! Gw cuma satu tahun lebih tua dari bini lu! Gosah sok-sokan nanya gitu, deh!" Kesalku


"Hahahaahahahahaahahahahaaaaaa!!!" Pasangan suami-isteri itu seolah mengejekku dengan tawa mereka


"Sorry, sorry... Bukan gitu maksud gw, Pel! Maksud gw tuh gini, lho! Tiga lima ya ngga tua lah! Kecuali empat lima, mungkin!" Lanjut Dennis lagi, seolah mengoreksi ucapannya yang pertama


"Nah, itu dia, Den! Di indo ini tuh, ribet, lho! Batasan umurnya nggak masuk akal banget! Masa maksimal dua lima! Iiihhh anjir! Berasa sia-sia nggak sih titel gw?!" Keluhku


"Makin ngada-ngada aja ya, sekarang!" Imbuh Clara


"Di Swiss kemarin, umur 50 masih bisa lho, kerja di cepat saji! Di Jerman, deh! Ya ampuuunn banyak banget yang masih pada kerja! Lah gw?!" Kesalku lagi


"Emang lu mau, gawe di cepat saji?" Ujar Dennis lagi


"Yang bener aja sih, yang!" Protes Clara kepada suaminya


"Apa aja deh, Den! Yang penting gw nggak nganggur! Bete banget, tau, nggak!" Rengekku


"Yang bener aja, Jen! Sayang gelar lu, lah!" Clara kembali protes


"Ra, apalah arti gelar, kalo nyari gawean aja, susahnya macam bangun seribu candi dalam waktu semaleman!" Sahutku


"Diiihhh!!! Lebayyyy!!!" Sahut Clara


"Lah, emang iya, sih! Susah banget lho, nyari kerja di negara sendiri! Segininya, gw lulusan luar negeri! Nggak kebayang deh, yang lulusan asli indo! Beeeuuhhh!!! Ngeri!" Ucapku seraya bergidik


"Kerja di tempat sepupu gw, mau?! Gajinya emang gede, tapi boss nya agak ribet katanya!" Ucap Dennis


"Kerja apaan, yang?" Ucap Clara


"Itu, yang kemarin Bagus bilang itu, lho!"


"Ooowwhh..."


"Mau, gw!!! MAU, Den!!! MAAAUU!!!" Sahutku penuh semangat


"Tapi boss nya ribet, dia bilang... Emang, sih..."


"MAAU, DEN!!! GW MAUUU!!!" Aku langsung menyela ucapan Dennis, dengan semangat menggebu


"Open BO, mau, lu!" Sahut Clara


Aku langsung menatap tajam ke arah Clara, yang duduk tepat di kursi sebelah suaminya


"Gila lu, ya!!! Amit-amit! Amit-amit!!!" Ucapku seraya mengetuk kepala dan lututku dengan buku-buku jemariku


"Hahahaahahahahaaaaa!!!!" Pasangan suami-isteri itu tertawa puas melihat sikapku


"Ya nggak mungkin lah, laki gw yang sekaligus sahabat kental lu, nawarin kerjaan gituan ke lu! Mikir aja kali, Jen!" Ucap Clara, diselingi tawa


"Jadi sekretaris, Pel! Tapi boss nya sumpaaahh..."


"MAU GW, DEN!!! MAAUUUU YA TUHAAAANNN!!!" Seruku penuh semangat


"Ya udah, nanti gw omongin ke si Bagus deh, ya!" Ucap Dennis lagi, dan aku pun mengangguk dengan penuh semangat!


Yeah!


Setidaknya, ada setitik harapan untukku kali ini!


Dan sejujurnya, ucapan Dennis tadi, sungguh sangat mempengaruhi suasana hatiku hari ini!


Itu terlihat ketika akhirnya aku kembali berkumpul dengan teman-temanku, yang sudah cukup lama tidak ku temui, kecuali Ginna tentunya!


Karena terakhir kali kami berkomunikasi, beberapa Minggu lalu, gadis cantik itu kini tengah mempersiapkan pernikahannya di Amerika sana!


Aaahh... Aku turut bahagia atas pernikahan sahabat baikku itu!


Dan aku, bahkan Clara tidak henti-hentinya tersenyum melihat perubahan diriku saat ini, mengingat, ia begitu mengetahui perjalanan hidupku beberapa waktu yang lalu


"Gw seneng banget lihat lu yang sekarang, Jen! Begini terus aja, ya! Gw suka sama Jenny yang kayak gini..." Ucap Clara dengan senyum yang sungguh teramat tulus


Aku menganggu seraya tersenyum, kemudian memeluknya erat...


"Pasti, Ra! Gw udah janji sama Joey, sama bokap dan nyokap gw, kalo gw, bakalan hidup bahagia selamanya... Gw bakal hadapi apapun yang akan terjadi ke depannya..."


Clara menguraikan pelukannya, kemudian menatap mataku dalam...


"Lu juga harus janji, sama ponakan lu yang bentar lagi mau brojol!" Ucap Clara, seraya mengusap lembut gundukan besar di perutnya


Aku berlutut, menghadap ke arah perut Clara yang membesar itu, kemudian mengusapnya perlahan...


"Mommy janji! Kamu adalah bukti tak tertulis, lahirnya kebahagiaan mommy... Dan kehadiranmu kelak, akan menjadi saksi atas kebahagiaan mommy... Mommy saaaaayang banget sama kamu!" Ucapku kemudian ku kecup perut Clara


Clara bahkan menitikkan air mata bahagia...


Aaaahhh... terasa lengkap sudah, kebahagiaanku...